"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Memakmurkan Masjid & Menghidupkan Dakwah

Memakmurkan Masjid, Menghidupkan Dakwah, dan Meneguhkan Peran Pengajian dalam Mewujudkan Masyarakat Islam

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan umat Islam, tempat bertemunya iman, ilmu, dan amal. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam memakmurkan masjid dan membangun masyarakat Islam.

Pengajian perdana dalam lingkungan Muhammadiyah bukan sekadar agenda seremonial, tetapi merupakan langkah awal dalam menghidupkan kembali fungsi masjid, meneguhkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan membentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.


1. Memakmurkan Masjid: Tanda Iman atau Buah Iman?

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah…” (QS. At-Taubah: 18)

Analisis Ayat

Ayat ini menunjukkan dua sisi yang saling melengkapi:

  • Memakmurkan masjid adalah tanda keimanan

  • Keimanan yang benar melahirkan semangat memakmurkan masjid

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah pembatasan (ḥaṣr), artinya tidaklah benar-benar memakmurkan masjid kecuali orang yang memiliki iman yang sahih.

Sementara itu, dalam hadits Nabi ﷺ:

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ

“Jika kalian melihat seseorang terbiasa ke masjid, maka persaksikanlah bahwa ia beriman.” (HR. Tirmidzi)

Kesimpulan

Hubungannya bersifat timbal balik:

  • Iman → mendorong memakmurkan masjid

  • Memakmurkan masjid → menguatkan iman

Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi pusat:

  • ibadah

  • pendidikan

  • pembinaan umat


2. Muhammadiyah: Gerakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan, Muhammadiyah hadir sebagai gerakan tajdid (pembaharuan) yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah.

Allah ﷻ berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran: 104)

Hakikat Dakwah Muhammadiyah

Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, tetapi:

  • gerakan dakwah

  • gerakan tajdid

  • gerakan sosial-keumatan

KH. Ahmad Dahlan menekankan bahwa Islam harus:

“hidup dan menghidupkan”

Artinya:

  • Islam tidak cukup dipahami, tetapi harus diamalkan

  • Dakwah tidak berhenti pada lisan, tetapi diwujudkan dalam amal nyata

Tokoh Muhammadiyah Buya Hamka menyatakan:

“Agama bukan hanya ibadah, tetapi juga pergerakan untuk memperbaiki kehidupan.”


3. Pengajian: Sarana Konkret Menuntut Ilmu

Pengajian adalah jantung dari pergerakan dakwah. Tanpa ilmu, amal menjadi lemah dan dakwah kehilangan arah.

Allah ﷻ berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah (berilmulah), bahwa tidak ada ilah selain Allah…”
(QS. Muhammad: 19)

Keutamaan Majelis Ilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

Dan juga:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ...

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah (masjid), membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya, kecuali turun ketenangan kepada mereka…” (HR. Muslim)

Fungsi Strategis Pengajian

Pengajian bukan hanya rutinitas, tetapi:

  • tazkiyatun nafs (penyucian jiwa)

  • ta’lim (transfer ilmu)

  • tathbiq (aplikasi dalam kehidupan)


4. Menuju Masyarakat Islam yang Sebenarnya

Muhammadiyah memiliki cita-cita besar:
“Terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.”

Ini bukan slogan, tetapi proyek peradaban yang dimulai dari:

  1. Individu beriman

  2. Masjid yang makmur

  3. Pengajian yang hidup

  4. Dakwah yang aktif

Imam Hasan Al-Bashri berkata:

“Ilmu itu bukan sekadar hafalan, tetapi yang melahirkan rasa takut kepada Allah.”

Artinya:

  • Pengajian harus melahirkan perubahan

  • Ilmu harus berbuah amal


Penutup: Seruan Aksi

Pengajian perdana ini harus menjadi titik awal:

  • menghidupkan masjid

  • menguatkan ukhuwah

  • meneguhkan dakwah

  • membangun masyarakat Islam

Mari kita renungkan:

  • Apakah kita sudah memakmurkan masjid?

  • Apakah kita sudah menjadi bagian dari dakwah?

  • Apakah kita istiqamah dalam pengajian?

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang disebut dalam firman-Nya:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ

“Di rumah-rumah (masjid) yang Allah izinkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya…” (QS. An-Nur: 36)


Doa Penutup

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عُمَّارِ مَسَاجِدِكَ، وَمِنَ الدُّعَاةِ إِلَى سَبِيلِكَ، وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ

“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang memakmurkan masjid-Mu, menyeru di jalan-Mu, dan termasuk ahli ilmu serta amal shalih.”



Label