Lafal syirrah (شِرَّة) dalam hadits ini, maksudnya adalah puncak semangat, gairah, atau kekuatan ketika seorang hamba beramal.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa:
Seperti : semangat berjamaah, kajian, tadarus al-qur'an, tahajud dll.
Adapun fatrah (فترة) maksudnya adalah kendor, melemah, atau berkurangnya semangat dalam amal. Futur adalah suatu kondisi ketika seseorang mengalami penurunan semangat beribadah setelah sebelumnya rajin dan disiplin.
Gejala futur adalah ketika hati menjadi berat, tubuh menjadi malas, padahal sebelumnya merasakan manisnya iman dan menikmati khusyuknya ibadah.
Para Sahabat Juga Mengalami Futur
Suatu hari sahabat mulia Hanzhalah berkata:
نَافَقَ حَنْظَلَةُ
"Hanzhalah telah menjadi munafik."
Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab:
Futur bisa datang dengan bentuk yang beragam. Terkadang hadir dalam bentuk rasa malas dan lalai seperti jarang sholat berjamaah, tidak pernah shalat sunaah apalagi tahajud, jarang membaca qur'an, jarang puasa sunnah, jarang sedekah, jarang kajian dll. bahkan sudah ketingkat tidak mengerjakan kewajiban dan melakukan dosa dan maksiat.
Fenomena ini wajar terjadi pada manusia.
Para ulama Ahlus Sunnah merumuskan:
الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ
"Iman adalah ucapan dan perbuatan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan."
Kalimat ini dinukil dari banyak imam salaf, di antaranya Sufyan al-Thawri, Abd Allah ibn al-Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, dan selain mereka.
Kedua, karena hanya malaikat yang tidak pernah merasakan futur. Sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Anbiya: 20,
Inilah kondisi keimanan para malaikat yang stabil. Mereka adalah para makhluk yang dicipta dari cahaya dan tidak diberi hawa nafsu.
Lain halnya dengan manusia yang sepanjang hidupnya akan terus berjuang mengatasi berbagai problem. Sebelum sampai ke garis finis kehidupan, yaitu kematian, kondisi jiwa manusia akan terus mengalami pasang surut keimanan.
Penyebab Futur Menurut Para Ulama
Seseorang ingin: khatam Al-Qur'an setiap hari, tahajud berjam-jam, puasa terus-menerus, padahal kemampuannya belum siap. Akhirnya kelelahan lalu berhenti total.
2. Banyak Dosa
Allah berfirman:
كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)
Dosa adalah salah satu penyebab terbesar matinya semangat ibadah.
3. Jauh dari Lingkungan Shalih
Iman sangat dipengaruhi lingkungan. Karena itu Nabi ﷺ mengumpamakan teman yang baik seperti penjual minyak wangi.
4. Terlalu Sibuk dengan Dunia
Semakin hati dipenuhi urusan dunia, semakin sempit ruang bagi dzikir dan akhirat. Allah berfirman:
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
"Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta ia mengikuti hawa nafsunya." (QS. Al-Kahfi: 28)
Bekal Pertama: Niat yang Lurus
Masa futur sering datang karena salah dalam menata hati. Akibatnya, shalat hanya sebatas rutinitas, membaca Quran tanpa tadabur, berzikir tanpa makna.
Ibadah yang hanya digerakkan oleh suasana, termotivasi oleh hasrat ingin dipuji, maka semangatnya akan cepat padam. Tetapi, bila niat lurus hanya karena Allah subhanahu wata’ala, maka sekecil apa pun amal akan terasa bermakna. Oleh sebab itu, penting untuk selalu memperbarui niat.
Bekal Kedua: Amal Kecil yang Istiqamah
Istiqamah dengan amalan kecil yang berkesinambungan adalah di antara bekal menghadapi masa futur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, hadits riwayat al-Bukhari no. 5523 dan Muslim no. 783,
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.”
Bekal Ketiga: Lingkungan yang Baik
Hati itu lemah, mudah goyah, mudah terbolak-balik. Jika dikelilingi orang lalai, hati pun akan lalai. Namun, jika duduk di majelis ilmu, berteman dengan orang-orang saleh, insyaallah semangat kita kembali hidup dan kualitas ruhiyah ikut meningkat.
Betapa pentingnya memilih lingkungan yang baik. Karena iman itu mudah sekali terpengaruh oleh suasana. Lingkungan yang baik adalah benteng dari futur, sekaligus bahan bakar yang menyalakan kembali semangat ibadah.
Bekal Keempat: Variasi Amal Saleh
Islam itu luas. Jika satu amal terasa berat, jangan berhenti, tapi alihkan ke amal lain. Dengan begitu, semangat kembali hidup, ibadah tidak monoton, dan lebih terasa seperti sebuah perjalanan yang penuh warna.
Tilawah al-Quran bisa diganti dengan dzikir atau mendengar audio ceramah. Shalat sunnah bisa diganti dengan sedekah, silaturahim, dan tafakur. Iktikaf, berdiam diri di masjid, bisa diganti dengan menolong orang lain. Semuanya diridhai Allah.
Bekal Kelima: Doa-doa Peneguh Hati
Kemudian bekal menghadapi masa futur kelima, membaca doa peneguh hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar kita senantiasa berlindung kepada Allah, satu-satunya Dzat yang mampu meneguhkan hati di atas iman dan amal saleh.
Ada beberapa doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca, khususnya saat badai futur melanda jiwa. Di antaranya,
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam agama, dan kemantapan dalam meniti petunjuk.”
Doa ini mencerminkan kebutuhan manusia akan kekuatan batin. Bukan hanya teguh sesaat, tapi Istiqamah sepanjang jalan, dengan tekad yang kuat untuk terus berada di jalan kebenaran.
Ada juga doa yang paling sering dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
Ingatlah, seorang mukmin yang cerdas bukanlah yang tidak pernah jatuh, melainkan yang ketika terjatuh segera bangkit, kembali kepada Allah dengan taubat dan amal shalih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana dalam hadits riwayat al-Hakim no. 5,
Maka mintalah kepada Allah agar selalu memperbarui iman dalam hati kita, agar semangat ibadah tidak padam, dan agar kita tetap istiqamah hingga akhir hayat.
Bahaya masa Futur dalam Maksiat
Alangkah indahnya penjelasan para ulama bahwa:
لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ لَا تَفْتُرَ، وَلَكِنِ الشَّأْنُ أَنْ لَا تَتْرُكَ الطَّاعَةَ عِنْدَ الْفُتُورِ
"Keistimewaan bukanlah tidak pernah mengalami futur, tetapi tetap tidak meninggalkan ketaatan ketika futur datang."
