"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Akal yang Sehat akan Selalu Condong kepada Kebaikan

 


AKAL YANG SEHAT AKAN SELALU CONDONG KEPADA KEBAIKAN

1. Manusia Diciptakan Sebagai Sebaik-baik Makhluk

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menciptakan manusia dengan kemuliaan yang tidak diberikan kepada kebanyakan makhluk lainnya. Kemuliaan itu bukan sekadar karena bentuk fisiknya yang indah, tetapi karena Allah membekalinya dengan berbagai potensi untuk mengenal dan beribadah kepada-Nya.

Allah Ta‘ālā berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tīn: 4)

Dan Allah berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

"Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam." (QS. Al-Isrā': 70)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kemuliaan ini meliputi kesempurnaan bentuk, kemampuan berbicara, kemampuan belajar, hati yang mampu beriman, dan akal yang mampu berpikir. Semua itu menjadikan manusia layak menerima amanah syariat.


2. Di Antara Bentuk Kesempurnaan Itu Adalah Akal

Di antara nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada manusia adalah akal. Dengan akal manusia dapat memahami, menimbang, mengingat, mengambil pelajaran, dan membedakan antara yang benar dan yang salah.

Karena pentingnya akal, Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia untuk menggunakannya.

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

"Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian menggunakan akal." (QS. Al-Baqarah: 242)

Namun, akal hanyalah potensi. Sebagaimana mata membutuhkan cahaya agar dapat melihat, akal pun membutuhkan petunjuk agar tidak tersesat.


3. Wahyu Adalah Sumber Ilmu yang Menyehatkan Akal

Allah tidak membiarkan akal berjalan sendiri. Dia menurunkan wahyu sebagai cahaya yang menerangi jalan berpikir manusia.

Tanpa petunjuk wahyu, akal mudah dipengaruhi hawa nafsu, syubhat, dan prasangka. Sebaliknya, ketika akal diberi asupan ilmu yang benar dari Al-Qur'an dan Sunnah, ia akan tumbuh semakin jernih dan bijaksana.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar." (QS. At-Taubah: 33)

Allah juga berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang dapat mengambil pelajaran hanyalah orang-orang yang berakal." (QS. Az-Zumar: 9)

Karena itu, ilmu syar'i bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menyehatkan cara berpikir.


4. Fungsi Akal Adalah Mengenal Allah dan Menerima Kebenaran

Tujuan utama akal bukan untuk berdebat, bukan pula untuk membenarkan semua keinginan manusia. Fungsi utamanya adalah mengenali tanda-tanda kebesaran Allah dan menerima kebenaran ketika kebenaran itu datang.

Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Āli 'Imrān: 190)

Semakin sehat akal seseorang, semakin mudah ia melihat bahwa seluruh alam semesta menunjukkan keesaan Allah. Akal yang sehat tidak sombong di hadapan dalil, tetapi tunduk kepada kebenaran.


5. Akal Harus Dipelihara Agar Tetap Sehat

Kemuliaan manusia bukan semata-mata karena tubuh yang tegap atau wajah yang indah, tetapi karena Allah menganugerahkan kemampuan berpikir dan menerima petunjuk.

Maka pertanyaannya, mengapa ada manusia yang semakin cerdas justru semakin jauh dari Allah?

Jawabannya, karena akal tidak cukup hanya cerdas, tetapi harus sehat.

Akal yang sehat adalah akal yang jujur terhadap kebenaran. Ketika melihat bukti, ia menerimanya. Ketika mendengar nasihat, ia merenungkannya. Ketika mengetahui kebenaran, ia berusaha mengikutinya.

Perhatikanlah, Allah tidak mengatakan agar manusia mengikuti agama tanpa berpikir. Sebaliknya, Allah mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya, merenungkan ayat-ayat-Nya, lalu mengambil kesimpulan dengan akal yang jernih. Semakin sehat akal seseorang, maka :

  • Semakin mudah ia menerima kebenaran.
  • Orang yang berakal tidak malu mengakui kesalahan.
  • Tidak gengsi menerima nasihat.
  • Tidak fanatik kepada hawa nafsunya.

Karena tujuan akal bukan memenangkan perdebatan, melainkan menemukan kebenaran.

Oleh sebab itu Allah memuji orang-orang yang benar-benar menggunakan akalnya.

فَبَشِّرْ عِبَادِ ۝ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan berbagai perkataan, lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah ulul albab (orang-orang yang berakal)." (QS. Az-Zumar: 17–18)

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat indah. Ukuran orang berakal bukan seberapa banyak ia berbicara, tetapi seberapa besar ia mau mendengar.

Bukan seberapa keras mempertahankan pendapatnya, tetapi seberapa siap meninggalkan pendapatnya ketika nyata bertentangan dengan kebenaran. Inilah akal yang dipuji oleh Allah.

Sebagaimana tubuh dapat sakit, akal pun dapat rusak. Yang merusak akal bukan hanya khamar dan segala yang memabukkan, tetapi juga hawa nafsu, dosa, kesombongan, fanatisme buta, dan syubhat yang terus-menerus diikuti.

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

"Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?" (QS. Al-Jāṯiyah: 23)

Maka akal dipelihara dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu syar'i, bergaul dengan orang-orang saleh, menjauhi maksiat, serta senantiasa memohon petunjuk kepada Allah.


6. Akal yang Lurus Selalu Selaras dengan Wahyu

Sebagian orang menganggap bahwa mengikuti wahyu berarti meninggalkan akal. Anggapan ini bertentangan dengan ajaran Islam.

Justru akal yang paling sehat adalah akal yang mengetahui batas kemampuannya, lalu tunduk kepada petunjuk Allah.

Ibnu Taimiyah berkata:

اَلْعَقْلُ الصَّرِيحُ لَا يُعَارِضُ النَّقْلَ الصَّحِيحَ

"Akal yang lurus tidak akan bertentangan dengan dalil yang sahih."

Apabila tampak ada pertentangan, maka yang perlu dikoreksi adalah pemahaman manusia, bukan wahyunya. Sebab Allah Yang menciptakan akal adalah Allah pula yang menurunkan wahyu. Mustahil ciptaan-Nya yang lurus bertentangan dengan petunjuk-Nya yang sempurna.

Karena itu, semakin sehat akal seseorang, semakin mudah ia menerima Al-Qur'an dan Sunnah. Dan semakin dekat seseorang kepada wahyu, semakin lurus pula cara berpikirnya.

Jika hati bersih dan akal sehat, maka wahyu tidak akan terasa berat. Justru akal akan menyaksikan bahwa seluruh syariat Allah membawa kebaikan, meskipun tidak semua hikmahnya mampu dijangkau oleh manusia.

Hari ini manusia hidup di zaman yang dipenuhi informasi. Semua orang dapat berbicara, berkomentar, bahkan menyebarkan pendapatnya dalam hitungan detik.

Namun, tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang banyak pengikutnya adalah petunjuk. Dan tidak semua yang disukai manusia diridhai Allah.

Maka jangan hanya menjadi orang yang cerdas, tetapi jadilah orang yang berakal.

  • Akal yang membawa kita semakin rendah hati.
  • Semakin mudah menerima nasihat.
  • Semakin cinta kepada ilmu.
  • Semakin tunduk kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Karena sesungguhnya puncak kecerdasan bukanlah mampu mengalahkan orang lain dalam perdebatan, tetapi mampu mengalahkan hawa nafsu dalam ketaatan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang memiliki hati yang bersih, akal yang sehat, dan selalu condong kepada kebenaran.

Akal yang sehat akan mencintai kebaikan

Allah ﷻ jadikan akal dalam fitrahnya adalah menyukai kebaikan dan kebenaran, Allah ﷻ berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allâh); (tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rûm: 30)

Syekh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah ﷻ menjadikan pada akal manusia cenderung menganggap baik suatu kebenaran dan menilai buruk segala yang batil. Karena sesungguhnya semua hukum dalam syariat Islam, baik yang lahir maupun yang batin, Allah ﷻ telah menjadikan pada hati semua makhluk-Nya kecenderungan (untuk) menerimanya, maka Allah ﷻ menjadikan di hati mereka rasa cinta kepada kebenaran dan selalu mengutamakannya. Inilah hakikat fitrah Allah yang dimaksudkan.” (Tafsir As-Sa’di, QS. Ar-Rum: 30)

Maka, keutamaan akal telah dapat membedakan antara jalan bahagia dengan yang hina. Yakin akan kebenaran barang yang benar dan berpegang kepadanya, tahu akan kesalahan barang yang salah dan menjauhinya; semuanya didapat dengan otak yang cerdas, bukan karena turut-turutan, bukan karena taklid kepada pendapat orang lain saja.

Namun, sebagaimana apa yang difirmankan Allah ﷻ,

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Oleh karena itu, terjadilah peperangan yang sengit antara akal yang lurus di atas cahaya ilmu dengan hawa nafsu yang ditunggangi setan. Sehingga tidak heran kita temui bahwa ada orang yang berakal hebat, cerdas, bergelar tinggi, tetapi jatuh dalam kesesatan yang bahkan oleh orang awam sekalipun dianggap kebodohan.

Akal adalah kendaraan menuju surga

Akal ini adalah kendaraan menuju surga, ia salah satu perangkat penting agar kita sampai menuju surga Allah ﷻ. Bukankah syariat ini hanya dibebankan kepada orang yang berakal serta matang akalnya? Bukankah orang gila tidak dibebankan syariat? Betapa banyak keadaan terangkatnya syariat karena akal seorang telah hilang?

Namun, sebagaimana kendaraan kita, butuh diservis, butuh dipoles, bahkan terus ditingkatkan. Demikianlah akal, hendaknya terus dipoles agar senantiasa hidup di atas fitrah kebaikannya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Mâjah)

Dan bertebarannya mutiara faidah ayat-ayat Al-Quran, tak bisa dipahami kecuali dengan akal yang lurus. Oleh karena itu, perlulah akal kita itu, dibekali dengan bensin dan bahan bakar yang berkualitas dari Al-Quran dan As-Sunnah. Sebab akal menuntut bahan bakar dari cahaya ilmu hakiki, sedangkan hawa nafsu menuntut siraman dari was-was setan. Allah ﷻ berfirman,

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut: 43)

Maka, berbagai ilmu berkualitas itu yang ada di dalam firman Allah ﷻ dan sabda Nabi-Nya ﷺ, sangat sayang jika dilewatkan demikian saja, karena kita tidak mampu mengolahnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم



Tiga Dimensi Syukur

 


Tiga Dimensi Syukur

Imam Ibnu Qoyyim Menyatakan: 

الثَّنَاءُ عَلَى النِّعَمِ وَمَحَبَّتُهُ وَالْعَمَلُ بِطَاعَتِهِ 

"Memuji (Allah) atas nikmat, mencintai nikmat tersebut, serta memanfaatkan nikmat itu untuk menaati-Nya."

Ungkapan ini menjelaskan hakikat syukur. Syukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah, tetapi mencakup tiga unsur penting: lisan, hati, dan amal.

1. الثناء على النعم (Memuji Allah atas nikmat)

Yang dimaksud adalah memuji Allah dengan lisan karena Dialah pemberi seluruh nikmat. 

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ 

"Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah (sebagai bentuk syukur)." (QS. Adh-Dhuha: 11)

Bentuknya antara lain:

  • Mengucapkan الحمد لله ketika memperoleh nikmat.
  • Memuji Allah dalam doa dan dzikir.
  • Menyebut nikmat Allah untuk menumbuhkan rasa syukur, bukan untuk berbangga diri.

Namun perlu dipahami bahwa pujian kepada Allah bukanlah inti syukur, melainkan pintu masuk menuju syukur yang sempurna. Sebab seseorang bisa memuji Allah dengan lisannya, tetapi masih menggunakan nikmat untuk bermaksiat.

2. محبته (Mencintai nikmat tersebut)

Maksudnya bukan mencintai nikmat karena kenikmatannya semata, tetapi mencintainya karena nikmat itu berasal dari Allah dan menjadi sarana mendekat kepada-Nya.

Orang yang bersyukur akan memandang nikmat sebagai amanah, bukan sekadar fasilitas untuk memuaskan hawa nafsu. Contohnya:

  • Mencintai kesehatan karena dapat digunakan untuk shalat berjamaah, menuntut ilmu, dan berbakti kepada orang tua.
  • Mencintai ilmu karena dapat mengenal Allah dengan benar dan mengajarkannya kepada manusia.
  • Mencintai harta karena dapat digunakan untuk zakat, infak, sedekah, dan membantu dakwah.

Sebaliknya, jika seseorang mencintai nikmat hingga melupakan Allah, maka nikmat itu berubah menjadi fitnah. Allah berfirman: 

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ 

"Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan." (QS. At-Taghabun: 15)

3. والعمل بطاعته (Menggunakan nikmat untuk menaati Allah)

Inilah puncak syukur. Seluruh nikmat yang Allah berikan dipakai sesuai tujuan penciptaannya. Misalnya:

  • Mata digunakan membaca Al-Qur'an dan melihat yang halal.
  • Telinga digunakan mendengarkan ilmu yang bermanfaat.
  • Lisan digunakan berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan berkata jujur.
  • Akal digunakan untuk memahami agama.
  • Harta digunakan untuk zakat, sedekah, dan membantu sesama.
  • Jabatan digunakan untuk menegakkan keadilan.
  • Waktu digunakan untuk amal saleh.

Sebaliknya, menggunakan nikmat untuk bermaksiat merupakan bentuk kufur nikmat, meskipun lisan terus mengucapkan AlhamdulillahKarena itu, para ulama mengatakan: 

الشُّكْرُ هُوَ اسْتِعْمَالُ النِّعْمَةِ فِي طَاعَةِ الْمُنْعِمِ 

"Syukur adalah menggunakan nikmat untuk menaati Dzat yang memberi nikmat."

Hubungan ketiga unsur tersebut

Ketiga unsur ini saling melengkapi.

  • Lisan memuji Allah.
  • Hati mencintai Allah dan nikmat-Nya sebagai karunia-Nya.
  • Anggota badan membuktikan syukur dengan amal.

Jika salah satunya hilang, syukur menjadi kurang sempurna. Sebagai contoh:

  • Mengucapkan Alhamdulillah tetapi enggan shalat menunjukkan syukur lisan tanpa syukur amal.
  • Menggunakan nikmat untuk beribadah tetapi merasa semua itu hasil usahanya sendiri menunjukkan kurangnya syukur hati.
  • Meyakini nikmat berasal dari Allah tetapi tidak pernah memuji-Nya juga merupakan kekurangan dalam syukur.

Kesimpulan

Ungkapan الثناء على النعم ومحبته والعمل بطاعته mengajarkan bahwa syukur yang hakiki memiliki tiga dimensi:

  1. Lisan, yaitu memuji Allah atas segala nikmat-Nya.
  2. Hati, yaitu mencintai nikmat karena berasal dari Allah dan menjadikannya sarana mendekat kepada-Nya.
  3. Amal, yaitu menggunakan seluruh nikmat dalam ketaatan kepada Allah.

Inilah syukur yang sempurna, sebagaimana doa Nabi ﷺ: 

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ 

"Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya." (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i).

Mengapa syukur mudah diucapkan?

 


Mengapa syukur mudah diucapkan?

Mengucapkan syukur tidak membutuhkan pengorbanan. Seseorang bisa dengan mudah mengatakan, "Alhamdulillah, saya bersyukur," bahkan ketika hatinya belum benar-benar menyadari besarnya nikmat Allah atau ketika perilakunya masih bertentangan dengan rasa syukur tersebut.

Allah berfirman: 

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ 

"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur." (QS. Saba': 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa syukur yang hakiki bukanlah sekadar ucapan, melainkan sesuatu yang hanya mampu dilakukan oleh sedikit orang.

Mengapa syukur sulit dilakukan?

1. Syukur menuntut pengakuan hati

Seseorang harus meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah, bukan semata-mata hasil kepintaran, usaha, atau kedudukannya.

Allah berfirman tentang Qarun: 

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي 

"Sesungguhnya aku diberi harta itu hanya karena ilmu yang ada padaku." (QS. Al-Qashash: 78)

Inilah lawan dari syukur: mengaitkan nikmat hanya kepada kemampuan diri sendiri.

2. Syukur menuntut ketaatan

Hakikat syukur adalah menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang Allah ridai.

Misalnya:

  • Mata digunakan untuk membaca Al-Qur'an, bukan melihat yang haram.
  • Lisan digunakan untuk berdzikir dan berkata jujur, bukan berdusta atau menggunjing.
  • Harta digunakan untuk zakat, infak, dan membantu sesama, bukan bermewah-mewahan atau bermaksiat.
  • Ilmu digunakan untuk mengajarkan kebenaran, bukan mencari popularitas.

Di sinilah letak kesulitannya, karena manusia sering lebih mudah menikmati nikmat daripada menggunakannya untuk beribadah.

3. Syukur menuntut kesabaran

Bersyukur ketika hidup lapang relatif mudah. Yang berat adalah tetap mengingat nikmat Allah ketika diuji dengan kesempitan, kehilangan, atau sakit.

Orang yang benar-benar bersyukur tetap melihat bahwa di balik setiap ujian masih ada nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.

4. Syukur menuntut istiqamah

Syukur bukan dilakukan sekali, tetapi sepanjang hidup.

Setelah memperoleh kesehatan, seseorang harus terus menjaga kesehatan itu untuk taat. Setelah memperoleh rezeki, ia harus terus menggunakannya di jalan Allah. Setelah memperoleh ilmu, ia harus terus mengamalkannya.

Istiqamah inilah yang tidak mudah.

Syukur memiliki tiga unsur

Para ulama menjelaskan bahwa syukur terdiri dari tiga perkara:

  1. Syukur dengan hati, yaitu mengakui bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah.
  2. Syukur dengan lisan, yaitu memuji Allah, memperbanyak ucapan Alhamdulillah, dan menceritakan nikmat-Nya tanpa kesombongan.
  3. Syukur dengan anggota badan, yaitu menggunakan setiap nikmat dalam ketaatan kepada Allah.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa syukur terbangun di atas tiga pilar tersebut. Jika salah satunya hilang, maka syukur menjadi tidak sempurna.

Contoh dalam kehidupan

  • Mengucapkan "Alhamdulillah saya sehat", tetapi meninggalkan shalat berjamaah. Ini syukur lisan, namun belum menjadi syukur amal.
  • Mengatakan "Alhamdulillah diberi rezeki", tetapi enggan berzakat atau bersedekah. Ini menunjukkan syukur belum terwujud dalam penggunaan nikmat.
  • Mengaku bersyukur memiliki waktu luang, tetapi menghabiskannya untuk hal yang sia-sia. Waktu belum dimanfaatkan sebagai bentuk syukur.

Kesimpulan

Syukur memang mudah diucapkan, tetapi sulit diwujudkan karena syukur bukan sekadar kalimat "Alhamdulillah". Syukur adalah pengakuan hati, pujian dengan lisan, dan penggunaan seluruh nikmat untuk menaati Allah. Oleh sebab itu, Allah menyatakan bahwa orang yang benar-benar bersyukur sangat sedikit.

Sebagaimana dikatakan oleh para salaf: 

الشُّكْرُ قَيْدُ النِّعَمِ الْمَوْجُودَةِ، وَصَيْدُ النِّعَمِ الْمَفْقُودَةِ 

"Syukur adalah pengikat nikmat yang telah ada dan pemburu nikmat yang belum ada."

Artinya, syukur menjaga nikmat agar tidak hilang sekaligus menjadi sebab Allah menambah nikmat-Nya, sebagaimana firman-Nya: 

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ 

"Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian." (QS. Ibrahim: 7).

Keadaan Alam Kubur



Keadaan Alam Kubur

Alam Kubur Menakutkan
Hani’ Radhiyallahu anhu, bekas budak Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu, berkata,

كَانَ عُثْمَانُ إِذَا وَقَفَ عَلَى قَبْرٍ بَكَى حَتَّى يَبُلَّ لِحْيَتَهُ فَقِيلَ لَهُ تُذْكَرُ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَا تَبْكِي وَتَبْكِي مِنْ هَذَا فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا الْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

Kebiasaan Utsman Radhiyallahu anhu jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau Radhiyallahu anhu ditanya, ‘Disebutkan tentang surga dan neraka tetapi engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini (melihat kubur), (Mengapa demikian?)’ Beliau, ‘Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (yang artinya) ‘Kubur adalah persinggahan pertama dari (persinggahan-persinggahan) akhirat. Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah; dihasankan oleh syaikh al-Albâni]

Karena fase setelah kubur lebih mudah bagi yang selamat, maka ketika melihat surga yang disiapkan Allâh Azza wa Jalla dalam kuburnya, seorang Mukmin mengatakan, “Ya Rabb, segerakanlah kiamat agar aku kembali ke keluarga dan hartaku.” Sebaliknya, orang-orang kafir, ketika melihat adzab pedih yang disiapkan Allâh Azza wa Jalla baginya, ia berseru, “Ya Rabb, jangan kau datangkan kiamat.” Karena yang akan datang setelahnya lebih pedih siksanya dan lebih menakutkan.

Gelapnya Alam Kubur
Hal ini ditunjukkan oleh hadits shahih :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ – فَقَالُوا مَاتَ. قَالَ « أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِى ». قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ « دُلُّونِى عَلَى قَبْرِهِ ». فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ ».

Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa seorang wanita hitam -atau seorang pemuda- biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatinya sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia telah meninggal’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?’ Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya kepadaku’. Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala  menyinarinya bagi mereka dengan shalatku terhadap mereka.” [HR. Bukhari, Muslim, dll]

Himpitan Kubur
Setelah mayit diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadits menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu anhu, padahal kematiannya membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Dalam Sunan an-Nasâ’i diriwayatkan dari Ibn Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ

Inilah yang membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur), akan tetapi kemudian dibebaskan.” [Dishahihkan oleh syaikh al-Albâni; Lihat Misykâtul Mashâbîh 1/49; Silsilah ash-Shahîhah, no. 1695]

Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ

 Sesungguhnya kubur memiliki himpitan yang bila seseorang selamat darinya, maka (tentu)  Saad bin Muâdz telah selamat. [HR. Ahmad, no. 25015; 25400; Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni di dalam Shahîhul Jâmi’ 2/236]

Himpitan kubur in akan menimpa semua orang, termasuk anak kecil. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا هَذَا الصَّبِيُّ

Seandainya ada seseorang selamat dari himpitan kubur, maka  bocah ini pasti selamat (Mu’jam ath-Thabrani dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhu dengan sanad shahih dan riwayat ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jâmi, 5/56)

Fitnah (Ujian)  Kubur
Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, dua malaikat akan mendatanginya dan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Inilah yang dimaksud dengan fitnah (ujian) kubur. Dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat al-Barro bin ‘Azib Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ:فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ  فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ : وَمَا يُدْرِيْكَ ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ:  أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِيفَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ (وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ) وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ , قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ , فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ , فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ, فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ, فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي

Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya, lalu keduanya bertanya, “Siapakah Rabbmu ?” Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku adalah Allâh”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apa agamamu?”Dia menjawab: “Agamaku adalah al-Islam”.

Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab, “Beliau utusan Allâh”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh, aku mengimaninya dan membenarkannya”.
Lalu seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) benar, berilah dia hamparan dari surga, (dan berilah dia pakaian dari surga), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga.
Maka datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang Mukmin itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada istriku dan hartaku”.

Pertanyaan ini juga dilontarkan kepada orang kafir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ, فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ

Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka.” Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu ! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”. [Lihat Shahîhul Jâmi’ no: 1672]

Dari hadits yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pertanyaan dalam kubur berlaku untuk umum, baik orang Mukmin maupun kafir.

Adzab dan Nikmat Kubur
Banyak sekali hadits yang menjelaskan keberadaan adzab dan nikmat kubur. Hal ini telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah. Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah, penulis kitab al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, berkata, “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasûlullâh  tentang keberadaan adzab dan nikmat kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya; Demikian juga pertanyaan dua malaikat. Oleh karena itu, wajib meyakini dan mengimani kepastian ini. Dan kita tidak membicarakan bagaimana caranya, karena akal tidak memahami bagaimana caranya, karena keadaan itu tidak dikenal di dunia ini. Syari’at tidaklah datang membawa perkara yang mustahil bagi akal, tetapi terkadang membawa perkara yang membingungkan akal. Karena kembalinya ruh ke jasad (di alam kubur) tidaklah dengan cara yang diketahui di dunia, namun ruh dikembalikan ke jasad dengan cara yang berlainan dengan yang ada di dunia.” [Kitab Syarah al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, hlm.450;  al-Minhah al-Ilâhiyah fii Tahdzîb Syarh ath-Thahâwiyah, hlm. 238]

Kalangan atheis dan orang-orang Islam yang mengikuti pendapat para filosof mengingkari adanya adzab kubur. Mereka beralasan bahwa setelah membongkar kubur, mereka tidak melihat sama sekali apa yang diberitakan oleh nash-nash syariat. Mereka semua tidak mempercayai apa yang di luar jangkauan ilmu mereka. Mereka mengira bahwa penglihatan mereka dapat melihat segala sesuatu dan pendengaran mereka dapat mendengar segala sesuatu, padahal kita saat ini telah mengetahui beberapa rahasia alam yang oleh penglihatan dan pendengaran kita tidak dapat menangkapnya.

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan berita-Nya.

Di dalam al-Qur’ân terdapat isyarat-isyarat yang menunjukkan adanya adzab kubur. Antara lain adalah Firman Allâh Azza wa Jalla tentang Fir’aun dan kaumnya :

فَوَقٰىهُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِ مَا مَكَرُوْا وَحَاقَ بِاٰلِ فِرْعَوْنَ سُوْۤءُ الْعَذَابِۚ – اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَّعَشِيًّا ۚوَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ

Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk.  Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”.[al-Mukmin/40: 45-46]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk”, yaitu tenggelam di lautan, kemudian pindah ke neraka Jahim. “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”,  sesungguhnya ruh-ruh mereka dihadapkan ke neraka pada waktu pagi dan petang sampai hari kiamat. Jika hari kiamat telah terjadi ruh dan jasad mereka berkumpul di neraka. Oleh karena inilah Allâh Azza wa Jalla berfirman

وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ

dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”, yaitu kepedihannya lebih dahsyat dan siksanya lebih besar. Dan ayat ini merupakan fondasi yang besar dalam pengambilan dalil Ahlus Sunnah terhadap adanya siksaan barzakh di dalam kubur, yaitu firmanNya ‘Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang’. [Tafsir surat al-Mukmin/40: 45-46]

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,  “Mayoritas Ulama menyatakan bahwa penampakan nereka itu terjadi di barzakh, dan itu merupakan dalil penetapan adanya siksa kubur”. [Fathul Bâri 11/233]

Sebab-Sebab Siksa Kubur
Sebab-sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan siksa kubur ada dua bagian, mujmal (global) dan mufash-shal (rinci). Sebabnya secara mujmal (global), yaitu kebodohan terhadap Allâh Azza wa Jalla , menyia-nyiakan perintah-Nya, dan menerjang larangan-Nya. Sedangkan sebabnya secara mufash-shal (rinci), adalah perkara-perkara yang dijelaskan oleh nash-nash sebagai sebab siksa kubur.

Di sini akan kami sebutkan di antara sebab mufash-shal sehingga kita bisa menjauhinya:
  1. Namimah, yaitu menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain untuk merusak hubungan mereka.
  2. Tidak menutupi diri ketika buang hajat.
  3. Ghulul, yaitu mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi oleh imam.
  4. Dusta
  5. Memahami al-Qur’ân namun tidak mengamalkannya.
  6. Zina
  7. Riba
  8. Mayit yang ditangisi keluarganya, jika mayit tersebut tidak melarang sebelumnya.

Hal-Hal Yang Menyelamatkan Dari Siksa Kubur
Perkara yang akan menyelamatkan seseorang dari adzab kubur adalah orang yang mempersiapkan diri sebelum menghadapi kematian yang datang tiba-tiba. Di antara persiapan menghadapi maut adalah segera bertaubat, menunaikan kewajiban syariat, memperbanyak amal shalih, memperbaiki akidah, berjihad, berbuat baik pada orang tua, menyambung silaturahim, dan amal-amal shalih lainnya. Dengan amalan tersebut Allâh Azza wa Jalla memberinya jalan keluar dari tiap kesulitan dan kesusahan.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, dengan mengutip hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya:

“Sesungguhnya mayit mendengar suara langkah kaki orang-orang yang meninggalkannya. Apabila ia seorang mukmin, maka shalat berada di dekat kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat berada di sebelah kirinya, sedangkan amal-amal kebajikan seperti berkata benar, menyambung silaturahim, dan berbuat baik kepada manusia berada di dekat kedua kakinya.

Kemudian malaikat mendatanginya dari arah kepala, lalu shalat berkata, ‘Dari arahku tidak ada jalan masuk.’ Malaikat itu lalu mendatanginya dari sebelah kanan, maka puasa berkata, ‘Dari arahku tidak ada jalan masuk.’ Setelah itu malaikat mendatanginya dari sebelah kiri, maka zakat berkata, ‘Dari arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian malaikat mendatanginya dari arah kedua kaki, maka amal-amal kebajikan seperti berkata benar, silaturahim, dan berbuat baik kepada manusia berkata, ‘Dari arah kami tidak ada jalan masuk.’

Setelah itu malaikat berkata kepada mayit, ‘Duduklah!’ Maka ia pun duduk. Lalu diperlihatkan kepadanya sesuatu yang menyerupai matahari yang hampir terbenam.

Kemudian malaikat bertanya, ‘Siapakah lelaki yang dahulu berada di tengah kalian itu? Apa pendapatmu tentangnya?’

Mayit menjawab, ‘Biarkan aku, aku ingin menunaikan shalat.’

Malaikat berkata, ‘Engkau memang akan melakukannya, tetapi jawablah pertanyaan kami terlebih dahulu.’

Mayit bertanya, ‘Apa yang kalian tanyakan?’

Malaikat menjelaskan, ‘Apa pendapatmu tentang lelaki yang dahulu berada di tengah kalian itu? Apa persaksianmu tentangnya?’

Mayit menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah ﷺ dan bahwa beliau membawa kebenaran dari sisi Allah.’

Malaikat berkata, ‘Di atas keimanan itulah engkau hidup, di atas keimanan itu engkau mati, dan di atas keimanan itu pula engkau akan dibangkitkan, insya Allah.’

Kemudian dibukakan baginya sebuah pintu menuju surga, lalu malaikat berkata, ‘Inilah tempat tinggalmu di surga dan segala yang telah Allah siapkan untukmu di dalamnya.’ Maka bertambahlah kegembiraan dan kebahagiaannya.

Setelah itu dibukakan baginya sebuah pintu menuju neraka, lalu malaikat berkata, ‘Itulah tempat tinggalmu dan apa yang telah Allah siapkan untukmu sekiranya engkau durhaka kepada-Nya.’ Maka bertambahlah rasa syukur dan kebahagiaannya.

Kemudian kuburnya diluaskan sejauh tujuh puluh hasta dan diterangi dengan cahaya. Jasadnya dikembalikan sebagaimana semula, dan ruhnya dijadikan berada dalam bentuk yang baik, yaitu seekor burung yang bertengger di pohon-pohon surga.”


Memohon Perlindungan Kepada Allah dari Fitnah dan Azab Kubur

Fitnah (ujian) dan adzab kubur adalah masalah besar, sehingga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan dari hal itu, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Beliau pun sangat menekankan kepada umatnya untuk memohon perlindungan kepada Allâh dari segala fitnah dan azab kubur.

Orang-Orang Yang Terpelihara Dari Ujian Dan Siksa Kubur
Sebagian kaum Mukmin yang melakukan amal-amal besar atau tertimpa musibah besar akan terjaga dari fitnah atau ujian dan azab kubur, Diantara mereka :

Pertama, orang yang mati syahid.
an-Nasâ’i rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,

مَا بَالُ الْمُؤْمِنِينَ يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ إِلَّا الشَّهِيدَ قَالَ كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً

“Ya Rasûlullâh, mengapa kaum Mukmin diuji dalam kubur kecuali yang mati syahid?” Beliau menjawab, “Cukuplah baginya ujian kilatan pedang di atas kepalanya.” [Dishahihkan oleh syaikh al-Albâni. Lihat Shahîhul Jâmi’ 4/164]

Kedua, seseorang yang gugur ketika bertugas jaga di jalan Allah
Fadhdhalah ibn Ubaid meriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda,

كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ على عَمَلِهِ إلا الُمرَابِطَ في سبيل الله، فإنه يَنْمِي لَهُ عَمَلَهُ يوم القيامة، ويُؤَمَّنُ فتنة القبر

Setiap orang yang meninggal amalnya ditutup, kecuali yang meninggal ketika bertugas jaga di jalan Allâh. Amalnya terus tumbuh sampai hari kiamat dan ia akan aman dari fitnah kubur.” [HR. Tirmidzi dan Abu Dawud; dishahihkan oleh syaikh al-Albâni. Lihat Misykâtul Mashâbîh 2/355]

Ketiga, seseorang yang meninggal hari Jum’at
Dalam hadits Abdullah ibn Amru, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ، أَوْ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Setiap Muslim yang meninggal pada hari Jum’at akan dijaga oleh Allah dari fitnah kubur.” [HR. Ahmad dan Tirmidzi; Dinyatakan kuat oleh syaikh al-Albâni dalam Ahkâmul Janâiz, hlm. 35]

Keempat, seseorang yang meninggal karena sakit perut
Abdullah bin Yasar Radhiyallahu anhu berkata,

كُنْتُ جَالِسًا وَسُلَيْمَانُ بْنُ صُرَدٍ وَخَالِدُ بْنُ عُرْفُطَةَ فَذَكَرُوا أَنَّ رَجُلاً، تُوُفِّيَ مَاتَ بِبَطْنِهِ فَإِذَا هُمَا يَشْتَهِيَانِ أَنْ يَكُونَا شُهَدَاءَ جَنَازَتِهِ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلآخَرِ أَلَمْ يَقُلْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ مَنْ يَقْتُلْهُ بَطْنُهُ فَلَنْ يُعَذَّبَ فِي قَبْرِهِ ‏”‏ ‏.‏ فَقَالَ الآخَرُ بَلَى

“Aku pernah duduk bersama Sulaiman bin Shard dan Khalid ibn ‘Urafthah. Mereka menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang meninggal karena sakit perut. Keduanya ingin menyaksikan jenazahnya. Salah satunya mengatakan kepada yang lain, ‘Bukankah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang yang meninggal karena sakit perut tidak akan diadzab di dalam kubur.’ Yang satunya menjawab, ‘Engkau benar” [HR. an-Nasa’i dan Tirmidzi; dishahihkan oleh syaikh al-Albâni]

Label