"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Pemaknaan Syahadatain


Pemaknaan Syahadatain


Dalam perspektif Muhammadiyah, Syahadatain (dua kalimat syahadat) bukan sekadar ucapan lisan untuk masuk Islam, melainkan fondasi seluruh gerakan yang mencakup aspek akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.

Berikut adalah pemaknaan syahadatain dalam Muhammadiyah:

1. Inti dari Lambang dan Identitas Gerakan
Dua kalimat syahadat yang melingkari lambang matahari Muhammadiyah menegaskan identitas organisasi sebagai gerakan Islam yang berintikan tauhid. 
Syahadat Tauhid: Simbol tekad untuk menegakkan kalimat tauhid (mengesakan Allah) di tengah masyarakat.
Syahadat Rasul: Petunjuk bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang ingin selalu ittiba' (mengikuti ajaran dan keteladanan) Nabi Muhammad SAW.

2. Tauhid sebagai Sistem Kepercayaan Etis
Muhammadiyah memaknai syahadat tauhid sebagai "Tauhid Aktif" atau sistem kepercayaan etis. 
Tauhid yang Membebaskan: Meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan berarti membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia atau benda (anti-thaghut).
Aksi Partisipatoris: Kesadaran akan keesaan Allah harus diwujudkan dalam kerja keras untuk kemaslahatan umat dan memecahkan persoalan bangsa.

3. Konsep Darul Ahdi wa al-Syahada
Dalam konteks bernegara, Muhammadiyah memperkenalkan konsep Dar al-Ahdi wa al-Syahada (Negara Perjanjian dan Persaksian). 
Al-Syahada di sini dimaknai sebagai keterlibatan langsung dalam pembangunan bangsa.
dipandang sebagai tempat di mana umat Islam memberikan "persaksian" atau bukti keimanan mereka melalui amal nyata dan kontribusi positif.

4. Fondasi Gerakan Tajdid (Pembaruan)
Syahadatain menjadi dasar bagi gerakan Tajrid (pemurnian) dan Tajdid (pembaruan). 
Tajrid: Memurnikan akidah dari syirik, bid'ah, dan khurafat agar sesuai dengan inti syahadat tauhid.
Tajdid: Senantiasa memperbarui semangat perjuangan dan pemikiran sesuai dengan tuntutan zaman berdasarkan keteladanan Rasulullah (syahadat rasul).
---------------------------------------------------------

3 Konsep Tauhid

1. Tauhid Rububiyah
Konsep ini berkaitan dengan keyakinan terhadap perbuatan Allah. Di sini, kita mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pengatur, dan Pemilik alam semesta. Intinya: Percaya bahwa hanya Allah yang menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, dan mengatur seluruh isi bumi serta langit.
Contoh: Meyakini bahwa tidak ada satu pun daun yang jatuh tanpa izin dan pengaturan-Nya.

2. Tauhid Uluhiyah (atau Tauhid Ibadah)
Konsep ini berkaitan dengan mengesakan Allah dalam beribadah. Jika Rububiyah tentang perbuatan Allah, maka Uluhiyah adalah tentang perbuatan kita sebagai hamba kepada Sang Pencipta. Intinya: Menujukan seluruh jenis ibadah (seperti salat, doa, kurban, dan nazar) hanya kepada Allah semata, tanpa perantara apa pun.
Contoh: Tidak memohon perlindungan atau meminta doa kepada selain Allah (seperti kepada benda keramat atau roh).

3. Tauhid Asma’ wa Shifat
Konsep ini berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah. Kita meyakini nama dan sifat Allah sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur'an dan Hadis. Intinya: Menetapkan nama dan sifat mulia bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, tanpa meniadakan maknanya, dan tanpa menggambarkan "bagaimananya" secara akal manusia.
Contoh: Meyakini bahwa Allah Maha Mendengar (As-Sami’), namun pendengaran Allah tidak sama dengan telinga manusia.
____________________________________
Penyimpangan dalam tauhid 
sering kali terjadi karena kurangnya pemahaman atau pengaruh tradisi yang bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Berikut adalah masing-masing contoh penyelewengannya:

1. Penyelewengan Tauhid Rububiyah
Penyimpangan ini terjadi ketika seseorang menyangkal bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta, atau menyematkan kemampuan tersebut kepada selain-Nya. 
Ateisme: Menganggap alam semesta tercipta secara kebetulan atau ada dengan sendirinya tanpa adanya Pencipta.
Keyakinan pada Jimat/Benda Keramat: Percaya bahwa benda tertentu (seperti batu atau jimat) memiliki kekuatan otonom untuk mendatangkan rezeki, menyembuhkan penyakit, atau menolak bala secara mandiri tanpa izin Allah.
Ramalan Nasib: Percaya bahwa garis tangan, rasi bintang (zodiak), atau dukun dapat menentukan masa depan seseorang sepenuhnya.

2. Penyelewengan Tauhid Uluhiyah
Penyimpangan ini (sering disebut Syirik Akbar) terjadi ketika seseorang melakukan tindakan ibadah—yang seharusnya hanya untuk Allah—kepada selain-Nya. 
Berdoa kepada Orang Mati: Meminta hajat, keselamatan, atau kelancaran rezeki kepada penghuni kubur atau orang saleh yang telah wafat, alih-alih langsung berdoa kepada Allah.
Menyembelih untuk Selain Allah: Melakukan ritual kurban atau menyembelih hewan dengan tujuan mencari rida atau perlindungan dari jin, penguasa laut, atau leluhur.
Riya (Syirik Kecil): Beribadah (seperti salat atau bersedekah) dengan niat utama agar dipuji oleh manusia, bukan karena mengharap rida Allah.

3. Penyelewengan Tauhid Asma’ wa Shifat
Penyimpangan ini melibatkan kesalahan dalam memahami atau menetapkan nama dan sifat Allah. Tasybih/Tamtsil (Menyerupakan): Membayangkan atau menyamakan sifat Allah dengan sifat manusia, misalnya menganggap "Tangan Allah" sama persis bentuknya dengan tangan manusia.
Tahrif (Menyelewengkan): Mengubah makna asli sifat Allah tanpa dasar, misalnya mengubah makna sifat "Istiwa" (bersemayam di atas Arsy) menjadi "Istawla" (menguasai), yang justru menghilangkan makna aslinya.
Ta’thil (Meniadakan): Menolak atau menganggap Allah tidak memiliki sifat tertentu sama sekali, meskipun sifat tersebut tertulis jelas dalam Al-Qur'an.

Ingatlah bahwa menjaga kemurnian tauhid adalah prioritas utama setiap Muslim agar terhindar dari
perbuatan syirik yang dapat membatalkan amal ibadah.
___________________________________________

Syahadatain bukan hanya deklarasi teologis, tetapi:
  • Fondasi spiritual (hablum minallah)
  • Fondasi etika sosial (hablum minannas)
  • Fondasi tanggung jawab ekologis (hablum minal ‘alam)
Syahadatain membangun tiga poros sekaligus:
  • Vertikal → Tauhid dan ubudiyyah
  • Horizontal sosial → Akhlak dan keadilan
  • Horizontal ekologis → Amanah dan keberlanjutan
Jika salah satu rusak, maka kesempurnaan syahadat ikut terganggu.

----------------------------------------

Syahadatain menuntut:
  1. Pemurnian tauhid
  2. Ittiba‘ kepada Rasul
  3. Reformasi hati
  4. Perbaikan akhlak
  5. Integritas sosial
  6. Konsistensi moral
Ia bukan sekadar pintu masuk Islam, tetapi fondasi seluruh sistem kehidupan Muslim.

-------------------------
Para ulama salaf menegaskan:

Iman adalah:
قول باللسان
واعتقاد بالجنان
وعمل بالأركان


Ucapan, keyakinan, dan amal.

Jika hanya ucapan tanpa amal → itu klaim kosong.
Jika amal tanpa tauhid → tidak diterima.

-------------------------------

Syarat-syarat ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ )”Laa ilaha illallah”
Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan tujuh syarat. Tanpa syarat-syarat itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global tujuh syarat itu adalah:

1. ‘Ilmu, yang menafikan jahl (kebodohan).
2. Yaqin (yakin), yang menafikan syak (keraguan).
3. Qabul (menerima), yang menafikan radd (penolakan).
4. Inqiyad (patuh), yang menafikan tark (meninggalkan).
5. Ikhlash, yang menafikan syirik.
6. Shidq (jujur), yang menafikan kadzib (dusta).
7. Mahabbah (kecintaan), yang menafikan baghdha’ (kebencian).




Label