"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Syarat Mendapatkan Syafaat Nabi & Perkara yang menghalanginya

 


SYARAT MENDAPATKAN SYAFAAT NABI ﷺ DAN PERKARA YANG MENGHALANGINYA

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu perkara yang sangat diharapkan oleh seorang mukmin pada hari kiamat adalah syafaat Nabi Muhammad ﷺ.

Syafaat adalah pertolongan yang Allah berikan kepada hamba-Nya melalui perantaraan orang yang Allah izinkan untuk memberikan syafaat.

Namun ada satu prinsip yang harus kita pahami dengan benar:

Syafaat bukan hak mutlak Nabi ﷺ. Syafaat adalah milik Allah dan hanya terjadi dengan izin serta kehendak-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

"Katakanlah: Hanya milik Allah seluruh syafaat." (QS. Az-Zumar: 44)

Karena itu, jangan sampai keyakinan terhadap syafaat justru merusak tauhid.

Nabi ﷺ memang memiliki syafaat. Bahkan di antara syafaat beliau adalah syafaat al-'uzhma, yaitu syafaat terbesar pada hari kiamat ketika manusia berada dalam keadaan sangat berat dan meminta agar segera dimulai keputusan di antara mereka. Nabi ﷺ bersabda:

أُعْطِيتُ خَمْسًا أُعْطِيتُهُنَّ لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي... وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ

"Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku... dan aku diberi syafaat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Asy-Syafā‘ah al-‘Uẓmā (الشَّفَاعَةُ الْعُظْمَى) berarti syafaat yang paling agung.

Syafaat ini terjadi pada Padang Mahsyar, ketika seluruh manusia dikumpulkan setelah dibangkitkan. Keadaan sangat berat. Matahari didekatkan, manusia mengalami kesusahan dan menunggu sangat lama.

Kemudian manusia mencari orang yang dapat memohon kepada Allah agar perkara segera diputuskan

Mereka mendatangi Nabi Adam عليه السلام, kemudian Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa عليهم السلام. Namun semuanya tidak berani mengambil tugas tersebut.

Akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bersabda:

فَأَنْطَلِقُ فَآتِي تَحْتَ الْعَرْشِ، فَأَقَعُ سَاجِدًا لِرَبِّي

"Aku kemudian pergi dan mendatangi bawah Arsy, lalu aku bersujud kepada Rabb-ku."

Kemudian Allah memberikan izin kepada beliau untuk memberikan syafaat. Allah berfirman:

يَا مُحَمَّدُ، ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَسَلْ تُعْطَهْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ

"Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau akan diberi; berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi, siapa saja yang akan mendapatkan syafaat?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Al-Qur'an memberikan jawaban yang sangat jelas. Allah berfirman:

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

"Betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai." (QS. An-Najm: 26)

Dari ayat ini kita memahami bahwa syafaat memiliki dua syarat utama.

Pertama: Allah mengizinkan pemberi syafaat

Allah berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

"Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?" (QS. Al-Baqarah: 255)

Tidak ada seorang pun yang dapat maju memberikan syafaat sesuka hatinya.

Bahkan Nabi Muhammad ﷺ, manusia paling mulia, tidak memberikan syafaat kecuali setelah Allah memberikan izin.

Ini menunjukkan kesempurnaan tauhid: Nabi adalah pemberi syafaat, tetapi Allah-lah yang memberikan izin dan menentukan hasil syafaat tersebut.

Kedua: Allah meridhai orang yang diberi syafaat

Allah berfirman:

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى

"Mereka tidak memberikan syafaat kecuali kepada orang yang Dia ridhai." (QS. Al-Anbiya: 28)

Dengan demikian, tidak semua orang otomatis mendapatkan syafaat. Yang menentukan bukan sekadar pengakuan bahwa kita mencintai Nabi ﷺ. Yang menentukan adalah tauhid, iman, dan keridhaan Allah.

Karena itu, ketika Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Nabi ﷺ:

"Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling berbahagia mendapatkan syafaatmu pada hari kiamat?" 

Nabi ﷺ menjawab:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ

"Manusia yang paling berbahagia mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan: 'Lā ilāha illallāh' dengan ikhlas dari hatinya." (HR. Bukhari)

Perhatikan, Nabi ﷺ tidak mengatakan bahwa orang yang paling banyak berharap kepada syafaat beliau yang akan mendapatkan syafaat.

Tetapi:

مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ

Orang yang mentauhidkan Allah dengan ikhlas.

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

 أَتَانِي آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّي فَخَيَّرَنِي بَيْنَ أَنْ يُدْخِلَ نِصْفَ أُمَّتِي الْجَنَّةَ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ وَهِيَ لِمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا 

“Ada yang mendatangiku dari Rabbku lalu memberiku pilihan antara setengah ummatku masuk surga atau syafaat, lalu aku memilih syafaat. Dan syafaatku itu bagi orang yang mati dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun.” (HR. Tirmidzi)

Maka tauhid adalah pintu terbesar menuju syafaat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Lalu apa yang menjadi penghalang terbesar seseorang dari syafaat? Jawabannya adalah syirik dan kekafiran.

Allah berfirman tentang orang-orang yang masuk neraka:

فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

"Maka tidak berguna bagi mereka syafaat dari para pemberi syafaat." (QS. Al-Muddatstsir: 48)

Mengapa?

Karena mereka mati dalam keadaan tidak beriman kepada Allah. Maka jangan sampai seseorang merasa aman dengan mengatakan: "Nanti juga Nabi akan memberikan syafaat."

  • Syafaat bukan alasan untuk meninggalkan tauhid.
  • Syafaat bukan jaminan bagi orang yang sengaja mempertahankan kesyirikan.
  • Syafaat bukan tiket untuk bermaksiat.

Justru orang yang paling dekat dengan syafaat Nabi ﷺ adalah orang yang paling serius menjaga tauhid dan mengikuti sunnah beliau.

Maka, jamaah yang dirahmati Allah,

Jika kita benar-benar berharap syafaat Nabi ﷺ, maka mari kita:

  • Pertama, memurnikan tauhid kepada Allah.
  • Kedua, menjauhi syirik, baik syirik besar maupun berbagai bentuk kesyirikan yang merusak keikhlasan.
  • Ketiga, mengikuti Nabi ﷺ dengan iman dan ketaatan.
  • Keempat, memperbanyak amal saleh dan tidak menjadikan harapan terhadap syafaat sebagai alasan untuk meremehkan dosa.

Dan yang paling penting:

Jangan hanya mencintai syafaat Nabi ﷺ; cintailah pula Nabi ﷺ dengan mengikuti ajaran beliau.

Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

"Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian." (QS. Ali 'Imran: 31)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat Nabi Muhammad ﷺ pada hari ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan dari Allah.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ أَعْظَمَ مَا نَحْرِصُ عَلَيْهِ فِي هٰذِهِ الدُّنْيَا هُوَ أَنْ نَلْقَى اللَّهَ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالْإِيمَانِ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari kita simpulkan pembahasan kita.

Ada dua syarat pokok syafaat:

  1. Allah mengizinkan pemberi syafaat untuk memberikan syafaat.

  2. Allah meridhai orang yang diberi syafaat.

Karena itu, ada beberapa perkara yang menjadi penghalang seseorang dari syafaat, terutama:

Pertama, mati dalam keadaan syirik atau kufur.

Kedua, tidak memiliki tauhid yang benar dan keikhlasan kepada Allah.

Ketiga, menjadikan harapan terhadap syafaat sebagai pembenaran untuk terus bermaksiat dan meninggalkan kewajiban.

Dan satu hal yang sangat penting:

Jangan memahami syafaat sebagai "jaminan keselamatan tanpa syarat".

Syafaat adalah rahmat Allah, tetapi rahmat itu diberikan sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya.

Karena itu, sikap seorang mukmin berada di antara khauf dan raja': takut terhadap dosa dan azab Allah, tetapi tetap berharap kepada rahmat, ampunan, dan syafaat-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki."
(QS. An-Nisa: 48)

Maka selama kita masih hidup,

  • Jangan menunda taubat.
  • Perbaiki tauhid.
  • Perbaiki shalat.
  • Perbaiki akhlak.
  • Tinggalkan kesyirikan.
  • Ikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

Dan teruslah memohon kepada Allah agar kelak kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat Nabi-Nya.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْإِيمَانَ وَالتَّوْحِيدَ وَالْإِخْلَاصَ، وَنَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى نَلْقَاكَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالسُّنَّةِ، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا شَفَاعَةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ تَشْمَلُهُمْ رَحْمَتُكَ وَرِضْوَانُكَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Label