"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

AGAMA ADALAH NASIHAT

 


AGAMA ADALAH NASIHAT

Memahami Makna Nasihat: Bukan Sekadar Menegur, tetapi Ketulusan Menghendaki Kebaikan

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

Satu Hadis yang Merangkum Makna Kehidupan Beragama

Rasulullah ﷺ bersabda: 

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيمِ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ». قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ».

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk kaum muslimin secara umum.” (HR. Muslim no. 55).

Hadis ini sangat singkat, tetapi kandungannya sangat luas. Rasulullah ﷺ bahkan membuka sabdanya dengan kalimat yang sangat kuat: الدِّينُ النَّصِيحَةُ — “Agama adalah nasihat.” Para ulama menjelaskan bahwa an-naṣīḥah bukan sekadar teguran atau nasihat dalam pengertian yang biasa kita pahami. 

Para ulama menjelaskan bahwa nasihah mengandung makna ketulusan, keikhlasan, kemurnian, dan menghendaki kebaikan bagi pihak yang dinasihati.

Imam an-Nawawi رحمه الله ketika menjelaskan hadis ini mengatakan: 

أَمَّا النَّصِيحَةُ لِلَّهِ تَعَالَى فَمَعْنَاهَا تَنْزِيهُهُ عَنِ النَّقَائِصِ، وَالْقِيَامُ بِطَاعَتِهِ...

“Adapun nasihat kepada Allah Ta‘ala, maknanya adalah menyucikan-Nya dari segala kekurangan dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya...”

Jadi jelas, “nasihat kepada Allah” bukan berarti seseorang memberikan nasihat kepada Allah. Itu mustahil dan bukan maksud hadis.

Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa kata nasihat merupakan ungkapan yang mencakup berbagai bentuk kebaikan, sedangkan Imam Al-Khaththabi رحمه الله menjelaskan bahwa hakikat nasihat adalah menghendaki kebaikan bagi pihak yang dinasihati. Karena itu, ketika Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa agama adalah nasihat, yang dimaksud bukan berarti seluruh agama hanya terdiri dari aktivitas menasihati orang lain, tetapi menunjukkan bahwa ketulusan, kejujuran, kecintaan kepada kebaikan dan kepedulian merupakan ruh yang harus hadir dalam seluruh kehidupan seorang muslim.

Persoalannya, dalam kehidupan sehari-hari kita sering menyempitkan makna nasihat. Ketika mendengar kata “nasihat”, yang muncul dalam pikiran kita adalah seseorang melakukan kesalahan kemudian kita mengingatkannya. Bahkan terkadang nasihat identik dengan kritik, teguran atau koreksi terhadap orang lain. Padahal hadis ini justru menunjukkan bahwa nasihat pertama-tama bukan tentang bagaimana kita memperbaiki orang lain, melainkan bagaimana kita membangun hubungan yang benar dengan Allah, Al-Qur’an, Rasulullah ﷺ, pemimpin dan sesama manusia. Karena itu, hadis ini sebenarnya bukan hanya mengajarkan kita bagaimana berbicara kepada orang lain, tetapi mengajarkan bagaimana seharusnya seorang muslim menjalani kehidupan.


Nasihat kepada Allah: Ketulusan Seorang Hamba

Rasulullah ﷺ menyebutkan yang pertama: 

لِلَّهِ “Untuk Allah.”

Tentu Allah tidak membutuhkan nasihat dari manusia. Allah adalah Al-Ghaniyy, Yang Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya. Allah berfirman: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ 

“Wahai manusia! Kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fāṭir: 15).

Karena itu, makna nasihat kepada Allah adalah ketulusan seorang hamba dalam beriman, bertauhid, beribadah dan menaati-Nya. Seorang muslim menasihati dirinya untuk selalu ikhlas karena Allah, tidak mempersekutukan-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, nasihat kepada Allah sebenarnya berbicara tentang kualitas hubungan batin kita dengan Allah. Apakah kita benar-benar tulus beribadah, atau hanya terlihat baik ketika berada di hadapan manusia?

Pertanyaan ini menjadi sangat penting karena manusia bisa menilai penampilan, tetapi Allah menilai hati dan amal. Seseorang mungkin terlihat rajin beribadah di hadapan manusia, aktif dalam kegiatan keagamaan, sering berbicara tentang kebaikan, tetapi ketika sendirian justru berani melakukan apa yang Allah larang. Di sinilah makna nasihat kepada Allah menjadi sangat dalam: seorang yang tulus kepada Allah akan berusaha menjaga dirinya bukan hanya ketika dilihat manusia, tetapi juga ketika tidak seorang pun melihatnya. Ia tidak menjadikan agama sebagai penampilan, melainkan sebagai hubungan yang jujur antara dirinya dengan Rabb-nya.


Nasihat kepada Kitab Allah: Bukan Sekadar Membaca

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

وَلِكِتَابِهِ “Untuk Kitab-Nya.”

Yang dimaksud adalah Al-Qur’an. Nasihat kepada Al-Qur’an berarti membenarkan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah, mengimaninya, membaca dan mempelajarinya, mentadabburinya, menghormati kedudukannya, serta yang paling penting adalah berusaha menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan. Allah berfirman: 

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ 

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. An-Nisā’: 82).

Di sinilah kita perlu melakukan introspeksi. Bisa jadi kita sudah banyak membaca Al-Qur’an, bahkan mampu menghafal beberapa surah, tetapi apakah Al-Qur’an sudah mengubah cara kita berbicara, bekerja, berdagang, bermuamalah, mendidik anak, memperlakukan pasangan dan menghadapi persoalan hidup? Kita membaca larangan ghibah, tetapi masih senang membicarakan aib orang lain. Kita membaca perintah berkata baik, tetapi media sosial kita dipenuhi komentar yang kasar. Kita membaca perintah berlaku adil, tetapi ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai, keadilan itu tiba-tiba hilang. Maka ukuran kedekatan kita dengan Al-Qur’an bukan hanya seberapa sering Al-Qur’an berada di tangan kita, tetapi seberapa jauh Al-Qur’an hadir dalam perilaku kita.

Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk menjadi bacaan yang indah, tetapi sebagai petunjuk. Karena itu, seseorang yang benar-benar “menasihati dirinya dengan Al-Qur’an” akan menjadikan setiap ayat sebagai cermin untuk dirinya sendiri. Ketika membaca ayat tentang kesabaran, ia bertanya apakah dirinya sudah sabar. Ketika membaca ayat tentang kejujuran, ia memeriksa kejujurannya. Ketika membaca ayat tentang larangan sombong, ia memeriksa hatinya. Al-Qur’an seharusnya tidak hanya kita gunakan untuk menilai orang lain; Al-Qur’an pertama-tama harus kita gunakan untuk menilai diri sendiri.


Nasihat kepada Rasulullah ﷺ: Cinta yang Dibuktikan dengan Mengikuti

Selanjutnya Rasulullah ﷺ bersabda:

وَلِرَسُولِهِ “Untuk Rasul-Nya.”

Nasihat kepada Rasulullah ﷺ berarti membenarkan risalah beliau, mencintai beliau, menghormati beliau, membela ajarannya, mempelajari sunnahnya, menaati perintahnya dan mengikuti petunjuk yang beliau bawa. Allah berfirman: 

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ 

“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh, dia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisā’: 80).

Karena itu, mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya persoalan ucapan. Cinta yang benar akan melahirkan ittiba‘, yaitu mengikuti petunjuk beliau. Kita mungkin mengatakan mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi cinta itu perlu dibuktikan dalam kehidupan: bagaimana kita menjaga shalat, bagaimana kita berbicara, bagaimana kita memperlakukan keluarga, bagaimana kita berdagang, bagaimana kita memperlakukan tetangga, bagaimana kita menghadapi orang yang berbeda dengan kita, dan bagaimana kita mengendalikan amarah. Cinta kepada Rasulullah ﷺ yang benar tidak berhenti di lisan; ia harus terlihat dalam ketaatan kepada sunnahnya dan dalam akhlak kita.

Karena itu, hadis ini mengajarkan bahwa nasihat kepada Rasulullah ﷺ bukan berarti kita memberikan nasihat kepada beliau, melainkan kita menasihati diri sendiri agar jangan sampai hubungan kita dengan Rasulullah ﷺ hanya berupa pengakuan cinta, sementara petunjuk beliau justru kita abaikan.


Nasihat kepada Pemimpin: Peduli, Bukan Sekadar Mencela

Bagian berikutnya adalah:

وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ  “Untuk para pemimpin kaum muslimin.”

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap masa bodoh terhadap kehidupan masyarakat dan kepemimpinan. Pemimpin membutuhkan nasihat, demikian pula masyarakat membutuhkan pemimpin yang baik. Namun nasihat kepada pemimpin tidak identik dengan mencaci, menghina, menyebarkan aib atau mencari-cari kesalahan. Nasihat memiliki tujuan perbaikan, bukan sekadar pelampiasan kemarahan. Karena itu, ketika seorang muslim melihat kekurangan dalam kepemimpinan, ia hendaknya tetap menjaga keadilan, memastikan informasi yang diterima benar, menyampaikan kritik berdasarkan fakta dan mempertimbangkan cara yang tepat agar kritik tersebut benar-benar memberikan perbaikan.

Hal ini menjadi semakin relevan pada zaman media sosial. Hari ini seseorang dapat menyebarkan kritik kepada ribuan bahkan jutaan orang hanya dengan beberapa sentuhan pada layar. Akibatnya, sesuatu yang awalnya merupakan persoalan kecil dapat berkembang menjadi konsumsi publik. Di sinilah seorang muslim membutuhkan hikmah. Tidak semua informasi harus disebarkan, tidak semua kesalahan harus dijadikan tontonan, dan tidak semua kritik harus disampaikan dengan cara yang sama. Menasihati pemimpin berarti menghendaki kebaikan bagi kepemimpinan dan masyarakat, bukan menjadikan kesalahan sebagai kesempatan untuk memuaskan kebencian atau ego pribadi.


Nasihat kepada Sesama Muslim: Menghendaki Kebaikan, Bukan Kemenangan

Kemudian Rasulullah ﷺ menutup sabdanya dengan:

وَعَامَّتِهِمْ “Dan untuk kaum muslimin secara umum.”

Inilah wilayah nasihat yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Kita hidup bersama keluarga, tetangga, teman, jamaah, rekan kerja dan masyarakat. Semua membutuhkan nasihat, dan kita pun membutuhkan nasihat dari orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda: 

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ 

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih).

Maka ketika kita melihat saudara kita melakukan kesalahan, semestinya yang muncul bukan rasa senang karena akhirnya kita memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa dia salah. Yang seharusnya muncul adalah keinginan agar dia kembali kepada kebaikan. Ketika seseorang tidak tahu, kita ajari. Ketika ia jatuh, kita bantu bangkit. Ketika ia melakukan kesalahan, kita ingatkan. Ketika ia mendapat musibah, kita kuatkan. Ketika ia mendapatkan nikmat, kita ikut bersyukur. Nasihat yang lahir dari kasih sayang akan mencari jalan agar seseorang menjadi lebih baik; sedangkan teguran yang lahir dari kesombongan sering kali hanya ingin membuktikan bahwa dirinya lebih baik.


Ketika Nasihat Berubah Menjadi Mempermalukan

Persoalan yang sangat penting pada zaman sekarang adalah batas antara nasihat dan mempermalukan. Seseorang melakukan kesalahan, lalu kesalahannya direkam, diunggah ke media sosial, diberi komentar, kemudian ribuan orang ikut menyaksikan. Setelah itu orang yang menyebarkannya berkata, “Saya hanya mengingatkan.” Padahal pertanyaan yang harus diajukan adalah: apakah tujuan utamanya benar-benar agar orang tersebut menjadi lebih baik, atau justru agar orang lain mengetahui kesalahannya?

Tidak semua sesuatu yang benar harus disampaikan dengan cara yang kasar. Allah berfirman: 

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ 

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (QS. An-Naḥl: 125).

Karena itu, kebenaran membutuhkan hikmah dalam penyampaiannya. Seseorang yang salah memang perlu diingatkan, tetapi cara mengingatkannya harus mempertimbangkan kondisi, waktu, tempat dan keadaan orang yang dinasihati. Menegur seseorang di depan banyak orang terkadang membuatnya malu dan justru menutup pintu perbaikan, sedangkan menasihatinya secara pribadi dengan bahasa yang baik bisa membuat hatinya terbuka. Nasihat bukan perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling benar. Nasihat adalah usaha agar kebenaran dapat diterima dan menjadi jalan perbaikan.


Nasihat yang Paling Berat: Menasihati Diri Sendiri

Ada satu persoalan yang sering terjadi dalam kehidupan kita: kita sangat mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sangat sulit melihat kesalahan diri sendiri. Kita mengetahui kekurangan tetangga, mengetahui kesalahan teman, mengetahui kelemahan tokoh, bahkan mengetahui berbagai kesalahan orang yang tidak kita kenal di media sosial. Namun kita sering lupa bertanya: bagaimana dengan diri saya?

Ketika melihat orang lain sombong, apakah saya tidak sombong? Ketika melihat orang lain suka ghibah, bagaimana dengan lisan saya? Ketika melihat orang lain lalai dalam shalat, bagaimana kualitas shalat saya? Ketika melihat orang lain mengejar dunia, apakah hati saya benar-benar bebas dari cinta dunia? Ketika melihat seseorang melakukan dosa, apakah saya merasa lebih suci darinya? Orang yang memahami hadis “الدِّينُ النَّصِيحَةُ” akan menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang ia nasihati.

Inilah yang membuat nasihat menjadi indah. Kita tidak berdiri di hadapan orang lain dengan perasaan bahwa kita sudah selamat, sementara dia sedang tersesat. Kita berdiri sebagai sesama hamba Allah yang sama-sama membutuhkan ampunan dan pertolongan-Nya. Kita menasihati bukan karena merasa lebih suci, tetapi karena kita sama-sama membutuhkan kebaikan. Bahkan ketika kita mengingatkan orang lain tentang sebuah dosa, kita harus tetap merasa takut jangan-jangan dosa itu juga ada dalam diri kita.


Tiga Hal yang Harus Ada dalam Sebuah Nasihat

Dari hadis ini kita dapat memahami bahwa nasihat yang benar setidaknya membutuhkan tiga hal: 

  1. Keikhlasan berarti kita benar-benar menginginkan kebaikan, bukan mencari popularitas, pujian atau kemenangan dalam perdebatan. 
  2. Ilmu berarti kita tidak boleh sembarangan menasihati berdasarkan dugaan, kabar yang belum jelas atau informasi yang tidak kita pahami. 
  3. Sedangkan hikmah berarti kita memahami bahwa kebenaran yang disampaikan dengan cara yang keliru bisa kehilangan tujuan perbaikannya. 

Karena itu, sebelum menasihati seseorang, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah yang akan saya sampaikan benar? Apakah saya menyampaikannya karena Allah? Apakah cara saya akan membantu orang ini menjadi lebih baik?

Jika tiga hal ini hadir, nasihat akan menjadi amal yang mulia. Sebaliknya, ketika ilmu tidak ada, nasihat dapat berubah menjadi kesalahan; ketika keikhlasan tidak ada, nasihat dapat berubah menjadi riya dan kesombongan; dan ketika hikmah tidak ada, nasihat dapat berubah menjadi sesuatu yang justru menjauhkan manusia dari kebenaran.


Penutup: Jangan Hanya Pandai Menasihati, Jadilah Orang yang Menjadi Nasihat

Hadis الدِّينُ النَّصِيحَةُ mengajarkan kepada kita bahwa agama bukan hanya kumpulan ritual, tetapi juga ketulusan hubungan kita dengan Allah dan kepedulian kita terhadap sesama. 

  1. Nasihat kepada Allah berarti memperbaiki tauhid dan keikhlasan. 
  2. Nasihat kepada Kitab Allah berarti membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an. 
  3. Nasihat kepada Rasulullah ﷺ berarti membenarkan, mencintai dan mengikuti sunnah beliau. 
  4. Nasihat kepada pemimpin berarti menghendaki kebaikan dalam kepemimpinan dengan cara yang benar dan bijaksana. 
  5. Sedangkan nasihat kepada kaum muslimin berarti menghendaki kebaikan bagi mereka sebagaimana kita menghendaki kebaikan bagi diri kita sendiri.

Karena itu, jangan sampai kita memahami nasihat hanya sebagai aktivitas “memberi tahu orang lain bahwa dia salah.” Nasihat jauh lebih dalam daripada itu. Nasihat adalah ketulusan hati untuk menghendaki kebaikan. Orang yang benar-benar memahami nasihat tidak akan merasa puas hanya karena berhasil menunjukkan kesalahan orang lain. Ia akan merasa bahagia ketika orang yang dinasihatinya menjadi lebih baik.

Dan mungkin inilah pertanyaan yang paling layak kita bawa pulang dari hadis ini: selama ini, apakah kita benar-benar sedang menasihati orang lain, atau sebenarnya kita hanya sedang menunjukkan bahwa diri kita lebih benar daripada mereka?

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tulus kepada-Nya, dekat dengan Al-Qur’an, mengikuti Rasulullah ﷺ, menghendaki kebaikan bagi masyarakat dan menjadi sebab kebaikan bagi sesama. Semoga lisan kita menjadi lisan yang menasihati dengan hikmah, hati kita menjadi hati yang tulus, dan kehidupan kita sendiri menjadi nasihat yang hidup bagi orang-orang di sekitar kita.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Label