"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Setiap Amal Ada Masa Semangat dan Masa Futur


Setiap Amal Ada Masa Semangat dan Masa Futur


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Ahmad no. 6765, Ibnu Hibban no. 1513, dan al-Bazzar,

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ.

“Sesungguhnya setiap amal itu memiliki masa semangat, dan setiap masa semangat ada masa futur (kendur). Maka, barang siapa masa futurnya masih dalam sunnahku, maka sungguh ia telah beruntung. Namun, barang siapa masa futurnya menjauhi sunnahku, maka sungguh ia telah binasa.”

Lafal syirrah (شِرَّة) dalam hadits ini, maksudnya adalah puncak semangat, gairah, atau kekuatan ketika seorang hamba beramal.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa:
الشِّرَّةُ هِيَ النَّشَاطُ وَالرَّغْبَةُ الشَّدِيدَةُ فِي الشَّيْءِ
"Syirrah adalah semangat, gairah, dan keinginan yang kuat terhadap sesuatu."

Seperti : semangat berjamaah, kajian, tadarus al-qur'an, tahajud dll.

الْفَتْرَةُ: السُّكُونُ بَعْدَ الْحِدَّةِ، وَالضَّعْفُ بَعْدَ الْقُوَّةِ
"Fatrah adalah surutnya semangat (tenang) setelah menggebu-gebu, dan melemahnya kekuatan setelah sebelumnya kuat."

Adapun fatrah (فترة) maksudnya adalah kendor, melemah, atau berkurangnya semangat dalam amal. Futur adalah suatu kondisi ketika seseorang mengalami penurunan semangat beribadah setelah sebelumnya rajin dan disiplin.

Setiap insan beriman pasti pernah mengalami masa futur. Adakalanya rasa malas, jenuh, dan bosan, muncul secara mendadak dan melemahkan tekad dalam menjalankan ketaatan.

Gejala futur adalah ketika hati menjadi berat, tubuh menjadi malas, padahal sebelumnya merasakan manisnya iman dan menikmati khusyuknya ibadah.

Para Sahabat Juga Mengalami Futur

Suatu hari sahabat mulia Hanzhalah berkata:
نَافَقَ حَنْظَلَةُ
"Hanzhalah telah menjadi munafik."
ketika sahabat lain bertanya kenapa alasanmnnya, beliau menjawab :

نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، فَنَسِينَا كَثِيرًا.

"Kami berada di sisi Rasulullah ﷺ, lalu beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri. Namun apabila kami keluar dari sisi Rasulullah ﷺ, lalu kami sibuk dengan istri-istri, anak-anak, dan urusan harta serta kehidupan kami, maka banyak dari keadaan itu yang terlupakan."

Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ، سَاعَةً وَسَاعَةً.

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian terus-menerus berada dalam keadaan seperti ketika bersama aku dan ketika berdzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, ada waktunya demikian dan ada waktunya demikian." (HR. Muslim) hadits Hanzhalah riwayat Abu Hurairah


Futur bisa datang dengan bentuk yang beragam. Terkadang hadir dalam bentuk rasa malas dan lalai seperti jarang sholat berjamaah, tidak pernah shalat sunaah apalagi tahajud, jarang membaca qur'an, jarang puasa sunnah, jarang sedekah, jarang kajian dll. bahkan sudah ketingkat tidak mengerjakan kewajiban dan melakukan dosa dan maksiat.


Fenomena ini wajar terjadi pada manusia.

Futur itu manusiawi. Maka, yang terpenting bukanlah menghindari futur sepenuhnya, tetapi memastikan diri, saat masa futur itu datang kita tetap berada dalam koridor sunnah; tidak sampai meninggalkan kewajiban atau terjerumus dalam kemaksiatan.

Pertama, karena iman itu bersifat fluktuatif, bisa bertambah dan bisa juga berkurang.

Kedua, karena hanya malaikat yang tidak pernah merasakan futur. Sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Anbiya: 20,
يُسَبِّحُوۡنَ الَّيۡلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُوۡنَ‏
“Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang.”

Inilah kondisi keimanan para malaikat yang stabil. Mereka adalah para makhluk yang dicipta dari cahaya dan tidak diberi hawa nafsu.

Lain halnya dengan manusia yang sepanjang hidupnya akan terus berjuang mengatasi berbagai problem. Sebelum sampai ke garis finis kehidupan, yaitu kematian, kondisi jiwa manusia akan terus mengalami pasang surut keimanan.

Penyebab Futur Menurut Para Ulama

1. Terlalu Berlebihan Saat Semangat
Seseorang ingin: khatam Al-Qur'an setiap hari, tahajud berjam-jam, puasa terus-menerus, padahal kemampuannya belum siap. Akhirnya kelelahan lalu berhenti total.

2. Banyak Dosa
Allah berfirman:
كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Dosa adalah salah satu penyebab terbesar matinya semangat ibadah.

3. Jauh dari Lingkungan Shalih
Iman sangat dipengaruhi lingkungan. Karena itu Nabi ﷺ mengumpamakan teman yang baik seperti penjual minyak wangi.

4. Terlalu Sibuk dengan Dunia
Semakin hati dipenuhi urusan dunia, semakin sempit ruang bagi dzikir dan akhirat. Allah berfirman:
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

"Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta ia mengikuti hawa nafsunya." (QS. Al-Kahfi: 28)


Bekal Menghadapi Masa Futur

Bekal Pertama: Niat yang Lurus

Masa futur sering datang karena salah dalam menata hati. Akibatnya, shalat hanya sebatas rutinitas, membaca Quran tanpa tadabur, berzikir tanpa makna.

Ibadah yang hanya digerakkan oleh suasana, termotivasi oleh hasrat ingin dipuji, maka semangatnya akan cepat padam. Tetapi, bila niat lurus hanya karena Allah subhanahu wata’ala, maka sekecil apa pun amal akan terasa bermakna. Oleh sebab itu, penting untuk selalu memperbarui niat.

Bekal Kedua: Amal Kecil yang Istiqamah

Istiqamah dengan amalan kecil yang berkesinambungan adalah di antara bekal menghadapi masa futur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, hadits riwayat al-Bukhari no. 5523 dan Muslim no. 783,

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.”

Bekal Ketiga: Lingkungan yang Baik

Hati itu lemah, mudah goyah, mudah terbolak-balik. Jika dikelilingi orang lalai, hati pun akan lalai. Namun, jika duduk di majelis ilmu, berteman dengan orang-orang saleh, insyaallah semangat kita kembali hidup dan kualitas ruhiyah ikut meningkat.

Betapa pentingnya memilih lingkungan yang baik. Karena iman itu mudah sekali terpengaruh oleh suasana. Lingkungan yang baik adalah benteng dari futur, sekaligus bahan bakar yang menyalakan kembali semangat ibadah.

Bekal Keempat: Variasi Amal Saleh

Islam itu luas. Jika satu amal terasa berat, jangan berhenti, tapi alihkan ke amal lain. Dengan begitu, semangat kembali hidup, ibadah tidak monoton, dan lebih terasa seperti sebuah perjalanan yang penuh warna.

Tilawah al-Quran bisa diganti dengan dzikir atau mendengar audio ceramah. Shalat sunnah bisa diganti dengan sedekah, silaturahim, dan tafakur. Iktikaf, berdiam diri di masjid, bisa diganti dengan menolong orang lain. Semuanya diridhai Allah.

Bekal Kelima: Doa-doa Peneguh Hati

Kemudian bekal menghadapi masa futur kelima, membaca doa peneguh hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar kita senantiasa berlindung kepada Allah, satu-satunya Dzat yang mampu meneguhkan hati di atas iman dan amal saleh.

Ada beberapa doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca, khususnya saat badai futur melanda jiwa. Di antaranya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam agama, dan kemantapan dalam meniti petunjuk.”

Doa ini mencerminkan kebutuhan manusia akan kekuatan batin. Bukan hanya teguh sesaat, tapi Istiqamah sepanjang jalan, dengan tekad yang kuat untuk terus berada di jalan kebenaran.

Ada juga doa yang paling sering dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ، اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hatiku kepada ketaatan kepada-Mu.”

Ingatlah, seorang mukmin yang cerdas bukanlah yang tidak pernah jatuh, melainkan yang ketika terjatuh segera bangkit, kembali kepada Allah dengan taubat dan amal shalih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana dalam hadits riwayat al-Hakim no. 5,

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

“Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana pakaian menjadi usang. Maka mintalah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati kalian.”

Maka mintalah kepada Allah agar selalu memperbarui iman dalam hati kita, agar semangat ibadah tidak padam, dan agar kita tetap istiqamah hingga akhir hayat.

Bahaya masa Futur dalam Maksiat
 فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ.

Maka, barang siapa masa futurnya masih dalam sunnahku, maka sungguh ia telah beruntung. Namun, barang siapa masa futurnya menjauhi sunnahku, maka sungguh ia telah binasa.”

Alangkah indahnya penjelasan para ulama bahwa:

لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ لَا تَفْتُرَ، وَلَكِنِ الشَّأْنُ أَنْ لَا تَتْرُكَ الطَّاعَةَ عِنْدَ الْفُتُورِ

"Keistimewaan bukanlah tidak pernah mengalami futur, tetapi tetap tidak meninggalkan ketaatan ketika futur datang."


أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Label