"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Kurban Hanya untuk Allah



Kurban Hanya untuk Allah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Jalla wa ‘Ala yang telah mensyariatkan Idul Adha dan menjadikannya sebagai salah satu dari dua hari raya bagi umat Islam. Dalam sebuah riwayat, sahabat yang mulia Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tiba di Kota Madinah, beliau mendapati penduduk Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan suka cita. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bertanya:

مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟

“Dua hari apa ini?”

Maka mereka pun menjawab, “Ini adalah hari raya kami bergembira sejak masa jahiliah.” 
Hari raya yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah dua hari raya masyarakat Anshar di Madinah pada masa jahiliah yang dikenal dengan nama:
  1. يَوْمُ النَّيْرُوزِ (Yaumun Nairūz / Nairuz) = pesta musim semi
  2. يَوْمُ الْمِهْرَجَانِ (Yaumul Mihrajān / Mihrajan) = pesta musim gugur

Keduanya berasal dari tradisi Persia kuno dan biasa dirayakan dengan permainan, hiburan, dan pesta.


Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

قَدْ أَبْدَلَكُمُ ٱللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِّنْهُمَا، يَوْمَ ٱلْأَضْحَىٰ وَيَوْمَ ٱلْفِطْرِ

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Hari Idul Adha dan Hari Idul Fitri.” (HR. Abu Dawud)

Di hari ini kita berada di hari Idul Adha yang merupakan hari terbaik di dunia. Sebagaimana dikeluarkan Imam Ath-Thobroni dan dihasankan oleh Syaikh Albani Rahimahullah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

افضل ايام الدنيا يوم النحر ويوم القر

“Hari-hari dunia yang paling utama yaitu hari menyembelih (hari ini tanggal 10 bulan Dzulhijjah) dan hari setelahnya (tanggal 11)”

Ikhwatal Islam Rahimakumullah, ini adalah hari raya bagi kita semua. Kita bergembira, menampakkan kebahagiaan dengan mengenakan pakaian yang rapi, dan menikmati makanan yang tersedia. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita untuk berpuasa pada dua hari raya ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَىٰ عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمِ ٱلْأَضْحَىٰ وَيَوْمِ ٱلْفِطْرِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang berpuasa pada dua hari: hari Idul Adha dan hari Idul Fitri. (HR. Muslim)


Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil-hamd.

Ikhwatal Islam Rahmakumullah, saudara-saudara kita, sebagian kaum Muslimin, sedang melaksanakan ibadah yang hanya dilakukan dalam satu waktu dan satu tempat, yaitu ibadah haji di Tanah Suci. Namun, Allah Subḥanahu wa Taʿala membuka ladang amal yang luas bagi kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia, yakni ibadah kurban. Kurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, atau unta untuk dipersembahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Yang Maha Esa, satu-satunya dalam penciptaan dan kekuasaan-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan Dialah satu-satunya yang berhak untuk disembah oleh seluruh umat manusia. Oleh karena itu, apabila seseorang menyembelih sesembelihan untuk selain Allah Jalla Jalaluh, maka demi Allah, orang tersebut telah berbuat dzalim dengan kedzaliman yang sangat besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan:


لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Allah melaknat orang yang menyembelih (hewan) untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa ada seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat, dan ada pula seseorang yang masuk surga karena seekor lalat. Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


دَخَلَ الجَنَّةَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ، وَدَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ

“Ada seorang laki-laki masuk surga karena seekor lalat, dan ada seorang laki-laki masuk neraka karena seekor lalat.”

Para sahabat bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang melewati suatu kaum yang memiliki sebuah berhala. Tidak ada seorang pun yang boleh melewati mereka kecuali mempersembahkan sesuatu kepada berhala itu. Mereka berkata kepada salah satu dari keduanya, ‘Persembahkanlah sesuatu.’ Ia menjawab, ‘Aku tidak memiliki sesuatu untuk dipersembahkan.’ Mereka berkata, ‘Persembahkanlah meskipun hanya seekor lalat.’ Maka ia mempersembahkan seekor lalat, lalu mereka pun membiarkannya lewat, dan ia pun masuk neraka. Kemudian mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Persembahkanlah sesuatu.’ Ia menjawab, ‘Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu pun kepada siapa pun selain Allah.’ Maka mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk surga.” (HR Ahmad)

Ikhwatal Islam Rahimakumullah. Inilah kurban, inilah sembelihan yang harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah Jalla Jalaluh, dan dipersembahkan hanya untuk Allah Subḥanahu wa Ta‘ala. Di dalam Surah Al-Kautsar, Allah Subḥanahu wa Ta‘ala memerintahkan Nabi-Nya untuk shalat dan menyembelih dengan niat lillahi ta‘ala.

Salah seorang sahabat yang mulia, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, mengisahkan bahwa suatu ketika Rasūlullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang tidur dengan tidur yang ringan. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan tertawa. Para sahabat pun bertanya, “Apa yang membuat engkau tertawa, wahai Rasūlullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Baru saja diturunkan kepadaku satu ayat.” Lalu beliau membaca firman Allah:


إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ • فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ • إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (al-Kautsar). Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci engkau, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. al-Kautsar: 1–3)

Para ulama berselisih pendapat mengenai makna al-Kautsar. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Kautsar berasal dari kata al-katsrah yang berarti “banyak”. Ada pula yang berpendapat bahwa al-Kautsar adalah nama sungai di surga. Sebagian ulama lainnya menafsirkan bahwa al-Kautsar adalah sebuah telaga yang ada pada hari kiamat, yang dinamakan Telaga al-Kautsar. Tentu masih banyak pendapat lainnya, namun secara umum dapat disimpulkan bahwa pendapat yang paling masyhur berkisar pada tiga hal ini. Jika kita cermati, pada hakikatnya tidak ada pertentangan di antara pendapat-pendapat tersebut.

Ikhwatal Islam Rahimakumullah, berkaitan dengan telaga Al-Kautsar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:


أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْـحَوْضِ، لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ، اُخْتُلِجُوا دُونِي، فَأَقُولُ: رَبِّ أَصْحَابِي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kalian di telaga (Al-Haudh). Sungguh, akan diangkat (dijauhkan) beberapa orang dari kalian dariku hingga ketika aku hendak memberikan (minum) kepada mereka, mereka diusir. Maka aku berkata: ‘Wahai Rabbku, (mereka) adalah sahabat-sahabatku!’ Maka dikatakan kepadaku: ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.'” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


إِنَّهُمْ مِنِّي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي

“Sesungguhnya mereka adalah golongaku.” Maka dikatakan (kepadaku), “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ubah sepeninggalmu.” Maka aku berkata, “Celaka! Celakalah orang-orang yang mengubah (ajaran) sepeninggalku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa orang-orang yang diusir dari telaga adalah orang-orang munafik yang merusak agama dari dalam. Ada juga ulama yang menafsirkan bahwa mereka adalah orang yang masuk Islam dimasa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian setelah wafatnya beliau, mereka murtad meninggalkan agama ini. Ada juga yang menafsirkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa, mengubah agama ini, menambah dan mengurangi ajarannya, mengganti syariat, serta membuat perkara-perkara baru yang bukan bagian dari agama, lalu mereka nisbatkan hal itu kepada agama ini.

Salah seorang ulama, yaitu Imam al-Hafiz Abu ‘Amr Ibn ‘Abd al-Barr, mengatakan: “Setiap orang yang membuat perkara baru dalam agama, lalu dinisbatkan kepada agama ini padahal bukan darinya, maka mereka itulah orang-orang yang dijauhkan dari telaga (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ), yang diusir darinya.”



“Kurban: Belajar Melepaskan yang Kita Cintai Karena Allah”

Kisah terbesar dalam Idul Adha bukan sekadar kisah penyembelihan hewan. Tetapi kisah tentang hati yang rela menyerahkan apa yang paling dicintainya demi Allah.

Allah ﷻ berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka ketika anak itu sampai pada usia mampu berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata:
‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’
Ia menjawab:
‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Ismail bukan anak biasa. Ia adalah:
  • anak yang lahir setelah penantian panjang,
  • anak yang sangat dicintai,
  • anak harapan,
  • anak kebanggaan.

Tetapi ketika cinta kepada anak berhadapan dengan cinta kepada Allah, Nabi Ibrahim memilih Allah.

Inilah hakikat kurban.
Bukan sekadar menyembelih kambing atau sapi. Tetapi:
  • menyembelih ego,
  • menyembelih kesombongan,
  • menyembelih cinta dunia yang berlebihan,
  • menyembelih hawa nafsu.
Hari ini banyak manusia sulit taat kepada Allah bukan karena tidak tahu kebenaran, tetapi karena terlalu mencintai sesuatu selain Allah.

Ada yang terlalu cinta: hartanya, jabatannya, bisnisnya, popularitasnya, bahkan dosanya.

Allah ﷻ mengingatkan:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا

“Katakanlah: jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, pasangan kalian, harta yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya… maka tunggulah keputusan Allah.” (QS. At-Taubah: 24)

Ma’asyiral muslimin,
Setiap kita punya “Ismail” dalam hidup. Ada orang yang “Ismail”-nya adalah: hartanya, ambisinya, gengsinya, syahwatnya, atau dosa yang sulit ia tinggalkan. 

Dan Idul Adha datang untuk bertanya:

“Apakah Allah masih menjadi cinta terbesar dalam hidup kita?”

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ:
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا،
وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ،
وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Artinya:

Dari Anas رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Ada tiga perkara yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman:
  • Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya,
  • Ia mencintai seseorang hanya karena Allah,
  • Ia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.”
(HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)

Karena itu Allah menegaskan hakikat kurban dalam firman-Nya:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Maka ukuran kurban bukan mahalnya hewan, besarnya badan sapi, atau banyaknya pujian manusia. Tetapi keikhlasan, ketakwaan, dan hati yang tunduk kepada Allah.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“Hakikat ibadah adalah menyempurnakan kecintaan kepada Allah disertai ketundukan total kepada-Nya.”

Maka semakin seseorang mampu melepaskan sesuatu karena Allah, semakin tinggi kualitas imannya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Hari raya ini seharusnya menjadi momentum tazkiyatun nafs. membersihkan hati, memperbaiki niat, melembutkan jiwa, dan kembali kepada Allah. Karena boleh jadi: 
hewan sudah disembelih, tetapi kesombongan belum disembelih, ego belum disembelih, kedengkian belum disembelih, cinta dunia belum disembelih.


اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا ضَحَايَانَا وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَحُبِّ الدُّنْيَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ الْمُتَّقِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.


Hukum Menggabungkan Niat Kurban dan Aqiqah

Hukum Menggabungkan Niat Kurban dan Aqiqah

 

Hukum Menggabungkan Niat Kurban dan Aqiqah

Kajian Lengkap Dalil dan Pendapat Para Ulama

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul menjelang Idul Adha adalah:

“Bolehkah satu kambing diniatkan sekaligus untuk kurban dan aqiqah?”

Misalnya:

  • seorang anak belum diaqiqahi,

  • lalu saat Idul Adha orang tuanya ingin menyembelih satu kambing dengan dua niat:

    • kurban,

    • sekaligus aqiqah.

Masalah ini termasuk persoalan khilafiyah yang diperselisihkan ulama. Sebagian membolehkan, sebagian tidak membolehkan.

Karena itu perlu dipahami:

  • hakikat kurban,

  • hakikat aqiqah,

  • serta alasan perbedaan pendapat para ulama.


Pengertian Kurban dan Aqiqah

1. Kurban

Kurban adalah:

  • penyembelihan hewan tertentu,

  • pada hari Nahr dan hari Tasyrik,

  • dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Dalilnya:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah untuk Rabbmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)


2. Aqiqah

Aqiqah adalah:

  • sembelihan karena kelahiran anak,

  • sebagai bentuk syukur kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya.”

(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Letak Permasalahannya

Pertanyaannya:

Apakah satu sembelihan bisa mewakili:

  • dua ibadah sekaligus?

Sebagaimana:

  • mandi Jumat sekaligus mandi junub,

  • tahiyyatul masjid sekaligus shalat sunnah qabliyah.

Ataukah:

  • kurban dan aqiqah adalah dua ibadah independen yang harus dipisah?

Di sinilah para ulama berbeda pendapat.


Pendapat Ulama Tentang Menggabungkan Kurban dan Aqiqah

Pendapat Pertama:

Tidak Boleh Digabung

Ini pendapat:

  • sebagian ulama mazhab Syafi’i,

  • Malikiyyah,

  • dan riwayat dalam Hanabilah.

Mereka mengatakan:

Kurban adalah ibadah tersendiri,
aqiqah juga ibadah tersendiri,
maka masing-masing membutuhkan sembelihan sendiri.


Alasan Mereka

1. Sebab Ibadah Berbeda

  • Kurban sebabnya: Idul Adha.

  • Aqiqah sebabnya: kelahiran anak.

Karena sebabnya berbeda, maka tidak bisa digabung.


2. Tujuan Ibadah Berbeda

  • Kurban → syiar pengorbanan dan pendekatan diri kepada Allah.

  • Aqiqah → syukur atas kelahiran anak dan pelepasan “gadai”.


3. Diqiyaskan Seperti Dam dan Fidyah

Sebagaimana:

  • dam haji,

  • fidyah,

  • kaffarah,

yang tidak bisa saling mewakili.


Pendapat Kedua:

Boleh Digabung

Ini pendapat:

  • sebagian ulama Hanabilah,

  • sebagian Hanafiyyah,

  • dan dipilih sebagian ulama kontemporer.

Mereka mengatakan:

Jika seseorang menyembelih satu kambing dengan niat kurban dan aqiqah, maka keduanya sah.

Ahmad bin Hanbal
Abu Hanifah


Dalil dan Argumentasi yang Membolehkan

1. Kaidah Tasyarruk fil Ibadah

(Menggabungkan dua ibadah)

Mereka mengqiyaskan dengan:

  • mandi Jumat + mandi junub,

  • tahiyyatul masjid + qabliyah,

  • puasa Senin + puasa qadha.

Selama tujuan ibadah bisa tercapai bersamaan, maka boleh digabung.


2. Inti Keduanya Adalah Ibadah Sembelihan

Karena:

  • keduanya sama-sama penyembelihan,

  • sama-sama taqarrub kepada Allah.

Maka dianggap cukup dengan satu hewan.


Pendapat Ulama Kontemporer

Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Beliau cenderung membolehkan penggabungan niat jika:

  • seseorang belum aqiqah,

  • lalu menyembelih saat Idul Adha.

Namun beliau menjelaskan:

  • yang lebih utama tetap dipisah jika mampu.


Abdul Aziz bin Baz

Beliau juga memiliki kecenderungan membolehkan dalam kondisi tertentu.


Pendapat yang Banyak Dipilih Ulama Syafi’iyyah

Mayoritas Syafi’iyyah lebih cenderung:

  • tidak menggabungkan,

  • karena masing-masing ibadah berdiri sendiri.

Imam An-Nawawi

Dalam praktik masyarakat Indonesia yang dominan Syafi’i, pendapat ini cukup kuat.


Mana yang Lebih Hati-Hati?

Yang paling aman dari khilaf ulama adalah:

Memisahkan:

  • satu hewan untuk kurban,

  • satu hewan untuk aqiqah.

Karena:

  • pasti keluar dari perbedaan pendapat,

  • dan lebih sempurna dalam ibadah.


Bagaimana Jika Tidak Mampu?

Di sinilah sebagian ulama memberi keringanan.

Jika seseorang:

  • ekonominya terbatas,

  • ingin tetap mendapat dua kebaikan,

  • sulit membeli dua kambing,

maka sebagian ulama membolehkan penggabungan.

Terutama:

  • untuk anak yang belum diaqiqahi sampai dewasa.


Kasus yang Sering Terjadi

1. Orang Tua Belum Mengaqiqahi Anak

Lalu saat Idul Adha:

  • anak sudah besar,

  • ekonomi terbatas.

Maka:

  • sebagian ulama membolehkan digabung.


2. Orang Dewasa Ingin Mengaqiqahi Diri Sendiri Sekaligus Kurban

Ini juga diperselisihkan.

Karena:

  • aqiqah diri sendiri sendiri pun masih khilaf.

Namun sebagian ulama tetap membolehkan.


Catatan Penting Tentang Aqiqah Diri Sendiri

Ulama berbeda pendapat:

Pendapat pertama:

boleh aqiqah diri sendiri jika belum diaqiqahi.

Pendapat kedua:

tidak perlu, karena tanggung jawab ada pada orang tua.

Karena itu masalah penggabungan menjadi semakin luas pembahasannya.


Hikmah Perbedaan Pendapat Ini

Perbedaan ini menunjukkan:

  • keluasan fikih Islam,

  • adanya ruang ijtihad,

  • dan perhatian syariat terhadap kondisi umat.

Orang yang:

  • mengikuti pendapat membolehkan,

  • dengan dasar ilmu,

tidak boleh dicela.

Sebaliknya:

  • yang memilih memisah demi kehati-hatian,

  • juga sangat baik.


Kesimpulan

Pendapat Ulama Tentang Menggabungkan Kurban dan Aqiqah:

1. Mayoritas Syafi’iyyah dan sebagian ulama:

  • tidak membolehkan,

  • karena dua ibadah berbeda sebab dan tujuan.

2. Sebagian Hanafiyyah dan Hanabilah:

  • membolehkan,

  • karena sama-sama ibadah sembelihan.


Yang Lebih Utama

Jika mampu:

  • pisahkan kurban dan aqiqah.

Jika tidak mampu:

  • sebagian ulama membolehkan penggabungan niat.


Sikap Terbaik

  • jangan mudah menyalahkan,

  • pahami bahwa ini masalah ijtihadiyyah,

  • hormati perbedaan ulama.

Karena tujuan utama ibadah adalah:

  • ketakwaan,

  • keikhlasan,

  • dan mengikuti syariat semampunya.

Semoga Allah menerima amal kurban dan aqiqah kaum muslimin. Aamiin.

Hukum Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

 

Hukum Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

Masalah berkurban untuk orang yang sudah meninggal termasuk pembahasan fikih yang sering ditanyakan di tengah masyarakat. Sebagian orang menyembelih hewan kurban atas nama orang tua yang telah wafat, pasangan, guru, atau kerabat. Sebagian lain mempertanyakan: apakah hal itu disyariatkan? Apakah pahalanya sampai? Apakah Nabi ﷺ pernah melakukannya?

Masalah ini memang memiliki rincian dan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Karena itu perlu dijelaskan secara ilmiah berdasarkan:

  • Al-Qur’an
  • Hadits-hadits Nabi ﷺ
  • Praktik para sahabat
  • Penjelasan ulama empat mazhab


Pengertian Kurban untuk Orang Meninggal

Yang dimaksud adalah: menyembelih hewan kurban dengan niat menghadiahkan pahala kepada orang yang telah wafat, atau menjadikan orang yang telah meninggal sebagai pihak yang dikurbankan atas namanya.


Hukum Dasar Ibadah Kurban

Kurban termasuk syiar besar dalam Islam.

Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Allah juga berfirman: 

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Keutamaan Arafah



KEUTAMAAN ARAFAH
Hari Arafah, Do'a yang Melangit

Di antara seluruh hari dalam setahun, ada satu hari yang begitu istimewa hingga Allah membanggakan hamba-hamba-Nya di hadapan para malaikat. Sebuah hari ketika jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah dengan pakaian sederhana, air mata yang jatuh, dan doa-doa yang melangit. Hari itu adalah Hari Arafah, tanggal 9 Dzulhijjah.

Bagi mereka yang berhaji, Hari Arafah adalah puncak ibadah haji. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda,

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji adalah Arafah.”

Namun bagi muslim yang tidak sedang berhaji, Hari Arafah tetap menjadi momentum luar biasa untuk mendekat kepada Allah. Inilah hari pengampunan, hari pembebasan dari api neraka, hari mustajabnya doa, dan hari dihapuskannya dosa dua tahun melalui puasa Arafah.

Tidak heran jika banyak ulama menyebut Hari Arafah sebagai salah satu hari terbaik sepanjang tahun, bahkan lebih mulia dibanding hari-hari biasa dalam sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Apa Itu Hari Arafah?

Hari Arafah adalah hari ke-sembilan bulan Dzulhijjah dalam kalender Hijriah. Nama “Arafah” diambil dari Padang Arafah, tempat para jamaah haji melaksanakan wukuf, yaitu berdiam diri sambil memperbanyak doa, dzikir, istighfar, dan penghambaan kepada Allah.

Wukuf di Arafah menjadi rukun haji yang paling utama. Karena itulah hari ini memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Dalam sejarah Islam, Hari Arafah juga dikenal sebagai hari disempurnakannya agama Islam. Allah SWT berfirman pada Quran Surah Al-Maidah ayat 3,

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”

Dan ayat ini turun ketika Rasulullah ﷺ sedang melakukan haji wada’ di Padang Arafah.

Keutamaan Hari Arafah yang Sangat Besar

Hari Arafah bukan sekadar hari biasa dalam kalender Islam. Ia adalah hari penuh rahmat dan ampunan yang begitu luas. 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada satu hari pun di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka daripada Hari Arafah. Sungguh Allah mendekat, lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat, kemudian Allah berfirman: ‘Apa yang diinginkan oleh mereka ini?’” (HR. Muslim no. 1348)

Hadits ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah pada hari tersebut. Banyak ulama menjelaskan bahwa pada Hari Arafah, pintu langit dibuka lebar-lebar, doa-doa diangkat, dan rahmat Allah turun dengan sangat luas. dan Allah membanggakan orang-orang yang berada di Arafah di hadapan para malaikat-Nya.

Bayangkan, manusia yang penuh dosa, penuh kekurangan, justru disebut-sebut oleh Allah di hadapan makhluk suci-Nya. Itulah mengapa banyak ulama salaf menangis ketika memasuki Hari Arafah. Mereka sadar, mungkin inilah hari pengampunan terbesar dalam hidup mereka.

Puasa Arafah dan Keutamaannya yang Luar Biasa

Bagi muslim yang tidak sedang berhaji, salah satu amalan paling utama di Hari Arafah adalah puasa Arafah. Puasa ini dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, tepat sehari sebelum Idul Adha. Keutamaannya sangat besar. Rasulullah ﷺ bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

Puasa hari Arafah aku harapkan dari Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. [HR. Muslim no. 1162]

Betapa luar biasanya rahmat Allah. Hanya dengan satu hari puasa sunnah, Allah memberikan pengampunan dosa selama dua tahun.

Amalan-Amalan Terbaik di Hari Arafah

Hari Arafah bukan hanya tentang puasa. Ia adalah kesempatan emas untuk memperbanyak seluruh amal saleh. Rasulullah ﷺ menyebut sepuluh hari pertama Dzulhijjah sebagai hari-hari paling dicintai Allah untuk beramal saleh.

Karena itu, Hari Arafah sebaiknya diisi dengan ibadah yang maksimal. Perbanyak doa pada hari ini, sebab Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” Dan salah satu dzikir terbaik yang dianjurkan dibaca adalah “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir.”

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir.” (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).”

(HR. Tirmidzi no. 3585; Ahmad, 2:210. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dilihat dari syawahid atau penguat-penguatnya, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1503, 4:8.)

Selain itu, Hari Arafah juga menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak istighfar, sedekah, membaca Al-Qur’an, bershalawat, membantu sesama, dan memperbaiki hubungan dengan orang lain.

Banyak ulama menyarankan agar seseorang benar-benar “mengosongkan” dirinya untuk Allah di hari tersebut. Menangislah dalam doa. Sebut nama-nama yang ingin didoakan. Mintalah ampunan sebanyak-banyaknya. Karena bisa jadi, itulah hari ketika hidup seseorang berubah selamanya.

Berapa Hari Puasa Sunnah di Bulan Dzulhijjah?

Salah satu amalan yang paling dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Hari-hari tersebut termasuk waktu yang sangat dicintai Allah untuk beramal saleh. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ

“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah).” (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)

Para sahabat pun heran dan wajar jika mereka heran dan akhirnya bertanya,

يا رسولَ اللهِ، وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟

“Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah juga (kalah utama dibanding amal salih di 10 hari ini)?”

Ternyata jawaban mengejutkan yang datang dari Nabi mengkonfirmasi bahwa jihad pun tidak lebih utama dibandingkan amalan di 10 hari ini.

وَلَا الجِهَادُ فيِ سَبِيلِ اللهِ، إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ ومَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيءٍ

“Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan dirinya dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatu pun darinya” (HR. Al-Bukhari).


Karena besarnya keutamaan tersebut, banyak ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak puasa sejak tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah, terutama bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Sebagaimana diceritakan dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits ini menjadi landasan bahwa puasa di awal Dzulhijjah termasuk amalan sunnah yang dianjurkan.

Puasa sunnah Dzulhijjah sendiri umumnya dilakukan selama sembilan hari, yaitu sejak tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Namun yang paling utama dan paling masyhur adalah puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah atau yang dikenal sebagai puasa Arafah. Bahkan banyak ulama menyebut puasa arafah sebagai salah satu puasa sunnah paling utama setelah puasa Ramadhan.

Selain puasa Arafah, sebagian umat Islam juga melaksanakan puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah yang dikenal dengan puasa Tarwiyah. Meski terdapat perbedaan pendapat tentang kekuatan hadits khusus puasa Tarwiyah, mayoritas ulama tetap membolehkan dan menganjurkannya sebagai bagian dari puasa sunnah di awal Dzulhijjah secara umum.

Adapun tanggal 10 Dzulhijjah, yaitu Hari Raya Idul Adha, diharamkan untuk berpuasa karena merupakan hari makan, minum, dan bersyukur atas nikmat Allah.

Karena itu, jika dirangkum, puasa sunnah di bulan Dzulhijjah yang paling dianjurkan dilakukan selama sembilan hari pertama, terutama pada:Tanggal 1–7 Dzulhijjah sebagai puasa sunnah umum awal Dzulhijjah
Tanggal 8 Dzulhijjah sebagai puasa Tarwiyah
Tanggal 9 Dzulhijjah sebagai puasa Arafah

Hari-hari ini menjadi kesempatan besar bagi setiap muslim untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah sebelum datangnya Idul Adha.

Hari Arafah Adalah Momentum Kembali Kepada Allah

Ada sesuatu yang berbeda dari Hari Arafah. Banyak orang merasa hatinya lebih lembut, doanya lebih khusyuk, dan air matanya lebih mudah jatuh. Mungkin karena pada hari itu manusia diingatkan bahwa hidup hanyalah perjalanan singkat menuju Allah.

Di Padang Arafah, jutaan manusia berdiri tanpa melihat jabatan, kekayaan, atau status sosial. Semua mengenakan pakaian sederhana. Semua menundukkan kepala. Semua berharap pada ampunan yang sama.

Dan mungkin itulah makna terbesar Hari Arafah, ketika manusia kembali menyadari bahwa tidak ada tempat pulang selain kepada Allah.

Penutup

Hari Arafah adalah salah satu hadiah terbesar Allah untuk umat Islam. Hari penuh rahmat, pengampunan, dan kesempatan memperbaiki diri. Bagi yang belum mampu berhaji, Allah tetap membuka pintu pahala melalui puasa Arafah, doa-doa yang dipanjatkan, dzikir yang dilantunkan, dan taubat yang sungguh-sungguh.

Jangan biarkan Hari Arafah berlalu seperti hari biasa. Karena bisa jadi, inilah hari ketika Allah menghapus dosa-dosa kita, mengangkat doa-doa kita, dan menuliskan takdir hidup yang lebih baik untuk masa depan.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Hari Arafah dalam keadaan iman terbaik, hati yang lembut, dan doa-doa yang diijabah. Aamiin.


Indahnya Menyembunyikan Tiga Hal

 


Indahnya Menyembunyikan Tiga Hal

Adab Mulia yang Menjaga Kehormatan Jiwa


Di antara mutiara hikmah para ulama salaf adalah perkataan:

جَوْهَرُ ٱلْمَرْءِ فِي ثَلَاثٍ
كِتْمَانِ ٱلْفَقْرِ حَتَّى يَظُنَّ ٱلنَّاسُ مِنْ عِفَّتِكَ أَنَّكَ غَنِيٌّ
وَكِتْمَانِ ٱلْغَضَبِ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ أَنَّكَ رَاضٍ
وَكِتْمَانِ الشِّدَّةِ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ أَنَّكَ مُتَنَعِّمٌ

“Perhiasan seseorang itu ada pada tiga hal:

  1. Menyembunyikan kemiskinan, hingga orang-orang mengira engkau berkecukupan karena sifat iffah-mu.
  2. Menyembunyikan kemarahan, hingga mereka mengira engkau ridha.
  3. Menyembunyikan kesulitan, hingga mereka mengira engkau berada dalam kenikmatan.”

Disebutkan dalam kitab Manaqib Asy-Syafi‘i karya Al-Baihaqi.

Perkataan ini bukan mengajarkan kepalsuan, melainkan mendidik jiwa agar memiliki kemuliaan akhlak, menjaga kehormatan diri, dan tidak menjadikan manusia sebagai tempat bergantung hati. Islam mengajarkan keseimbangan: boleh meminta bantuan ketika benar-benar perlu, tetapi tidak menjadikan keluhan sebagai kebiasaan hidup.


1. Menyembunyikan Kemiskinan karena ‘Iffah

Makna ‘Iffah

‘Iffah adalah menjaga kehormatan diri dari meminta-minta dan menampakkan kebutuhan kepada manusia.

Allah ﷻ memuji orang-orang miskin yang menjaga kehormatan dirinya: 

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ ۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ ۖ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah; mereka tidak mampu berusaha di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena mereka menjaga diri dari meminta-minta. Engkau mengenal mereka dari tanda-tandanya; mereka tidak meminta kepada manusia secara mendesak.” (QS. Al-Baqarah: 273)

Ayat ini sangat selaras dengan hikmah di atas, kemuliaan seorang mukmin terkadang justru tampak ketika ia mampu menjaga harga dirinya di tengah kekurangan.


Hadits tentang Menjaga Diri dari Meminta

Rasulullah ﷺ bersabda: 

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ

“Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaganya. Barangsiapa merasa cukup, maka Allah akan mencukupkannya.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj)

Hadits ini menunjukkan bahwa kemuliaan bukan pada banyaknya harta, tetapi pada kemampuan hati menjaga kehormatan diri.


Perkataan Ulama Salaf

Sufyan ats-Tsauri berkata:

“Tidak ada perhiasan yang lebih indah bagi seorang alim selain kefakiran yang disertai kesabaran.”

Sedangkan Ahmad bin Hanbal pernah berkata:

“Kemuliaan seseorang ada pada ketidakbutuhannya terhadap manusia.”

Mereka bukan memuliakan kemiskinan itu sendiri, tetapi memuliakan sikap menjaga kehormatan diri di tengah kekurangan.


2. Menyembunyikan Kemarahan

Menahan Marah adalah Kemuliaan

Orang kuat bukanlah yang mudah meluapkan emosi, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Rasulullah ﷺ bersabda: 

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj)

Menyembunyikan kemarahan bukan berarti memendam kebencian, tetapi mengendalikan ledakan emosi agar tidak berubah menjadi kezhaliman.


Al-Qur’an Memuji Orang yang Menahan Marah

Allah ﷻ berfirman: 

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Yaitu orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Kata الكاظمين الغيظ berarti menahan gejolak marah agar tidak meledak keluar.


Nasihat Para Ulama

Ali bin Abi Thalib berkata:

“Awal marah adalah gila, dan akhirnya adalah penyesalan.”

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa marah yang tidak terkendali membuka pintu permusuhan, kebencian, dan keputusan yang disesali.

Karena itu, orang yang mampu tersenyum saat marah sebenarnya sedang menjaga kehormatan dirinya sendiri.


3. Menyembunyikan Kesulitan

Tidak Menjadikan Keluhan sebagai Kebiasaan

Sebagian manusia setiap hari menampilkan kesedihan dan kesulitannya kepada semua orang. Sedikit masalah langsung diumbar ke mana-mana. Padahal para salaf justru menjaga adab dalam menghadapi musibah.

Bukan berarti Islam melarang curhat atau meminta pertolongan. Nabi Ya‘qub عليه السلام sendiri berkata: 

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.”
(QS. Yusuf: 86)

Ayat ini mengajarkan bahwa tempat bergantung pertama seorang mukmin adalah Allah.


Sabar yang Indah

Allah ﷻ berfirman: 

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ

“Maka kesabaran yang baik itulah (yang kupilih).” (QS. Yusuf: 18)

Para ulama menjelaskan bahwa sabrun jamil adalah kesabaran tanpa banyak keluhan kepada manusia.

Abdullah bin al-Mubarak berkata: 

مِنْ تَمَامِ الصَّبْرِ قِلَّةُ الشَّكْوَى إِلَى النَّاسِ

“Termasuk kesempurnaan sabar adalah sedikitnya mengadu kepada manusia.”


Rasulullah ﷺ Mencontohkan Keteguhan

Kehidupan Nabi ﷺ penuh ujian: dihina, dilukai, diboikot, kehilangan orang-orang tercinta, bahkan pernah mengganjal perut dengan batu karena lapar. Namun beliau tetap menampakkan ketenangan, senyuman, dan harapan.

Inilah akhlak seorang mukmin:

  • hatinya bersandar kepada Allah,
  • lisannya dijaga,
  • dan keluhannya tidak diumbar kepada semua manusia.


Bukan Berarti Menolak Bantuan

Perlu dipahami, menyembunyikan kesulitan bukan berarti haram meminta bantuan. Islam membolehkan seseorang meminta pertolongan ketika memang membutuhkan.

Bahkan Allah ﷻ berfirman: 

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

“Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.” (QS. Adh-Dhuha: 10)

Karena itu, yang tercela bukan meminta bantuan karena kebutuhan nyata, tetapi menjadikan keluhan dan ratapan sebagai gaya hidup.


Hikmah Menyembunyikan Tiga Hal Ini

1. Menjaga Kehormatan Diri

Tidak semua orang layak mengetahui seluruh keadaan kita.

2. Melatih Keikhlasan

Kita belajar berharap kepada Allah, bukan simpati manusia.

3. Menghindari Riya’ dan Drama Kehidupan

Sebagian orang menampilkan penderitaan agar dipuji sebagai orang sabar.

4. Menenangkan Hati

Semakin sedikit mengeluh kepada manusia, semakin tenang hati kita.

5. Menumbuhkan Tawakal

Hati menjadi kuat karena bergantung kepada Allah semata.


Makna penting yang sering disalahpahami

Perkataan ini bukan berarti: 
  • berpura-pura kaya,
  • memendam emosi secara tidak sehat,
  • atau menolak meminta bantuan ketika benar-benar butuh.

Tetapi maksudnya:
  • menjaga muru’ah (kehormatan diri),
  • tidak menjadikan manusia tempat utama mengadu,
  • dan tidak mempertontonkan seluruh beban hidup kepada orang lain.

Ini sangat dekat dengan konsep:
  • العفة (iffah),
  • الصبر الجميل (sabar yang indah),
  • dan كظم الغيظ (menahan amarah).

Tasbih Menjadi Sebab Keselamatan

 


Tasbih Menjadi Sebab Keselamatan

Tadabbur Surat Aṣ-Ṣāffāt Ayat 143–144

Allah ﷻ berfirman: 

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ ۝ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Maka sekiranya dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih kepada Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari manusia dibangkitkan.” (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 143–144)

Ayat ini berbicara tentang Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika beliau berada dalam perut ikan. Dalam keadaan gelap, sempit, dan penuh kesedihan, Allah menyelamatkannya karena beliau termasuk al-musabbihīn — orang-orang yang banyak bertasbih.

Ayat ini mengandung pelajaran besar tentang kekuatan tasbih, kedudukannya dalam dzikir, dan pengaruhnya terhadap keselamatan hidup seorang mukmin.


Makna “Al-Musabbihīn”

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-musabbihīn adalah orang yang banyak berdzikir, shalat, dan memuji Allah sebelum datang musibah.

1. Tafsir Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan:

“Yakni Nabi Yunus dahulu termasuk orang yang banyak beribadah, taat, shalat, dan berdzikir kepada Allah.”

Beliau juga membawakan perkataan sebagian ulama:

“Amal shalih yang dilakukan sebelum musibah menjadi sebab keselamatan ketika musibah datang.”

Karena itulah Allah menolong Yunus.


2. Tafsir Ath-Ṭabari

Imam Ath-Ṭabari رحمه الله menyebut beberapa pendapat:

  • yang dimaksud adalah orang yang banyak shalat,
  • banyak mengucapkan tasbih,
  • dan banyak mengingat Allah sebelum ujian datang.

Lalu beliau memilih makna umum:

“Beliau termasuk orang yang selalu menyucikan Allah dan beribadah kepada-Nya.”


3. Tafsir Al-Qurṭubi

Imam Al-Qurṭubi رحمه الله menjelaskan:

“Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa amal ketaatan sebelumnya dapat memberi manfaat ketika seseorang tertimpa kesulitan.”

Beliau juga menukil perkataan:

“Barang siapa mengenal Allah di waktu lapang, Allah akan menolongnya di waktu sempit.”

Makna ini sangat dekat dengan hadits Nabi ﷺ: 

تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Allah mengenalmu di waktu sempit.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)


Tasbih Nabi Yunus

Dalam ayat lain Allah menyebut doa Nabi Yunus: 

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Tidak ada ilah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiyā’: 87)

Perhatikan bahwa inti doa tersebut diawali dengan: سُبْحَانَكَ, “Mahasuci Engkau” Ini adalah tasbih.

Nabi Yunus tidak sibuk menyalahkan keadaan. Tidak pula memprotes takdir. Beliau justru memulai dengan menyucikan Allah dari segala kekurangan.


Apakah Tasbih Lebih Utama dari Dzikir Lain?

Secara umum, seluruh dzikir memiliki keutamaan besar. Namun banyak hadits menunjukkan bahwa tasbih memiliki kedudukan sangat agung dan termasuk dzikir yang paling dicintai Allah.

1. Kalimat yang Paling Dicintai Allah

Rasulullah ﷺ bersabda: 

أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ

“Ucapan yang paling dicintai Allah ada empat: Subḥānallāh, Alḥamdulillāh, Lā ilāha illallāh, dan Allāhu Akbar.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini tasbih disebut pertama.


2. Dzikir yang Ringan Namun Berat di Timbangan

Rasulullah ﷺ bersabda:

 كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai Ar-Raḥmān: Subḥānallāhi wa biḥamdih, Subḥānallāhil ‘Aẓīm.” (HR. Bukhari dan Muslim)


3. Tasbih Menghapus Dosa

Rasulullah ﷺ bersabda: 

مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barang siapa membaca ‘Subḥānallāhi wa biḥamdih’ seratus kali dalam sehari, dihapus dosa-dosanya walaupun sebanyak buih lautan.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Mengapa Tasbih Sangat Agung?

Tasbih berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan. Ketika seorang hamba mengucapkan: سُبْحَانَ اللَّهِ maka ia sedang mengakui:

  • Allah Maha Sempurna,
  • keputusan Allah pasti hikmah,
  • Allah tidak zalim,
  • Allah Mahabijaksana,
  • dan semua kekurangan ada pada dirinya sendiri.

Karena itu tasbih sangat dekat dengan:

  • tawakal,
  • ridha,
  • ketundukan,
  • dan pengagungan kepada Allah.

Nabi Yunus selamat karena beliau kembali kepada pengagungan kepada Allah, bukan kepada emosinya.


Tasbih Lebih Utama dari Dzikir?

Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan dzikir berbeda sesuai kondisi.

Penjelasan Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa:

  • Lā ilāha illallāh adalah dzikir paling utama secara mutlak karena mengandung tauhid.

  • Sedangkan tasbih adalah bentuk penyucian dan pengagungan kepada Allah yang sangat agung kedudukannya.

Maka tidak tepat mempertentangkan seluruh dzikir secara mutlak. Semua memiliki maqam dan keutamaannya masing-masing.

Namun dalam konteks:

  • mengagungkan Allah,
  • menenangkan hati,
  • menghapus dosa,
  • dan menjadi sebab pertolongan,

tasbih memiliki kedudukan luar biasa sebagaimana kisah Nabi Yunus.


Pelajaran Penting dari Ayat Ini

1. Biasakan Dzikir Sebelum Musibah Datang

Nabi Yunus diselamatkan bukan hanya karena doa di dalam ikan, tetapi karena beliau telah menjadi ahli tasbih sebelumnya. Amal lama yang ikhlas bisa menjadi penyelamat di masa sulit.


2. Orang yang Dekat dengan Dzikir Lebih Mudah Ditolong Allah

Hati yang terbiasa mengingat Allah tidak mudah hancur ketika ujian datang.


3. Tasbih Menumbuhkan Husnuzan kepada Allah

Tasbih melatih hati untuk meyakini:

  • Allah tidak salah menetapkan takdir,
  • Allah Maha Suci dari kezaliman,
  • dan pasti ada hikmah di balik ujian.


4. Jangan Menunggu Sempit Baru Berdzikir

Sebagian orang baru mengingat Allah ketika tenggelam dalam masalah. Padahal Nabi Yunus diselamatkan karena beliau sudah menjadi ahli tasbih sebelum musibah datang.


Penutup

Surat Aṣ-Ṣāffāt ayat 143–144 mengajarkan bahwa tasbih bukan sekadar ucapan ringan di lisan. Ia adalah ibadah yang:

  • menyelamatkan,
  • menenangkan,
  • menghapus dosa,
  • mengangkat derajat,
  • dan menjadi sebab pertolongan Allah.

Nabi Yunus tidak selamat karena kekuatan dirinya, tetapi karena hubungan lamanya dengan dzikir dan tasbih.

Maka perbanyaklah: 

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ, سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Boleh jadi kalimat yang ringan itu menjadi sebab Allah menyelamatkan kita dari kesempitan dunia dan akhirat.

Label