"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

“AIR: NIKMAT YANG SERING KITA LUPAKAN”

KHUTBAH JUMAT




“AIR: NIKMAT YANG SERING KITA LUPAKAN”

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا، وَجَعَلَ الْمَاءَ أَصْلًا لِلْحَيَاةِ، وَبِهِ أَحْيَا الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَىٰ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنْ جَمِيعِ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Di antara wujud ketakwaan yang sering terlupakan ialah menyadari besarnya nikmat Allah, mensyukurinya, dan tidak menyia-nyiakannya. Hari ini marilah kita merenungkan satu nikmat yang sangat dekat dengan kehidupan kita, hadir setiap hari, tetapi sering tidak mendapatkan perhatian yang semestinya: nikmat air.

1. Nikmat yang Terlalu Biasa untuk Kita Syukuri

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi jika selama tiga hari air tidak mengalir ke rumah kita? Kita tidak bisa minum, memasak, mandi, mencuci, membersihkan rumah, bahkan kesulitan berwudhu. Rumah sakit, pertanian, industri, dan berbagai kegiatan manusia akan terganggu. Kehidupan yang biasanya terasa mudah tiba-tiba menjadi sangat berat.

Namun, selama air masih mengalir, kita jarang memikirkannya. Kita lebih mudah menyadari nikmat uang ketika mendapat penghasilan, nikmat kendaraan ketika membelinya, dan nikmat kesehatan ketika sembuh dari sakit. Akan tetapi, berapa kali kita benar-benar merenungkan air yang kita minum setiap hari?

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ ۝ أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ ۝ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ

“Maka pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, maka mengapa kamu tidak bersyukur?” (QS. al-Wāqi‘ah: 68–70).

Perhatikan bagaimana Allah mengajak kita berpikir. Allah tidak hanya menyuruh kita bersyukur secara umum, tetapi secara khusus mengajak kita memperhatikan air yang kita minum. Seolah-olah Allah mengingatkan: Wahai manusia, berhentilah sejenak. Perhatikan apa yang setiap hari masuk ke dalam tubuhmu. Siapakah yang menyediakan semua ini untukmu?

Sering kali bukan karena nikmat itu kecil kita tidak mensyukurinya, melainkan karena nikmat itu terlalu sering kita rasakan sehingga kita lupa betapa berharganya ia.

2. Air Bukan Sekadar Kebutuhan, tetapi Tanda Kekuasaan Allah

Jamaah yang dirahmati Allah, air bukan hanya salah satu kebutuhan manusia. Air merupakan bagian mendasar dari kehidupan makhluk di bumi. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. al-Anbiyā’: 30).

Renungkanlah, manusia membutuhkan air, hewan membutuhkan air, tumbuh-tumbuhan membutuhkan air, dan pertanian yang menyediakan makanan bagi manusia pun bergantung pada air. Air hujan yang membasahi tanah dapat menghidupkan kembali lahan yang sebelumnya kering. Dari tanah yang semula tandus, Allah menumbuhkan tanaman yang menjadi sumber makanan dan penghidupan.

Karena itu, ketika kita memandang hujan, sungai, mata air, atau segelas air di hadapan kita, jangan hanya melihat benda yang bermanfaat. Lihatlah tanda kekuasaan Allah di dalamnya. Air mengajarkan kita bahwa kehidupan ini bukan berdiri sendiri, melainkan bergantung kepada Allah yang menciptakan, mengatur, dan memeliharanya.

3. Air Adalah Pemberian Allah, Bukan Hasil Ciptaan Manusia

Jamaah rahimakumullah, manusia telah menghasilkan berbagai teknologi untuk memperoleh air. Kita membuat sumur, memasang pompa, membangun bendungan, mengolah air laut, dan memasang jaringan perpipaan. Semua itu merupakan ikhtiar yang patut dihargai. Akan tetapi, manusia hanya mengelola dan memanfaatkan air; manusia bukan pencipta air.

Allah berfirman:

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk melenyapkannya.” (QS. al-Mu’minūn: 18).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa turunnya hujan, tersimpannya air di bumi, dan tersedianya sumber air bukanlah sesuatu yang berada sepenuhnya dalam kendali manusia. Allah-lah yang mengatur semuanya dengan hikmah-Nya.

Kita bisa membayar listrik untuk memompa air, membeli galon untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan membangun pipa untuk mengalirkannya. Namun, kita tidak membayar Allah untuk menciptakan air, sebagaimana kita tidak mampu memerintahkan hujan turun sesuka hati kita. Harga yang kita bayarkan hanyalah biaya untuk memperoleh dan mengolah air, bukan harga atas seluruh nikmat penciptaan yang Allah anugerahkan.

Maka jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita lupa kepada Sang Pemberi nikmat.

4. Jika Air Hilang, Siapakah yang Mampu Mendatangkannya?

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara ayat yang paling menggugah kesadaran tentang nikmat air adalah firman Allah dalam Surah al-Mulk:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ

“Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?’” (QS. al-Mulk: 30).

Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat dalam. Jika sumur kita mengering, kita mungkin bisa menggali sumur baru. Jika sungai tercemar, kita berusaha mengolah air. Jika persediaan berkurang, kita berusaha mencari sumber lain. Akan tetapi, jika seluruh sumber air yang kita andalkan menghilang, siapakah yang sanggup menjamin bahwa air akan kembali tersedia?

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berikhtiar, tetapi kemampuan itu terbatas. Kita boleh memiliki teknologi yang canggih, kekayaan yang melimpah, dan ilmu pengetahuan yang maju, tetapi semua itu tidak menjadikan kita mandiri dari Allah.

Jangan menunggu sumur mengering untuk menyadari bahwa air adalah nikmat Allah. Jangan menunggu dahaga yang menyiksa untuk menyadari bahwa selama ini kita hidup dalam karunia-Nya.

5. Nikmat yang Terus Mengalir Sering Membuat Manusia Lalai

Jamaah yang dirahmati Allah, salah satu penyakit hati manusia adalah terbiasa dengan nikmat sampai tidak lagi merasakan kebesarannya. Kita terbiasa bernapas, lalu lupa bersyukur atas udara. Kita terbiasa bangun pagi dalam keadaan sehat, lalu lupa bahwa kesehatan adalah karunia. Kita terbiasa membuka keran dan mendapatkan air, lalu menganggapnya sesuatu yang pasti tersedia.

Para ulama ketika menjelaskan syukur mengingatkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan pengakuan hati terhadap nikmat Allah, pujian kepada-Nya, dan penggunaan nikmat sesuai dengan apa yang Dia cintai. Ibn al-Qayyim رحمه الله membahas makna syukur sebagai pengakuan atas nikmat, ketundukan kepada Pemberi nikmat, serta penggunaan nikmat dalam perkara yang diridai-Nya.

Dengan demikian, syukur atas air tidak cukup hanya mengucapkan alḥamdulillāh setelah minum. Syukur yang sesungguhnya dimulai ketika hati mengakui bahwa air berasal dari Allah, lisan memuji-Nya, dan perbuatan kita menunjukkan penghargaan terhadap nikmat tersebut.

Nikmat yang disyukuri semestinya mendekatkan kita kepada Pemberinya, bukan membuat kita semakin lalai dari-Nya.

6. Air Menjadi Sarana Kita Beribadah kepada Allah

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Cobalah kita menghitung berapa banyak ibadah yang menggunakan air. Kita berwudhu sebelum shalat, mandi janabah ketika diwajibkan, dan membersihkan najis agar dapat beribadah dengan benar. Allah berfirman:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“Dan Dia menurunkan air dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan air itu.” (QS. al-Anfāl: 11).

Air tidak hanya menopang kehidupan jasmani, tetapi juga menjadi sarana bersuci yang sangat penting dalam pelaksanaan ibadah. Setiap hari, ketika kita berwudhu, sesungguhnya kita sedang memanfaatkan nikmat Allah untuk memenuhi kewajiban kepada-Nya.

Betapa banyak nikmat yang tidak kita sadari karena hadir dalam rutinitas. Kita berwudhu berkali-kali, tetapi mungkin jarang merenungkan bahwa kemampuan menggunakan air bersih untuk bersuci adalah karunia besar. Ada orang yang kesulitan memperoleh air untuk minum, apalagi untuk bersuci. Ada pula orang yang ketika sakit tidak dapat menggunakan air seperti biasanya.

Maka marilah kita belajar memandang wudhu bukan sekadar rutinitas sebelum shalat, melainkan kesempatan untuk mengingat nikmat Allah. Ketika air membasuh wajah dan tangan kita, hadirkanlah kesadaran bahwa Allah masih memberi kita air, kesehatan, dan kesempatan untuk berdiri menghadap-Nya.

7. Rasulullah ﷺ Mengajarkan agar Kita Tidak Berlebihan Menggunakan Air

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, salah satu bukti nyata rasa syukur adalah tidak menyia-nyiakan nikmat. Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. al-A‘rāf: 31).

Larangan berlebihan ini tidak hanya relevan dalam urusan makanan dan minuman, tetapi juga mengajarkan sikap seimbang dalam menggunakan berbagai nikmat yang Allah berikan. Air yang melimpah bukan alasan untuk menggunakannya tanpa batas. Bahkan ketika seseorang berwudhu, ia tetap perlu memperhatikan penggunaan air agar tidak berlebihan.

Terdapat riwayat yang sering dikutip bahwa Rasulullah ﷺ menegur Sa‘ad ketika berwudhu karena berlebihan menggunakan air, meskipun berada di sungai yang mengalir. Riwayat tersebut dikenal dalam pembahasan adab bersuci, tetapi sanadnya diperselisihkan sehingga sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya landasan. Prinsip tidak berlebihan sendiri telah jelas dalam Al-Qur'an.

Karena itu, tutuplah keran ketika tidak diperlukan, gunakan air secukupnya, perbaiki saluran yang bocor, dan hindari kebiasaan membuang-buang air. Jangan sampai kita berhati-hati ketika mengeluarkan uang, tetapi ceroboh ketika menggunakan nikmat Allah yang tidak ternilai.

8. Jangan Boros Air ketika Orang Lain Kesulitan Mendapatkannya

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Di sekitar kita mungkin air masih mudah diperoleh. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki keadaan yang sama. Di sejumlah tempat, masyarakat harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih. Ada keluarga yang harus membeli air dengan biaya yang memberatkan. Ada daerah yang mengalami kekeringan sehingga pertanian gagal dan kehidupan masyarakat terganggu.

Ketika kita membiarkan keran terbuka tanpa keperluan, menggunakan air secara berlebihan, atau mencemari sungai dan sumber mata air, kita sedang menunjukkan sikap yang tidak bertanggung jawab terhadap nikmat Allah.

Menjaga air bukan hanya urusan teknis, melainkan juga urusan akhlak dan kepedulian sosial. Islam mengajarkan kita untuk tidak merugikan sesama dan tidak membuat kerusakan di bumi. Air yang kita jaga hari ini dapat menjadi manfaat bagi keluarga, tetangga, dan generasi yang akan datang.

Syukur bukan hanya menikmati nikmat untuk diri sendiri, tetapi juga menjaga agar nikmat itu tidak disia-siakan dan tetap membawa manfaat bagi orang lain.

9. Air di Dunia Mengingatkan Kita kepada Kenikmatan Surga

Jamaah yang dirahmati Allah, air yang kita nikmati di dunia juga dapat mengingatkan kita kepada kehidupan akhirat. Allah menggambarkan salah satu kenikmatan surga dengan firman-Nya:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa adalah bahwa di dalamnya terdapat sungai-sungai air yang tidak berubah rasa dan baunya.” (QS. Muḥammad: 15).

Di dunia, air dapat tercemar, sumbernya dapat mengering, dan persediaannya dapat habis. Di surga, Allah menjanjikan kenikmatan yang sempurna bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Karena itu, ketika kita meminum air yang segar, hendaknya kita tidak hanya bersyukur atas hilangnya dahaga, tetapi juga mengingat akhirat. Kita memohon agar Allah tidak hanya memberikan kenikmatan di dunia, tetapi juga memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

Nikmat dunia seharusnya menjadi jalan untuk mengingat akhirat, bukan membuat kita terlena hingga melupakan tujuan penciptaan kita.

10. Kita Membayar Sarana Mendapatkan Air, tetapi Air Tetap Nikmat Allah

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita renungkan sekali lagi. Kita membayar listrik untuk memompa air, tetapi tidak menciptakan air. Kita membayar galon, tetapi tidak menciptakan hujan. Kita membangun pipa untuk mengalirkan air, tetapi tidak menciptakan sumber mata air. Kita dapat membeli air, tetapi tidak memiliki kuasa mutlak untuk menjamin bahwa air akan selalu tersedia.

Semua usaha manusia memiliki tempatnya. Islam tidak melarang kita bekerja, membangun fasilitas, atau mengembangkan teknologi. Justru semua itu merupakan ikhtiar yang bermanfaat. Namun, jangan sampai ikhtiar membuat kita lupa bahwa Allah-lah yang menciptakan alam dan menyediakan sebab-sebab kehidupan.

Allah berfirman:

فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ

“Maka mengapa kamu tidak bersyukur?” (QS. al-Wāqi‘ah: 70).

Pertanyaan ini hendaknya kita bawa pulang. Berapa ribu gelas air telah kita minum sepanjang hidup? Berapa kali kita mandi, berwudhu, memasak, dan membersihkan rumah dengan air? Berapa banyak tanaman yang tumbuh dan makanan yang tersedia berkat air yang Allah karuniakan?

Sudahkah semua itu menjadikan kita lebih taat kepada Allah? Ataukah kita justru menikmati nikmat-Nya tanpa mengingat Pemberinya?

11. Puncak Kesadaran: Sudahkah Kita Benar-Benar Bersyukur?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kesadaran terhadap nikmat air hendaknya membawa kita kepada tiga bentuk syukur. Pertama, syukur dengan hati, yaitu meyakini bahwa air adalah karunia Allah. Kedua, syukur dengan lisan, yaitu memuji Allah dan mengakui nikmat-Nya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yaitu menggunakan air secara bertanggung jawab, tidak berlebihan, menjaga kebersihannya, dan membantu orang yang kesulitan memperoleh air.

Jangan sampai kita menjadi manusia yang pandai menghitung harga air, tetapi lupa menghitung besarnya nikmat di balik air. Jangan sampai kita baru mengenal nilai air ketika sumur mengering, sungai menyusut, dan hujan tidak kunjung turun.

Kita sering meminta kepada Allah agar menambah nikmat, tetapi jarang meminta agar Allah menjadikan kita mampu menyadari nikmat yang sudah ada.

Maka marilah kita pulang dari khutbah ini dengan hati yang lebih peka. Ketika membuka keran, ingatlah Allah. Ketika berwudhu, ingatlah Allah. Ketika meminum air, pujilah Allah. Ketika melihat sumber air, jagalah dan jangan merusaknya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, menjaga nikmat-Nya, dan menggunakan setiap karunia untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَىٰ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ شُكْرَ النِّعَمِ سَبَبٌ لِزِيَادَتِهَا وَبَقَائِهَا.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita jadikan nikmat air sebagai pengingat untuk memperkuat ketakwaan. Jangan hanya bersyukur dengan ucapan, tetapi buktikan dengan tindakan. Gunakan air secukupnya, jagalah kebersihan sumber air, jangan mencemari sungai, dan bantulah saudara-saudara kita yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrāhīm: 7).

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang baru menyadari nikmat setelah kehilangannya. Semoga setiap tegukan air menjadikan kita semakin mengenal Allah, semakin bersyukur kepada-Nya, dan semakin taat dalam menjalani kehidupan.

Marilah kita berdoa kepada Allah agar Dia menjaga nikmat air bagi kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin; menjauhkan kita dari kekeringan yang membinasakan; serta menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bersyukur.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

“Ya Allah, tolonglah kami agar senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. al-A‘rāf: 23).

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. al-Baqarah: 201).

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. an-Naḥl: 90).

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

AGAMA ADALAH NASIHAT

 


AGAMA ADALAH NASIHAT

Memahami Makna Nasihat: Bukan Sekadar Menegur, tetapi Ketulusan Menghendaki Kebaikan

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

Satu Hadis yang Merangkum Makna Kehidupan Beragama

Rasulullah ﷺ bersabda: 

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيمِ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ». قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ».

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk kaum muslimin secara umum.” (HR. Muslim no. 55).

Hadis ini sangat singkat, tetapi kandungannya sangat luas. Rasulullah ﷺ bahkan membuka sabdanya dengan kalimat yang sangat kuat: الدِّينُ النَّصِيحَةُ — “Agama adalah nasihat.” Para ulama menjelaskan bahwa an-naṣīḥah bukan sekadar teguran atau nasihat dalam pengertian yang biasa kita pahami. 

KHITAN: MENJAGA FITRAH, MENUNAIKAN AMANAH



KHITAN: MENJAGA FITRAH, MENUNAIKAN AMANAH

Dari tubuh yang dijaga menuju jiwa yang dididik

Biasanya kalau kita mendengar kata khitan, yang langsung terbayang adalah sebuah tindakan pada tubuh seorang anak.

Tetapi saat ini saya ingin mengajak kita semua melihat khitan dari sudut yang sedikit berbeda.

Bukan hanya: “Apa yang dilakukan kepada tubuh anak ini?” Tetapi kita bertanya: “Apa yang sedang Allah ajarkan kepada kita, sebagai orang tua dan keluarga, melalui seorang anak yang hari ini dikhitan?”

Karena sesungguhnya, anak yang berada di hadapan kita hari ini belum memahami apa-apa.

  • Ia belum memahami mengapa ia dikhitan.
  • Ia belum memahami apa itu sunnah.
  • Ia belum memahami apa itu fitrah.

Bahkan mungkin, setelah acara ini selesai, ia tidak akan mengingat satu pun peristiwa hari ini.

Tetapi justru di situlah terdapat pelajaran yang sangat besar bagi kita sebagai orang dewasa.


Pertama: Khitan adalah bagian dari fitrah

Rasulullah ﷺ bersabda: 

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ: الْخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ.

“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Muslim no. 257)

Perhatikan bahwa Rasulullah ﷺ memasukkan khitan ke dalam perkara fitrah. Fitrah adalah sesuatu yang berkaitan dengan keadaan dasar yang Allah tetapkan bagi manusia.

Allah berfirman: 

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rūm: 30)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa fitrah dalam ayat tersebut berkaitan dengan keadaan dasar manusia yang Allah ciptakan dan kecenderungannya kepada kebenaran.

Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda: 

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali ia dilahirkan di atas fitrah.” (HR. Muslim no. 2658)

Maka seorang bayi yang berada di hadapan kita hari ini adalah makhluk kecil yang datang ke dunia dalam keadaan suci dan belum membawa dosa.

Dan tugas kita bukan sekadar membesarkan tubuhnya. Tugas kita adalah menjaga fitrahnya. Khitan adalah salah satu bentuk penjagaan terhadap fitrah dalam perkara jasmani.

Tetapi pertanyaannya: Kalau tubuhnya kita jaga, bagaimana dengan jiwanya?

Kalau hari ini kita peduli dengan kebersihan tubuhnya, apakah kita juga akan peduli dengan kebersihan hatinya?

Kalau hari ini kita memastikan tubuhnya mendapatkan perawatan yang baik,  apakah kita juga akan memastikan jiwanya mendapatkan pendidikan yang baik?

Di sinilah acara khitan berubah menjadi sebuah pengingat besar bagi orang tua. Khitan menjaga salah satu bagian dari fitrah tubuhnya. Pendidikan menjaga fitrah jiwanya.


Kedua: Anak belum mengerti, tetapi orang tua sudah memulai

Ada sesuatu yang menarik dari seorang bayi. Bayi belum bisa menentukan apa yang terbaik untuk dirinya. Ia belum tahu makanan apa yang baik. Ia belum tahu lingkungan seperti apa yang baik. Ia belum tahu pendidikan seperti apa yang baik. Ia bahkan belum mampu mengatakan: “Bapak, saya mau dikhitan.” Tetapi orang tuanya mengambil keputusan untuknya. Mengapa? Karena orang tua melihat sesuatu yang belum bisa dilihat oleh anaknya.

Dan sebenarnya, inilah hakikat pendidikan. Anak belum mengerti mengapa harus belajar. Tetapi orang tua sudah mengajarkan. Anak belum mengerti mengapa harus salat. Tetapi orang tua sudah membiasakan. Anak belum mengerti mengapa harus membaca Al-Qur'an. Tetapi orang tua sudah memperdengarkannya.

Anak belum mengerti mengapa harus berkata jujur. Tetapi orang tua sudah menanamkannya. Begitu juga hari ini. Anak belum memahami khitan. Tetapi orang tua sudah memulainya.

Karena orang tua tidak hanya berpikir tentang apa yang dipahami anak hari ini, tetapi juga tentang siapa yang akan menjadi anak ini sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun yang akan datang.

Dan ini adalah pelajaran penting: Tidak semua kebaikan harus menunggu anak mengerti terlebih dahulu.

Ada kebaikan yang harus kita tanamkan hari ini agar manfaatnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Sebuah pohon tidak langsung menghasilkan buah ketika ditanam.  Tetapi orang yang menanamnya tetap bersabar menyiramnya.

Begitu pula pendidikan anak. Hari ini kita mengajarkan satu doa. Besok satu ayat. Lusa satu adab. Hari berikutnya satu kebiasaan baik. Kelihatannya kecil. Tetapi bertahun-tahun kemudian, semua itu bisa menjadi karakter.


Ketiga: Khitan mengajarkan bahwa cinta orang tua tidak selalu berbentuk kenyamanan

Hadirin yang berbahagia,Ada satu pelajaran lain yang menurut saya sangat indah dari khitan.

Seorang anak mungkin menangis ketika dikhitan. Dan kita memahami tangisan itu.

Tetapi orang tua tetap melakukannya dengan cara yang benar, aman, dan penuh perhatian. Mengapa? Karena orang tua tahu: Tidak semua yang terasa tidak nyaman berarti tidak baik.

Dan sebaliknya: Tidak semua yang terasa menyenangkan berarti baik. Ini adalah pelajaran yang sangat penting dalam mendidik anak. Kadang anak ingin terus bermain, tetapi orang tua menyuruhnya belajar. Kadang anak ingin memegang gawai sepanjang hari, tetapi orang tua membatasinya.Kadang anak ingin membeli sesuatu, tetapi orang tua mengatakan tidak.

Kadang anak ingin mengikuti temannya, tetapi orang tua melarang karena mengetahui lingkungan tersebut tidak baik.

Anak mungkin tidak mengerti. Anak mungkin kecewa. Anak mungkin  mengatakan: “Kenapa Ayah melarang?” “Kenapa Ibu tidak membolehkan?” Tetapi orang tua yang baik tidak hanya bertanya: 

“Apa yang membuat anak saya senang?” 

Orang tua juga bertanya: “Apa yang membuat anak saya baik?”

Ini dua pertanyaan yang berbeda. 

Dan dalam pendidikan, yang kedua jauh lebih penting. Cinta bukan hanya membuat anak bahagia. Cinta juga berarti berani menjaga anak dari sesuatu yang dapat merusaknya. Tetapi tentu saja, ini tidak berarti orang tua boleh bersikap kasar. Islam tidak mengajarkan pendidikan dengan kekerasan dan penghinaan.

Cinta harus berjalan bersama rahmah, hikmah, kesabaran, dan keteladanan. Jadi jangan kita katakan: “Saya keras kepada anak karena saya mencintainya.” Tetapi tunjukkan cinta melalui: ketegasan yang penuh kasih, aturan yang jelas, nasihat yang lembut, dan terutama, keteladanan dari orang tua. Sebab anak lebih banyak belajar dari apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar.


Keempat: Sebelum menjadi kebanggaan, anak adalah amanah

Ketika seorang anak lahir, biasanya kita mempunyai banyak harapan. Kita ingin dia sehat. Kita ingin dia pintar. Kita ingin dia sukses. Kita ingin dia menjadi orang besar. Kita ingin suatu hari nanti dia menjadi kebanggaan keluarga. Semua itu adalah harapan yang baik. Tetapi Islam mengajak kita melihat lebih dalam. Sebelum anak itu menjadi kebanggaan, ia adalah amanah.

Allah berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Taḥrīm: 6)

Ayat ini sangat serius.

Allah tidak hanya mengatakan: “Jadikan keluarga kalian sukses.”

Tetapi:

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”

Ibn ‘Abbās رضي الله عنهما menjelaskan ayat ini dengan makna: beramal dengan ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan, dan memerintahkan keluarga untuk berdzikir kepada Allah agar Allah menyelamatkan mereka dari neraka. Penjelasan yang serupa dinukil dari Mujāhid.

Maka keberhasilan pendidikan anak tidak cukup diukur dengan:

“Anak saya sekolah di mana?” “Nilainya berapa?” “Pekerjaannya apa?” “Gajinya berapa?” “Rumahnya di mana?” “Jabatannya apa?” Semua itu boleh kita harapkan.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah anak ini semakin mengenal Allah?
Apakah ia semakin mencintai Rasulullah ﷺ?
Apakah ia semakin mengenal halal dan haram?
Apakah ia tumbuh menjadi manusia yang jujur, amanah, dan berakhlak?

Karena boleh jadi seorang anak sukses menurut ukuran dunia, tetapi orang tuanya gagal memberikan bekal akhirat. Dan sebaliknya, boleh jadi seorang anak tidak menjadi orang terkenal, tetapi ia menjadi manusia yang saleh, jujur, bermanfaat, dan dekat dengan Allah.

Itulah sebabnya amanah harus mendahului kebanggaan.


Kelima: Orang tua adalah penjaga, bukan sekadar penyedia

Rasulullah ﷺ bersabda: 

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ.

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim; diriwayatkan pula dengan lafaz serupa dalam Sunan Abī Dāwūd)

Perhatikan kata yang digunakan Rasulullah ﷺ: رَاعٍ Rā‘in. Artinya penjaga, pengurus, penggembala.

Seorang penggembala tidak hanya memberikan makan dombanya.

  • Ia memperhatikan ke mana dombanya berjalan.
  • Ia menjaga agar tidak masuk ke tempat berbahaya.
  • Ia memastikan tidak ada yang tersesat.
  • Ia menjaga dari ancaman.

Demikian pula orang tua.

Orang tua bukan hanya provider, penyedia kebutuhan anak.

Bukan hanya menyediakan: rumah, makanan, pakaian, pendidikan, uang saku, dan fasilitas. Tetapi orang tua juga harus menjadi penjaga arah hidup anak.

Karena itu tugas pendidikan bukan sekadar membuat anak patuh ketika diawasi.

Tugas pendidikan adalah membuat anak mampu memilih yang benar ketika tidak ada yang mengawasi.


Keenam: Hari ini orang tua yang memilihkan, kelak anak yang memikul amalnya

Hari ini hampir semua keputusan untuk bayi berada di tangan orang tua.
Orang tua memilih namanya.
Orang tua memilih makanannya.
Orang tua memilih dokter.
Orang tua memilih sekolah.
Orang tua hari ini memilih untuk mengkhitannya.
Tetapi akan datang suatu masa ketika semuanya berubah.
Anak ini akan tumbuh.
Ia akan dewasa.
Ia akan mempunyai pikirannya sendiri.
Ia akan mempunyai pilihan-pilihannya sendiri.
Dan kelak, ia akan berdiri di hadapan Allah.

Allah berfirman: 

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا ۝ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

“Setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya melekat pada lehernya. Pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab yang ia jumpai terbuka. Bacalah kitabmu; cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” (QS. Al-Isrā’: 13–14)

Hari ini dia adalah bayi yang kita gendong. Kelak dia adalah manusia dewasa yang memikul amalnya sendiri. Hari ini kita bisa mengatakan:

“Anakku, lakukan ini.”

Kelak dia harus mempunyai kesadaran:

“Saya melakukan ini karena Allah.”

Dan inilah tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

Bukan membuat anak selamanya bergantung kepada orang tua.

Tetapi membekali anak agar ketika suatu hari orang tua tidak lagi berada di sisinya, Allah tetap ada di dalam hatinya.


Ketujuh: Maka khitan hari ini harus menjadi awal, bukan akhir

Kalau kita melihat khitan hanya sebagai sebuah acara, maka setelah acara selesai semuanya berakhir. Tetapi kalau kita melihat khitan sebagai momentum, maka justru hari ini adalah permulaan.

Hari ini kita menjaga tubuhnya.
Besok kita menjaga makanannya.
Lusa kita menjaga lingkungannya.
Kemudian kita menjaga pendidikannya.
Kita menjaga apa yang ia dengar.
Kita menjaga apa yang ia lihat.
Kita menjaga siapa yang menjadi temannya.
Kita menjaga apa yang masuk ke pikirannya.
Dan yang paling penting:
kita menjaga hubungan hatinya dengan Allah.
Karena seorang anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mampu membesarkannya.
Ia membutuhkan orang tua yang mampu membimbingnya.
Ia tidak hanya membutuhkan orang tua yang mampu membayar sekolahnya.
Ia membutuhkan orang tua yang mengajarkan makna hidupnya.
Ia tidak hanya membutuhkan orang tua yang memikirkan masa depannya di dunia.
Ia membutuhkan orang tua yang mempersiapkannya untuk akhiratnya.


Penutup: Jangan hanya bertanya akan menjadi apa anak kita

Pada saat itu, kita mungkin bertanya: “Akan menjadi apa anakku?”

Tetapi sebenarnya ada pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang sudah kami tanamkan dalam dirinya?”

Karena orang tua tidak bisa memilih seluruh masa depan anak.
Kita tidak bisa menentukan siapa yang akan ia cintai.
Kita tidak bisa menentukan seluruh jalan hidupnya.
Kita tidak bisa mengawasi setiap langkahnya.
Tetapi kita bisa memberikan bekal.
Kita bisa memberikan iman.
Kita bisa memberikan adab.
Kita bisa memberikan ilmu.
Kita bisa memberikan teladan.
Kita bisa memberikan lingkungan yang baik.
Dan yang paling penting:

kita bisa memperkenalkan anak kepada Rabb yang akan selalu bersamanya ketika kita sudah tidak lagi bersamanya.

Maka hari ini, ketika seorang anak dikhitan, jangan hanya melihat bahwa ada bagian dari tubuhnya yang sedang dijaga.

Lihatlah lebih jauh.

  • Ada fitrah yang harus dijaga.
  • Ada jiwa yang harus dididik.
  • Ada amanah yang harus ditunaikan.
  • Ada cinta yang harus diwujudkan.

Dan ada masa depan akhirat yang harus dipersiapkan.


Doa untuk Anak

Marilah kita bersama-sama mendoakan anak yang hari ini dikhitan.

Semoga Allah menjadikannya anak yang sehat, panjang umur dalam ketaatan, lembut hatinya, baik akhlaknya, luas ilmunya, dan bermanfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, dan umat.

Semoga Allah menjaga fitrahnya.
Semoga Allah menjaga langkahnya.
Semoga Allah menjadikannya anak yang mencintai Al-Qur'an.
Anak yang mencintai Rasulullah ﷺ.
Anak yang mencintai salat.
Anak yang menghormati kedua orang tuanya.
Anak yang ketika dewasa bukan hanya menjadi orang sukses, tetapi menjadi orang saleh dan bermanfaat.
Dan untuk ayah dan ibunya, semoga Allah memberikan kesabaran dalam mendidik.
Karena membesarkan anak mungkin membutuhkan tenaga.
Menyekolahkan anak membutuhkan biaya.
Tetapi mendidik jiwa seorang anak membutuhkan kesabaran yang jauh lebih besar.
Semoga setiap air mata, setiap lelah, setiap nasihat, setiap doa, dan setiap pengorbanan orang tua menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Allah berfirman: 

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Āli ‘Imrān: 38)

Dan Allah juga mengabadikan doa orang-orang saleh: 

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqān: 74)

Semoga anak yang hari ini kita khitankan kelak menjadi قُرَّةَ أَعْيُنٍ, penyejuk mata bagi kedua orang tuanya.

Bukan hanya karena keberhasilannya.
Tetapi karena iman dan akhlaknya.
Bukan hanya karena kedudukannya di dunia.
Tetapi karena kedekatannya kepada Allah.

Dan semoga kelak, ketika kedua orang tuanya sudah tidak mampu lagi memberikan apa-apa kepadanya, amal salehnya menjadi salah satu sebab mengalirnya pahala bagi keduanya.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَوْلَادِنَا، وَاجْعَلْهُمْ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى وَالصَّلَاحِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْهُ وَارْعَهُ، وَبَارِكْ فِي عُمْرِهِ وَصِحَّتِهِ وَعِلْمِهِ وَعَمَلِهِ، وَاجْعَلْهُ قُرَّةَ عَيْنٍ لِوَالِدَيْهِ، وَاجْعَلْهُ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Sehat : Nikmat Yang tak Terlihat




Sehat : Nikmat Yang tak Terlihat


إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا, يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,

Sebuah kenikmatan yang luar biasa yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah nikmat sehat. Sebuah nikmat yang tak terlihat. Sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan. Dari Yasar bin Ubaid radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَمِّهِ، قَالَ: كُنَّا فِي مَجْلِسٍ، فَجَاءَ النَّبِيُّ ﷺ وَعَلَى رَأْسِهِ أَثَرُ مَاءٍ، فَقَالَ لَهُ بَعْضُنَا: نَرَاكَ الْيَوْمَ طَيِّبَ النَّفْسِ. فَقَالَ: «أَجَلْ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ». ثُمَّ أَفَاضَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِ الْغِنَى، فَقَالَ:

«لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيمِ».

Dari Mu‘ādz bin ‘Abdillāh bin Khubayb, dari ayahnya, dari pamannya, ia berkata:

“Kami sedang berada dalam suatu majelis. Kemudian Nabi ﷺ datang, sementara di kepala beliau terdapat bekas air. Salah seorang di antara kami berkata kepada beliau, ‘Kami melihat engkau hari ini dalam keadaan baik dan ceria.’

Beliau menjawab, ‘Benar, dan segala puji bagi Allah.’

Kemudian orang-orang yang berada dalam majelis itu membicarakan tentang kekayaan, maka beliau bersabda:

‘Tidak mengapa memiliki kekayaan bagi orang yang bertakwa. Dan kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik daripada kekayaan. Dan ketenangan/kebaikan jiwa termasuk kenikmatan.’” (HR. Ibnu Majah 2141).

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kita bisa melakukan aktivitas apapun dengan sangat nyaman saat kita sehat. Kita bisa merasakan semua kenikmatan indera kita, saat kita sehat. Kita bisa merasakan nikmatnya makanan karena kita sehat. Yang asin terasa asin. Yang manis terasa manis. Yang enak terasa enak. Semua itu karena kita sehat. Sebaliknya orang yang sakit, semua makanan terasa pahit. Allah cabut sebagian kemampuan inderanya.

Kita bersyukur kepada Allah dengan nikmat sehat kita bisa mengerjakan shalat. Kita bisa bersujud dengan meletakkan dahi kita di atas tanah. Kita bisa rukuk dengan sempurna. Dan kita bisa melakukan aktivitas ibadah yang lainnya dengan nyaman. Itulah besarnya pengaruh nikmat sehat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan definisi manusia yang kaya, bukanlah mereka yang bisa mengumpulkan banyak harta. Tapi justru, orang yang kaya menurut beliau adalah mereka yang bisa mengumpulkan tiga hal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 مَنْ أَصْبَحَ مُعَافًى فِي بَدَنِهِ، آمِنًا فِي سِرْبِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا.

“Barang siapa pada pagi hari dalam keadaan sehat tubuhnya, merasa aman dan tenteram, serta memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia telah diberikan kepadanya.” (HR. Abu Nu’aim).

Tiga hal inilah yang menjadi modal seseorang bisa beraktivitas dengan nyaman dalam keseharian. Yang pertama adalah sehat fisiknya. Dengan kesehatannya tersebut, ia bisa merasakan kenikmatan dunia sesuai dengan rasanya. Ia bisa menjalani tidur sebagaimana fungsinya yaitu beristirahat. Bisa merasakan nikmatnya makanan dengan ragam rasa yang ditawarkan. Bisa beraktivitas tanpa mengeluhkan sakit dan nyeri. Karena nikmat sehat.

Orang yang sakit, Allah batasi aktivitasnya sesuai dengan sakit yang ia derita. Makanan banyak pantangan. Saat mengonsumsi makanan atau minuman berhadapan dengan resiko darah tinggi, gula darah naik, kolesterol, asam urat, jantung, dll. Ia memiliki keterbatasan menikmati kenikmatan dunia sesuai dengan penyakitnya. Ia tidak lagi mampu menikmati dunia secara natural.

Dari sini kita menjadi sadar, kemampuan manusia dalam menikmati ragam kenikmatan dunia sangat terbatas. Bukan terbatas karena tidak ada materi saja. Materi ada. Saldo rekeningnya melimpah. Tapi ia tidak bisa memanfaatkannya. Karena keterbatasan yang ia alami.

Banyak kita lihat kaum muslimin, hartanya banyak tapi tidak bisa mengantarkannya ke tanah suci karena sakit. Hartanya banyak, tapi tak mampu ia nikmati. Di saat itulah seseorang menyadari bahwa kemampuan manusia untuk menikmati dunia yang ia kejar selama ini, ternyata sangat terbatas.

Kemudian Rasulullah menyebutkan kondisi kedua, ia berada dalam kondisi aman. Kita bisa bayangkan kalau seandainya masjid ini atau tempat tinggal kita berada di wilayah konflik. Ada di Palestina misalnya. Atau daerah mana saja yang kapan pun ada bom yang siap meledak. Mungkin kita tidak berani keluar dari rumah. Atau keluar dari bunker. Kita akan berada di satu titik tertentu dalam kondisi ketakutan yang mencekam.

Karena kita dalam kondisi aman, kita berangkat keluar dengan tenang tanpa perlu membawa senjata. Kita melakukan banyak aktivitas tanpa perasaan khawatir kehilangan nyawa. Inilah nikmat yang luar biasa. Dengan nikmat aman ini, seseorang bisa melakukan aktivitas apapun yang dia inginkan tanpa ada gangguan.

Dan yang ketiga, ia memiliki bahan makanan yang cukup untuk hari itu. Ia tidak mengalami kelaparan. Karena itulah, nikmat aman dan ketersediaan makanan ini Allah jadikan salah satu alasan agar orang-orang kafir Quraisy mau memeluk Islam. Allah Ta’ala berfirman,

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ (4)

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” [Quran Al-Quraisy: 3-4]

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa yang memiliki tiga nikmat ini, “Orang ini dibentangkan dunia untuknya berikut seluruh isinya.” Sehingga definisi orang yang memiliki kekayaan duniawi adalah dengan memiliki modal tiga kenikmatan ini.

Untuk selanjutnya, dia akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah, sampai mana nikmat tersebut bisa mendorongnya untuk taat dan beribadah kepada-Nya. “Engkau dalam kondisi sehat, aman, dan punya makanan harian. Apa yang kau lakukan?” Itulah yang akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Para ulama menjelaskan ada tiga hal yang pertama kali ditanya di akhirat. Tentang urusan amal, yang pertama kali akan ditanya adalah amalan shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أولُ ما يحاسبُ بهِ العبدُ يومَ القيامةِ الصَّلاةُ ، فإنْ صَلَحَتْ ، صَلَحَ سائِرُ عَمَلِه ، و إنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سائِرُ عَمَلِه

“Amal pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat nanti adalah shalat. Kalau shalatnya baik, terhitung baik pula amal-amal yang lain. Kalau shalatnya buruk, terhitung buruk pula amal-amal yang lain.” (HR. Ath-Thabrani).

Yang kedua, akan ditanya berkaitan dengan nikmat yang diberikan kepadanya. Ia akan ditanya tentang nikmat sehat dan air putih yang ia minum. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ أوَّلَ ما يُسأَلُ عنهُ العبدُ يومَ القيامةِ من النَّعيمِ أنْ يُقالَ لهُ : ألمْ نُصِحَّ لكَ جِسمَكَ ، و نُرْوِيكَ من الماءِ البارِدِ ؟

“Sesungguhnya kenikmatan pertama yang akan Allah tanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti adalah Allah mengatakan, ‘Bukankah aku telah memberi Kesehatan fisikmu? Dan aku telah memberikan kepadamu air yang segar’?” (Shahihul Jami, 2022).

Orang yang sedang merasakan sakit, pasti tahu persis betapa nikmatnya sehat. Dan air yang segar adalah nikmat yang besar. Kita tidak bisa membayangkan kalau di dunia ini hanya ada air yang manis saja. Atau asin saja. Kita tidak menjumpai air tawar. Apa yang akan dirasakan oleh manusia?

Jika air tawar saja akan ditanya oleh Allah, apalagi nikmat-nikmat yang lain!

Oleh karena itu, jamaah yang dimuliakan Allah,

Mari kita manfaatkan nikmat sehat yang sedang kita rasakan sekarang. Jangan menunggu tidak berdaya, baru mau ibadah. Atau kemampuan sudah berkurang, dalam kondisi ini seseorang tidak bisa lagi melakukan ibadah-ibadah yang berat.

Demikian sebagai khutbah yang pertama, semoga bermanfaat.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا..
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى:

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ada satu ayat yang mudah-mudahan bisa menjadi motivasi bagi orang yang sehat. Agar ia semaksimal mungkin memanfaatkan waktu sehatnya. Karena nikmat sehat adalah nikmat yang sering terlupakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نعمتانِ مغبونٌ فيهما كثيرٌ منَ النَّاسِ الصِّحَّةُ والفراغُ

“Ada dua nikmat Besar yang sering disia-siakan oleh manusia. Yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu senggang.” (HR. Al-Bukhari 6412).

Ada sebuah ayat yang menjadi motivasi untuk orang-orang yang sehat. Yaitu firman Allah Ta’ala,

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” [Quran At-Tin: 6].

Apa makna pahala yang tidak terputus ini? Dlam Tafsir al-Qurthubi, terdapat nukilan ucapan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma saat menafsirkan “pahala yang tiada putus-putusnya. Beliau mengatakan,

إِذَا كَانَ العَبْدُ فِي شَبَابِهِ كَثِيْرُ الصَّلَاةِ كَثِيْرُ الصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ، ثُمَّ ضَعُفَ عَمَّا كَانَ يَعْمَلُ فِي شَبَابِهِ أَجْرَى اللهُ – عَزَّ وَجَلَّ – لَهُ مَا كَانَ يَعْمَلُ فِي شَبَابِهِ

“Apabila seorang hamba di usia mudanya rajin mengerjakan shalat, rajin berpuasa, dan rajin bersedekah. Kemudian ia tidak mampu lagi mengerjakan kebiasannya di masa muda tersebut (karena tua dll), Allah tetap mengalirkan pahala untuknya seperti kebiasaan masa mudanya.”

Sehingga saat seseorang sedang sehat, ia bolak-balik pergi ke masjid. Ia mengerjakan rukuk dan sujud. Hingga tiba dalam satu kondisi, ia sakit. Lututnya tak bisa lagi ditekuk. Pinggang nyeri. Badan tidak bisa lagi gagah dan kuat seperti dulu. ia akan tetap mendapat pahala yang ia kerjakan sewaktu ia sehat. Syaratnya ibadah-ibadah tersebut sudah menjadi kebiasaannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا مرضَ العبدُ أو سافرَ كتبَ لَهُ من العملِ ما كانَ يعملُهُ وَهوَ صحيحٌ مقيمٌ

“Apabila seorang hamba mengalami sakit. Atau sedang bersafar. Akan tetap dicatatkan pahala untuknya seperti yang biasa ia kerjakan tatkala sehat dan mukim.” (HR. Al-Bukhari 2996).

Karena itulah, ibadah di waktu sehat adalah tabungan pahala di masa tua. Sebagaimana ucapan seseorang rajin olahraga di masa muda adalah tabungan kesehatan di hari tua.


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ،

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan/kesehatan di dunia dan akhirat.”

اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, sehatkanlah tubuhku. Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.”

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kusta, gangguan jiwa, penyakit lepra, dan berbagai penyakit yang buruk.”

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ampunan, keselamatan, dan kesehatan yang terus-menerus di dunia dan akhirat.”

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الغَلَا وَمِنَ البَلاَ وَمِنَ الفِتَنِ وَمِنَ المِحَنِ كُلَّهَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِناَ هَذَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ وَالأَهْوَاءِ وَالأَدْوَاءِ، اَللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ. اَللَّهُمَّ اهْدِنَا وَسَدِدْنَا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكُ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعِفَّةَ وَالغِنَى.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيٍءٍ قَدِيْرٍ.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.




RIBA: DOSA YANG SERING DIANGGAP BIASA


RIBA: DOSA YANG SERING DIANGGAP BIASA

Memahami Hakikat Riba, Bahayanya, dan Cara Menghindarinya dalam Kehidupan Modern


1. Mengapa Riba Harus Dibahas?

Di antara dosa yang disebutkan secara sangat keras dalam Al-Qur'an dan Sunnah adalah riba.

Riba bukan sekadar persoalan mencari keuntungan terlalu besar. Riba menyangkut akad dan cara memperoleh keuntungan. Karena itu, seseorang bisa mendapatkan keuntungan yang besar tetapi halal, dan sebaliknya seseorang bisa memperoleh tambahan yang kecil tetapi haram karena termasuk riba.

Allah ﷻ berfirman: 

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا 

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275) 

Ayat ini sangat penting karena menunjukkan bahwa jual beli dan riba tidak boleh disamakan, sekalipun keduanya sama-sama menghasilkan keuntungan.

Riba juga bukan dosa kecil.

Rasulullah ﷺ memasukkannya ke dalam tujuh dosa yang membinasakan: 

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah dosa-dosa itu?”

Beliau ﷺ menjawab: 

الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

“Yaitu: syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan perang, dan menuduh wanita mukmin yang baik dan tidak bersalah melakukan zina.” (HR. Bukhari no. 6857) 

Jadi, pembahasan riba bukan sekadar persoalan ekonomi.

Ia adalah persoalan iman, ketakwaan dan halal-haramnya harta.


2. Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan Riba?

A. Makna bahasa

Kata الرِّبَا berasal dari kata yang bermakna bertambah, berkembang dan meningkat.

Allah ﷻ berfirman: 

فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ

“Apabila Kami turunkan hujan kepadanya, niscaya ia bergerak dan menjadi subur.”

(QS. Al-Hajj: 5)

Secara bahasa, riba berkaitan dengan tambahan.

Tetapi perlu diperhatikan: Tidak setiap tambahan adalah riba.

Keuntungan perdagangan adalah tambahan, tetapi tidak otomatis riba.

Seseorang membeli barang Rp100.000 lalu menjualnya Rp120.000. Ada tambahan Rp20.000, tetapi tambahan tersebut berasal dari jual beli, bukan riba.

Karena itu, yang harus dilihat bukan sekadar: “Ada tambahan atau tidak?”

Tetapi: “Tambahan itu muncul dari akad apa dan karena apa?”


B. Riba dalam transaksi

Secara sederhana, riba dapat dipahami sebagai tambahan yang dilarang syariat dalam transaksi tertentu, khususnya tambahan yang berkaitan dengan utang-piutang atau pertukaran barang ribawi yang tidak memenuhi ketentuan syariat.

Karena itu, memahami riba membutuhkan pemahaman terhadap akad.

Misalnya: 

Pinjaman

“Saya pinjamkan Rp10 juta, tetapi kamu wajib mengembalikan Rp11 juta.”

Tambahan Rp1 juta tersebut dipersyaratkan karena adanya pinjaman.

Ini berbeda dengan:

Jual beli

“Saya menjual sepeda motor ini seharga Rp20 juta tunai atau Rp23 juta secara cicilan.”

Jika sejak awal dipilih salah satu harga dan akadnya jelas, persoalannya masuk ke dalam jual beli, bukan otomatis menjadi riba.

Maka jangan menggunakan rumus:

“Ada tambahan = riba.”

Rumus yang lebih tepat:

“Periksa akadnya, sebab munculnya tambahan, objeknya, dan ketentuan syariatnya.”


3. Riba dalam Al-Qur'an: Dari Peringatan hingga Ancaman Perang

Al-Qur'an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap riba.

Salah satu rangkaian ayat terpenting adalah QS. Al-Baqarah ayat 275–279.

A. Allah membedakan jual beli dan riba

Allah ﷻ berfirman: 

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275) 

Orang-orang yang melakukan riba dahulu berusaha membangun logika: 

“Jual beli menghasilkan keuntungan, riba juga menghasilkan keuntungan. Lalu apa bedanya?”

Al-Qur'an membantah logika tersebut.

Keuntungan tidak semuanya sama.

Ada keuntungan yang halal karena lahir dari akad yang halal.

Ada keuntungan yang haram karena lahir dari akad yang haram.


B. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah

Allah ﷻ berfirman: 

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276) 

Perhatikan kontrasnya:

Riba → يَمْحَقُ — dihapus keberkahannya.

Sedekah → يُرْبِي — ditumbuhkan dan diberkahi.

Secara lahiriah, orang yang mengambil riba mungkin terlihat memperoleh keuntungan.

Tetapi ukuran Islam bukan hanya: “Berapa banyak uang yang bertambah?”

Melainkan: “Apakah harta tersebut diberkahi Allah?”


C. Perintah meninggalkan riba

Allah ﷻ berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang masih ada, jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278) 

Perintahnya bukan: “Kurangi riba.”

Tetapi: وَذَرُوا — tinggalkanlah.

Ini menunjukkan ketegasan larangan riba.


D. Ancaman yang sangat berat

Kemudian Allah ﷻ berfirman: 

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ ۖ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim dan tidak dizalimi.” (QS. Al-Baqarah: 279) 

Ini merupakan salah satu ancaman paling keras dalam masalah muamalah.

Mengapa?

Karena riba bukan sekadar kesalahan individu.

Ia dapat menjadi sistem ekonomi yang mengeksploitasi kebutuhan manusia.


4. Jenis-Jenis Riba

Pembahasan riba dalam fikih tidak hanya satu bentuk. Secara garis besar, kita dapat memahami beberapa bentuk berikut.

A. Riba dalam pinjaman

Misalnya:

“Saya pinjami kamu Rp10 juta. Nanti kembalikan Rp11 juta.”

Tambahan tersebut telah disyaratkan sejak awal.

Ini merupakan bentuk riba dalam utang-piutang.

Prinsipnya:

Pinjaman pada dasarnya adalah akad tolong-menolong, bukan akad untuk mencari keuntungan yang dipersyaratkan dari pihak yang meminjam.


B. Riba Jahiliyyah

Salah satu bentuk riba yang sangat jelas adalah ketika seseorang memiliki utang yang jatuh tempo tetapi belum mampu membayar.

Kemudian kreditur mengatakan:

“Kalau belum bisa membayar sekarang, utangnya saya tambah, tetapi waktunya saya perpanjang.”

Misalnya:

Utang awal: Rp10 juta.

Jatuh tempo tidak mampu membayar.

Kemudian:

“Tambahkan menjadi Rp12 juta, tetapi saya beri tambahan waktu.”

Tambahan tersebut terjadi karena penangguhan pembayaran utang.

Inilah gambaran klasik riba jahiliyyah.


C. Riba Fadhl

Riba fadhl berkaitan dengan pertukaran barang-barang ribawi yang sejenis tetapi tidak memenuhi ketentuan kesetaraan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ، مِثْلًا بِمِثْلٍ، سَوَاءً بِسَوَاءٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ، فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ، إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ.

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam; harus sama ukurannya, sama timbangannya, dan dilakukan secara tunai. Jika jenis-jenis tersebut berbeda, maka juallah sesuka kalian apabila dilakukan secara tunai.” (HR. Muslim) 

Contoh sederhananya:

10 gram emas ditukar dengan 11 gram emas secara langsung.

Ada kelebihan pada salah satu pihak.

Ini termasuk pembahasan riba fadhl.


D. Riba Nasi'ah

Riba nasi'ah berkaitan dengan penundaan atau penangguhan dalam transaksi yang terkena aturan riba.

Di sinilah kita memahami mengapa unsur waktu sangat penting dalam pembahasan riba.

Karena itu, ketika menghadapi transaksi modern, jangan hanya bertanya:

“Berapa persen bunganya?”

Tetapi tanyakan:

“Apa akadnya? Apa objeknya? Dari mana tambahan itu muncul? Apakah tambahan tersebut karena utang, karena waktu, atau karena transaksi jual beli?”

Ini jauh lebih ilmiah.




5. Mengapa Riba Diharamkan?

Ada beberapa hikmah yang dapat kita pahami.

A. Karena Allah telah mengharamkannya

Ini adalah alasan pertama dan paling fundamental.

Seorang Muslim tidak membutuhkan seluruh hikmah untuk tunduk kepada hukum Allah.

Allah berfirman: 

وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allah mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275) 


B. Riba dapat mengandung kezhaliman

Dalam QS. Al-Baqarah: 279 Allah memberikan prinsip yang sangat penting: 

لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Kamu tidak berbuat zalim dan tidak dizalimi.” 

Prinsip ini sangat penting dalam ekonomi Islam.

Pihak yang memiliki uang tidak boleh memanfaatkan kesulitan orang lain untuk mendapatkan keuntungan yang ditentukan atas dasar utang.


C. Riba dapat mengeksploitasi kebutuhan manusia

Bayangkan seseorang membutuhkan uang untuk kebutuhan mendesak.

Ia meminjam Rp10 juta.

Karena adanya bunga dan keterlambatan, utang berkembang menjadi Rp12 juta, Rp15 juta, dan seterusnya.

Kesulitan orang tersebut justru menjadi sumber keuntungan pihak yang memberikan pinjaman.

Islam menghendaki hubungan sosial yang lebih dekat dengan:

ta'awun — التَّعَاوُنُ, saling menolong,

bukan eksploitasi.


D. Riba menjadikan utang sebagai alat mencari keuntungan

Pinjaman memiliki karakter berbeda dari jual beli.

Dalam jual beli, seseorang memperoleh keuntungan karena menjual barang atau manfaat.

Dalam pinjaman, uang diberikan kepada pihak yang membutuhkan dan pada dasarnya yang dikembalikan adalah pokoknya.

Karena itu Al-Qur'an menegaskan: 

فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ

“Kamu berhak atas pokok hartamu.” (QS. Al-Baqarah: 279)

Ayat ini sangat penting.

Allah tidak mengatakan: “Kalian berhak mendapatkan tambahan.”

Tetapi:

رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ — pokok harta kalian.


6. Riba dalam Kehidupan Modern

Inilah bagian yang biasanya paling menarik bagi jamaah.

Karena riba hari ini tidak selalu memakai nama “riba”.

Ia bisa muncul dalam istilah:

  • bunga,

  • interest,

  • denda keterlambatan,

  • tambahan pinjaman,

  • kredit tertentu,

  • paylater,

  • kartu kredit,

  • pinjaman online,

  • dan berbagai bentuk transaksi finansial.

Namun kita harus berhati-hati:

Tidak setiap transaksi modern yang memakai kata “cicilan”, “biaya”, atau “tambahan” otomatis riba.

Yang harus dianalisis adalah substansi akadnya.


A. Pinjaman berbunga

Misalnya:

Pinjam Rp10 juta.

Kemudian sejak awal disepakati:

“Kembalikan Rp11 juta.”

Jika tambahan Rp1 juta merupakan tambahan yang dipersyaratkan atas pinjaman, maka inilah bentuk yang sangat jelas dari riba pinjaman.


B. Pinjaman online

Tidak cukup hanya melihat nama aplikasinya.

Harus diperiksa:

  1. Akadnya apa?

  2. Apakah sebenarnya pinjaman?

  3. Apakah ada bunga?

  4. Apakah ada tambahan berdasarkan waktu?

  5. Bagaimana mekanisme denda?

  6. Apakah biaya tersebut benar-benar biaya jasa atau sebenarnya tambahan atas utang?

Dengan demikian, fikih muamalah menilai substansi akad, bukan sekadar nama produknya.


C. Paylater

Misalnya seseorang membeli barang seharga Rp1 juta.

Kemudian sistem memberikan pilihan pembayaran:

  • tunai Rp1 juta;

  • pembayaran kemudian Rp1,1 juta.

Apakah otomatis riba?

Tidak boleh langsung menyimpulkan hanya dari adanya perbedaan harga.

Jika akadnya benar-benar jual beli kredit, harga jual yang lebih tinggi daripada harga tunai tidak otomatis menjadi riba.

Tetapi apabila mekanismenya sebenarnya:

“Kami meminjamkan uang kepada Anda Rp1 juta, lalu Anda wajib mengembalikan Rp1,1 juta karena penundaan,”

maka karakter akadnya berbeda dan masuk ke pembahasan riba dalam pinjaman.

Karena itu:

Dalam transaksi modern, jangan hanya melihat angka. Lihat akadnya.


D. Cicilan

Pertanyaan:

“Apakah cicilan itu riba?”

Jawabannya:

Tidak semua cicilan adalah riba.

Misalnya seseorang membeli barang secara kredit dengan harga yang telah disepakati:

Tunai: Rp20 juta.

Kredit: Rp23 juta selama 24 bulan.

Jika akadnya adalah jual beli, harga kredit Rp23 juta disepakati secara jelas sejak akad, dan tidak ada tambahan karena keterlambatan yang menjadi keuntungan pemberi pinjaman, maka persoalannya berbeda dengan pinjaman berbunga.

Tetapi apabila:

“Utangnya Rp20 juta. Karena waktu pembayaran diperpanjang, menjadi Rp23 juta,”

maka ini merupakan persoalan yang berbeda dan masuk ke pembahasan riba.


7. Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Terlibat Riba?

Bagian ini harus disampaikan dengan tegas tetapi tidak membuat orang putus asa.

Sebab mungkin ada jamaah yang baru mengetahui bahwa transaksi yang selama ini dilakukan ternyata bermasalah.

Jangan katakan:

“Kamu sudah terlanjur berdosa, tidak ada jalan keluar.”

Justru Islam membuka pintu taubat.

Allah ﷻ berfirman: 

فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ

“Barang siapa telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya lalu dia berhenti, maka baginya apa yang telah diperolehnya dahulu, dan urusannya kembali kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 275) (Quran.com)

Maka langkahnya:

Pertama: Berhenti

Jika masih berada dalam transaksi riba, berusaha keluar darinya dengan cara yang benar.

Kedua: Bertaubat

Taubat mencakup:

  • meninggalkan dosa,

  • menyesal,

  • bertekad tidak mengulanginya.

Ketiga: Menyelesaikan kewajiban

Jika masih memiliki kewajiban pokok, selesaikan sesuai ketentuan akad dan hukum yang berlaku.

Keempat: Jangan mengambil tambahan riba

Allah memberikan prinsip: 

فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ

“Kamu berhak atas pokok hartamu.” (QS. Al-Baqarah: 279) 

Kelima: Jangan berputus asa

Kesalahan masa lalu tidak boleh menjadi alasan untuk terus mempertahankan kesalahan.

Yang penting adalah:

Hari ini kita tahu, hari ini kita berhenti.


8. Solusi Islam Menghadapi Kebutuhan Finansial

Islam tidak hanya mengatakan:

“Jangan riba!”

tetapi juga mengajarkan jalan yang halal.

A. Qardh Hasan

Yaitu pinjaman yang diberikan sebagai bentuk pertolongan tanpa mengambil keuntungan yang dipersyaratkan.

Allah ﷻ berfirman: 

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakannya baginya dengan lipat ganda yang banyak?”

(QS. Al-Baqarah: 245)

Maksudnya bukan Allah membutuhkan pinjaman, tetapi Allah memotivasi manusia untuk menginfakkan hartanya di jalan Allah.


B. Jual beli yang halal

Islam tidak mengharamkan keuntungan.

Allah berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275) 

Jadi, Islam bukan agama yang melarang seseorang menjadi kaya.

Yang dilarang adalah mencari kekayaan melalui cara yang Allah haramkan.


C. Mudharabah

Kerja sama antara pemilik modal dan pengelola usaha dengan mekanisme pembagian keuntungan sesuai kesepakatan.

Risiko dan keuntungan berada dalam kerangka usaha, bukan sekadar:

“Saya memberikan uang, kemudian pasti mendapatkan tambahan sekian persen.”

Ini merupakan perbedaan mendasar antara investasi/kerja sama usaha dan pinjaman berbunga.


D. Musyarakah

Kerja sama di mana para pihak sama-sama memberikan kontribusi modal dan berbagi hasil sesuai kesepakatan serta menanggung risiko sesuai ketentuan akad.


E. Membiasakan hidup sesuai kemampuan

Salah satu penyebab seseorang mudah masuk ke dalam utang adalah:

keinginan hidup lebih tinggi daripada kemampuan finansial.

Karena itu, solusi riba tidak hanya berada di sektor keuangan.

Ia juga membutuhkan:

  • qana'ah,

  • hidup sederhana,

  • perencanaan keuangan,

  • menghindari konsumtif,

  • membedakan kebutuhan dan keinginan.


Penutup: Jangan Hanya Mencari Harta yang Banyak, Carilah Harta yang Berkah

Riba mengajarkan kita sebuah pelajaran penting:

Tidak semua pertambahan adalah keuntungan.

Ada harta yang bertambah secara angka tetapi berkurang keberkahannya.

Ada harta yang tampaknya sedikit tetapi Allah berikan keberkahan yang besar.

Allah ﷻ berfirman: 

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. Al-Baqarah: 276) 

Dan pada akhirnya, Allah memberikan sebuah prinsip yang sangat jelas: 

لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Kamu tidak berbuat zalim dan tidak dizalimi.” (QS. Al-Baqarah: 279)

Maka pertanyaan seorang Muslim ketika memperoleh uang bukan hanya:

“Berapa banyak yang saya dapat?”

Tetapi:

“Dari mana harta ini saya dapatkan?”

“Akad apa yang saya gunakan?”

“Apakah cara mendapatkannya halal?”

“Apakah Allah meridhainya?”

Karena tujuan seorang Muslim bukan sekadar kaya, tetapi halal.

Bukan sekadar banyak, tetapi berkah.

Dan bukan sekadar memiliki harta, tetapi memastikan bahwa ketika harta itu masuk ke dalam rumah, ia tidak menjadi sebab hilangnya keberkahan dari kehidupan kita.

Allah ﷻ telah memberikan peringatan yang sangat tegas: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ۝ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ ۖ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim dan tidak dizalimi.”

(QS. Al-Baqarah: 278–279) 

Inilah inti kajian riba: bukan sekadar bagaimana mendapatkan uang, tetapi bagaimana mendapatkan uang tanpa kehilangan ridha Allah.


Label