KHITAN: MENJAGA FITRAH, MENUNAIKAN AMANAH
Dari tubuh yang dijaga menuju jiwa yang dididik
Biasanya kalau kita mendengar kata khitan, yang langsung terbayang adalah sebuah tindakan pada tubuh seorang anak.
Tetapi saat ini saya ingin mengajak kita semua melihat khitan dari sudut yang sedikit berbeda.
Bukan hanya: “Apa yang dilakukan kepada tubuh anak ini?” Tetapi kita bertanya: “Apa yang sedang Allah ajarkan kepada kita, sebagai orang tua dan keluarga, melalui seorang anak yang hari ini dikhitan?”
Karena sesungguhnya, anak yang berada di hadapan kita hari ini belum memahami apa-apa.
- Ia belum memahami mengapa ia dikhitan.
- Ia belum memahami apa itu sunnah.
- Ia belum memahami apa itu fitrah.
Bahkan mungkin, setelah acara ini selesai, ia tidak akan mengingat satu pun peristiwa hari ini.
Tetapi justru di situlah terdapat pelajaran yang sangat besar bagi kita sebagai orang dewasa.
Pertama: Khitan adalah bagian dari fitrah
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْفِطْرَةُ خَمْسٌ: الْخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ.
“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Muslim no. 257)
Perhatikan bahwa Rasulullah ﷺ memasukkan khitan ke dalam perkara fitrah. Fitrah adalah sesuatu yang berkaitan dengan keadaan dasar yang Allah tetapkan bagi manusia.
Allah berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rūm: 30)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa fitrah dalam ayat tersebut berkaitan dengan keadaan dasar manusia yang Allah ciptakan dan kecenderungannya kepada kebenaran.
Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali ia dilahirkan di atas fitrah.” (HR. Muslim no. 2658)
Maka seorang bayi yang berada di hadapan kita hari ini adalah makhluk kecil yang datang ke dunia dalam keadaan suci dan belum membawa dosa.
Dan tugas kita bukan sekadar membesarkan tubuhnya. Tugas kita adalah menjaga fitrahnya. Khitan adalah salah satu bentuk penjagaan terhadap fitrah dalam perkara jasmani.
Tetapi pertanyaannya: Kalau tubuhnya kita jaga, bagaimana dengan jiwanya?
Kalau hari ini kita peduli dengan kebersihan tubuhnya, apakah kita juga akan peduli dengan kebersihan hatinya?
Kalau hari ini kita memastikan tubuhnya mendapatkan perawatan yang baik, apakah kita juga akan memastikan jiwanya mendapatkan pendidikan yang baik?
Di sinilah acara khitan berubah menjadi sebuah pengingat besar bagi orang tua. Khitan menjaga salah satu bagian dari fitrah tubuhnya. Pendidikan menjaga fitrah jiwanya.
Kedua: Anak belum mengerti, tetapi orang tua sudah memulai
Ada sesuatu yang menarik dari seorang bayi. Bayi belum bisa menentukan apa yang terbaik untuk dirinya. Ia belum tahu makanan apa yang baik. Ia belum tahu lingkungan seperti apa yang baik. Ia belum tahu pendidikan seperti apa yang baik. Ia bahkan belum mampu mengatakan: “Bapak, saya mau dikhitan.” Tetapi orang tuanya mengambil keputusan untuknya. Mengapa? Karena orang tua melihat sesuatu yang belum bisa dilihat oleh anaknya.
Dan sebenarnya, inilah hakikat pendidikan. Anak belum mengerti mengapa harus belajar. Tetapi orang tua sudah mengajarkan. Anak belum mengerti mengapa harus salat. Tetapi orang tua sudah membiasakan. Anak belum mengerti mengapa harus membaca Al-Qur'an. Tetapi orang tua sudah memperdengarkannya.
Anak belum mengerti mengapa harus berkata jujur. Tetapi orang tua sudah menanamkannya. Begitu juga hari ini. Anak belum memahami khitan. Tetapi orang tua sudah memulainya.
Karena orang tua tidak hanya berpikir tentang apa yang dipahami anak hari ini, tetapi juga tentang siapa yang akan menjadi anak ini sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun yang akan datang.
Dan ini adalah pelajaran penting: Tidak semua kebaikan harus menunggu anak mengerti terlebih dahulu.
Ada kebaikan yang harus kita tanamkan hari ini agar manfaatnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Sebuah pohon tidak langsung menghasilkan buah ketika ditanam. Tetapi orang yang menanamnya tetap bersabar menyiramnya.
Begitu pula pendidikan anak. Hari ini kita mengajarkan satu doa. Besok satu ayat. Lusa satu adab. Hari berikutnya satu kebiasaan baik. Kelihatannya kecil. Tetapi bertahun-tahun kemudian, semua itu bisa menjadi karakter.
Ketiga: Khitan mengajarkan bahwa cinta orang tua tidak selalu berbentuk kenyamanan
Hadirin yang berbahagia,Ada satu pelajaran lain yang menurut saya sangat indah dari khitan.
Seorang anak mungkin menangis ketika dikhitan. Dan kita memahami tangisan itu.
Tetapi orang tua tetap melakukannya dengan cara yang benar, aman, dan penuh perhatian. Mengapa? Karena orang tua tahu: Tidak semua yang terasa tidak nyaman berarti tidak baik.
Dan sebaliknya: Tidak semua yang terasa menyenangkan berarti baik. Ini adalah pelajaran yang sangat penting dalam mendidik anak. Kadang anak ingin terus bermain, tetapi orang tua menyuruhnya belajar. Kadang anak ingin memegang gawai sepanjang hari, tetapi orang tua membatasinya.Kadang anak ingin membeli sesuatu, tetapi orang tua mengatakan tidak.
Kadang anak ingin mengikuti temannya, tetapi orang tua melarang karena mengetahui lingkungan tersebut tidak baik.
Anak mungkin tidak mengerti. Anak mungkin kecewa. Anak mungkin mengatakan: “Kenapa Ayah melarang?” “Kenapa Ibu tidak membolehkan?” Tetapi orang tua yang baik tidak hanya bertanya:
“Apa yang membuat anak saya senang?”
Orang tua juga bertanya: “Apa yang membuat anak saya baik?”
Ini dua pertanyaan yang berbeda.
Dan dalam pendidikan, yang kedua jauh lebih penting. Cinta bukan hanya membuat anak bahagia. Cinta juga berarti berani menjaga anak dari sesuatu yang dapat merusaknya. Tetapi tentu saja, ini tidak berarti orang tua boleh bersikap kasar. Islam tidak mengajarkan pendidikan dengan kekerasan dan penghinaan.
Cinta harus berjalan bersama rahmah, hikmah, kesabaran, dan keteladanan. Jadi jangan kita katakan: “Saya keras kepada anak karena saya mencintainya.” Tetapi tunjukkan cinta melalui: ketegasan yang penuh kasih, aturan yang jelas, nasihat yang lembut, dan terutama, keteladanan dari orang tua. Sebab anak lebih banyak belajar dari apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar.
Keempat: Sebelum menjadi kebanggaan, anak adalah amanah
Ketika seorang anak lahir, biasanya kita mempunyai banyak harapan. Kita ingin dia sehat. Kita ingin dia pintar. Kita ingin dia sukses. Kita ingin dia menjadi orang besar. Kita ingin suatu hari nanti dia menjadi kebanggaan keluarga. Semua itu adalah harapan yang baik. Tetapi Islam mengajak kita melihat lebih dalam. Sebelum anak itu menjadi kebanggaan, ia adalah amanah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Taḥrīm: 6)
Ayat ini sangat serius.
Allah tidak hanya mengatakan: “Jadikan keluarga kalian sukses.”
Tetapi:
قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”
Ibn ‘Abbās رضي الله عنهما menjelaskan ayat ini dengan makna: beramal dengan ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan, dan memerintahkan keluarga untuk berdzikir kepada Allah agar Allah menyelamatkan mereka dari neraka. Penjelasan yang serupa dinukil dari Mujāhid.
Maka keberhasilan pendidikan anak tidak cukup diukur dengan:
“Anak saya sekolah di mana?” “Nilainya berapa?” “Pekerjaannya apa?” “Gajinya berapa?” “Rumahnya di mana?” “Jabatannya apa?” Semua itu boleh kita harapkan.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah anak ini semakin mengenal Allah?
Apakah ia semakin mencintai Rasulullah ﷺ?
Apakah ia semakin mengenal halal dan haram?
Apakah ia tumbuh menjadi manusia yang jujur, amanah, dan berakhlak?
Karena boleh jadi seorang anak sukses menurut ukuran dunia, tetapi orang tuanya gagal memberikan bekal akhirat. Dan sebaliknya, boleh jadi seorang anak tidak menjadi orang terkenal, tetapi ia menjadi manusia yang saleh, jujur, bermanfaat, dan dekat dengan Allah.
Itulah sebabnya amanah harus mendahului kebanggaan.
Kelima: Orang tua adalah penjaga, bukan sekadar penyedia
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ.
“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim; diriwayatkan pula dengan lafaz serupa dalam Sunan Abī Dāwūd)
Perhatikan kata yang digunakan Rasulullah ﷺ: رَاعٍ Rā‘in. Artinya penjaga, pengurus, penggembala.
Seorang penggembala tidak hanya memberikan makan dombanya.
- Ia memperhatikan ke mana dombanya berjalan.
- Ia menjaga agar tidak masuk ke tempat berbahaya.
- Ia memastikan tidak ada yang tersesat.
- Ia menjaga dari ancaman.
Demikian pula orang tua.
Orang tua bukan hanya provider, penyedia kebutuhan anak.
Bukan hanya menyediakan: rumah, makanan, pakaian, pendidikan, uang saku, dan fasilitas. Tetapi orang tua juga harus menjadi penjaga arah hidup anak.
Karena itu tugas pendidikan bukan sekadar membuat anak patuh ketika diawasi.
Tugas pendidikan adalah membuat anak mampu memilih yang benar ketika tidak ada yang mengawasi.
Keenam: Hari ini orang tua yang memilihkan, kelak anak yang memikul amalnya
Hari ini hampir semua keputusan untuk bayi berada di tangan orang tua.
Orang tua memilih namanya.
Orang tua memilih makanannya.
Orang tua memilih dokter.
Orang tua memilih sekolah.
Orang tua hari ini memilih untuk mengkhitannya.
Tetapi akan datang suatu masa ketika semuanya berubah.
Anak ini akan tumbuh.
Ia akan dewasa.
Ia akan mempunyai pikirannya sendiri.
Ia akan mempunyai pilihan-pilihannya sendiri.
Dan kelak, ia akan berdiri di hadapan Allah.
Allah berfirman:
وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
“Setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya melekat pada lehernya. Pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab yang ia jumpai terbuka. Bacalah kitabmu; cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” (QS. Al-Isrā’: 13–14)
Hari ini dia adalah bayi yang kita gendong. Kelak dia adalah manusia dewasa yang memikul amalnya sendiri. Hari ini kita bisa mengatakan:
“Anakku, lakukan ini.”
Kelak dia harus mempunyai kesadaran:
“Saya melakukan ini karena Allah.”
Dan inilah tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
Bukan membuat anak selamanya bergantung kepada orang tua.
Tetapi membekali anak agar ketika suatu hari orang tua tidak lagi berada di sisinya, Allah tetap ada di dalam hatinya.
Ketujuh: Maka khitan hari ini harus menjadi awal, bukan akhir
Kalau kita melihat khitan hanya sebagai sebuah acara, maka setelah acara selesai semuanya berakhir. Tetapi kalau kita melihat khitan sebagai momentum, maka justru hari ini adalah permulaan.
Hari ini kita menjaga tubuhnya.
Besok kita menjaga makanannya.
Lusa kita menjaga lingkungannya.
Kemudian kita menjaga pendidikannya.
Kita menjaga apa yang ia dengar.
Kita menjaga apa yang ia lihat.
Kita menjaga siapa yang menjadi temannya.
Kita menjaga apa yang masuk ke pikirannya.
Dan yang paling penting:
kita menjaga hubungan hatinya dengan Allah.
Karena seorang anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mampu membesarkannya.
Ia membutuhkan orang tua yang mampu membimbingnya.
Ia tidak hanya membutuhkan orang tua yang mampu membayar sekolahnya.
Ia membutuhkan orang tua yang mengajarkan makna hidupnya.
Ia tidak hanya membutuhkan orang tua yang memikirkan masa depannya di dunia.
Ia membutuhkan orang tua yang mempersiapkannya untuk akhiratnya.
Penutup: Jangan hanya bertanya akan menjadi apa anak kita
Pada saat itu, kita mungkin bertanya: “Akan menjadi apa anakku?”
Tetapi sebenarnya ada pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang sudah kami tanamkan dalam dirinya?”
Karena orang tua tidak bisa memilih seluruh masa depan anak.
Kita tidak bisa menentukan siapa yang akan ia cintai.
Kita tidak bisa menentukan seluruh jalan hidupnya.
Kita tidak bisa mengawasi setiap langkahnya.
Tetapi kita bisa memberikan bekal.
Kita bisa memberikan iman.
Kita bisa memberikan adab.
Kita bisa memberikan ilmu.
Kita bisa memberikan teladan.
Kita bisa memberikan lingkungan yang baik.
Dan yang paling penting:
kita bisa memperkenalkan anak kepada Rabb yang akan selalu bersamanya ketika kita sudah tidak lagi bersamanya.
Maka hari ini, ketika seorang anak dikhitan, jangan hanya melihat bahwa ada bagian dari tubuhnya yang sedang dijaga.
Lihatlah lebih jauh.
- Ada fitrah yang harus dijaga.
- Ada jiwa yang harus dididik.
- Ada amanah yang harus ditunaikan.
- Ada cinta yang harus diwujudkan.
Dan ada masa depan akhirat yang harus dipersiapkan.
Doa untuk Anak
Marilah kita bersama-sama mendoakan anak yang hari ini dikhitan.
Semoga Allah menjadikannya anak yang sehat, panjang umur dalam ketaatan, lembut hatinya, baik akhlaknya, luas ilmunya, dan bermanfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, dan umat.
Semoga Allah menjaga fitrahnya.
Semoga Allah menjaga langkahnya.
Semoga Allah menjadikannya anak yang mencintai Al-Qur'an.
Anak yang mencintai Rasulullah ﷺ.
Anak yang mencintai salat.
Anak yang menghormati kedua orang tuanya.
Anak yang ketika dewasa bukan hanya menjadi orang sukses, tetapi menjadi orang saleh dan bermanfaat.
Dan untuk ayah dan ibunya, semoga Allah memberikan kesabaran dalam mendidik.
Karena membesarkan anak mungkin membutuhkan tenaga.
Menyekolahkan anak membutuhkan biaya.
Tetapi mendidik jiwa seorang anak membutuhkan kesabaran yang jauh lebih besar.
Semoga setiap air mata, setiap lelah, setiap nasihat, setiap doa, dan setiap pengorbanan orang tua menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Allah berfirman:
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Āli ‘Imrān: 38)
Dan Allah juga mengabadikan doa orang-orang saleh:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqān: 74)
Semoga anak yang hari ini kita khitankan kelak menjadi قُرَّةَ أَعْيُنٍ, penyejuk mata bagi kedua orang tuanya.
Bukan hanya karena keberhasilannya.
Tetapi karena iman dan akhlaknya.
Bukan hanya karena kedudukannya di dunia.
Tetapi karena kedekatannya kepada Allah.
Dan semoga kelak, ketika kedua orang tuanya sudah tidak mampu lagi memberikan apa-apa kepadanya, amal salehnya menjadi salah satu sebab mengalirnya pahala bagi keduanya.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَوْلَادِنَا، وَاجْعَلْهُمْ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى وَالصَّلَاحِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْهُ وَارْعَهُ، وَبَارِكْ فِي عُمْرِهِ وَصِحَّتِهِ وَعِلْمِهِ وَعَمَلِهِ، وَاجْعَلْهُ قُرَّةَ عَيْنٍ لِوَالِدَيْهِ، وَاجْعَلْهُ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.