"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Stop Intoleransi, Mari Saling Mengerti

 


Stop Intoleransi, Mari Saling Mengerti

Pendahuluan

Kehidupan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari keberagaman. Di kampus, kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda suku, budaya, daerah, organisasi, mazhab, bahkan agama. Perbedaan tersebut merupakan realitas yang tidak mungkin dihapuskan. Yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan, tetapi bagaimana menyikapi perbedaan itu.

Di era media sosial, intoleransi sering muncul dalam bentuk yang lebih halus namun berbahaya: mudah memberi label, membenci kelompok lain, menyebarkan prasangka, memutus dialog, hingga merasa diri paling benar dan merendahkan orang lain. Akibatnya, ruang diskusi menjadi sempit, persaudaraan melemah, dan semangat mencari kebenaran tergantikan oleh semangat memenangkan perdebatan.

Karena itu, tema "Stop Intoleransi, Mari Saling Mengerti" menjadi sangat relevan, terutama bagi mahasiswa yang diharapkan menjadi agen perubahan dan penjaga persatuan bangsa.


Memahami Toleransi

Secara bahasa, toleransi berasal dari kata tolerance yang berarti sikap menghargai, menghormati, dan memberikan ruang kepada orang lain untuk memiliki pandangan, keyakinan, atau pilihan yang berbeda.

Dalam bahasa Arab, toleransi sering diungkapkan dengan istilah التَّسَامُحُ (at-tasāmuh) yang berarti sikap lapang dada, mudah menerima perbedaan, dan berinteraksi secara baik dengan orang lain.

Toleransi bukan berarti menyetujui semua pendapat atau mencampuradukkan keyakinan. Toleransi juga bukan berarti mengorbankan prinsip agama demi menyenangkan semua pihak.

Toleransi adalah:

  • Menghormati hak orang lain untuk berbeda.
  • Tidak memaksa keyakinan kepada orang lain.
  • Bersikap adil kepada siapa pun.
  • Menjalin kerja sama dalam urusan kemaslahatan bersama.
  • Menjaga adab dalam perbedaan.

Dengan kata lain, toleransi adalah kemampuan hidup berdampingan secara damai tanpa harus kehilangan identitas dan prinsip.


Apa Itu Intoleransi?

Intoleransi adalah sikap tidak mau menerima keberadaan perbedaan.

Intoleransi muncul ketika seseorang:

  • Menganggap hanya dirinya yang berhak hidup dan berbicara.
  • Mudah menuduh dan memberi cap buruk kepada kelompok lain.
  • Menolak dialog dan musyawarah.
  • Membenci orang lain hanya karena berbeda.
  • Bersikap diskriminatif dan tidak adil.

Dalam kehidupan mahasiswa, intoleransi dapat muncul dalam bentuk:

  • Fanatisme organisasi yang berlebihan.
  • Meremehkan kelompok dakwah lain.
  • Membully mahasiswa yang berbeda pandangan.
  • Menyebarkan hoaks dan fitnah terhadap pihak tertentu.
  • Menutup ruang diskusi yang sehat.

Padahal kemajuan ilmu justru lahir dari keterbukaan berpikir dan kemampuan berdialog.


Islam dan Realitas Perbedaan

Islam mengakui bahwa perbedaan adalah bagian dari sunnatullah. Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ﴾

"Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berbeda-beda." (QS. Hūd: 118)

Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan merupakan kenyataan yang memang Allah kehendaki terjadi dalam kehidupan manusia.

Karena itu, tugas manusia bukan menghilangkan semua perbedaan, melainkan mengelola perbedaan dengan bijaksana.


Toleransi dalam Pandangan Islam

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan dan penghormatan terhadap manusia.

Allah berfirman:

﴿لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ﴾

"Tidak ada paksaan dalam agama." (QS. Al-Baqarah: 256)

Ayat ini menunjukkan bahwa keimanan tidak boleh dibangun di atas paksaan. Allah juga berfirman:

﴿لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ﴾

"Untukmu agamamu dan untukku agamaku." (QS. Al-Kāfirūn: 6)

Ayat ini menegaskan penghormatan terhadap eksistensi pihak lain tanpa harus mengakui kebenaran seluruh keyakinannya.

Islam mengajarkan keseimbangan:

  • Teguh dalam akidah.
  • Santun dalam muamalah.
  • Kuat dalam prinsip.
  • Lembut dalam interaksi.


Toleransi Bukan Relativisme

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap toleransi berarti semua agama sama atau semua kebenaran relatif.

Pandangan seperti ini tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Seorang muslim tetap meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar sebagaimana firman Allah:

﴿إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ﴾

"Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam." (QS. Āli 'Imrān: 19)

Namun keyakinan tersebut tidak boleh melahirkan kesombongan, kebencian, dan kezaliman kepada orang lain.

  • Meyakini kebenaran agama sendiri adalah akidah.
  • Menghormati hak orang lain adalah akhlak.
  • Keduanya harus berjalan bersama.


Teladan Toleransi Rasulullah ﷺ

Kehidupan Rasulullah ﷺ memberikan banyak contoh toleransi.

1. Piagam Madinah

Ketika membangun masyarakat Madinah, Rasulullah ﷺ membuat kesepakatan bersama antara kaum muslimin, Yahudi, dan berbagai kabilah lainnya. Setiap kelompok diberikan hak dan kewajiban yang jelas dalam kehidupan bermasyarakat.

Rumusan yang Lebih Singkat

  1. Persatuan dalam keberagaman.
  2. Kebebasan beragama.
  3. Keadilan bagi semua.
  4. Tanggung jawab bersama menjaga keamanan.
  5. Komitmen terhadap perjanjian.
  6. Penyelesaian konflik secara adil dan hukum.

2. Bermuamalah dengan Non-Muslim

Rasulullah ﷺ melakukan transaksi ekonomi dengan orang Yahudi. Bahkan ketika beliau wafat, baju besinya masih tergadaikan kepada seorang Yahudi.

Ini menunjukkan bahwa hubungan sosial dan ekonomi dapat berjalan dengan baik meskipun berbeda agama.

3. Larangan Berbuat Zalim

Allah berfirman:

﴿لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ﴾

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu karena agama." (QS. Al-Mumtaḥanah: 8)

Ayat ini menjadi dasar penting dalam hubungan sosial yang harmonis.


Intoleransi yang Harus Diwaspadai Mahasiswa

Tidak semua intoleransi berbentuk konflik agama. Ada bentuk-bentuk intoleransi yang sering terjadi di lingkungan kampus.

1. Intoleransi Intelektual

Merasa hanya pendapat sendiri yang layak didengar.  Akibatnya:

  • Anti kritik.
  • Menolak kajian ilmiah.
  • Menyerang pribadi lawan diskusi.

Padahal tradisi ilmu dalam Islam dibangun di atas dialog dan argumentasi.


2. Intoleransi Organisasi

Fanatik kelompok secara berlebihan sehingga menganggap organisasi lain selalu salah. Padahal tujuan seluruh organisasi Islam pada dasarnya adalah menghadirkan kemaslahatan umat.


3. Intoleransi Digital

Media sosial sering menjadi tempat lahirnya ujaran kebencian, fitnah, dan provokasi. Banyak orang lebih berani menghina daripada berdialog. Padahal Allah berfirman:

﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾

"Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik." (QS. Al-Baqarah: 83)


Muhammadiyah dan Budaya Dialog

Sebagai gerakan Islam berkemajuan, Muhammadiyah memiliki tradisi dialog yang kuat.

Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, mengajarkan pentingnya keterbukaan berpikir, pengkajian ilmu, dan pembaruan yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.

Muhammadiyah tidak dibangun di atas budaya permusuhan, tetapi budaya:

  • Musyawarah.
  • Tabayyun.
  • Kajian ilmiah.
  • Argumentasi yang santun.
  • Dakwah yang mencerahkan.

Dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), Islam dipahami sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, ruang dialog harus menjadi sarana:

  • Mencari kebenaran.
  • Menumbuhkan persaudaraan.
  • Mengurangi prasangka.
  • Menemukan solusi bersama.


Membangun Ruang Dialog yang Sehat

Ada beberapa prinsip yang perlu dibangun oleh mahasiswa:

Pertama: Mendengar Sebelum Menilai

Banyak konflik lahir karena orang lebih suka menyimpulkan daripada memahami.

Mendengar adalah langkah awal memahami.

Kedua: Bedakan Kritik dengan Kebencian

Kritik bertujuan memperbaiki.

Kebencian bertujuan menjatuhkan.

Mahasiswa harus belajar mengkritik secara ilmiah dan beradab.

Ketiga: Utamakan Data dan Dalil

Diskusi yang sehat dibangun dengan argumentasi, bukan emosi.

Keempat: Husnuzan dan Tabayyun

Allah berfirman:

﴿فَتَبَيَّنُوا﴾

"Maka telitilah kebenarannya." (QS. An-Nisā': 94)

Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas.

Kelima: Menjaga Ukhuwah

Perbedaan pendapat tidak boleh merusak persaudaraan.

Para ulama terdahulu sering berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati.


Penutup

Toleransi bukan berarti kehilangan prinsip. Sebaliknya, toleransi adalah bukti kedewasaan dalam memegang prinsip.

Islam mengajarkan keseimbangan antara keteguhan akidah dan keluhuran akhlak. Seorang muslim diperintahkan untuk meyakini kebenaran agamanya, namun pada saat yang sama diwajibkan berlaku adil, santun, dan menghormati sesama manusia.

Bagi mahasiswa Muhammadiyah, membangun ruang dialog adalah bagian dari dakwah pencerahan. Kampus harus menjadi tempat bertemunya gagasan, bukan arena permusuhan; tempat saling memahami, bukan saling mencurigai; tempat mencari kebenaran, bukan sekadar memenangkan perdebatan.

Karena perbedaan adalah kenyataan, tetapi persaudaraan adalah pilihan. Dan dialog adalah jalan terbaik untuk merawat keduanya.

"Stop Intoleransi, Mari Saling Mengerti. Berbeda bukan alasan untuk bermusuhan, tetapi kesempatan untuk saling belajar dan bertumbuh bersama."

Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan Meningkatkan Ibadah di Bulan Muharram

 


Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan Meningkatkan Ibadah di Bulan Muharram

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah mempertemukan kita dengan bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka, tetapi momentum muhasabah, evaluasi diri, dan memperbarui tekad untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ﴾

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36)

Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Bahkan Rasulullah ﷺ menyebutnya dengan sebutan yang sangat istimewa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ :

«سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ اللَّيْلِ خَيْرٌ، وَأَيُّ الْأَشْهُرِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: خَيْرُ اللَّيْلِ جَوْفُهُ، وَأَفْضَلُ الْأَشْهُرِ شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ»

"Bagian malam yang paling baik adalah pertengahannya, dan bulan yang paling utama adalah bulan Allah yang kalian sebut Muharram."

Perhatikan, Nabi ﷺ menyebut Muharram sebagai "Syahrullah" (bulan Allah). Semua bulan adalah milik Allah, tetapi mengapa Muharram disandarkan secara khusus kepada-Nya?

Penisbatan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya Lathoif Al-Ma’arif, menunjukkan besarnya keutamaan dan kemuliaan bulan Muharam. Beliau rahimahullah berkata,

فَإِنَّ اللَّهَ -تَعَالَى- لَا يُضِيفُ إِلَيْهِ إِلَّا خَوَاصَّ مَخْلُوقَاتِهِ، كَمَا نَسَبَ مُحَمَّدًا وَإِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَغَيْرَهُمْ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ إِلَى عُبُودِيَّتِهِ، وَنَسَبَ إِلَيْهِ بَيْتَهُ وَنَاقَتَهُ

Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menisbatkan kepada diri-Nya, kecuali makhluk-makhluk yang khusus dan tertentu. Sebagaimana Ia menisbatkan Nabi Muhammad, Ishak, Yakub dan nabi-nabi yang lain kepada penghambaan terhadap diri-Nya. Sebagaimana juga Allah Ta’ala menisbatkatkan ka’bah dan unta Nabi Shalih kepada-Nya.”

Sebagaimana Allah menisbahkan para nabi kepada penghambaan-Nya, menisbahkan Ka'bah sebagai Baitullah, dan menisbahkan unta Nabi Shalih sebagai Naqatullah. Maka penyandaran Muharram kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Bulan Muharam merupakan bulan yang paling mulia setelah bulan Ramadan. Inilah pendapat yang banyak diambil oleh para ulama. Hasan Al-Basri rahimahullah berkata,

«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى افْتَتَحَ السَّنَةَ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَخَتَمَهَا بِشَهْرٍ حَرَامٍ، فَلَيْسَ شَهْرٌ فِي السَّنَةِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْمُحَرَّمِ»

"Allah membuka tahun dengan bulan haram, yaitu Muharram, dan menutupnya dengan bulan haram, yaitu Dzulhijjah. Maka tidak ada bulan dalam setahun setelah Ramadan yang lebih agung di sisi Allah daripada Muharram."

Karena itu, Muharram bukanlah bulan untuk bermalas-malasan, tetapi bulan untuk memperbanyak amal saleh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ»

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa salah satu amalan terbaik di bulan Muharram adalah memperbanyak puasa sunnah.

Lebih khusus lagi, terdapat puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Nabi ﷺ bersabda:

«أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ»

"Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim)

Jamaah rahimakumullah,

Tahun baru Hijriah juga mengingatkan kita pada hijrah Rasulullah ﷺ. Makna hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari kemaksiatan menuju ketaatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»

"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Bukhari)

Maka hendaknya setiap pergantian tahun menjadi momentum hijrah:

  • Dari lalai menjadi rajin beribadah.
  • Dari meninggalkan shalat berjamaah menjadi menjaga shalat berjamaah.
  • Dari sedikit membaca Al-Qur'an menjadi akrab dengan Al-Qur'an.
  • Dari dosa-dosa lisan menjadi lisan yang dipenuhi dzikir dan kebaikan.
  • Dari permusuhan menjadi persaudaraan.

Allah berfirman:

﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

"Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang beriman agar kalian beruntung." (QS. An-Nur: 31)

أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


KHUTBAH KEDUA

الحمد لله رب العالمين، له الحمد الحسن والثناء الجميل، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد، فيا عباد الله، اتقوا الله حق التقوى.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada satu perkara yang perlu kita pahami saat memasuki bulan Muharram. Sebagian masyarakat mengkhususkan malam pertama Muharram dengan berbagai ritual dan ibadah tertentu yang diyakini memiliki keutamaan khusus. Padahal para ulama telah menjelaskan bahwa tidak ada hadis sahih yang menetapkan keutamaan khusus malam pertama Muharram.

Al-Hafizh Ibn Rajab رحمه الله berkata:

«وَلَمْ يَأْتِ شَيْءٌ فِي أَوَّلِ لَيْلَةِ الْمُحَرَّمِ، وَقَدْ فَتَّشْتُ فِيمَا نُقِلَ مِنَ الْآثَارِ صَحِيحًا وَضَعِيفًا، وَفِي الْأَحَادِيثِ الْمَوْضُوعَةِ، فَلَمْ أَرَ أَحَدًا ذَكَرَ فِيهَا شَيْئًا»

"Tidak terdapat riwayat apa pun tentang keutamaan malam pertama Muharram. Aku telah menelitinya dalam berbagai atsar, baik yang sahih, yang lemah maupun yang palsu, dan aku tidak menemukan satu pun yang menyebutkan keutamaan khusus malam tersebut."

Karena itu, semangat kita dalam beribadah harus dibangun di atas ilmu dan tuntunan Rasulullah ﷺ, bukan semata-mata tradisi.

Jamaah rahimakumullah,

Mari jadikan tahun baru Hijriah ini sebagai titik awal perubahan diri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ»

"Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian."

Mungkin tahun lalu kita banyak lalai. Mungkin ada shalat yang kurang khusyuk, Al-Qur'an yang jarang dibaca, sedekah yang minim, dan dosa yang belum ditaubati. Maka Muharram ini adalah kesempatan untuk membuka lembaran baru bersama Allah.

Perbanyaklah:

  • Taubat dan istighfar.
  • Puasa sunnah di bulan Muharram.
  • Qiyamul lail.
  • Membaca Al-Qur'an.
  • Sedekah dan amal sosial.
  • Menjaga shalat berjamaah.

Semoga Allah menjadikan tahun ini lebih baik daripada tahun sebelumnya dan menjadikan akhir kehidupan kita sebagai akhir yang terbaik.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْعَامَ عَامًا مَلِيئًا بِالطَّاعَاتِ وَالْبَرَكَاتِ وَالْخَيْرَاتِ لِلْمُسْلِمِينَ.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

وصلِّ اللهم وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

"Maka ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambahnya kepada kalian. Dan sungguh, mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya), dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan."

Hasad

 


Hasad

Pengertian Hasad

Hasad (الحسد) adalah menginginkan hilangnya nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, baik nikmat itu berpindah kepada dirinya maupun tidak.

Para ulama menjelaskan bahwa hasad bukan sekadar tidak suka melihat orang lain mendapatkan nikmat, tetapi adanya keinginan dalam hati agar nikmat tersebut lenyap.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan:

الْحَسَدُ تَمَنِّي زَوَالِ النِّعْمَةِ عَنِ الْمُنْعَمِ عَلَيْهِ

"Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari orang yang diberi nikmat."

Dalil Haramnya Hasad

1. Al-Qur'an

Allah berfirman:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

"Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS. Al-Falaq: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa hasad termasuk kejahatan yang manusia diperintahkan untuk berlindung darinya. Allah juga berfirman:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

"Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang Allah berikan kepada mereka?" (QS. An-Nisa': 54)

2. Hadits Nabi ﷺ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

"Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."
(HR. Abu Dawud)

Hadits ini menunjukkan bahwa hasad dapat menghapus pahala amal sebagaimana api menghanguskan kayu.

Mengapa Hasad Sangat Berbahaya?

  • Hasad pada hakikatnya merupakan bentuk ketidakridhaan terhadap pembagian Allah.
  • Seakan-akan orang yang hasad berkata dalam hatinya: "Mengapa Allah memberi dia, bukan saya?"
  • Karena itu sebagian ulama salaf mengatakan: "Orang yang hasad sebenarnya memusuhi takdir Allah."

Hasad juga merupakan dosa pertama yang terjadi:

  1. Di langit: ketika Iblis hasad kepada Nabi Adam 'alaihis salam.
  2. Di bumi: ketika Qabil hasad kepada saudaranya Habil hingga membunuhnya.

Contoh Hasad yang Relevan Saat Ini

1. Hasad terhadap kesuksesan dakwah

Seseorang melihat ada ustadz yang kajiannya ramai, videonya banyak ditonton, atau tulisannya tersebar luas.

Lalu muncul keinginan: "Semoga pengikutnya berkurang." "Semoga ceramahnya tidak lagi diminati." Ini termasuk hasad.

Adapun jika ia berharap dirinya juga bisa berdakwah lebih baik tanpa menginginkan hilangnya nikmat orang lain, maka itu bukan hasad.

2. Hasad di media sosial

  • Melihat seseorang memiliki usaha yang maju, rumah yang bagus, keluarga harmonis, atau prestasi tertentu.
  • Lalu muncul perasaan: "Kenapa dia terus yang berhasil?" "Mudah-mudahan usahanya bangkrut." Ini adalah hasad yang nyata.
  • Media sosial sering menjadi pemicu hasad karena orang terus-menerus melihat pencapaian orang lain.

3. Hasad dalam lingkungan kerja

Misalnya seorang rekan mendapat promosi jabatan. Alih-alih bersyukur dan memperbaiki diri, seseorang berharap: "Semoga dia gagal." "Semoga atasannya kecewa kepadanya." Ini termasuk hasad.

4. Hasad terhadap rezeki orang lain

  • Tetangga membeli kendaraan baru atau rumah baru.
  • Kemudian seseorang merasa sempit dadanya dan berharap nikmat tersebut hilang.
  • Padahal Allah telah menetapkan rezeki masing-masing.

5. Hasad dalam dunia ilmu

  • Seorang penulis, guru, atau da'i melihat karya orang lain lebih diterima masyarakat.
  • Lalu ia berusaha menjatuhkan, memfitnah, atau mencari-cari kesalahan agar popularitas orang tersebut turun.
  • Sering kali permusuhan yang tampak ilmiah sebenarnya berakar dari hasad.

6. Hasad antar saudara kandung

Contoh yang sering terjadi:

  • Orang tua lebih memperhatikan salah satu anak karena kebutuhan tertentu.
  • Salah satu saudara lebih berhasil secara ekonomi.
  • Salah satu anak dianggap lebih berprestasi.

Lalu muncul kebencian dan keinginan agar kelebihan itu hilang. Inilah yang dahulu terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf terhadap beliau.

Perbedaan Hasad dan Ghibthah

Islam mengharamkan hasad, tetapi membolehkan ghibthah (iri positif).

Nabi ﷺ bersabda: 

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ

"Tidak boleh hasad kecuali pada dua perkara..."

Maksudnya adalah ghibthah, yaitu keinginan mendapatkan nikmat yang sama tanpa berharap nikmat orang lain hilang.

Contohnya:

  • Melihat seseorang rajin qiyamul lail, lalu ingin menirunya.
  • Melihat seseorang hafal Al-Qur'an, lalu ingin menjadi penghafal Al-Qur'an.
  • Melihat seorang dermawan, lalu ingin bisa bersedekah sebanyak dirinya.

Di sini tidak ada keinginan agar nikmat orang lain lenyap.

Tanda-Tanda Hasad dalam Diri

Para ulama menyebut beberapa gejala hasad:

  • Sedih ketika orang lain mendapat nikmat.
  • Senang ketika orang lain tertimpa musibah.
  • Sulit memuji kelebihan orang lain.
  • Gemar membicarakan kekurangan orang yang berhasil.
  • Berusaha menjatuhkan reputasi orang lain.
  • Merasa terganggu melihat keberhasilan saudaranya.

Jika tanda-tanda ini muncul, seseorang perlu segera mengobatinya.

Cara Mengobati Hasad

  1. Meyakini bahwa pembagian rezeki berasal dari Allah.
  2. Memperbanyak doa keberkahan untuk orang yang diberi nikmat.
  3. Mengingat bahwa hasad lebih menyiksa pelakunya daripada orang yang dihasadi.
  4. Memperbanyak syukur atas nikmat yang dimiliki.
  5. Mendoakan kebaikan bagi orang yang membuat kita iri.
  6. Menyadari bahwa setiap orang diuji dengan keadaan yang berbeda.

Ibnu Taimiyah berkata:

Tidak ada seorang pun yang selamat sepenuhnya dari hasad. Akan tetapi orang yang mulia menyembunyikannya dan tidak menuruti tuntutannya, sedangkan orang yang hina menampakkannya dan mengikutinya.

Karena itu, yang dituntut bukan hanya membersihkan lisan dari hasad, tetapi juga membersihkan hati darinya. Sebab hasad adalah penyakit hati yang dapat merusak agama, memutus persaudaraan, dan menghilangkan keberkahan amal.

Setiap Amal Ada Masa Semangat dan Masa Futur


Setiap Amal Ada Masa Semangat dan Masa Futur


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Ahmad no. 6765, Ibnu Hibban no. 1513, dan al-Bazzar,

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ.

“Sesungguhnya setiap amal itu memiliki masa semangat, dan setiap masa semangat ada masa futur (kendur). Maka, barang siapa masa futurnya masih dalam sunnahku, maka sungguh ia telah beruntung. Namun, barang siapa masa futurnya menjauhi sunnahku, maka sungguh ia telah binasa.”

Lafal syirrah (شِرَّة) dalam hadits ini, maksudnya adalah puncak semangat, gairah, atau kekuatan ketika seorang hamba beramal.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa:
الشِّرَّةُ هِيَ النَّشَاطُ وَالرَّغْبَةُ الشَّدِيدَةُ فِي الشَّيْءِ
"Syirrah adalah semangat, gairah, dan keinginan yang kuat terhadap sesuatu."

Seperti : semangat berjamaah, kajian, tadarus al-qur'an, tahajud dll.

الْفَتْرَةُ: السُّكُونُ بَعْدَ الْحِدَّةِ، وَالضَّعْفُ بَعْدَ الْقُوَّةِ
"Fatrah adalah surutnya semangat (tenang) setelah menggebu-gebu, dan melemahnya kekuatan setelah sebelumnya kuat."

Adapun fatrah (فترة) maksudnya adalah kendor, melemah, atau berkurangnya semangat dalam amal. Futur adalah suatu kondisi ketika seseorang mengalami penurunan semangat beribadah setelah sebelumnya rajin dan disiplin.

Setiap insan beriman pasti pernah mengalami masa futur. Adakalanya rasa malas, jenuh, dan bosan, muncul secara mendadak dan melemahkan tekad dalam menjalankan ketaatan.

Gejala futur adalah ketika hati menjadi berat, tubuh menjadi malas, padahal sebelumnya merasakan manisnya iman dan menikmati khusyuknya ibadah.

Para Sahabat Juga Mengalami Futur

Suatu hari sahabat mulia Hanzhalah berkata:
نَافَقَ حَنْظَلَةُ
"Hanzhalah telah menjadi munafik."
ketika sahabat lain bertanya kenapa alasanmnnya, beliau menjawab :

نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، فَنَسِينَا كَثِيرًا.

"Kami berada di sisi Rasulullah ﷺ, lalu beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri. Namun apabila kami keluar dari sisi Rasulullah ﷺ, lalu kami sibuk dengan istri-istri, anak-anak, dan urusan harta serta kehidupan kami, maka banyak dari keadaan itu yang terlupakan."

Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ، سَاعَةً وَسَاعَةً.

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian terus-menerus berada dalam keadaan seperti ketika bersama aku dan ketika berdzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, ada waktunya demikian dan ada waktunya demikian." (HR. Muslim) hadits Hanzhalah riwayat Abu Hurairah


Futur bisa datang dengan bentuk yang beragam. Terkadang hadir dalam bentuk rasa malas dan lalai seperti jarang sholat berjamaah, tidak pernah shalat sunaah apalagi tahajud, jarang membaca qur'an, jarang puasa sunnah, jarang sedekah, jarang kajian dll. bahkan sudah ketingkat tidak mengerjakan kewajiban dan melakukan dosa dan maksiat.


Fenomena ini wajar terjadi pada manusia.

Futur itu manusiawi. Maka, yang terpenting bukanlah menghindari futur sepenuhnya, tetapi memastikan diri, saat masa futur itu datang kita tetap berada dalam koridor sunnah; tidak sampai meninggalkan kewajiban atau terjerumus dalam kemaksiatan.

Pertama, karena iman itu bersifat fluktuatif, bisa bertambah dan bisa juga berkurang.

Para ulama Ahlus Sunnah merumuskan:

الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

"Iman adalah ucapan dan perbuatan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan."

Kalimat ini dinukil dari banyak imam salaf, di antaranya Sufyan al-Thawri, Abd Allah ibn al-Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, dan selain mereka.


Kedua, karena hanya malaikat yang tidak pernah merasakan futur. Sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Anbiya: 20,
يُسَبِّحُوۡنَ الَّيۡلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُوۡنَ‏
“Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang.”

Inilah kondisi keimanan para malaikat yang stabil. Mereka adalah para makhluk yang dicipta dari cahaya dan tidak diberi hawa nafsu.

Lain halnya dengan manusia yang sepanjang hidupnya akan terus berjuang mengatasi berbagai problem. Sebelum sampai ke garis finis kehidupan, yaitu kematian, kondisi jiwa manusia akan terus mengalami pasang surut keimanan.

Penyebab Futur Menurut Para Ulama

1. Terlalu Berlebihan Saat Semangat
Seseorang ingin: khatam Al-Qur'an setiap hari, tahajud berjam-jam, puasa terus-menerus, padahal kemampuannya belum siap. Akhirnya kelelahan lalu berhenti total.

2. Banyak Dosa
Allah berfirman:
كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Dosa adalah salah satu penyebab terbesar matinya semangat ibadah.

3. Jauh dari Lingkungan Shalih
Iman sangat dipengaruhi lingkungan. Karena itu Nabi ﷺ mengumpamakan teman yang baik seperti penjual minyak wangi.

4. Terlalu Sibuk dengan Dunia
Semakin hati dipenuhi urusan dunia, semakin sempit ruang bagi dzikir dan akhirat. Allah berfirman:
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

"Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta ia mengikuti hawa nafsunya." (QS. Al-Kahfi: 28)


Bekal Menghadapi Masa Futur

Bekal Pertama: Niat yang Lurus

Masa futur sering datang karena salah dalam menata hati. Akibatnya, shalat hanya sebatas rutinitas, membaca Quran tanpa tadabur, berzikir tanpa makna.

Ibadah yang hanya digerakkan oleh suasana, termotivasi oleh hasrat ingin dipuji, maka semangatnya akan cepat padam. Tetapi, bila niat lurus hanya karena Allah subhanahu wata’ala, maka sekecil apa pun amal akan terasa bermakna. Oleh sebab itu, penting untuk selalu memperbarui niat.

Bekal Kedua: Amal Kecil yang Istiqamah

Istiqamah dengan amalan kecil yang berkesinambungan adalah di antara bekal menghadapi masa futur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, hadits riwayat al-Bukhari no. 5523 dan Muslim no. 783,

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.”

Bekal Ketiga: Lingkungan yang Baik

Hati itu lemah, mudah goyah, mudah terbolak-balik. Jika dikelilingi orang lalai, hati pun akan lalai. Namun, jika duduk di majelis ilmu, berteman dengan orang-orang saleh, insyaallah semangat kita kembali hidup dan kualitas ruhiyah ikut meningkat.

Betapa pentingnya memilih lingkungan yang baik. Karena iman itu mudah sekali terpengaruh oleh suasana. Lingkungan yang baik adalah benteng dari futur, sekaligus bahan bakar yang menyalakan kembali semangat ibadah.

Bekal Keempat: Variasi Amal Saleh

Islam itu luas. Jika satu amal terasa berat, jangan berhenti, tapi alihkan ke amal lain. Dengan begitu, semangat kembali hidup, ibadah tidak monoton, dan lebih terasa seperti sebuah perjalanan yang penuh warna.

Tilawah al-Quran bisa diganti dengan dzikir atau mendengar audio ceramah. Shalat sunnah bisa diganti dengan sedekah, silaturahim, dan tafakur. Iktikaf, berdiam diri di masjid, bisa diganti dengan menolong orang lain. Semuanya diridhai Allah.

Bekal Kelima: Doa-doa Peneguh Hati

Kemudian bekal menghadapi masa futur kelima, membaca doa peneguh hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar kita senantiasa berlindung kepada Allah, satu-satunya Dzat yang mampu meneguhkan hati di atas iman dan amal saleh.

Ada beberapa doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca, khususnya saat badai futur melanda jiwa. Di antaranya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam agama, dan kemantapan dalam meniti petunjuk.”

Doa ini mencerminkan kebutuhan manusia akan kekuatan batin. Bukan hanya teguh sesaat, tapi Istiqamah sepanjang jalan, dengan tekad yang kuat untuk terus berada di jalan kebenaran.

Ada juga doa yang paling sering dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ، اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hatiku kepada ketaatan kepada-Mu.”

Ingatlah, seorang mukmin yang cerdas bukanlah yang tidak pernah jatuh, melainkan yang ketika terjatuh segera bangkit, kembali kepada Allah dengan taubat dan amal shalih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana dalam hadits riwayat al-Hakim no. 5,

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

“Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana pakaian menjadi usang. Maka mintalah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati kalian.”

Maka mintalah kepada Allah agar selalu memperbarui iman dalam hati kita, agar semangat ibadah tidak padam, dan agar kita tetap istiqamah hingga akhir hayat.

Bahaya masa Futur dalam Maksiat
 فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ.

Maka, barang siapa masa futurnya masih dalam sunnahku, maka sungguh ia telah beruntung. Namun, barang siapa masa futurnya menjauhi sunnahku, maka sungguh ia telah binasa.”

Alangkah indahnya penjelasan para ulama bahwa:

لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ لَا تَفْتُرَ، وَلَكِنِ الشَّأْنُ أَنْ لَا تَتْرُكَ الطَّاعَةَ عِنْدَ الْفُتُورِ

"Keistimewaan bukanlah tidak pernah mengalami futur, tetapi tetap tidak meninggalkan ketaatan ketika futur datang."


أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Label