DAFTAR ISI MADZHAB KU

Jumat, 19 Juni 2026

Stop Intoleransi, Mari Saling Mengerti

 


Stop Intoleransi, Mari Saling Mengerti

Pendahuluan

Kehidupan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari keberagaman. Di kampus, kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda suku, budaya, daerah, organisasi, mazhab, bahkan agama. Perbedaan tersebut merupakan realitas yang tidak mungkin dihapuskan. Yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan, tetapi bagaimana menyikapi perbedaan itu.

Di era media sosial, intoleransi sering muncul dalam bentuk yang lebih halus namun berbahaya: mudah memberi label, membenci kelompok lain, menyebarkan prasangka, memutus dialog, hingga merasa diri paling benar dan merendahkan orang lain. Akibatnya, ruang diskusi menjadi sempit, persaudaraan melemah, dan semangat mencari kebenaran tergantikan oleh semangat memenangkan perdebatan.

Karena itu, tema "Stop Intoleransi, Mari Saling Mengerti" menjadi sangat relevan, terutama bagi mahasiswa yang diharapkan menjadi agen perubahan dan penjaga persatuan bangsa.


Memahami Toleransi

Secara bahasa, toleransi berasal dari kata tolerance yang berarti sikap menghargai, menghormati, dan memberikan ruang kepada orang lain untuk memiliki pandangan, keyakinan, atau pilihan yang berbeda.

Dalam bahasa Arab, toleransi sering diungkapkan dengan istilah التَّسَامُحُ (at-tasāmuh) yang berarti sikap lapang dada, mudah menerima perbedaan, dan berinteraksi secara baik dengan orang lain.

Toleransi bukan berarti menyetujui semua pendapat atau mencampuradukkan keyakinan. Toleransi juga bukan berarti mengorbankan prinsip agama demi menyenangkan semua pihak.

Toleransi adalah:

  • Menghormati hak orang lain untuk berbeda.
  • Tidak memaksa keyakinan kepada orang lain.
  • Bersikap adil kepada siapa pun.
  • Menjalin kerja sama dalam urusan kemaslahatan bersama.
  • Menjaga adab dalam perbedaan.

Dengan kata lain, toleransi adalah kemampuan hidup berdampingan secara damai tanpa harus kehilangan identitas dan prinsip.


Apa Itu Intoleransi?

Intoleransi adalah sikap tidak mau menerima keberadaan perbedaan.

Intoleransi muncul ketika seseorang:

  • Menganggap hanya dirinya yang berhak hidup dan berbicara.
  • Mudah menuduh dan memberi cap buruk kepada kelompok lain.
  • Menolak dialog dan musyawarah.
  • Membenci orang lain hanya karena berbeda.
  • Bersikap diskriminatif dan tidak adil.

Dalam kehidupan mahasiswa, intoleransi dapat muncul dalam bentuk:

  • Fanatisme organisasi yang berlebihan.
  • Meremehkan kelompok dakwah lain.
  • Membully mahasiswa yang berbeda pandangan.
  • Menyebarkan hoaks dan fitnah terhadap pihak tertentu.
  • Menutup ruang diskusi yang sehat.

Padahal kemajuan ilmu justru lahir dari keterbukaan berpikir dan kemampuan berdialog.


Islam dan Realitas Perbedaan

Islam mengakui bahwa perbedaan adalah bagian dari sunnatullah. Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ﴾

"Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berbeda-beda." (QS. Hūd: 118)

Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan merupakan kenyataan yang memang Allah kehendaki terjadi dalam kehidupan manusia.

Karena itu, tugas manusia bukan menghilangkan semua perbedaan, melainkan mengelola perbedaan dengan bijaksana.


Toleransi dalam Pandangan Islam

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan dan penghormatan terhadap manusia.

Allah berfirman:

﴿لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ﴾

"Tidak ada paksaan dalam agama." (QS. Al-Baqarah: 256)

Ayat ini menunjukkan bahwa keimanan tidak boleh dibangun di atas paksaan. Allah juga berfirman:

﴿لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ﴾

"Untukmu agamamu dan untukku agamaku." (QS. Al-Kāfirūn: 6)

Ayat ini menegaskan penghormatan terhadap eksistensi pihak lain tanpa harus mengakui kebenaran seluruh keyakinannya.

Islam mengajarkan keseimbangan:

  • Teguh dalam akidah.
  • Santun dalam muamalah.
  • Kuat dalam prinsip.
  • Lembut dalam interaksi.


Toleransi Bukan Relativisme

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap toleransi berarti semua agama sama atau semua kebenaran relatif.

Pandangan seperti ini tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Seorang muslim tetap meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar sebagaimana firman Allah:

﴿إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ﴾

"Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam." (QS. Āli 'Imrān: 19)

Namun keyakinan tersebut tidak boleh melahirkan kesombongan, kebencian, dan kezaliman kepada orang lain.

  • Meyakini kebenaran agama sendiri adalah akidah.
  • Menghormati hak orang lain adalah akhlak.
  • Keduanya harus berjalan bersama.


Teladan Toleransi Rasulullah ﷺ

Kehidupan Rasulullah ﷺ memberikan banyak contoh toleransi.

1. Piagam Madinah

Ketika membangun masyarakat Madinah, Rasulullah ﷺ membuat kesepakatan bersama antara kaum muslimin, Yahudi, dan berbagai kabilah lainnya. Setiap kelompok diberikan hak dan kewajiban yang jelas dalam kehidupan bermasyarakat.

Rumusan yang Lebih Singkat

  1. Persatuan dalam keberagaman.
  2. Kebebasan beragama.
  3. Keadilan bagi semua.
  4. Tanggung jawab bersama menjaga keamanan.
  5. Komitmen terhadap perjanjian.
  6. Penyelesaian konflik secara adil dan hukum.

2. Bermuamalah dengan Non-Muslim

Rasulullah ﷺ melakukan transaksi ekonomi dengan orang Yahudi. Bahkan ketika beliau wafat, baju besinya masih tergadaikan kepada seorang Yahudi.

Ini menunjukkan bahwa hubungan sosial dan ekonomi dapat berjalan dengan baik meskipun berbeda agama.

3. Larangan Berbuat Zalim

Allah berfirman:

﴿لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ﴾

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu karena agama." (QS. Al-Mumtaḥanah: 8)

Ayat ini menjadi dasar penting dalam hubungan sosial yang harmonis.


Intoleransi yang Harus Diwaspadai Mahasiswa

Tidak semua intoleransi berbentuk konflik agama. Ada bentuk-bentuk intoleransi yang sering terjadi di lingkungan kampus.

1. Intoleransi Intelektual

Merasa hanya pendapat sendiri yang layak didengar.  Akibatnya:

  • Anti kritik.
  • Menolak kajian ilmiah.
  • Menyerang pribadi lawan diskusi.

Padahal tradisi ilmu dalam Islam dibangun di atas dialog dan argumentasi.


2. Intoleransi Organisasi

Fanatik kelompok secara berlebihan sehingga menganggap organisasi lain selalu salah. Padahal tujuan seluruh organisasi Islam pada dasarnya adalah menghadirkan kemaslahatan umat.


3. Intoleransi Digital

Media sosial sering menjadi tempat lahirnya ujaran kebencian, fitnah, dan provokasi. Banyak orang lebih berani menghina daripada berdialog. Padahal Allah berfirman:

﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾

"Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik." (QS. Al-Baqarah: 83)


Muhammadiyah dan Budaya Dialog

Sebagai gerakan Islam berkemajuan, Muhammadiyah memiliki tradisi dialog yang kuat.

Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, mengajarkan pentingnya keterbukaan berpikir, pengkajian ilmu, dan pembaruan yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.

Muhammadiyah tidak dibangun di atas budaya permusuhan, tetapi budaya:

  • Musyawarah.
  • Tabayyun.
  • Kajian ilmiah.
  • Argumentasi yang santun.
  • Dakwah yang mencerahkan.

Dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), Islam dipahami sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, ruang dialog harus menjadi sarana:

  • Mencari kebenaran.
  • Menumbuhkan persaudaraan.
  • Mengurangi prasangka.
  • Menemukan solusi bersama.


Membangun Ruang Dialog yang Sehat

Ada beberapa prinsip yang perlu dibangun oleh mahasiswa:

Pertama: Mendengar Sebelum Menilai

Banyak konflik lahir karena orang lebih suka menyimpulkan daripada memahami.

Mendengar adalah langkah awal memahami.

Kedua: Bedakan Kritik dengan Kebencian

Kritik bertujuan memperbaiki.

Kebencian bertujuan menjatuhkan.

Mahasiswa harus belajar mengkritik secara ilmiah dan beradab.

Ketiga: Utamakan Data dan Dalil

Diskusi yang sehat dibangun dengan argumentasi, bukan emosi.

Keempat: Husnuzan dan Tabayyun

Allah berfirman:

﴿فَتَبَيَّنُوا﴾

"Maka telitilah kebenarannya." (QS. An-Nisā': 94)

Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas.

Kelima: Menjaga Ukhuwah

Perbedaan pendapat tidak boleh merusak persaudaraan.

Para ulama terdahulu sering berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati.


Penutup

Toleransi bukan berarti kehilangan prinsip. Sebaliknya, toleransi adalah bukti kedewasaan dalam memegang prinsip.

Islam mengajarkan keseimbangan antara keteguhan akidah dan keluhuran akhlak. Seorang muslim diperintahkan untuk meyakini kebenaran agamanya, namun pada saat yang sama diwajibkan berlaku adil, santun, dan menghormati sesama manusia.

Bagi mahasiswa Muhammadiyah, membangun ruang dialog adalah bagian dari dakwah pencerahan. Kampus harus menjadi tempat bertemunya gagasan, bukan arena permusuhan; tempat saling memahami, bukan saling mencurigai; tempat mencari kebenaran, bukan sekadar memenangkan perdebatan.

Karena perbedaan adalah kenyataan, tetapi persaudaraan adalah pilihan. Dan dialog adalah jalan terbaik untuk merawat keduanya.

"Stop Intoleransi, Mari Saling Mengerti. Berbeda bukan alasan untuk bermusuhan, tetapi kesempatan untuk saling belajar dan bertumbuh bersama."