"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Bulan Rajab : Bulan Haram (Keutamaan dan amalan)

Bulan Rajab : Bulan Haram (Keutamaan dan amalan)

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan kita:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya: “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)

Bulan Rajab adalah Bulan Haram


Bulan Rajab adalah bulan yang  terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab termasuk bulan haram sebagaimana bulan Muharram. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Mengenai empat bulan yang dimaksud, disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679). 

Apa Maksud Bulan Haram

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:
  • Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
  • Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya.

Dengan demikian, bukan berarti harus mengkhususkan puasa atau amalan lainnya di hari-hari tertentu pada bulan Rajab karena menganjurkan seperti ini butuh dalil. Sedangkan tidak ada dalil yang mendukungnya.

Abu Bakar al-Warraq mengatakan,

رَجَبُ شَهْرُ الزَّرْعِ وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ وَرَمَضَانُ شَهْرُ الحَصَادِ

“Bulan Rajab adalah bulan menanam (mulai memperbanyak melakukan amalan kebaikan), bulan Syakban adalah bulan menyiram (menambah dan memperbaiki amalan kebaikan), dan bulan Ramadan adalah bulan menuai (terbiasa melakukan amalan kebaikan).” 

Maksiat di Bulan Haram

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”

Bulan Haram Mana yang Lebih Utama

Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun Imam Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab Al Hambali.

Semoga Allah Ta'ala memberikan kemampuan kepada kita, agar kita senantiasa beramal shalih dengan maksimal, terutama dibulan-bulan haram yang diagungkan oleh-Nya..
______________________

Oleh karena itulah saudaraku, kewajiban kita adalah mengetahui apa yang harus kita lakukan di bulan-bulan haram ini.

Yang pertama, yaitu kita berusaha untuk memperbanyak amalan shalih. Karena sesungguhnya amalan shalih di bulan-bulan haram itu dilipatgandakan pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas (seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).

Namun saudaraku, tidak ada amalan khusus di bulan Rajab. Tidak ada yang disebut dengan puasa khusus Rajab ataupun mengkhususkan di bulan Rajab dengan amalan tanpa bulan-bulan yang lainnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Kitab Tabyinul ‘Ajab bi Maa Waroda fi Fadhli Rojab mengingatkan bahwasanya semua hadits yang menyebutkan tentang amalan khusus di bulan Rajab adalah hadits yang dhaif ataupun hadits yang palsu.

Akan tetapi amalan yang kita lakukan seperti halnya di bulan-bulan yang lainnya. Kita berusaha untuk beramal shalih dengan kita shalat tahajud seperti halnya di bulan-bulan yang lainnya. Kita pun memperbanyak puasa sunnah sebagaimana halnya di bulan-bulan yang lainnya. Mereka yang terbiasa dengan puasa Senin dan Kamis ataupun puasa dawud, ataupun puasa tiga hari setiap bulan, maka di bulan ini kesempatan besar untuk kita senantiasa menjaga amalan tersebut. Karena pahalanya di sisi Allah menjadi besar di bulan ini.

Maka kita perbanyak dzikir kepada Allah, kita memperbanyak sedekah, membantu fakir miskin, orang-orang yang susah, pahalanya sangat besar di sisi Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ، وَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ.

“Barangsiapa bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil usaha yang halal, dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik, maka sesungguhnya Allah akan menerima dengan tangan kananNya, lalu Allah kembangkan bagi pelakunya sebagaimana salah seorang di antara kalian memelihara anak kuda sehingga menjadi seperti gunung (besar dan kuat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka saudaraku, di bulan yang mulia ini pahala amalan shalih dilipatgandakan oleh Allah subhanahu wa Ta’ala.

Yang kedua, saudaraku.. Yang harus kita lakukan di bulan ini adalah kita berhati-hati jangan sampai mendzalimi diri kita sendiri. Karena sesungguhnya mendzalimi diri kita di bulan ini dosanya menjadi besar di sisi Allah. Jangan sampai kita keluar dari bulan ini dalam keadaan lebih banyak dosanya dibandingkan dengan amalan shalih yang kita lakukan.

Perbuatan dosa yang kecil di bulan ini bisa menjadi besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dari itu jangan sampai kita menganggap remeh dosa sekecil apapun, di bulan ini maupun di bulan-bulan yang lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan dalam hadits yang shahih, beliau bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

“Sesungguhnya seorang hamba ketika berbicara dengan perkataan yang dianggap biasa, namun akan menyebabkan ia masuk neraka 70 tahun.” (HR. Tirmidzi)

Subhanallah.. Seorang mukmin tak mungkin pernah meremehkan dosa sekecil apapun juga. Karena meremehkan dosa adalah merupakan sifat dan karakter orang-orang munafikin. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu menyebutkan demikian. Abdullah bin Mas’ud mengatakan bahwa seorang mukmin melihat dosanya bagaikan gunung yang akan menimpa dirinya. Sedangkan orang munafik melihat dosa besarnya itu seperti lalat yang lewat di hadapan hidungnya.

Seorang mukmin senantiasa khawatir akan dosa. Terlebih di bulan ini, saudaraku. Maka kita berusaha untuk menjaga diri kita, menjaga mata kita, telinga kita, terlebih lisan-lisan kita. Karena sesungguhnya kebanyakan yang membuat manusia masuk ke dalam api neraka itu dua, kata Rasulullah. Yang pertama adalah lisannya dan yang kedua adalah kemaluannya.

Label