DAFTAR ISI MADZHAB KU

▼

Jumat, 06 November 2026

JANGAN SIBUK MENCARI REZEKI HINGGA MELUPAKAN PEMBERI REZEKI

 


JANGAN SIBUK MENCARI REZEKI HINGGA MELUPAKAN PEMBERI REZEKI

Memahami Hubungan Shalat dan Rezeki dalam QS. Ṭāhā: 132

Salah satu persoalan yang sering kita jumpai dalam kehidupan adalah ketika manusia begitu sibuk mengejar rezeki hingga tanpa sadar mengabaikan kewajibannya kepada Allah. Ada orang yang merasa berat meninggalkan pekerjaannya untuk melaksanakan shalat, pedagang yang menunda shalat karena tokonya sedang ramai, pegawai yang menganggap pekerjaan lebih mendesak daripada memenuhi panggilan Allah, bahkan orang tua yang begitu serius memikirkan masa depan ekonomi anak-anaknya, tetapi kurang memberikan perhatian terhadap pendidikan shalat mereka.

Padahal, ada satu ayat Al-Qur'an yang sangat menarik untuk kita renungkan. Ayat ini bukan hanya memerintahkan kita agar menjaga shalat, tetapi juga menghubungkan perintah tersebut dengan persoalan rezeki. Seolah-olah Allah ingin meluruskan cara pandang manusia: jangan sampai terlalu sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan rezeki, sementara kita melupakan siapa yang sesungguhnya memberikan rezeki.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa." QS. Ṭāhā: 132

Untuk memahami pesan ayat ini secara utuh, kita perlu terlebih dahulu memperhatikan bagaimana para ulama tafsir menjelaskan susunan dan maksud ayat tersebut. Setelah itu, barulah kita melihat bagaimana ayat ini membangun hubungan antara shalat, usaha mencari nafkah, dan keyakinan terhadap jaminan rezeki dari Allah.

1. Penjelasan para mufasir

A. Perintah menegakkan shalat dimulai dari keluarga

Allah membuka ayat ini dengan firman-Nya:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ

"Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat."

Menurut Imam Ath-Thabari dalam Jāmi‘ al-Bayān, perintah ini ditujukan kepada Rasulullah ﷺ agar beliau memerintahkan keluarganya untuk mendirikan shalat dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya. Perintah tersebut juga mengandung pelajaran bagi umat beliau agar memperhatikan pendidikan shalat dalam keluarganya.

Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur'ān juga menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar pentingnya memerintahkan keluarga untuk melaksanakan shalat. Dengan demikian, tanggung jawab seorang muslim tidak berhenti pada kesalehan dirinya sendiri, tetapi juga mencakup usaha membimbing keluarganya dalam ketaatan.

Ini merupakan pelajaran penting bagi setiap kepala keluarga. Jangan sampai seseorang begitu serius memikirkan masa depan ekonomi keluarganya, tetapi kurang serius memikirkan masa depan agama mereka. Ia ingin anaknya mendapatkan pekerjaan yang baik, pendidikan yang tinggi, dan kehidupan yang layak, tetapi belum tentu memastikan anak-anaknya terbiasa shalat.

Padahal, keberhasilan keluarga dalam pandangan Islam bukan hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan duniawi, tetapi juga dari terjaganya hubungan seluruh anggota keluarga dengan Allah.

B. Menjaga shalat membutuhkan kesabaran dan kesungguhan

Allah melanjutkan:

وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

"Dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya."

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan perlunya kesabaran dalam menegakkan shalat. Sebab, shalat merupakan ibadah yang membutuhkan perjuangan melawan kecenderungan jiwa, rasa malas, dan kesibukan dunia.

Imam As-Sa'di dalam Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān juga menjelaskan bahwa kata ini menunjukkan kesabaran yang terus-menerus dalam menjaga shalat, bukan hanya melaksanakannya sesekali. Seseorang harus membiasakan dirinya dan keluarganya untuk tetap menjaga shalat dalam berbagai keadaan.

Mengapa Allah menggunakan kata وَاصْطَبِرْ dan bukan sekadar وَاصْبِرْ? Bentuk kata tersebut memberikan penekanan pada kesungguhan dan keteguhan dalam bersabar.

Artinya, menjaga shalat bukan perkara yang cukup dilakukan berdasarkan semangat sesaat. Ada kalanya seseorang harus meninggalkan kenyamanan, menghentikan pekerjaan, melawan rasa malas, bahkan menghadapi kesulitan untuk tetap menegakkannya.

Justru di sinilah kualitas penghambaan seseorang diuji: apakah ia tetap menjaga shalat ketika lapang maupun sempit, ketika sibuk maupun senggang, ketika memiliki banyak pekerjaan maupun ketika tidak memiliki kesibukan.

C. Allah tidak membebani manusia untuk memberikan rezeki, karena Allah sendiri yang menjamin rezeki

Inilah bagian yang paling erat kaitannya dengan tema kajian kita. Allah berfirman:

لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ

"Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu."

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa maksudnya Allah tidak meminta harta kepada Nabi Muhammad ﷺ, tetapi membebankan kepadanya amal yang dilakukan dengan anggota badan. Adapun rezeki, Allah sendiri yang memberikan dan mencukupkannya.

Beliau menjelaskan:

لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا، نَحْنُ نَرْزُقُكَ

Maksudnya, Allah tidak meminta Nabi memberikan rezeki kepada siapa pun. Justru Allah yang memberikan rezeki kepada Nabi.

Imam Ibnu Katsir memberikan penjelasan yang lebih khusus mengenai hubungan shalat dan rezeki. Beliau mengatakan:

يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ

"Maksudnya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka."

Ibnu Katsir kemudian menghubungkannya dengan firman Allah dalam QS. Ath-Thalaq: 2–3 tentang orang bertakwa yang diberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Beliau juga mengutip perkataan Sufyan Ats-Tsauri ketika menjelaskan kalimat tersebut:

لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا، أَيْ: لَا نُكَلِّفُكَ الطَّلَبَ

"Kami tidak meminta rezeki kepadamu, maksudnya: Kami tidak membebanimu untuk mengusahakan rezeki bagi Kami."

Penjelasan ini menegaskan bahwa urusan rezeki berada dalam kekuasaan Allah, sedangkan manusia memiliki kewajiban untuk beribadah dan menjalankan perintah-Nya.

D. Rezeki bukan hanya untuk orang yang bertakwa, tetapi kesudahan yang baik adalah milik orang bertakwa

Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya:

وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

"Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa."

Imam As-Sa'di, Beliau menjelaskan:

وَرِزْقُ اللَّهِ عَامٌّ لِلْمُتَّقِي وَغَيْرِهِ، فَيَنْبَغِي الِاهْتِمَامُ بِمَا يَجْلِبُ السَّعَادَةَ الْأَبَدِيَّةَ، وَهُوَ التَّقْوَى

"Rezeki Allah bersifat umum, diberikan kepada orang bertakwa maupun selainnya. Karena itu, hendaknya perhatian diarahkan kepada sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan abadi, yaitu ketakwaan."

Ini merupakan penjelasan yang sangat mendalam. Jangan mengira bahwa orang yang kaya pasti lebih dicintai Allah daripada orang yang miskin. Rezeki duniawi diberikan kepada manusia sebagai bagian dari ujian kehidupan. Namun, kesudahan yang baik di dunia dan akhirat merupakan milik orang-orang yang bertakwa.

Dengan demikian, ayat ini tidak menjanjikan bahwa setiap orang yang rajin shalat pasti menjadi kaya secara materi. Ayat ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh menjadikan kekhawatiran terhadap rezeki sebagai alasan untuk meninggalkan penghambaan kepada Allah.

E. Pelajaran dari Umar bin Khattab dan Urwah bin Az-Zubair

Penjelasan para mufasir tidak hanya berhenti pada teori. Mereka juga menyampaikan bagaimana generasi terdahulu mengamalkan ayat ini.

Ibnu Katsir meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, bahwa Umar bin Khattab رضي الله عنه memiliki kebiasaan shalat malam. Apabila beliau terbangun dan mendapati dirinya belum bangun untuk shalat, beliau membangunkan keluarganya, kemudian membaca ayat:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Perhatikan, Umar tidak hanya menjaga shalat untuk dirinya sendiri, tetapi juga mengingatkan keluarganya agar tidak melalaikannya.

Ibnu Katsir juga mengutip kisah Urwah bin Az-Zubair. Ketika melihat kenikmatan dunia yang dimiliki orang-orang, Urwah kembali kepada keluarganya, membaca ayat tentang larangan terpukau oleh kemewahan dunia (QS. Ṭāhā: 131), kemudian membaca ayat 132 dan mengingatkan:

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ

"Shalat, shalat! Semoga Allah merahmati kalian."

Pelajaran yang dapat diambil: ketika melihat gemerlapnya dunia, jangan sampai hati kita justru semakin terpaut kepadanya. Kembalilah mengingat Allah dan perkuatlah hubungan keluarga dengan shalat.

Kesimpulan dari penjelasan para mufasir: Ayat ini mengandung empat pesan: perintah menjaga shalat dalam keluarga, kesabaran dalam menegakkannya, keyakinan bahwa Allah menjamin rezeki, dan kesadaran bahwa keberhasilan sejati terletak pada ketakwaan.

2. Mengapa perintah shalat dikaitkan dengan persoalan rezeki?

Setelah memahami penjelasan para mufasir, sekarang kita masuk kepada pertanyaan yang lebih mendalam: mengapa Allah setelah memerintahkan shalat justru berbicara tentang rezeki?

Mengapa Allah tidak langsung menyebutkan keutamaan shalat, pahala shalat, atau ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat, tetapi justru berfirman bahwa Allah-lah yang memberikan rezeki?

Ada beberapa pelajaran penting.

Pertama: Jangan sampai sibuk mencari rezeki hingga melupakan pemberi rezeki

Inilah penyakit yang banyak terjadi dalam kehidupan manusia. Kita sering kali terlalu sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan rezeki, tetapi kurang memikirkan bagaimana menjaga hubungan dengan Allah yang memberikan rezeki.

Ketika toko sedang ramai, shalat ditunda. Ketika pekerjaan menumpuk, shalat diakhirkan. Ketika ada peluang mendapatkan keuntungan, waktu shalat terkadang dikorbankan. Bahkan ada orang yang merasa bahwa meluangkan waktu untuk shalat akan mengurangi penghasilannya.

Padahal, bukankah Allah yang memberikan rezeki? Bukankah kemampuan bekerja, kesehatan, kesempatan usaha, dan segala sesuatu yang kita gunakan untuk mendapatkan penghasilan juga merupakan pemberian Allah?

Kita memang diperintahkan bekerja dan mencari nafkah. Akan tetapi, jangan sampai kita memperlakukan pekerjaan seolah-olah pekerjaan itulah yang menentukan seluruh rezeki kita.

Jangan sampai kita begitu takut kehilangan pelanggan, tetapi tidak takut kehilangan shalat. Jangan sampai kita begitu khawatir kehilangan pekerjaan, tetapi tidak khawatir kehilangan hubungan dengan Allah.

Kedua: Allah tidak membutuhkan ibadah kita, tetapi kitalah yang membutuhkan Allah

Perhatikan firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ۝ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ ۝ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh, Allah Dialah Pemberi Rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." 

QS. Adz-Dzariyat:56–58

Allah menciptakan manusia untuk beribadah, bukan karena Allah membutuhkan ibadah mereka. Allah tidak membutuhkan makanan, minuman, harta, ataupun bantuan dari makhluk-Nya.

Sebaliknya, manusia membutuhkan Allah dalam seluruh kehidupannya. Kita membutuhkan-Nya untuk mendapatkan kehidupan, kesehatan, keselamatan, petunjuk, dan rezeki.

Karena itu, sungguh tidak pantas apabila manusia menganggap shalat sebagai sesuatu yang mengganggu pekerjaannya, sementara ia melupakan bahwa Allah-lah yang memberinya kemampuan untuk bekerja.

Ketiga: Jangan terlalu khawatir terhadap rezeki yang telah dijamin Allah

Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." QS. Ath-Thalaq: 2–3

Ayat ini mengajarkan bahwa ketakwaan merupakan sebab datangnya pertolongan dan rezeki dari Allah.

Namun, jangan memahami ayat ini secara sempit, seolah-olah orang bertakwa tidak akan pernah mengalami kesulitan ekonomi. Para nabi dan orang-orang saleh pun pernah mengalami kesulitan hidup. Rezeki yang dijanjikan Allah tidak selalu datang dalam bentuk kekayaan yang melimpah.

Terkadang Allah memberikan kecukupan, terkadang memberikan jalan keluar, terkadang menjauhkan seseorang dari keburukan yang tidak disadarinya, dan terkadang memberikan ketenangan hati di tengah keterbatasan materi.

Karena itu, tugas kita adalah bertakwa, berusaha dengan cara yang halal, dan bertawakal kepada Allah.

Keempat: Shalat adalah tempat memohon pertolongan ketika menghadapi kesulitan hidup

Allah berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu." (QS. Al-Baqarah: 45).

Ayat ini mengajarkan bahwa ketika menghadapi kesulitan, manusia tidak hanya diperintahkan untuk mengerahkan kemampuan lahiriahnya, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah.

Ketika usaha mengalami kesulitan, ketika kebutuhan keluarga semakin besar, ketika pekerjaan belum mendapatkan hasil, jangan hanya memperbanyak kecemasan dan keluhan. Perbanyak pula kesabaran, doa, dan shalat.

Kita perlu memahami bahwa shalat bukan sekadar gerakan fisik yang harus diselesaikan lima kali sehari. Shalat adalah hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Di dalam shalat, manusia mengakui kelemahannya, memohon petunjuk, meminta pertolongan, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah.

Maka, jangan hanya mencari jalan keluar dari manusia, tetapi lupakan jalan untuk mendekat kepada Allah.

Kelima: Jangan menjadikan shalat sebagai transaksi untuk mendapatkan kekayaan

Ada satu hal yang juga harus diluruskan. Kita tidak boleh memahami hubungan shalat dan rezeki seperti hubungan transaksional: saya shalat agar Allah menjadikan saya kaya; saya rajin beribadah agar usaha saya selalu berhasil.

Pemahaman seperti ini kurang tepat. Kita melaksanakan shalat karena Allah adalah Rabb yang wajib disembah, bukan semata-mata karena kita mengharapkan keuntungan duniawi.

Memang benar, shalat merupakan sebab datangnya pertolongan dan keberkahan Allah. Namun, tujuan utama shalat tetaplah penghambaan kepada Allah.

Ingatlah, orang yang rajin shalat pun bisa mengalami kesulitan ekonomi. Sebaliknya, orang yang tidak menjaga shalat bisa saja memiliki kekayaan melimpah. Sebab, rezeki dunia diberikan kepada manusia sebagai ujian, bukan sebagai ukuran mutlak kecintaan Allah.

Jangan menjadikan shalat sebagai alat untuk mendapatkan dunia, tetapi jadikan shalat sebagai bukti bahwa kita menghambakan diri kepada Allah, baik ketika diberi kelapangan maupun ketika diuji dengan kesulitan.

3. Apakah mencari rezeki bertentangan dengan menjaga shalat?

Tentu tidak. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk meninggalkan pekerjaan demi beribadah sepanjang hari. Islam justru mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat.

Perhatikan firman Allah dalam QS. Al-Jumu'ah: 10:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila shalat telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." 

QS. Al-Jumu'ah:10

Ayat ini memberikan gambaran keseimbangan yang sangat indah. Setelah menunaikan shalat Jumat, umat Islam diperintahkan kembali bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah.

Artinya, bekerja dan mencari nafkah merupakan bagian dari kehidupan seorang muslim. Namun, pekerjaan tidak boleh mengalahkan kewajiban kepada Allah.

Kita harus bekerja keras, tetapi jangan sampai bekerja membuat kita melupakan shalat. Kita harus berusaha mendapatkan penghasilan, tetapi jangan sampai cara mendapatkannya melanggar ketentuan Allah.

Ada dua hal yang harus berjalan beriringan:

  1. Ikhtiar: Menggunakan kemampuan, tenaga, pikiran, dan kesempatan untuk mencari rezeki yang halal.

  2. Tawakal: Meyakini bahwa hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah dan tidak menggantungkan hati sepenuhnya kepada usaha manusia.

Orang yang bertawakal bukan orang yang meninggalkan pekerjaan, tetapi orang yang bekerja tanpa melupakan Allah. Ia tidak malas, tetapi juga tidak diperbudak oleh pekerjaannya.

4. Rezeki tidak hanya berupa harta

Satu hal yang sering membuat manusia keliru dalam memahami rezeki adalah karena mereka membatasi rezeki hanya pada uang dan kekayaan.

Padahal, rezeki Allah sangat luas. Kesehatan adalah rezeki, keluarga yang saleh adalah rezeki, ilmu yang bermanfaat adalah rezeki, hati yang tenang adalah rezeki, dan kemampuan untuk beribadah juga merupakan nikmat yang sangat besar.

Bayangkan seseorang memiliki rumah mewah, kendaraan banyak, dan penghasilan besar, tetapi tidak pernah merasakan ketenangan. Keluarganya tidak mengenal shalat, anak-anaknya jauh dari agama, dan hartanya justru membuatnya semakin lalai kepada Allah.

Sebaliknya, ada orang yang kehidupannya sederhana, tetapi keluarganya menjaga shalat, penghasilannya halal, hatinya tenang, dan ia merasa cukup dengan pemberian Allah.

Manakah yang lebih beruntung?

Tentu kita tidak sedang mengatakan bahwa kekayaan itu buruk atau kemiskinan itu lebih baik. Kekayaan dapat menjadi nikmat yang besar apabila digunakan untuk ketaatan. Namun, jangan sampai kita hanya menghitung rezeki yang masuk ke rekening, tetapi melupakan nikmat yang membuat kehidupan kita bernilai di hadapan Allah.

Karena itu, ketika berdoa meminta rezeki, jangan hanya meminta agar Allah memperbanyak harta. Mintalah pula agar Allah memberkahi harta, menjaga keluarga, memberikan kesehatan, dan menjadikan kita hamba yang istiqamah dalam beribadah.

5. Jangan hanya memikirkan masa depan ekonomi anak, tetapi pikirkan juga masa depan akhiratnya

Ada satu pesan yang sangat penting dari awal ayat ini:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ

"Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat."

Perhatikan bahwa Allah tidak hanya memerintahkan seseorang menjaga shalatnya sendiri, tetapi juga memerintahkan agar keluarganya dijaga.

Ini menjadi teguran bagi para orang tua. Terkadang kita begitu serius memikirkan masa depan anak-anak. Kita berusaha menyekolahkan mereka setinggi mungkin, memberikan fasilitas terbaik, mengajari mereka keterampilan, bahkan menyiapkan modal agar kelak mereka bisa hidup mandiri.

Semua itu baik dan merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua. Akan tetapi, jangan sampai perhatian terhadap masa depan dunia anak jauh lebih besar daripada perhatian terhadap masa depan akhiratnya.

Kita khawatir anak tidak mendapatkan pekerjaan yang baik, tetapi apakah kita juga khawatir jika anak tidak menjaga shalatnya?

Kita mengajari anak bagaimana mendapatkan uang, tetapi apakah kita sudah mengajari mereka siapa yang memberikan rezeki?

Kita menginginkan anak-anak menjadi orang sukses, tetapi apakah kita juga menginginkan mereka menjadi orang saleh?

Inilah yang harus kita renungkan. Jangan sampai kita berhasil mewariskan harta kepada anak-anak, tetapi gagal mewariskan iman dan kebiasaan beribadah kepada mereka.

Keluarga yang baik bukan hanya keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan hidup anggotanya, tetapi keluarga yang bersama-sama berusaha mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat.

6. Kesudahan yang baik adalah milik orang bertakwa

Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya:

وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

"Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa."

Inilah penutup yang sangat kuat. Seolah-olah Allah mengingatkan bahwa kehidupan manusia bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan rezeki hari ini, tetapi juga tentang bagaimana mempertanggungjawabkan kehidupan kelak.

Manusia sering kali mengukur keberhasilan berdasarkan kekayaan, jabatan, kedudukan, dan pencapaian duniawi. Padahal, semua itu akan ditinggalkan. Rumah yang kita bangun akan ditempati orang lain, harta yang kita kumpulkan akan diwariskan, dan jabatan yang kita banggakan akan berakhir.

Yang akan menemani kita adalah amal saleh.

Maka, jangan hanya bertanya: berapa banyak rezeki yang berhasil kita kumpulkan? Tetapi tanyakan pula: berapa banyak shalat yang berhasil kita jaga? Seberapa baik kita mendidik keluarga? Seberapa halal harta yang kita peroleh? Dan seberapa besar ketakwaan kita kepada Allah?

Sebab, keberhasilan hidup bukan sekadar ketika seseorang berhasil mengumpulkan banyak harta, tetapi ketika ia mampu mendapatkan harta tanpa kehilangan ketaatan kepada Allah.

7. Penutup: Jangan lupakan Allah ketika mencari rezeki

QS. Ṭāhā: 132 mengajarkan kepada kita sebuah prinsip kehidupan yang sangat mendasar. Allah memerintahkan kita menjaga shalat, bersabar dalam menegakkannya, dan tidak membiarkan kekhawatiran terhadap rezeki menghalangi penghambaan kepada-Nya.

Kita memang harus bekerja. Kita harus berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Kita harus berjuang agar kehidupan menjadi lebih baik. Akan tetapi, semua itu harus dilakukan dalam koridor ketaatan.

Jangan sampai kita begitu sibuk mencari rezeki hingga melupakan pemberi rezeki. Jangan sampai kita begitu serius mengejar kehidupan dunia, tetapi tidak serius mempersiapkan kehidupan akhirat.

Mari kita renungkan beberapa pertanyaan berikut:

  • Ketika azan berkumandang, mana yang lebih kita utamakan: panggilan Allah atau kesibukan pekerjaan?

  • Ketika memikirkan masa depan anak, apakah kita lebih khawatir mereka tidak memiliki pekerjaan atau tidak memiliki iman?

  • Ketika mendapatkan penghasilan, apakah kita hanya berpikir bagaimana menambah harta atau juga berpikir bagaimana menjadikannya halal dan berkah?

  • Ketika menghadapi kesulitan hidup, apakah kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya?

Akhirnya, mari kita ingat kembali firman Allah:

لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ

"Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu."

Maka, jangan korbankan shalat demi mengejar rezeki. Jangan korbankan ketaatan demi mendapatkan keuntungan. Sebab, Allah yang memerintahkan kita untuk beribadah adalah Allah yang juga menjamin rezeki kita.

Carilah rezeki dengan sungguh-sungguh, tetapi tegakkan shalat dengan lebih sungguh-sungguh. Kejarlah dunia dengan kemampuan yang Allah berikan, tetapi jangan pernah melupakan akhirat yang menjadi tempat kembali kita.

Referensi utama

  1. Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Ṭāhā: 132.

  2. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Ṭāhā: 132.

  3. Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Ṭāhā: 132.

  4. Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl, tafsir QS. Ṭāhā: 132.

  5. As-Sa'di, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān, tafsir QS. Ṭāhā: 132.

Sumber tafsir yang dapat dibaca: