DAFTAR ISI MADZHAB KU

Kamis, 18 Juni 2026

Hasad

 


Hasad

Pengertian Hasad

Hasad (الحسد) adalah menginginkan hilangnya nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, baik nikmat itu berpindah kepada dirinya maupun tidak.

Para ulama menjelaskan bahwa hasad bukan sekadar tidak suka melihat orang lain mendapatkan nikmat, tetapi adanya keinginan dalam hati agar nikmat tersebut lenyap.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan:

الْحَسَدُ تَمَنِّي زَوَالِ النِّعْمَةِ عَنِ الْمُنْعَمِ عَلَيْهِ

"Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari orang yang diberi nikmat."

Dalil Haramnya Hasad

1. Al-Qur'an

Allah berfirman:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

"Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS. Al-Falaq: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa hasad termasuk kejahatan yang manusia diperintahkan untuk berlindung darinya. Allah juga berfirman:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

"Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang Allah berikan kepada mereka?" (QS. An-Nisa': 54)

2. Hadits Nabi ﷺ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

"Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."
(HR. Abu Dawud)

Hadits ini menunjukkan bahwa hasad dapat menghapus pahala amal sebagaimana api menghanguskan kayu.

Mengapa Hasad Sangat Berbahaya?

  • Hasad pada hakikatnya merupakan bentuk ketidakridhaan terhadap pembagian Allah.
  • Seakan-akan orang yang hasad berkata dalam hatinya: "Mengapa Allah memberi dia, bukan saya?"
  • Karena itu sebagian ulama salaf mengatakan: "Orang yang hasad sebenarnya memusuhi takdir Allah."

Hasad juga merupakan dosa pertama yang terjadi:

  1. Di langit: ketika Iblis hasad kepada Nabi Adam 'alaihis salam.
  2. Di bumi: ketika Qabil hasad kepada saudaranya Habil hingga membunuhnya.

Contoh Hasad yang Relevan Saat Ini

1. Hasad terhadap kesuksesan dakwah

Seseorang melihat ada ustadz yang kajiannya ramai, videonya banyak ditonton, atau tulisannya tersebar luas.

Lalu muncul keinginan: "Semoga pengikutnya berkurang." "Semoga ceramahnya tidak lagi diminati." Ini termasuk hasad.

Adapun jika ia berharap dirinya juga bisa berdakwah lebih baik tanpa menginginkan hilangnya nikmat orang lain, maka itu bukan hasad.

2. Hasad di media sosial

  • Melihat seseorang memiliki usaha yang maju, rumah yang bagus, keluarga harmonis, atau prestasi tertentu.
  • Lalu muncul perasaan: "Kenapa dia terus yang berhasil?" "Mudah-mudahan usahanya bangkrut." Ini adalah hasad yang nyata.
  • Media sosial sering menjadi pemicu hasad karena orang terus-menerus melihat pencapaian orang lain.

3. Hasad dalam lingkungan kerja

Misalnya seorang rekan mendapat promosi jabatan. Alih-alih bersyukur dan memperbaiki diri, seseorang berharap: "Semoga dia gagal." "Semoga atasannya kecewa kepadanya." Ini termasuk hasad.

4. Hasad terhadap rezeki orang lain

  • Tetangga membeli kendaraan baru atau rumah baru.
  • Kemudian seseorang merasa sempit dadanya dan berharap nikmat tersebut hilang.
  • Padahal Allah telah menetapkan rezeki masing-masing.

5. Hasad dalam dunia ilmu

  • Seorang penulis, guru, atau da'i melihat karya orang lain lebih diterima masyarakat.
  • Lalu ia berusaha menjatuhkan, memfitnah, atau mencari-cari kesalahan agar popularitas orang tersebut turun.
  • Sering kali permusuhan yang tampak ilmiah sebenarnya berakar dari hasad.

6. Hasad antar saudara kandung

Contoh yang sering terjadi:

  • Orang tua lebih memperhatikan salah satu anak karena kebutuhan tertentu.
  • Salah satu saudara lebih berhasil secara ekonomi.
  • Salah satu anak dianggap lebih berprestasi.

Lalu muncul kebencian dan keinginan agar kelebihan itu hilang. Inilah yang dahulu terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf terhadap beliau.

Perbedaan Hasad dan Ghibthah

Islam mengharamkan hasad, tetapi membolehkan ghibthah (iri positif).

Nabi ﷺ bersabda: 

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ

"Tidak boleh hasad kecuali pada dua perkara..."

Maksudnya adalah ghibthah, yaitu keinginan mendapatkan nikmat yang sama tanpa berharap nikmat orang lain hilang.

Contohnya:

  • Melihat seseorang rajin qiyamul lail, lalu ingin menirunya.
  • Melihat seseorang hafal Al-Qur'an, lalu ingin menjadi penghafal Al-Qur'an.
  • Melihat seorang dermawan, lalu ingin bisa bersedekah sebanyak dirinya.

Di sini tidak ada keinginan agar nikmat orang lain lenyap.

Tanda-Tanda Hasad dalam Diri

Para ulama menyebut beberapa gejala hasad:

  • Sedih ketika orang lain mendapat nikmat.
  • Senang ketika orang lain tertimpa musibah.
  • Sulit memuji kelebihan orang lain.
  • Gemar membicarakan kekurangan orang yang berhasil.
  • Berusaha menjatuhkan reputasi orang lain.
  • Merasa terganggu melihat keberhasilan saudaranya.

Jika tanda-tanda ini muncul, seseorang perlu segera mengobatinya.

Cara Mengobati Hasad

  1. Meyakini bahwa pembagian rezeki berasal dari Allah.
  2. Memperbanyak doa keberkahan untuk orang yang diberi nikmat.
  3. Mengingat bahwa hasad lebih menyiksa pelakunya daripada orang yang dihasadi.
  4. Memperbanyak syukur atas nikmat yang dimiliki.
  5. Mendoakan kebaikan bagi orang yang membuat kita iri.
  6. Menyadari bahwa setiap orang diuji dengan keadaan yang berbeda.

Ibnu Taimiyah berkata:

Tidak ada seorang pun yang selamat sepenuhnya dari hasad. Akan tetapi orang yang mulia menyembunyikannya dan tidak menuruti tuntutannya, sedangkan orang yang hina menampakkannya dan mengikutinya.

Karena itu, yang dituntut bukan hanya membersihkan lisan dari hasad, tetapi juga membersihkan hati darinya. Sebab hasad adalah penyakit hati yang dapat merusak agama, memutus persaudaraan, dan menghilangkan keberkahan amal.