"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Dosa Memadamkan Cahaya Ilmu



Dosa Memadamkan Cahaya Ilmu

Imam Syafi'i ketika mengadu kepada gurunya Waki' bin al-Jarrah (Seorang imam besar dalam hadits dari Kufah, Guru dari banyak ulama, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal) Tentang lemahnya hafalan.

شَكَوْتُ إِلَىٰ وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي
فَأَرْشَدَنِي إِلَىٰ تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَقَالَ: اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ
وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ الْعَاصِي

"Aku mengadukan kepada Waki' akan buruknya hafalanku, 
maka ia membimbingku untuk meninggalkan dosa. 
Beliau berkata, "Ketahuilah! Sesungguhnya ilmu adalah karunia, sedang karunia Allah itu tidaklah diberikan kepada pelaku dosa".

Ungkapan ini juga sering dikaitkan dengan nasihat Imam Malik kepada Imam Syafi'i ketika beliau mengeluhkan hafalannya. Dalam riwayat lain yang lebih panjang disebutkan:

إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَىٰ عَلَىٰ قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ

“Aku melihat Allah telah meletakkan cahaya di hatimu, maka jangan engkau padamkan dengan gelapnya maksiat.”

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah meyebutkan dalam kitabnya (Ad-Dau Wad Dawa), di antara pengaruh buruk perbuatan dosa adalah terhalang dari ilmu.

الْعِلْمُ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذٰلِكَ النُّورَ

Ilmu adalah cahaya yang Allah pancarkan ke dalam hati, dan maksiat akan memadamkan cahaya tersebut.

Hakikat Ilmu: Bukan Sekadar Pengetahuan

Dalam pandangan ulama salaf, ilmu memiliki dua dimensi:

a. Ilmu sebagai informasi (ma‘lūmāt)

  • Bisa dipelajari siapa saja
  • Bersifat lahiriah

b. Ilmu sebagai cahaya (nūr)

  • Diberikan oleh Allah
  • Menghidupkan hati
  • Menggerakkan amal

Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah:

Ilmu yang bermanfaat adalah yang masuk ke dalam hati, lalu menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan mendorong kepada ketaatan.

Allah juga berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

➡️ Ini menunjukkan: ilmu sejati melahirkan خشية (rasa takut kepada Allah)


Maksiat: Pemadam Cahaya Ilmu

Maksiat bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi racun bagi hati.

Dan keadaan seorang dalam terhalang dari ilmu itu bermacam-macam. Adakalanya ia melupakan ilmu yang sudah dipelajari. Berkata Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْسَى الْعِلْمَ الَّذِي كَانَ يَعْلَمُهُ بِالْخَطِيئَةِ يَعْمَلُهَا

"Sungguh, seorang benar-benar melupakan ilmu yang sudah diketahuinya karena dosa yang dia lakukan". (Raudhatul Uqala)

Dampak maksiat terhadap ilmu:

a. Melemahkan hafalan

Karenanya, manakala kamu dapati dirimu kesusahan menghafal ilmu, maka perbanyaklah istighfar! Karena barangkali itu karena sebab dosa yang kamu perbuat. Dan meninggalkan dosa termasuk hal paling besar dalam membantu hafalan seorang, sebagaimana itu diungkapkan Imam Waki' ibnul Jarrah dalam syairnya Asy-Syafi'i di atas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

إِنَّ نِسْيَانَ الْقُرْآنِ مِنَ الذُّنُوبِ

"Sesungguhnya melupakan Al-Qur'an itu dari dosa" (Majmu' Fatāwa 13/423)

Ucapan beliau ini memiliki beberapa kemungkinan, di antaranya;

Bahwa orang yang lupa terhadap ayat Qur'an yang sudah dihafalnya itu karena sebab dosa yang dilakukan. Dan ini seperti yang sedang dibahas di sini, bahwa orang terhalang dari ilmu adakalanya dengan dilupakan dari ilmu yang sudah diketahuinya.

Kemungkinan kedua, bahwa orang yang sudah menghafal Al-Qur'an lalu dia lupa terhadap hafalannya maka itu termasuk dari perbuatan dosa. Namun ini kemungkinan yang lemah. Konsekuensi dari kemungkinan ini manusia tidak akan terlepas darinya. Karena lupa itu merupakan tabiat manusia.

Kemungkinan ketiga, lupa dari beramal dengan Al-Qur'an. Dan inilah yang benar. Seperti dalam firman-Nya,

قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ

"Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu melupakannya". Qs. Thaha: 126.

Allah berfirman,

وَمِنْهُم مَّن يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِن يَرَوْا۟ كُلَّ ءَايَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا۟ بِهَا

"Dan di antara mereka ada yang mendengarkan bacaanmu (hai rasul), dan Kami telah menjadikan hati mereka tertutup (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan telinganya tersumbat. Dan kalaupun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya". Qs. Al-An'am: 25.

b. Menghilangkan keberkahan ilmu

Ilmu tanpa keberkahan:

  • Tidak diamalkan
  • Tidak memberi pengaruh pada akhlak
  • Tidak membawa kepada kebaikan


c. Menutup hati dari kebenaran

Allah berfirman:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan hati mereka telah tertutup oleh apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)

➡️ Dosa menimbulkan ران (karat hati) yang menghalangi cahaya ilmu.


3. Bahaya Dosa terhadap Ibadah

a. Hilangnya kelezatan ibadah

  • Shalat terasa berat
  • Tilawah terasa hambar
  • Dzikir terasa kosong


b. Sulit istiqamah

Maksiat menciptakan siklus:

dosa → hati gelap → malas ibadah → dosa lagi


c. Terhalang dari amal shalih

Sebagian ulama mengatakan: “Salah satu hukuman dosa adalah terhalangnya seseorang dari kebaikan berikutnya.”


Karena itu, semestinya kita tidak hanya memohon tambahan ilmu, tapi juga memohon ilmu yang bermanfaat. Seperti dalam doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ;

اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ عِلمًا نافعًا ورزقًا طيِّبًا وعملًا متقبَّلًا

"Ya Allah, aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik, dan amalan yang diterima" HR. Ibnu Majah 762.


اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وارزقني عِلْمًا تنْفَعُنِي به

"Ya Allah, berilah aku manfaat pada ilmu yang Engkau ajarkan. Ajarilah aku ilmu yang bermanfaat bagiku. Dan berilah aku rezki berupa ilmu yang Engkau memberiku manfaat dengannya". HR. Al-Hakim, lihat Ash-Shahihah karya Al-Albani no. 1351.

Dan kita meminta perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Di antara doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah ﷺ adalah;

اللهمَّ إنِّي أعوذُ بك من قلْبٍ لا يخشعُ ، و من دعاءٍ لا يُسْمَعُ ، و من نفْسٍ لا تشبعُ ، و من علْمٍ لا ينفعُ


"Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari hati yang tidak khusyuk, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat". HR. Abu Dawud, no. 154


Label