"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Mengapa Kita Harus Berpuasa Ramadhan?

 


Mengapa Kita Harus Berpuasa Ramadhan?

Karena Jiwa Kita Terlalu Lama Lapar Akan Makna

Ada kewajiban yang terasa berat karena dipandang sebagai beban.
Namun ada ibadah yang terasa berat karena hati belum menyadari bahwa ia membutuhkannya.

Puasa Ramadhan termasuk ibadah jenis kedua.

Jika puasa hanya kita pahami sebagai “perintah agama”, maka ia akan berhenti di tenggorokan dan perut.
Tetapi jika puasa kita pahami sebagai jawaban atas kegelisahan batin manusia, maka ia akan hidup di qalbu—dan mengubah cara kita memandang diri, dunia, dan Tuhan.


1. Karena Jiwa Manusia Perlu Dilatih, Bukan Dimanjakan

Manusia modern hampir tak pernah berkata “cukup”.
Makan saat lapar, minum saat haus, berbicara saat ingin, marah saat emosi, membeli saat tergoda.

Puasa datang untuk mengajarkan satu kata yang sangat mahal: menahan.

Bukan karena Allah butuh lapar kita,
tetapi karena jiwa yang selalu dituruti akan menjadi liar.

Puasa adalah madrasah pengendalian diri.
Ia mengajarkan bahwa:

  • tidak semua yang halal harus segera diambil,
  • tidak semua yang diinginkan harus dipenuhi,
  • dan tidak semua yang mampu harus dilakukan.

Di situlah manusia naik derajat:
dari makhluk insting menjadi makhluk kesadaran.

وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ

Artinya:
“Orang yang berjihad adalah orang yang berjihad melawan dirinya (nafsunya) dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Ahmad)

Puasa adalah jihad harian tanpa senjata, namun dampaknya sangat dalam.


2. Karena Hati Kita Terlalu Sibuk, Puasa Mengajarkan Diam

Hati manusia hari ini penuh:
target dunia, ambisi, kecemasan, dan kebisingan keinginan.

Puasa memperlambat segalanya.

Lapar membuat kita berhenti.
Haus membuat kita merenung.
Lemah membuat kita bersandar.

Dalam lapar, doa menjadi lebih jujur.
Dalam haus, dzikir terasa lebih hidup.
Dalam keterbatasan, kita ingat bahwa kita bukan siapa-siapa tanpa pertolongan Allah.

Puasa bukan sekadar menahan makan, tetapi mengosongkan ruang di dalam hati agar cahaya bisa masuk.

إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

“Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim)


3. Karena Kita Terlalu Lama Merasa Kuat, Puasa Mengingatkan Kita Lemah

Beberapa jam tanpa makan saja, tubuh sudah gemetar.
Kepala pusing, emosi naik, tenaga turun.

Saat itulah puasa berbisik lembut: “Beginilah hakikatmu.” Bukan untuk merendahkan, tetapi untuk mengembalikan manusia ke posisi yang benar:
  • lemah di hadapan Allah,
  • butuh pada rahmat-Nya,
  • bergantung pada kasih sayang-Nya.
Puasa menghancurkan kesombongan halus yang sering tak kita sadari:
kesombongan merasa sehat, mampu, dan mengendalikan hidup.

4. Karena Dunia Terlalu Dekat, Puasa Menjauhkan Kita Sejenak

Tanpa puasa, dunia selalu di depan mata:
makanan, hiburan, pekerjaan, urusan.

Puasa menarik kita mundur satu langkah.
Bukan untuk membenci dunia,
tetapi agar dunia tidak duduk di singgasana hati.

Orang yang berpuasa belajar satu pelajaran besar:

Hidup bukan hanya tentang mengisi perut, tetapi mengisi makna.

Ramadhan mengingatkan:
  • hidup ini singkat,
  • waktu ini mahal,
  • dan kesempatan berubah tidak selalu datang dua kali.

5. Karena Kita Sering Lupa Orang Lain, Puasa Menghidupkan Empati

Lapar yang kita rasakan di siang hari Ramadhan
adalah pelajaran tanpa ceramah.

Ia mengajarkan: 
  • bagaimana rasanya menunggu makan,
  • bagaimana rasanya menahan perut,
  • bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan.

Maka sedekah menjadi lebih tulus.
Maka doa untuk orang lain terasa lebih nyata.
Maka kepedulian lahir bukan dari teori, tetapi dari rasa.

Puasa melembutkan hati yang keras oleh kenyamanan.


6. Karena Kita Butuh Dilahirkan Kembali

Ramadhan bukan pengulangan waktu,
tetapi kesempatan memperbarui diri.

Puasa ingin kita keluar dari bulan ini:

  • dengan hati yang lebih bersih,

  • jiwa yang lebih tenang,

  • dan hubungan yang lebih jujur dengan Allah.

Jika setelah Ramadhan kita:

  • lebih sabar,

  • lebih sadar,

  • dan lebih takut menyakiti Allah,

maka puasa telah menjalankan tugasnya.


Penutup: Puasa Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Kebutuhan Jiwa

Kita berpuasa bukan hanya karena diperintah,
tetapi karena tanpa puasa, jiwa kita sakit.

Puasa adalah rahmat yang menyamar sebagai lapar.
Ia membersihkan, menundukkan, dan menyembuhkan.

Maka saat Ramadhan datang, jangan bertanya:

“Mengapa aku harus berpuasa?”

Tetapi katakanlah:

“Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk disembuhkan.”


  • اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَسَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلًا
  • اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ
  • اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا فِي رَمَضَانَ هٰذَا رِضْوَانَكَ، وَعِتْقًا مِنَ النِّيرَانِ، وَقَبُولًا لِلْأَعْمَالِ
  • اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَغَضِّ الْبَصَرِ، وَحِفْظِ اللِّسَانِ
  • اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا فِي رَمَضَانَ، وَارْحَمْنَا فِيهِ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
  • اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
  • اللَّهُمَّ غَيِّرْ أَحْوَالَنَا إِلَى أَحْسَنِ الْأَحْوَالِ فِي رَمَضَانَ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَالرِّيَاءِ

Label