"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Bahaya Was-was : Tipu Daya Setan yang Merusak Ibadah



BAHAYA WAS-WAS: TIPU DAYA SETAN YANG MERUSAK IBADAH

Apa itu was-was?

الْوَسْوَسَةُ هِيَ إِلْقَاءٌ خَفِيٌّ فِي الْقَلْبِ، يُرَادُ بِهِ صَرْفُ الْإِنْسَانِ عَنِ الْحَقِّ أَوْ إِغْرَاؤُهُ بِالْبَاطِلِ.

“Was-was adalah bisikan tersembunyi yang dimasukkan ke dalam hati, yang bertujuan memalingkan manusia dari kebenaran atau mendorongnya kepada kebatilan.”

Was-was adalah bisikan yang muncul dalam hati dan pikiran, terutama bisikan yang membuat seseorang ragu, takut, cemas, dan terus mempertanyakan sesuatu tanpa alasan yang jelasAllah ﷻ berfirman:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ۝ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

“Dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia.” (QS. An-Nās: 4–5)

Salah satu sasaran was-was adalah ibadah kita.

  • Seseorang sudah berwudu, tetapi muncul keraguan, “Jangan-jangan wuduku belum sempurna.”
  • Sudah selesai salat, muncul keraguan, “Jangan-jangan tadi ada yang salah.”
  • Sudah bertakbir, muncul pikiran, “Apakah niatku sudah benar?”
Akhirnya wudu diulang, takbir diulang, salat diulang, bahkan ibadah yang seharusnya memberikan ketenangan justru menjadi sumber kegelisahan. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita tidak mengikuti keraguan.

1. Hadits tentang tinggalkan yang meragukan

Rasulullah ﷺ bersabda: 

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَىٰ مَا لَا يَرِيبُكَ 

“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Maknanya bukan setiap keraguan harus membuat kita meninggalkan sesuatu, tetapi seorang Muslim dianjurkan memilih perkara yang jelas dan menenteramkan, serta meninggalkan perkara yang mengandung keraguan, khususnya dalam perkara yang memang belum jelas hukumnya.


2. Hadis tentang jangan mengikuti keraguan dalam salat

Ini bahkan lebih spesifik untuk was-was dalam ibadah.

Rasulullah ﷺ bersabda: 

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ، وَلْيَبْنِ عَلَىٰ مَا اسْتَيْقَنَ 

“Apabila salah seorang di antara kalian ragu dalam salatnya sehingga tidak tahu apakah telah salat tiga atau empat rakaat, maka hendaklah ia membuang keraguannya dan berpegang pada apa yang diyakininya.” (HR. Muslim)

3. Ketika seseorang ragu apakah wudunya batal atau tidak, Nabi ﷺ bersabda:

فَلَا يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

“Janganlah ia meninggalkan salatnya sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan prinsip penting:

Keyakinan tidak gugur hanya karena keraguan.

Kalau kita yakin sudah berwudu, kemudian muncul keraguan apakah wudu kita batal, maka jangan pedulikan keraguan tersebut sampai ada kepastian.

Was-was juga dapat menyerang keimanan.

Rasulullah ﷺ bersabda: 

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ 

“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian lalu berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ hingga akhirnya berkata, ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Jika sampai demikian, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dan berhenti.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata yang sangat penting: وَلْيَنْتَهِ “Dan hendaklah dia berhenti.”

Kewajiban Suami Istri: Jangan Hanya Menuntut Hak

 


Kewajiban Suami Istri: Jangan Hanya Menuntut Hak

Pernikahan adalah salah satu nikmat dan amanah terbesar yang Allah berikan kepada manusia. Dengan pernikahan, dua orang yang sebelumnya hidup sebagai individu dipertemukan dalam sebuah ikatan yang kuat, membangun keluarga, saling mencintai, saling melindungi, dan bersama-sama menjalani kehidupan menuju Allah.

Karena itu, pernikahan dalam Islam bukan sekadar persoalan cinta, kecocokan, atau pemenuhan kebutuhan biologis. Pernikahan adalah amanah dan tanggung jawab.

Allah berfirman: 

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa rumah tangga dibangun untuk menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Namun ketenangan rumah tangga tidak akan lahir hanya karena dua orang saling mencintai. Cinta membutuhkan tanggung jawab. Kasih sayang membutuhkan pengorbanan. Dan kehidupan bersama membutuhkan kesediaan masing-masing untuk menunaikan kewajibannya.

Di sinilah salah satu persoalan rumah tangga sering muncul.

  • Suami sibuk menuntut haknya.
  • Istri sibuk menuntut haknya.
  • Suami berkata, “Istri harus taat.”
  • Istri berkata, “Suami harus menafkahi.”
  • Suami menuntut pelayanan.
  • Istri menuntut perhatian.

Masing-masing hafal apa yang harus diberikan oleh pasangannya, tetapi lupa apa yang harus diberikan kepada pasangannya. Padahal pertanyaan yang lebih penting bukan: 

“Apa yang menjadi hak saya?” Tetapi:
“Apa yang menjadi kewajiban saya?”


1. Pernikahan Adalah Amanah, Bukan Sekadar Hak

Ketika seseorang menikah, sebenarnya ia bukan hanya mendapatkan pasangan.

  • Ia mendapatkan amanah.
  • Suami mendapatkan amanah seorang istri.
  • Istri mendapatkan amanah seorang suami.
  • Dan jika mereka memiliki anak, keduanya mendapatkan amanah anak-anak.

Rasulullah ﷺ bersabda: 

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ 

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan: 

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” HR. al-Bukhari dan Muslim.

Perhatikan kata yang digunakan Nabi ﷺ: مَسْؤُولٌ “Akan dimintai pertanggungjawaban.”

Artinya, rumah tangga bukan hanya tempat mendapatkan hak, tetapi juga tempat seseorang akan mempertanggungjawabkan kewajibannya di hadapan Allah.

Maka ketika seorang suami pulang ke rumah, jangan hanya bertanya:

“Apakah istriku sudah memenuhi hakku?” Tetapi tanyakan:
“Apakah aku sudah menunaikan kewajibanku sebagai suami?”

Demikian pula seorang istri. Jangan hanya bertanya:

“Apakah suamiku sudah memenuhi hakku?” Tetapi tanyakan:
“Apakah aku sudah menunaikan kewajibanku sebagai istri?”


2. Hak dan Kewajiban Tidak Bisa Dipisahkan

Allah memberikan prinsip yang sangat indah dalam Al-Qur'an: 

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ 

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.” QS. Al-Baqarah: 228

Ayat ini memberikan sebuah prinsip penting: Ada hak, tetapi ada pula kewajiban.

Hak seseorang pada saat yang sama merupakan kewajiban bagi orang lain. Misalnya:

  • istri mempunyai hak mendapatkan nafkah → suami mempunyai kewajiban memberi nafkah;
  • suami mempunyai hak mendapatkan ketaatan dalam perkara yang ma'ruf → istri mempunyai kewajiban menaati;
  • istri mempunyai hak diperlakukan dengan baik → suami mempunyai kewajiban memperlakukannya dengan baik;
  • suami mempunyai hak mendapatkan penjagaan kehormatan → istri berkewajiban menjaganya.

Karena itu, rumah tangga tidak akan sehat jika setiap orang hanya berdiri di sisi:

“Apa yang harus saya dapatkan?”

Rumah tangga akan lebih sehat apabila setiap orang berdiri di sisi:

“Apa yang harus saya berikan?”


3. Kewajiban Bersama Suami dan Istri

Sebelum membahas kewajiban khusus masing-masing, ada kewajiban yang menjadi tanggung jawab bersama.

A. Bersama-sama menjaga agama

Allah berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا 

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” QS. At-Tahrim: 6

  • Rumah tangga tidak boleh hanya menjadi tempat mencari kenyamanan dunia.
  • Rumah juga harus menjadi tempat membangun iman.
  • Suami membantu istrinya dalam ketaatan.
  • Istri membantu suaminya dalam ketaatan.
  • Keduanya mendidik anak agar mengenal Allah.
  • Keduanya menghidupkan shalat.
  • Keduanya menjaga rumah dari kemaksiatan.

Jadi keberhasilan rumah tangga bukan hanya ketika ekonominya baik, tetapi juga ketika agamanya baik.


B. Saling memperlakukan dengan ma'ruf

Allah berfirman: 

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ 

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” QS. An-Nisa': 19

Kata الْمَعْرُوفِ menunjukkan perlakuan yang baik, pantas, dan sesuai dengan tuntunan syariat serta kepatutan.

Maka jangan jadikan rumah sebagai tempat melampiaskan emosi.

Jangan karena kepada orang lain kita bisa tersenyum, tetapi kepada pasangan kita mudah membentak.

Jangan karena kepada orang lain kita bisa menjaga ucapan, tetapi kepada pasangan kita merasa bebas berkata kasar.

Justru orang yang paling dekat dengan kita adalah orang yang paling berhak mendapatkan akhlak terbaik dari kita.


C. Saling menjaga kehormatan

  • Suami dan istri harus menjadi orang yang paling aman bagi pasangannya.
  • Aib pasangan tidak dijadikan bahan cerita.
  • Kekurangan pasangan tidak diumbar.
  • Rahasia rumah tangga tidak dibawa ke media sosial.
  • Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras terhadap orang yang membuka rahasia hubungan suami istri.

Dari Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه, tentang larangan keras menyebarkan rahasia hubungan suami istri. 

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا. 

“Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan intim dengan istrinya dan istrinya berhubungan intim dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya.” HR. Muslim no. 1437.

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ memberikan gambaran yang sangat keras: 

إِنَّمَا مَثَلُ ذَلِكَ مَثَلُ شَيْطَانٍ لَقِيَ شَيْطَانَةً فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ. 

“Sesungguhnya perumpamaan orang yang melakukan hal tersebut seperti setan laki-laki yang bertemu dengan setan perempuan, lalu ia menggaulinya sementara manusia melihatnya.” HR. Abu Dawud no. 2174.

Makna penting hadis

Yang dilarang bukan hanya menceritakan detail hubungan seksual, tetapi juga membuka rahasia pribadi pasangan yang semestinya menjadi amanah di antara keduanya.

Di antara bentuk amanah dalam pernikahan adalah menjaga apa yang seharusnya tetap menjadi rahasia antara suami dan istri.

Karena tidak semua persoalan rumah tangga layak menjadi konsumsi orang lain.


D. Saling membantu dalam kebaikan

Rumah tangga yang baik bukan: “Itu urusanmu, ini urusanku.”

Tetapi: “Bagaimana kita bisa saling membantu dalam kebaikan?”

  • Ketika suami sedang lemah, istri menguatkan.
  • Ketika istri sedang lelah, suami membantu.
  • Ketika salah satu lalai dalam ibadah, yang lain mengingatkan.
  • Ketika salah satu menghadapi kesulitan, yang lain tidak meninggalkan.

Inilah makna kehidupan bersama.


4. Kewajiban Suami

Setelah memahami kewajiban bersama, kita masuk kepada kewajiban khusus suami.

A. Memberikan Nafkah

Nafkah adalah kewajiban suami.

Allah berfirman: 

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” QS. Al-Baqarah: 233

  • Nafkah bukan hadiah.
  • Nafkah bukan kebaikan tambahan.
  • Nafkah adalah kewajiban.
  • Karena itu seorang suami tidak pantas mengatakan:

“Saya sudah memberi uang kepada istri.”

Jika uang tersebut memang merupakan kewajibannya, maka ia bukan sedang memberikan hadiah. Ia sedang menunaikan amanah Allah.

Namun syariat juga mempertimbangkan kemampuan. Allah berfirman: 

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ 

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya.” QS. Ath-Thalaq: 7

Maka kewajiban nafkah tidak berarti seorang suami harus memenuhi seluruh keinginan istrinya.

Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Yang wajib adalah memenuhi kebutuhan secara ma'ruf dan sesuai kemampuan.


B. Menjadi pemimpin yang bertanggung jawab

Allah berfirman: 

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ 

“Kaum laki-laki adalah qawwam atas kaum perempuan.” QS. An-Nisa': 34

Konsep qiwāmah jangan dipahami sebagai: “Suami adalah penguasa, istri adalah bawahan.”

  • Qiwāmah adalah tanggung jawab kepemimpinan.
  • Seorang pemimpin bukan orang yang paling banyak memerintah.
  • Seorang pemimpin adalah orang yang paling siap memikul tanggung jawab.

Karena itu, jika suami ingin disebut sebagai pemimpin keluarga, ia harus siap:

  • melindungi,
  • menafkahi,
  • mengarahkan,
  • mendidik,
  • mengambil keputusan dengan bijaksana,
  • menjaga keluarganya dari keburukan.

Kepemimpinan bukan lisensi untuk bersikap kasar.


C. Memperlakukan istri dengan baik

Rasulullah ﷺ bersabda: 

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي 

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” HR. at-Tirmidzi.

Perhatikan standar kebaikan yang diberikan Nabi ﷺ. Bukan: Sebaik-baik kalian adalah yang paling hebat di luar rumah.” Tetapi: Yang terbaik kepada keluarganya.

Karena akhlak seseorang yang sebenarnya sering terlihat ketika ia berada di rumah.
Di luar rumah seseorang bisa tampak sangat santun.
Tetapi bagaimana ia berbicara kepada istrinya?
Bagaimana ia memperlakukan anaknya?
Bagaimana ia ketika sedang marah?

Di situlah akhlak diuji.


D. Memenuhi kebutuhan emosional dan biologis istri

Kewajiban suami tidak berhenti pada nafkah materi.

Pernikahan memiliki tujuan menghadirkan:

سَكِينَةً — ketenangan
مَوَدَّةً  — cinta
رَحْمَةً — kasih sayang

Karena itu suami hendaknya memahami bahwa istri membutuhkan:

  • perhatian,
  • penghargaan,
  • komunikasi,
  • kasih sayang,
  • sentuhan emosional,
  • dan pemenuhan kebutuhan biologis.

Jangan sampai seorang suami merasa telah menunaikan kewajibannya hanya karena memberikan uang, sementara istrinya hidup dalam kesepian.


E. Membimbing keluarga dalam agama

Suami bukan hanya bertugas mencari nafkah. Ia juga harus memikirkan: “Bagaimana keluargaku selamat dari neraka?”

  • Shalat keluarga diperhatikan.
  • Pendidikan agama diperhatikan.
  • Lingkungan pergaulan diperhatikan.
  • Makanan halal diperhatikan.
  • Akhlak anak diperhatikan.
  • Sebab seorang suami tidak hanya akan ditanya:

“Berapa banyak uang yang engkau berikan?” Tetapi juga:

“Apa yang telah engkau lakukan terhadap amanah keluargamu?”


5. Kewajiban Istri

Sebagaimana suami memiliki kewajiban, istri juga memiliki kewajiban yang harus ditunaikan.

A. Taat kepada suami dalam perkara ma'ruf

Ketaatan kepada suami merupakan salah satu kewajiban istri. Namun harus diberi batas yang benar:

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.

Jika suami memerintahkan kemaksiatan, maka tidak boleh ditaati dalam perkara tersebut.

Jadi ketaatan kepada suami adalah ketaatan dalam perkara yang ma'ruf, bukan ketaatan mutlak.

kewajiban istri amatlah besar sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ

Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada yang lain, maka tentu aku akan memerintah para wanita untuk sujud pada suaminya karena Allah telah menjadikan begitu besarnya hak suami yang menjadi kewajiban istri” (HR. Abu Daud no. 2140, Tirmidzi no. 1159, Ibnu Majah no. 1852 dan Ahmad 4: 381. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ketaatan seorang istri pada suami termasuk sebab yang menyebabkannya masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج

Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260)


B. Menjaga kehormatan diri dan keluarga

Seorang istri mempunyai amanah besar untuk menjaga kehormatannya. Termasuk:

  • menjaga pergaulan,
  • menjaga aurat,
  • menjaga kesetiaan,
  • menjaga rahasia rumah tangga,
  • menjaga kehormatan suami ketika suami tidak ada.

Demikian pula suami wajib menjaga kehormatan dirinya.

Maka kesetiaan adalah kewajiban bersama, bukan hanya kewajiban istri.


C. Menjaga rumah dan anak

Rasulullah ﷺ bersabda: 

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ 

“Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya.”

Ini menunjukkan bahwa istri juga mempunyai wilayah kepemimpinan dan tanggung jawab.

Karena itu peran istri dalam keluarga bukan peran yang rendah.

Mengurus rumah, mendidik anak, menjaga suasana rumah, dan menjaga amanah keluarga merupakan pekerjaan yang mulia ketika dilakukan karena Allah.


D. Menjaga harta dan amanah suami

  • Harta keluarga adalah amanah.
  • Tidak boleh digunakan secara zalim.
  • Tidak boleh diboroskan.
  • Tidak boleh disembunyikan dalam rangka merugikan pasangan.

Demikian pula suami harus memperlakukan harta istrinya sebagai amanah.


6. Jangan Jadikan Rumah Tangga Sebagai Pengadilan

Salah satu penyebab konflik rumah tangga adalah setiap persoalan berubah menjadi persidangan.

Suami menjadi jaksa. 

Istri menjadi terdakwa.

Kemudian masing-masing mengumpulkan bukti:

“Kamu dulu melakukan ini.”
“Kamu juga pernah begitu.”
“Saya sudah melakukan ini, tetapi kamu tidak.”
“Saya sudah berkorban lebih banyak.”

Jika rumah tangga terus seperti ini, maka kehidupan bersama berubah menjadi kompetisi siapa yang paling benar.

Padahal pasangan bukan lawan.

Suami dan istri adalah satu tim.

Allah berfirman: 

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ 

“Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” QS. Al-Baqarah: 187

Pakaian memiliki fungsi:

  • menutup,
  • melindungi,
  • memperindah,
  • memberikan kenyamanan.

Begitulah seharusnya suami dan istri.

Bukan saling membuka aib, tetapi saling menutupinya.

Bukan saling menjatuhkan, tetapi saling melindungi.

Bukan saling mempermalukan, tetapi saling memuliakan.


7. Jangan Hanya Menghitung Pengorbanan Sendiri

Ada orang yang setiap hari menghitung apa yang telah ia lakukan untuk pasangannya.

“Saya sudah bekerja.”

“Saya sudah mengurus rumah.”

“Saya sudah membayar ini.”

“Saya sudah melahirkan anak.”

“Saya sudah berkorban sekian tahun.”

Padahal dalam kehidupan rumah tangga, terlalu sibuk menghitung pengorbanan dapat membuat seseorang lupa bersyukur.

Allah mengajarkan: 

وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ 

“Janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian.” QS. Al-Baqarah: 237

  • Jangan hanya mengingat kesalahan pasangan.
  • Ingat juga kebaikannya.
  • Jangan hanya mengingat satu kekurangan.
  • Ingat puluhan kebaikan yang telah diberikan.
  • Karena rumah tangga tidak dibangun dengan kesempurnaan manusia.

Rumah tangga dibangun dengan kesediaan saling memahami kekurangan dan menghargai kebaikan.


8. Kewajiban Tidak Berarti Menutup Mata dari Kezaliman

Membahas kewajiban suami dan istri jangan sampai menghasilkan pemahaman bahwa seseorang harus menerima segala bentuk kezaliman.

Islam tidak membenarkan kezaliman.

Allah berfirman: 

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ 

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Maka:

  • suami tidak boleh melakukan kekerasan,
  • istri tidak boleh melakukan pengkhianatan,
  • suami tidak boleh menelantarkan keluarga,
  • istri tidak boleh merusak kehormatan suami,
  • keduanya tidak boleh saling menyakiti secara zalim.

Kewajiban harus ditempatkan dalam koridor syariat dan ma'ruf.


9. Perbedaan Peran Bukan Berarti Perbedaan Kemuliaan

Suami dan istri memang memiliki peran yang berbeda. Tetapi perbedaan peran tidak berarti salah satu lebih mulia sebagai manusia.

Allah berfirman: 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” QS. Al-Hujurat: 13

Kemuliaan di sisi Allah bukan berdasarkan:

  • laki-laki atau perempuan,

  • kaya atau miskin,

  • tinggi atau rendah jabatan,

tetapi berdasarkan takwa.

Suami mempunyai kewajiban sebagai suami.

Istri mempunyai kewajiban sebagai istri.

Keduanya akan kembali kepada Allah.

Dan keduanya akan ditanya tentang amanah masing-masing.


10. Pertanyaan yang Harus Dibawa Pulang

Jika materi ini selesai, jangan biarkan jamaah hanya membawa daftar:

“Ini kewajiban suami.”

“Ini kewajiban istri.”

Tetapi ajak mereka membawa pulang pertanyaan yang lebih dalam.

Kepada suami:

  • Apakah saya sudah menafkahi keluarga dengan baik?
  • Apakah keluarga merasa aman bersama saya?
  • Apakah saya memperlakukan istri dengan ma'ruf?
  • Apakah saya membimbing keluarga dalam agama?
  • Apakah saya menjadi suami yang membuat istri semakin dekat kepada Allah?

Kepada istri:

  • Apakah saya sudah menaati suami dalam perkara ma'ruf?
  • Apakah saya menjaga kehormatan diri dan keluarga?
  • Apakah saya menjaga amanah rumah tangga?
  • Apakah saya membantu suami dalam kebaikan?
  • Apakah kehadiran saya membuat rumah lebih tenang?

Kepada keduanya:

Apakah rumah tangga kita semakin mendekatkan kita kepada Allah?

Karena itulah ukuran keberhasilan yang paling penting.


Penutup

Jangan jadikan pernikahan sebagai tempat untuk terus-menerus menuntut:

“Penuhi hak saya.”

Tetapi jadikan pernikahan sebagai tempat untuk berkata:

“Saya akan menunaikan kewajiban saya karena Allah.”

Suami menunaikan kewajibannya.

Istri menunaikan kewajibannya.

Keduanya saling memaafkan.

Keduanya saling membantu.

Keduanya saling menutupi kekurangan.

Keduanya saling mengingatkan dalam ketaatan.

Dan ketika keduanya sama-sama berusaha menjadi pasangan yang baik, rumah tangga tidak lagi menjadi tempat dua orang berebut hak.

Rumah tangga menjadi tempat dua orang berlomba dalam kebaikan.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” QS. Al-Ma'idah: 2

Maka prinsipnya sederhana: 

Jangan hanya bertanya, “Apa hak saya?”

Tanyakan pula, “Apa kewajiban saya?”

Karena rumah tangga yang kokoh bukan dibangun oleh dua orang yang terus menuntut haknya, tetapi oleh dua orang yang takut kepada Allah dalam menunaikan kewajibannya.

Dan pada akhirnya, suami dan istri bukan hanya ingin hidup bersama sampai tua.

Mereka berharap:

hidup bersama di dunia dalam ketaatan, dan dipertemukan kembali di surga Allah.

Syarat Mendapatkan Syafaat Nabi & Perkara yang menghalanginya

 


SYARAT MENDAPATKAN SYAFAAT NABI ﷺ DAN PERKARA YANG MENGHALANGINYA

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu perkara yang sangat diharapkan oleh seorang mukmin pada hari kiamat adalah syafaat Nabi Muhammad ﷺ.

Syafaat adalah pertolongan yang Allah berikan kepada hamba-Nya melalui perantaraan orang yang Allah izinkan untuk memberikan syafaat.

Namun ada satu prinsip yang harus kita pahami dengan benar:

Syafaat bukan hak mutlak Nabi ﷺ. Syafaat adalah milik Allah dan hanya terjadi dengan izin serta kehendak-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

"Katakanlah: Hanya milik Allah seluruh syafaat." (QS. Az-Zumar: 44)

Karena itu, jangan sampai keyakinan terhadap syafaat justru merusak tauhid.

Nabi ﷺ memang memiliki syafaat. Bahkan di antara syafaat beliau adalah syafaat al-'uzhma, yaitu syafaat terbesar pada hari kiamat ketika manusia berada dalam keadaan sangat berat dan meminta agar segera dimulai keputusan di antara mereka. Nabi ﷺ bersabda:

أُعْطِيتُ خَمْسًا أُعْطِيتُهُنَّ لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي... وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ

"Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku... dan aku diberi syafaat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Asy-Syafā‘ah al-‘Uẓmā (الشَّفَاعَةُ الْعُظْمَى) berarti syafaat yang paling agung.

Syafaat ini terjadi pada Padang Mahsyar, ketika seluruh manusia dikumpulkan setelah dibangkitkan. Keadaan sangat berat. Matahari didekatkan, manusia mengalami kesusahan dan menunggu sangat lama.

Kemudian manusia mencari orang yang dapat memohon kepada Allah agar perkara segera diputuskan

Mereka mendatangi Nabi Adam عليه السلام, kemudian Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa عليهم السلام. Namun semuanya tidak berani mengambil tugas tersebut.

Akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bersabda:

فَأَنْطَلِقُ فَآتِي تَحْتَ الْعَرْشِ، فَأَقَعُ سَاجِدًا لِرَبِّي

"Aku kemudian pergi dan mendatangi bawah Arsy, lalu aku bersujud kepada Rabb-ku."

Kemudian Allah memberikan izin kepada beliau untuk memberikan syafaat. Allah berfirman:

يَا مُحَمَّدُ، ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَسَلْ تُعْطَهْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ

"Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau akan diberi; berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi, siapa saja yang akan mendapatkan syafaat?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Al-Qur'an memberikan jawaban yang sangat jelas. Allah berfirman:

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

"Betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai." (QS. An-Najm: 26)

Dari ayat ini kita memahami bahwa syafaat memiliki dua syarat utama.

Pertama: Allah mengizinkan pemberi syafaat

Allah berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

"Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?" (QS. Al-Baqarah: 255)

Tidak ada seorang pun yang dapat maju memberikan syafaat sesuka hatinya.

Bahkan Nabi Muhammad ﷺ, manusia paling mulia, tidak memberikan syafaat kecuali setelah Allah memberikan izin.

Ini menunjukkan kesempurnaan tauhid: Nabi adalah pemberi syafaat, tetapi Allah-lah yang memberikan izin dan menentukan hasil syafaat tersebut.

Kedua: Allah meridhai orang yang diberi syafaat

Allah berfirman:

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى

"Mereka tidak memberikan syafaat kecuali kepada orang yang Dia ridhai." (QS. Al-Anbiya: 28)

Dengan demikian, tidak semua orang otomatis mendapatkan syafaat. Yang menentukan bukan sekadar pengakuan bahwa kita mencintai Nabi ﷺ. Yang menentukan adalah tauhid, iman, dan keridhaan Allah.

Karena itu, ketika Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Nabi ﷺ:

"Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling berbahagia mendapatkan syafaatmu pada hari kiamat?" 

Nabi ﷺ menjawab:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ

"Manusia yang paling berbahagia mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan: 'Lā ilāha illallāh' dengan ikhlas dari hatinya." (HR. Bukhari)

Perhatikan, Nabi ﷺ tidak mengatakan bahwa orang yang paling banyak berharap kepada syafaat beliau yang akan mendapatkan syafaat.

Tetapi:

مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ

Orang yang mentauhidkan Allah dengan ikhlas.

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

 أَتَانِي آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّي فَخَيَّرَنِي بَيْنَ أَنْ يُدْخِلَ نِصْفَ أُمَّتِي الْجَنَّةَ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ وَهِيَ لِمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا 

“Ada yang mendatangiku dari Rabbku lalu memberiku pilihan antara setengah ummatku masuk surga atau syafaat, lalu aku memilih syafaat. Dan syafaatku itu bagi orang yang mati dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun.” (HR. Tirmidzi)

Maka tauhid adalah pintu terbesar menuju syafaat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Lalu apa yang menjadi penghalang terbesar seseorang dari syafaat? Jawabannya adalah syirik dan kekafiran.

Allah berfirman tentang orang-orang yang masuk neraka:

فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

"Maka tidak berguna bagi mereka syafaat dari para pemberi syafaat." (QS. Al-Muddatstsir: 48)

Mengapa?

Karena mereka mati dalam keadaan tidak beriman kepada Allah. Maka jangan sampai seseorang merasa aman dengan mengatakan: "Nanti juga Nabi akan memberikan syafaat."

  • Syafaat bukan alasan untuk meninggalkan tauhid.
  • Syafaat bukan jaminan bagi orang yang sengaja mempertahankan kesyirikan.
  • Syafaat bukan tiket untuk bermaksiat.

Justru orang yang paling dekat dengan syafaat Nabi ﷺ adalah orang yang paling serius menjaga tauhid dan mengikuti sunnah beliau.

Maka, jamaah yang dirahmati Allah,

Jika kita benar-benar berharap syafaat Nabi ﷺ, maka mari kita:

  • Pertama, memurnikan tauhid kepada Allah.
  • Kedua, menjauhi syirik, baik syirik besar maupun berbagai bentuk kesyirikan yang merusak keikhlasan.
  • Ketiga, mengikuti Nabi ﷺ dengan iman dan ketaatan.
  • Keempat, memperbanyak amal saleh dan tidak menjadikan harapan terhadap syafaat sebagai alasan untuk meremehkan dosa.

Dan yang paling penting:

Jangan hanya mencintai syafaat Nabi ﷺ; cintailah pula Nabi ﷺ dengan mengikuti ajaran beliau.

Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

"Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian." (QS. Ali 'Imran: 31)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat Nabi Muhammad ﷺ pada hari ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan dari Allah.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ أَعْظَمَ مَا نَحْرِصُ عَلَيْهِ فِي هٰذِهِ الدُّنْيَا هُوَ أَنْ نَلْقَى اللَّهَ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالْإِيمَانِ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari kita simpulkan pembahasan kita.

Ada dua syarat pokok syafaat:

  1. Allah mengizinkan pemberi syafaat untuk memberikan syafaat.

  2. Allah meridhai orang yang diberi syafaat.

Karena itu, ada beberapa perkara yang menjadi penghalang seseorang dari syafaat, terutama:

Pertama, mati dalam keadaan syirik atau kufur.

Kedua, tidak memiliki tauhid yang benar dan keikhlasan kepada Allah.

Ketiga, menjadikan harapan terhadap syafaat sebagai pembenaran untuk terus bermaksiat dan meninggalkan kewajiban.

Dan satu hal yang sangat penting:

Jangan memahami syafaat sebagai "jaminan keselamatan tanpa syarat".

Syafaat adalah rahmat Allah, tetapi rahmat itu diberikan sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya.

Karena itu, sikap seorang mukmin berada di antara khauf dan raja': takut terhadap dosa dan azab Allah, tetapi tetap berharap kepada rahmat, ampunan, dan syafaat-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki."
(QS. An-Nisa: 48)

Maka selama kita masih hidup,

  • Jangan menunda taubat.
  • Perbaiki tauhid.
  • Perbaiki shalat.
  • Perbaiki akhlak.
  • Tinggalkan kesyirikan.
  • Ikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

Dan teruslah memohon kepada Allah agar kelak kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat Nabi-Nya.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْإِيمَانَ وَالتَّوْحِيدَ وَالْإِخْلَاصَ، وَنَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى نَلْقَاكَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالسُّنَّةِ، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا شَفَاعَةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ تَشْمَلُهُمْ رَحْمَتُكَ وَرِضْوَانُكَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Akal yang Sehat akan Selalu Condong kepada Kebaikan

 


AKAL YANG SEHAT AKAN SELALU CONDONG KEPADA KEBAIKAN

1. Manusia Diciptakan Sebagai Sebaik-baik Makhluk

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menciptakan manusia dengan kemuliaan yang tidak diberikan kepada kebanyakan makhluk lainnya. Kemuliaan itu bukan sekadar karena bentuk fisiknya yang indah, tetapi karena Allah membekalinya dengan berbagai potensi untuk mengenal dan beribadah kepada-Nya.

Allah Ta‘ālā berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tīn: 4)

Dan Allah berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

"Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam." (QS. Al-Isrā': 70)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kemuliaan ini meliputi kesempurnaan bentuk, kemampuan berbicara, kemampuan belajar, hati yang mampu beriman, dan akal yang mampu berpikir. Semua itu menjadikan manusia layak menerima amanah syariat.


2. Di Antara Bentuk Kesempurnaan Itu Adalah Akal

Di antara nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada manusia adalah akal. Dengan akal manusia dapat memahami, menimbang, mengingat, mengambil pelajaran, dan membedakan antara yang benar dan yang salah.

Karena pentingnya akal, Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia untuk menggunakannya.

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

"Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian menggunakan akal." (QS. Al-Baqarah: 242)

Namun, akal hanyalah potensi. Sebagaimana mata membutuhkan cahaya agar dapat melihat, akal pun membutuhkan petunjuk agar tidak tersesat.


3. Wahyu Adalah Sumber Ilmu yang Menyehatkan Akal

Allah tidak membiarkan akal berjalan sendiri. Dia menurunkan wahyu sebagai cahaya yang menerangi jalan berpikir manusia.

Tanpa petunjuk wahyu, akal mudah dipengaruhi hawa nafsu, syubhat, dan prasangka. Sebaliknya, ketika akal diberi asupan ilmu yang benar dari Al-Qur'an dan Sunnah, ia akan tumbuh semakin jernih dan bijaksana.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar." (QS. At-Taubah: 33)

Allah juga berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang dapat mengambil pelajaran hanyalah orang-orang yang berakal." (QS. Az-Zumar: 9)

Karena itu, ilmu syar'i bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menyehatkan cara berpikir.


4. Fungsi Akal Adalah Mengenal Allah dan Menerima Kebenaran

Tujuan utama akal bukan untuk berdebat, bukan pula untuk membenarkan semua keinginan manusia. Fungsi utamanya adalah mengenali tanda-tanda kebesaran Allah dan menerima kebenaran ketika kebenaran itu datang.

Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Āli 'Imrān: 190)

Semakin sehat akal seseorang, semakin mudah ia melihat bahwa seluruh alam semesta menunjukkan keesaan Allah. Akal yang sehat tidak sombong di hadapan dalil, tetapi tunduk kepada kebenaran.


5. Akal Harus Dipelihara Agar Tetap Sehat

Kemuliaan manusia bukan semata-mata karena tubuh yang tegap atau wajah yang indah, tetapi karena Allah menganugerahkan kemampuan berpikir dan menerima petunjuk.

Maka pertanyaannya, mengapa ada manusia yang semakin cerdas justru semakin jauh dari Allah?

Jawabannya, karena akal tidak cukup hanya cerdas, tetapi harus sehat.

Akal yang sehat adalah akal yang jujur terhadap kebenaran. Ketika melihat bukti, ia menerimanya. Ketika mendengar nasihat, ia merenungkannya. Ketika mengetahui kebenaran, ia berusaha mengikutinya.

Perhatikanlah, Allah tidak mengatakan agar manusia mengikuti agama tanpa berpikir. Sebaliknya, Allah mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya, merenungkan ayat-ayat-Nya, lalu mengambil kesimpulan dengan akal yang jernih. Semakin sehat akal seseorang, maka :

  • Semakin mudah ia menerima kebenaran.
  • Orang yang berakal tidak malu mengakui kesalahan.
  • Tidak gengsi menerima nasihat.
  • Tidak fanatik kepada hawa nafsunya.

Karena tujuan akal bukan memenangkan perdebatan, melainkan menemukan kebenaran.

Oleh sebab itu Allah memuji orang-orang yang benar-benar menggunakan akalnya.

فَبَشِّرْ عِبَادِ ۝ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan berbagai perkataan, lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah ulul albab (orang-orang yang berakal)." (QS. Az-Zumar: 17–18)

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat indah. Ukuran orang berakal bukan seberapa banyak ia berbicara, tetapi seberapa besar ia mau mendengar.

Bukan seberapa keras mempertahankan pendapatnya, tetapi seberapa siap meninggalkan pendapatnya ketika nyata bertentangan dengan kebenaran. Inilah akal yang dipuji oleh Allah.

Sebagaimana tubuh dapat sakit, akal pun dapat rusak. Yang merusak akal bukan hanya khamar dan segala yang memabukkan, tetapi juga hawa nafsu, dosa, kesombongan, fanatisme buta, dan syubhat yang terus-menerus diikuti.

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

"Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?" (QS. Al-Jāṯiyah: 23)

Maka akal dipelihara dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu syar'i, bergaul dengan orang-orang saleh, menjauhi maksiat, serta senantiasa memohon petunjuk kepada Allah.


6. Akal yang Lurus Selalu Selaras dengan Wahyu

Sebagian orang menganggap bahwa mengikuti wahyu berarti meninggalkan akal. Anggapan ini bertentangan dengan ajaran Islam.

Justru akal yang paling sehat adalah akal yang mengetahui batas kemampuannya, lalu tunduk kepada petunjuk Allah.

Ibnu Taimiyah berkata:

اَلْعَقْلُ الصَّرِيحُ لَا يُعَارِضُ النَّقْلَ الصَّحِيحَ

"Akal yang lurus tidak akan bertentangan dengan dalil yang sahih."

Apabila tampak ada pertentangan, maka yang perlu dikoreksi adalah pemahaman manusia, bukan wahyunya. Sebab Allah Yang menciptakan akal adalah Allah pula yang menurunkan wahyu. Mustahil ciptaan-Nya yang lurus bertentangan dengan petunjuk-Nya yang sempurna.

Karena itu, semakin sehat akal seseorang, semakin mudah ia menerima Al-Qur'an dan Sunnah. Dan semakin dekat seseorang kepada wahyu, semakin lurus pula cara berpikirnya.

Jika hati bersih dan akal sehat, maka wahyu tidak akan terasa berat. Justru akal akan menyaksikan bahwa seluruh syariat Allah membawa kebaikan, meskipun tidak semua hikmahnya mampu dijangkau oleh manusia.

Hari ini manusia hidup di zaman yang dipenuhi informasi. Semua orang dapat berbicara, berkomentar, bahkan menyebarkan pendapatnya dalam hitungan detik.

Namun, tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang banyak pengikutnya adalah petunjuk. Dan tidak semua yang disukai manusia diridhai Allah.

Maka jangan hanya menjadi orang yang cerdas, tetapi jadilah orang yang berakal.

  • Akal yang membawa kita semakin rendah hati.
  • Semakin mudah menerima nasihat.
  • Semakin cinta kepada ilmu.
  • Semakin tunduk kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Karena sesungguhnya puncak kecerdasan bukanlah mampu mengalahkan orang lain dalam perdebatan, tetapi mampu mengalahkan hawa nafsu dalam ketaatan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang memiliki hati yang bersih, akal yang sehat, dan selalu condong kepada kebenaran.

Akal yang sehat akan mencintai kebaikan

Allah ﷻ jadikan akal dalam fitrahnya adalah menyukai kebaikan dan kebenaran, Allah ﷻ berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allâh); (tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rûm: 30)

Syekh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah ﷻ menjadikan pada akal manusia cenderung menganggap baik suatu kebenaran dan menilai buruk segala yang batil. Karena sesungguhnya semua hukum dalam syariat Islam, baik yang lahir maupun yang batin, Allah ﷻ telah menjadikan pada hati semua makhluk-Nya kecenderungan (untuk) menerimanya, maka Allah ﷻ menjadikan di hati mereka rasa cinta kepada kebenaran dan selalu mengutamakannya. Inilah hakikat fitrah Allah yang dimaksudkan.” (Tafsir As-Sa’di, QS. Ar-Rum: 30)

Maka, keutamaan akal telah dapat membedakan antara jalan bahagia dengan yang hina. Yakin akan kebenaran barang yang benar dan berpegang kepadanya, tahu akan kesalahan barang yang salah dan menjauhinya; semuanya didapat dengan otak yang cerdas, bukan karena turut-turutan, bukan karena taklid kepada pendapat orang lain saja.

Namun, sebagaimana apa yang difirmankan Allah ﷻ,

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Oleh karena itu, terjadilah peperangan yang sengit antara akal yang lurus di atas cahaya ilmu dengan hawa nafsu yang ditunggangi setan. Sehingga tidak heran kita temui bahwa ada orang yang berakal hebat, cerdas, bergelar tinggi, tetapi jatuh dalam kesesatan yang bahkan oleh orang awam sekalipun dianggap kebodohan.

Akal adalah kendaraan menuju surga

Akal ini adalah kendaraan menuju surga, ia salah satu perangkat penting agar kita sampai menuju surga Allah ﷻ. Bukankah syariat ini hanya dibebankan kepada orang yang berakal serta matang akalnya? Bukankah orang gila tidak dibebankan syariat? Betapa banyak keadaan terangkatnya syariat karena akal seorang telah hilang?

Namun, sebagaimana kendaraan kita, butuh diservis, butuh dipoles, bahkan terus ditingkatkan. Demikianlah akal, hendaknya terus dipoles agar senantiasa hidup di atas fitrah kebaikannya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Mâjah)

Dan bertebarannya mutiara faidah ayat-ayat Al-Quran, tak bisa dipahami kecuali dengan akal yang lurus. Oleh karena itu, perlulah akal kita itu, dibekali dengan bensin dan bahan bakar yang berkualitas dari Al-Quran dan As-Sunnah. Sebab akal menuntut bahan bakar dari cahaya ilmu hakiki, sedangkan hawa nafsu menuntut siraman dari was-was setan. Allah ﷻ berfirman,

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut: 43)

Maka, berbagai ilmu berkualitas itu yang ada di dalam firman Allah ﷻ dan sabda Nabi-Nya ﷺ, sangat sayang jika dilewatkan demikian saja, karena kita tidak mampu mengolahnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم



Label