"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Belajar Hari Ini, Bahagia Dunia dan Akhirat

 


Belajar Hari Ini, Bahagia Dunia dan Akhirat

Mengapa Santri Harus Mencintai Ilmu?

Pendahuluan

Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah ilmu. Dengan ilmu, seseorang mengetahui siapa Tuhannya, bagaimana cara beribadah yang benar, membedakan yang halal dan haram, serta mampu menjalani kehidupan dengan penuh hikmah.

Karena itu, perjalanan menjadi seorang santri bukan sekadar datang ke pesantren untuk menghafal pelajaran, tetapi memulai perjalanan menuju kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
(QS. Al-Mujādilah: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu adalah jalan menuju kemuliaan.


Mengapa Kita Harus Belajar?

Banyak anak bertanya, "Mengapa saya harus belajar?"

Jawabannya sederhana. Karena tanpa ilmu seseorang tidak akan mengetahui:

  • bagaimana mengenal Allah,
  • bagaimana shalat dengan benar,
  • bagaimana menghormati orang tua,
  • bagaimana mencari rezeki yang halal,
  • bagaimana membangun keluarga yang baik,
  • dan bagaimana memperoleh surga.

Ilmu adalah cahayaSebaliknya, kebodohan adalah kegelapan.

Orang yang berjalan di jalan gelap mudah tersandung. Begitu pula orang yang hidup tanpa ilmu, ia mudah tertipu, terjerumus kepada dosa, bahkan merusak dirinya sendiri.


Manfaat Ilmu bagi Kehidupan Dunia

1. Ilmu membuat seseorang dihormati

Harta bisa habis.
Jabatan bisa hilang.
Kecantikan akan pudar.
Namun ilmu tetap melekat pada pemiliknya.

Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu 'anhu pernah berkata: 

العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ

"Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu menjagamu, sedangkan harta justru harus engkau jaga."


2. Ilmu memudahkan mencari rezeki

Dokter, guru, insinyur, pengusaha, programmer, ulama, peneliti, semuanya membutuhkan ilmu.

Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin luas peluangnya memberi manfaat kepada masyarakat.

Namun seorang muslim tidak belajar hanya untuk mencari pekerjaan, melainkan agar pekerjaannya menjadi ibadah.


3. Ilmu membuat seseorang mampu menyelesaikan masalah

Ketika menghadapi kesulitan, orang berilmu berpikir.
Orang yang bodoh sering panik.
Ilmu mengajarkan cara mengambil keputusan yang benar.


Manfaat Ilmu bagi Akhirat

Inilah manfaat terbesar. Nabi ﷺ bersabda: 

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Setiap langkah menuju majelis ilmu dicatat sebagai amal kebaikan. Bahkan ilmu yang diamalkan dan diajarkan akan terus mengalir pahalanya meskipun seseorang telah meninggal dunia.


Kisah 1

Nabi Musa Belajar kepada Nabi Khidir

Nabi Musa adalah seorang rasul besar.

Namun Allah tetap memerintahkannya belajar kepada Nabi Khidir.

Ketika bertemu, Nabi Musa berkata: 

هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِي مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

"Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu?" (QS. Al-Kahfi: 66)

Bayangkan. Seorang nabi saja masih mau belajar. Apalagi kita.

Pelajaran pentingnya adalah:

  • jangan pernah merasa paling pintar,
  • hormati guru,
  • bersabarlah ketika belajar.


Kisah 2

Imam Syafi'i dan Kemiskinan

Imam Syafi'i tumbuh dalam keluarga miskin.

Beliau tidak mampu membeli banyak kertas.

Beliau menulis pelajaran di pelepah kurma, tulang, kulit, bahkan menghafalkan banyak pelajaran karena keterbatasan alat tulis.

Beliau tidak menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk berhenti belajar.

Akhirnya beliau menjadi salah satu imam terbesar sepanjang sejarah Islam.

Pesannya:

Bukan fasilitas yang menentukan keberhasilan, tetapi semangat belajar.


Kisah 3

Imam Ahmad bin Hanbal Menempuh Ribuan Kilometer

Pada zaman dahulu tidak ada pesawat.
Tidak ada kereta.
Tidak ada mobil.
Imam Ahmad berjalan kaki dari satu kota ke kota lain hanya untuk mendengar satu hadis.
Beliau rela lapar.
Beliau rela tidur di masjid.
Beliau rela bekerja agar dapat membeli makanan.
Semua dilakukan demi ilmu.

Beliau pernah berkata:

"Aku akan membawa tinta sampai masuk ke liang kubur."

Artinya: Belajar tidak mengenal usia.


Kisah 4

Imam Bukhari yang Luar Biasa

Imam Bukhari mulai menghafal hadis sejak kecil.
Suatu hari beliau diuji oleh para ulama.
Seratus hadis dibacakan dengan sanad yang sengaja ditukar.
Setelah semuanya selesai, beliau mengoreksi satu demi satu tanpa salah.
Mengapa beliau mampu?
Karena bertahun-tahun beliau melatih hafalan, ketelitian, dan keikhlasan.
Kehebatan tidak lahir dalam semalam.


Kisah 5

Nasihat Guru kepada Imam Syafi'i

Suatu ketika Imam Syafi'i merasa hafalannya melemah.

Beliau mengadu kepada gurunya, Imam Waki'.

Beliau kemudian menggubah nasihat itu dalam bait syair: 

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي 

فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي 

وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ 

وَنُورُ اللَّهِ لَا يُؤْتَى لِعَاصٍ

"Aku mengadu kepada Waki' tentang buruknya hafalanku. Beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Beliau juga mengabarkan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat."

Pelajarannya:

Jika ingin mudah memahami pelajaran, jagalah shalat, jujurlah, hormati orang tua, dan jauhi maksiat.


Ilmu Harus Diamalkan

Belajar bukan hanya agar pintar.

Ilmu harus mengubah akhlak.

Semakin tinggi ilmu seseorang seharusnya semakin rendah hati.

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling berilmu, tetapi juga manusia yang paling lembut akhlaknya.

Karena itu, santri yang baik bukan hanya rajin belajar, tetapi juga:

  • rajin shalat berjamaah,
  • menghormati guru,
  • menyayangi teman,
  • menjaga kebersihan,
  • berkata jujur,
  • disiplin,
  • dan gemar membantu orang lain.


Menjadi Santri Adalah Sebuah Kehormatan

Hari ini mungkin kalian masih belajar membaca Al-Qur'an.
Masih menghafal doa-doa.
Masih belajar bahasa Arab.
Masih belajar fikih.
Jangan berkecil hati.
Semua ulama besar dahulu juga memulai dari langkah kecil.
Tidak ada Imam Bukhari yang langsung hafal ratusan ribu hadis.
Tidak ada Imam Syafi'i yang langsung menjadi imam besar.
Mereka menjadi besar karena istiqamah.


Penutup

Anak-anak yang dirahmati Allah,
Hari ini kalian sedang menanam benih.
Mungkin hasilnya belum terlihat.
Tetapi beberapa tahun lagi, benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang besar.
Ilmu akan menjadi teman sepanjang hidup.
Ia akan menerangi jalan ketika kalian bingung.
Ia akan menjaga kalian dari kesalahan.
Ia akan mengangkat derajat kalian di dunia.
Dan, yang paling penting, ia akan menjadi sebab Allah memudahkan jalan menuju surga.
Mulailah belajar dengan niat yang ikhlas.
Hormatilah guru.
Sayangilah teman.
Jangan mudah menyerah ketika pelajaran terasa sulit.

Karena setiap ulama besar pernah menjadi anak kecil yang terus belajar tanpa lelah.

Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang mencintai ilmu, mengamalkannya, dan menyebarkannya kepada orang lain.

Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.

Waktu Mustajab di Hari Jumat



Waktu Mustajab di Hari Jumat

Hari ini kita sedang berada di hari Jumat. Banyak orang ketika berada di hari Jumat sekedar melewatinya sebagai rutinitas mingguan: Berpakaian rapi, memakai parfum, berangkat ke masjid untuk shalat Jumat, lalu kembali bekerja. Walaupun ini adalah aktivitas yang sangat baik. 

Akan tetapi, sering kali kita tidak memaksimalkan salah satu di antara keistimewaan hari Jumat. Apa itu? 

Yaitu bahwasanya setiap doa-doa kita menjadi mustajab di sisi Allah subhanahu wataala.

Karena hari Jumat adalah waktu di mana pintu langit itu terbuka dan permintaan akan Allah kabulkan.

Karena pada hari yang agung ini, ada saat di mana doa-doa diangkat, harapan dikabulkan, dan tangan yang menadah kepada-Nya tidak akan dibiarkan kembali dengan kosong.

Sesungguhnya hari Jumat itu bukan hanya hari raya pekanan bagi umat Islam, juga bukan hanya hari di mana sedekah kita pahalanya dilipatgandakan, melainkan juga sebuah golden time atau waktu emas kita untuk menjemput takdir baru melalui doa-doa yang kita langitkan.

Hari Jumat itu selalu memberikan kesempatan kepada kita bahwa doa kita menjadi mustajab di sisi Allah.

Saat Pintu Langit Benar-Benar Terbuka di Hari Jumat

Hari Jumat adalah hari yang paling agung dan paling dicintai oleh Allah subhanahu wataala.

Lantas pernahkah kita terpikir, mengapa Allah sangat memuliakan hari Jumat di antara enam hari lainnya sampai Jumat disebut sebagai sayyidul ayyam (tuannya seluruh hari)?

Apa yang membuat hari Jumat lebih istimewa di sisi Allah daripada hari-hari lainnya dalam sepekan?

Maka, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab dengan menyingkap, salah satu rahasia hari Jumat lebih utama adalah, adanya waktu istimewa di mana Allah menjamin setiap doa-doa kita akan dikabulkan dan itu terjadi di hari Jumat.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Muslim No. 852, 

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً. لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ. وَقَالَ بِيَدِهِ ‌يُقَلِّلُهَا، ‌يُزَهِّدُهَا.

Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat satu waktu, tidaklah seorang mukmin mendapati saat itu dengan berdoa, memohon kebaikan kepada Allah, kecuali Allah akan memberi apa yang ia pinta.”

Lalu Rasulullah shallahu alaihi wasallam mengisyaratkan dengan tangan beliau bahwa waktu itu sangatlah sedikit. (HR. Muslim no. 852).

Inilah mengapa seorang salafus shalih pernah mengatakan betapa luasnya kemurahan Allah sehingga ia merasa pemberian Allah jauh melebihi apa yang ia rasa pantas untuk ia terima atas doa permohonannya di hari Jumat,

مَا دَعَوْتُ اللهَ بِدَعْوَةٍ بَيْنَ الْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إِلَّا اِسْتَجَابَ لِي رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ!

Tidaklah aku memanjatkan satu doa pun di antara waktu Ashar hingga Magrib pada hari Jumat, melainkan Allah pasti mengabulkannya, sampai-sampai aku merasa malu (untuk terus meminta karena begitu seringnya dikabulkan)!”

Ibnu Asakir mengisahkan sebuah true story dalam kitabnya Tarikh Dimasyqa, jilid 64, hlm. 140, tentang kekuatan iman dan keajaiban doa di hari Jumat,

Suatu hari ash-Shalt bin Bastham diuji dengan kebutaan pada kedua matanya. Maka di suatu hari Jumat, para sahabatnya duduk berkumpul setelah waktu Ashar untuk mendoakannya. Tepat sesaat sebelum matahari terbenam, tiba-tiba ash-Shalt bin Bastham bersin dengan keras, dan seketika itu pula penglihatannya kembali.”

Waktu Spesifik Mustajabah Doa di Hari Jumat

Allah azza wa jalla tidak hanya menjadikan hari Jumat ini mulia karena shalatnya, tetapi Allah menitipkan sebuah “harta karun” berupa saatul ijabah, yaitu satu waktu singkat di mana doa tidak akan tertolak. 

Akan tetapi, Nabi shallallahu alaihi wasallam menegaskan bahwa kesempatan begitu berharga tersebut tidak berlangsung lama. 

Sesuatu yang langka dan singkat biasanya memang memiliki nilai (value) yang jauh lebih tinggi daripada sesuatu yang tersedia sepanjang waktu.

Karena itulah para ulama lalu menjelaskan bahwa pengabulan doa ada di dua sela-sela waktu pada hari Jumat.

Pertama: Saat Imam Duduk di Atas Mimbar Hingga Selesai Shalat Jumat

Waktu mustajabah pertama adalah saat imam duduk di atas mimbar hingga selesai shalat Jumat.

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahih-nya, hadits no. 853, bahwa sahabat Abdullah bin Umar bertanya kepada Abu Burdah. Ia menanyakan apakah ayahnya, yaitu Abu Musa al-As’ari, pernah mendengar Rasulullah menjelaskan kapan tepatnya waktu mustajabahnya doa di hari Jumat.

Maka Abu Burdah menjawab, “Aku mendengar ayahku meriwayatkan sabda Rasulullah,

هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ

Waktu istimewa itu adalah saat duduknya imam (khatib di atas mimbar) sampai berakhirnya shalat Jumat.”

Inilah saat ketika kita hanya punya waktu sekian menit untuk bicara dengan penguasa alam semesta. Apa satu hal paling jujur yang ingin kita panjatkan dan inginkan.

Kedua: Waktu Setelah Shalat Ashar Hingga Menjelang Magrib

Waktu mustajabah kedua adalah setelah shalat Ashar hingga menjelang Magrib.

Dalam sebuah dialog indah yang lainnya, sahabat Abdullah bin Salam, seorang mantan pendeta Yahudi yang masuk Islam, bertanya kepada Rasulullah tentang waktu di mana Allah mengabulkan untaian doa para hamba-Nya.

Rasulullah lalu memberikan isyarat dengan tangannya bahwa waktu itu hanya sebentar saja.

Sahabat Abdullah bin Salam bertanya, “Waktu yang manakah itu?” Nabi menjawab,

هِيَ آخِرُ سَاعَاتِ النَّهَارِ

“Waktu tertentu itu adalah di akhir waktu siang (sebelum matahari terbenam).” (HR. Ibnu Majah no. 1139; HR. Ahmad no. 23781. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani)

Hadirin, jangan biarkan Jumat ini berlalu seperti Jumat-Jumat sebelumnya. Luangkan waktu di antara dua khutbah dan jangan terburu-buru beranjak sebelum matahari terbenam sore nanti. Karena di situlah letak antara doa dan gerbang rahmat Allah.

Empat Cara Allah Menjawab Doa Kita di Hari Jumat 

Kita telah mendengar betapa dahsyatnya kekuatan doa di dua waktu pada hari Jumat, sebuah waktu di mana sekat antara hamba dan Sang Khalik seolah luruh, dan setiap pinta itu benar-benar dikabulkan. 

Jadikanlah waktu saat khatib duduk di mimbar hingga shalat Jumat usai dan waktu antara Ashar dan Magrib, sebagai tempat mengadu terbaik kita dengan Allah atas segala kerumitan hidup yang kita hadapi.

Karena pada saat itulah Allah pasti akan menjawab seruan hamba-Nya dengan empat cara:

Cara pertama: Allah akan memberikan persis sesuai apa yang ia pinta.

Cara kedua: Allah tidak memberikan sesuai keinginannya, tetapi justru memberikan yang jauh lebih baik dari apa yang ia minta.

Cara ketiga: Allah tidak mengabulkannya, tetapi sebagai gantinya Allah hindarkan ia dari malapetaka yang akan membahayakannya.

Cara keempat: Allah menyimpannya sebagai syafaat yang menolongnya kelak di hari Kiamat.

Dari Abu Sa'id al-Khudri, Rasulullah ﷺ bersabda: 

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا.

"Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara:

  1. Allah segera mengabulkan doanya.
  2. Allah menyimpannya sebagai pahala untuk akhirat.
  3. Allah menghindarkan darinya keburukan yang sebanding dengannya."

Maka di samping kita mengisi hari Jumat ini dengan amalan-amalan mulia seperti membaca Surah al-Kahfi dan bershalawat kepada Rasulullah, perbanyaklah pula lisan kita untuk memohon kepada Allah, memohon ampunan, rahmat, dan segala kebaikan dunia serta akhirat terkhusus di dua momentum emas doa di hari Jumat.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Orang Baduy dan Wanita yg dijamin masuk surga

Orang Baduy dan Wanita yg dijamin masuk surga

Orang Baduy bertanya tentang Islam

Hadits shahih tentang seorang Arab Badui (الأعرابي) yang datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya tentang kewajiban-kewajiban Islam. Setelah dijelaskan, ia berkata bahwa ia tidak akan menambah maupun mengurangi kewajiban tersebut. Nabi ﷺ kemudian memberikan kabar gembira bahwa jika ia jujur, maka ia akan beruntung atau masuk surga.

Dari Talhah bin Ubaidillah radhiyallahu 'anhu:


عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ثَائِرَ الرَّأْسِ، يُسْمَعُ دَوِيُّ صَوْتِهِ وَلَا يُفْقَهُ مَا يَقُولُ، حَتَّى دَنَا، فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ
قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ؟
قَالَ: لَا، إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ
وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صِيَامَ رَمَضَانَ.
قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ؟
قَالَ: لَا، إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ
وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الزَّكَاةَ.
قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟
قَالَ: لَا، إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ
قَالَ: فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ:
وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلَا أَنْقُصُ مِنْهُ

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ


Artinya:

Dari Talhah bin Ubaidillah radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah ﷺ dengan rambut kusut. Terdengar suaranya keras, tetapi tidak jelas apa yang diucapkannya hingga ia mendekat. Ternyata ia bertanya tentang Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Lima shalat dalam sehari semalam."
Ia bertanya,
"Apakah ada kewajiban lain atas diriku selain itu?"
Beliau menjawab,
"Tidak, kecuali jika engkau ingin mengerjakan yang sunnah."
Kemudian beliau menyebutkan puasa Ramadan.
Ia bertanya,
"Apakah ada kewajiban lain selain itu?"
Beliau menjawab,
"Tidak, kecuali jika engkau ingin mengerjakan yang sunnah."
Kemudian beliau menyebutkan zakat.
Ia bertanya,
"Apakah ada kewajiban lain selain itu?"
Beliau menjawab,
"Tidak, kecuali jika engkau ingin mengerjakan yang sunnah."
Lalu orang itu berpaling sambil berkata:
"Demi Allah, aku tidak akan menambah dari ini dan tidak pula menguranginya."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ
"Dia akan beruntung jika benar (menepati ucapannya)."
Muttafaq 'alaih: HR. Muhammad al-Bukhari no. 46 dan Muslim ibn al-Hajjaj no. 11.
Riwayat Lain
Dalam riwayat Muslim disebutkan lafaz:
دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ
"Ia akan masuk surga jika benar (menepati ucapannya)."

Pelajaran Penting dari Hadits

Hadits ini sangat relevan dengan tema "Mendahulukan yang Wajib di Atas yang Sunnah." Beberapa faedahnya adalah:

Kewajiban adalah prioritas utama dalam Islam. Nabi ﷺ menjelaskan perkara-perkara wajib terlebih dahulu sebelum menyebut amalan sunnah.


Amalan sunnah adalah penyempurna, bukan pengganti kewajiban. Hal ini tampak dari jawaban beliau yang berulang:


لَا، إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ

"Tidak, kecuali jika engkau ingin melakukan amalan sunnah."


Menunaikan seluruh kewajiban dengan benar merupakan sebab masuk surga, meskipun seseorang tidak memperbanyak amalan sunnah. Tentu dengan syarat ia juga meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti An-Nawawi dan Ibn Hajar al-Asqalani dalam syarah hadits ini.


Amalan sunnah tetap memiliki keutamaan yang besar. Hadits ini bukan anjuran untuk meninggalkan sunnah, tetapi menunjukkan urutan prioritas. Hal ini sejalan dengan hadits qudsi:


وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ...

"Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya." (HR. al-Bukhari)

Karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa fondasi seorang muslim adalah menjaga seluruh kewajiban, kemudian ia menyempurnakannya dengan nawafil (amalan-amalan sunnah) hingga meraih kecintaan Allah.

Kabar gembira kepada wanita yang menjaga empat perkara pokok dalam agamanya.

Teks Hadits

Dari Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: 

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Artinya:

"Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulan Ramadhannya, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang engkau kehendaki.'"

**HR. Ahmad ibn Hanbal (Musnad Ahmad no. 1661), dinilai shahih oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih al-Jami' no. 660.


Makna Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah memudahkan jalan menuju surga bagi seorang wanita apabila ia menjaga empat perkara yang menjadi pondasi kehidupannya:

  1. Menjaga shalat lima waktu (hak Allah yang paling agung setelah syahadat).

  2. Berpuasa Ramadhan (menunaikan rukun Islam).

  3. Menjaga kehormatan dan kesucian diri (iffah).

  4. Menaati suami dalam perkara yang ma'ruf, bukan dalam kemaksiatan.

Maka sebagai balasannya, ia diberi kehormatan dengan dikatakan: 

ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

"Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki."

Ini merupakan ungkapan tentang kemuliaan dan keluasan pahala, bukan berarti pintu-pintu surga berbeda derajat baginya, melainkan ia diberi kebebasan memilih sebagai bentuk penghormatan dari Allah.


Apakah Hadits Ini Berarti Cukup Empat Amalan Itu?

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini bukan berarti cukup melakukan empat amalan tersebut lalu boleh meninggalkan kewajiban lain atau melakukan dosa besar.

Maksudnya adalah apabila seorang wanita:

  • menjaga seluruh kewajiban agamanya,

  • menjauhi perkara-perkara yang diharamkan,

  • dan secara khusus menjaga empat perkara yang disebutkan dalam hadits,

maka ia berhak memperoleh kabar gembira tersebut.

Empat amalan itu disebutkan karena mencakup hak Allah (shalat dan puasa), hak diri sendiri (menjaga kehormatan), dan hak sesama manusia yang paling dekat (suami).


Hadits ini sangat selaras dengan kaidah yang sedang Anda bahas tentang mendahulukan amalan wajib di atas amalan sunnah. Perhatikan bahwa seluruh amalan yang disebut dalam hadits tersebut adalah kewajiban, bukan amalan sunnah. Ini menunjukkan bahwa jalan terbesar menuju surga dimulai dengan menjaga kewajiban-kewajiban yang telah Allah tetapkan.

Mendahulukan yang Wajib di Atas yang Sunnah: Prinsip Agung dalam Beribadah

 


Mendahulukan yang Wajib di Atas yang Sunnah: Prinsip Agung dalam Beribadah

Mukadimah

Di tengah semangat beribadah, sering kali seorang muslim sangat antusias mengerjakan berbagai amalan sunnah. Ia rajin menghadiri majelis ilmu, memperbanyak puasa sunnah, qiyamul lail, sedekah, dzikir, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya.

Namun ada satu kaidah penting yang terkadang terlupakan, yaitu bahwa amalan wajib jauh lebih dicintai Allah daripada amalan sunnah. Sebesar apa pun nilai suatu amalan sunnah, ia tidak akan pernah menyamai kedudukan amalan yang diwajibkan Allah.

Karena itu, para ulama selalu mengingatkan agar seorang muslim memperhatikan kewajiban-kewajibannya terlebih dahulu sebelum sibuk memperbanyak amalan-amalan tambahan.


Hadits Qudsi yang Menjadi Landasan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

"Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. al-Bukhari)

Hadits yang agung ini menjelaskan urutan yang benar dalam beribadah:

  1. Menunaikan kewajiban.
  2. Menyempurnakannya dengan amalan sunnah.
  3. Meraih kecintaan Allah.

Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan bahwa hamba mendekatkan diri kepada-Nya dengan nawafil terlebih dahulu, tetapi dengan apa yang diwajibkan-Nya.


Kaidah Para Ulama

Berdasarkan hadits tersebut, Imam Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullah menyebutkan sebuah kaidah:

الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ

"Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah."

Ini merupakan kaidah yang disepakati para ulama. Mengapa demikian?

Karena amalan wajib adalah sesuatu yang Allah tuntut dari setiap hamba. Meninggalkannya berdosa, sedangkan mengerjakannya mendapat pahala.

Adapun amalan sunnah merupakan pelengkap dan penyempurna. Pelakunya mendapat pahala, namun meninggalkannya tidak berdosa.

Oleh sebab itu, tidak mungkin sesuatu yang pelengkap lebih utama daripada sesuatu yang pokok.


Penjelasan Ibnu Hajar yang Sangat Mendalam

Dalam syarah hadits ini, Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah berkata: 

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ. وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

"Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib sehingga tidak sempat melakukan yang sunnah, maka ia mendapat udzur. Dan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka ia adalah orang yang tertipu."

Kalimat ini sangat berharga dan layak ditulis dengan tinta emas.

Seseorang yang sibuk memenuhi kewajiban-kewajibannya di hadapan Allah tidaklah tercela apabila ia belum mampu melakukan banyak amalan sunnah.

Sebaliknya, seseorang yang rajin melakukan amalan sunnah tetapi lalai terhadap kewajiban adalah orang yang tertipu oleh dirinya sendiri.


Contoh-Contoh Praktis dalam Kehidupan

1. Sibuk Tahajud Tetapi Lalai Shalat Subuh

Ada orang yang semangat qiyamul lail, namun karena begadang atau kurang menjaga waktu istirahat, akhirnya terlambat shalat Subuh.

Ini adalah bentuk ketertipuan.

Shalat Subuh berjamaah jauh lebih utama daripada tahajud yang menyebabkan seseorang lalai dari kewajibannya.

2. Rajin Umrah Berkali-kali Tetapi Menelantarkan Orang Tua

Sebagian orang mampu mengeluarkan biaya besar untuk umrah berulang kali, namun kurang memperhatikan kebutuhan kedua orang tuanya.

Padahal berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban, sedangkan umrah berulang kali hukumnya sunnah.

Mendahulukan yang sunnah dan mengabaikan yang wajib adalah kekeliruan dalam memahami prioritas agama.

3. Aktif Dakwah Tetapi Lalai terhadap Keluarga

Ada yang sangat aktif menghadiri kajian, mengisi ceramah, atau melakukan berbagai kegiatan dakwah, namun tidak menunaikan hak istri dan anak-anaknya.

Padahal memberikan nafkah, pendidikan, perhatian, dan bimbingan kepada keluarga adalah kewajiban.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

4. Banyak Berdzikir Tetapi Meremehkan Hutang

Sebagian orang rajin mengikuti majelis dzikir dan memperbanyak wirid, namun menunda-nunda pembayaran hutang padahal mampu membayarnya.

Menunaikan hak manusia merupakan kewajiban yang harus didahulukan daripada amalan-amalan sunnah.


Mengapa Banyak Orang Terbalik Prioritasnya?

Ada beberapa sebab:

Pertama: Amalan sunnah sering lebih sesuai dengan keinginan diri

Seseorang dapat memilih amalan yang ia sukai. Namun kewajiban terkadang menuntut pengorbanan, disiplin, dan tanggung jawab.

Kedua: Amalan sunnah lebih mudah terlihat

Orang lain dapat melihat kita berpuasa sunnah, menghadiri kajian, atau memperbanyak ibadah tertentu.

Sementara sebagian kewajiban sering tidak terlihat, seperti menafkahi keluarga, melunasi hutang, atau menjaga amanah pekerjaan.

Ketiga: Kurangnya pemahaman fiqih prioritas

Tidak semua amal memiliki kedudukan yang sama. Syariat mengajarkan adanya tingkatan amal yang harus dipahami.


Para Salaf Sangat Memperhatikan Kewajiban

Para ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam masalah ini.

Mereka memahami bahwa kedekatan kepada Allah tidak hanya diukur dari banyaknya amalan, tetapi juga dari ketepatan dalam menempatkan amalan pada posisinya.

Sebagian salaf mengatakan:

مَا تَقَرَّبَ الْمُتَقَرِّبُونَ إِلَى اللَّهِ بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ

"Tidaklah orang-orang yang ingin mendekat kepada Allah mendekat dengan sesuatu yang lebih utama daripada menunaikan kewajiban yang Allah bebankan kepada mereka."

Makna ini sejalan dengan hadits qudsi di atas.


Hubungan antara Wajib dan Sunnah

Bukan berarti amalan sunnah tidak penting. Justru amalan sunnah memiliki banyak fungsi:

  • Menyempurnakan kekurangan amalan wajib.
  • Menambah pahala.
  • Mengangkat derajat.
  • Menjadi sebab mendapatkan kecintaan Allah.

Namun semua itu berlaku setelah kewajiban ditunaikan dengan baik.

Ibarat membangun rumah, fondasi harus kokoh terlebih dahulu. Setelah itu barulah rumah dihias dan dipercantik.

Amalan wajib adalah fondasi, sedangkan amalan sunnah adalah penyempurna.


Muhasabah untuk Diri Kita

Sebelum menambah target-target amalan sunnah, hendaknya setiap muslim bertanya kepada dirinya:

  • Apakah shalat lima waktu sudah terjaga?
  • Apakah shalat berjamaah sudah diusahakan?
  • Apakah hak orang tua sudah ditunaikan?
  • Apakah hak pasangan dan anak sudah dipenuhi?
  • Apakah amanah pekerjaan sudah dijalankan dengan baik?
  • Apakah hutang-hutang sudah diselesaikan?
  • Apakah kewajiban menuntut ilmu yang dibutuhkan sudah dilakukan?

Jika masih ada kewajiban yang terbengkalai, maka itulah yang harus didahulukan.


Penutup

Hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang diwajibkan-Nya. Dari sini para ulama menetapkan kaidah:

الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ

"Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah."

Dan Ibnu Hajar rahimahullah memberikan peringatan yang sangat tajam:

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

"Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib sehingga tidak sempat melakukan yang sunnah, maka ia mendapat udzur. Dan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka ia adalah orang yang tertipu."

Maka ukuran keberhasilan seorang hamba bukanlah banyaknya amalan yang dilakukan, tetapi sejauh mana ia mampu menunaikan apa yang Allah wajibkan kepadanya, kemudian menyempurnakannya dengan amalan-amalan sunnah. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang memahami prioritas dalam beribadah dan memperoleh kecintaan-Nya. Aamiin.

Label