"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Tasbih Menjadi Sebab Keselamatan

 


Tasbih Menjadi Sebab Keselamatan

Tadabbur Surat Aṣ-Ṣāffāt Ayat 143–144

Allah ﷻ berfirman: 

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ ۝ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Maka sekiranya dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih kepada Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari manusia dibangkitkan.” (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 143–144)

Ayat ini berbicara tentang Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika beliau berada dalam perut ikan. Dalam keadaan gelap, sempit, dan penuh kesedihan, Allah menyelamatkannya karena beliau termasuk al-musabbihīn — orang-orang yang banyak bertasbih.

Ayat ini mengandung pelajaran besar tentang kekuatan tasbih, kedudukannya dalam dzikir, dan pengaruhnya terhadap keselamatan hidup seorang mukmin.


Makna “Al-Musabbihīn”

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-musabbihīn adalah orang yang banyak berdzikir, shalat, dan memuji Allah sebelum datang musibah.

1. Tafsir Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan:

“Yakni Nabi Yunus dahulu termasuk orang yang banyak beribadah, taat, shalat, dan berdzikir kepada Allah.”

Beliau juga membawakan perkataan sebagian ulama:

“Amal shalih yang dilakukan sebelum musibah menjadi sebab keselamatan ketika musibah datang.”

Karena itulah Allah menolong Yunus.


2. Tafsir Ath-Ṭabari

Imam Ath-Ṭabari رحمه الله menyebut beberapa pendapat:

  • yang dimaksud adalah orang yang banyak shalat,
  • banyak mengucapkan tasbih,
  • dan banyak mengingat Allah sebelum ujian datang.

Lalu beliau memilih makna umum:

“Beliau termasuk orang yang selalu menyucikan Allah dan beribadah kepada-Nya.”


3. Tafsir Al-Qurṭubi

Imam Al-Qurṭubi رحمه الله menjelaskan:

“Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa amal ketaatan sebelumnya dapat memberi manfaat ketika seseorang tertimpa kesulitan.”

Beliau juga menukil perkataan:

“Barang siapa mengenal Allah di waktu lapang, Allah akan menolongnya di waktu sempit.”

Makna ini sangat dekat dengan hadits Nabi ﷺ: 

تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Allah mengenalmu di waktu sempit.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)


Tasbih Nabi Yunus

Dalam ayat lain Allah menyebut doa Nabi Yunus: 

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Tidak ada ilah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiyā’: 87)

Perhatikan bahwa inti doa tersebut diawali dengan: سُبْحَانَكَ, “Mahasuci Engkau” Ini adalah tasbih.

Nabi Yunus tidak sibuk menyalahkan keadaan. Tidak pula memprotes takdir. Beliau justru memulai dengan menyucikan Allah dari segala kekurangan.


Apakah Tasbih Lebih Utama dari Dzikir Lain?

Secara umum, seluruh dzikir memiliki keutamaan besar. Namun banyak hadits menunjukkan bahwa tasbih memiliki kedudukan sangat agung dan termasuk dzikir yang paling dicintai Allah.

1. Kalimat yang Paling Dicintai Allah

Rasulullah ﷺ bersabda: 

أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ

“Ucapan yang paling dicintai Allah ada empat: Subḥānallāh, Alḥamdulillāh, Lā ilāha illallāh, dan Allāhu Akbar.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini tasbih disebut pertama.


2. Dzikir yang Ringan Namun Berat di Timbangan

Rasulullah ﷺ bersabda:

 كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai Ar-Raḥmān: Subḥānallāhi wa biḥamdih, Subḥānallāhil ‘Aẓīm.” (HR. Bukhari dan Muslim)


3. Tasbih Menghapus Dosa

Rasulullah ﷺ bersabda: 

مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barang siapa membaca ‘Subḥānallāhi wa biḥamdih’ seratus kali dalam sehari, dihapus dosa-dosanya walaupun sebanyak buih lautan.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Mengapa Tasbih Sangat Agung?

Tasbih berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan. Ketika seorang hamba mengucapkan: سُبْحَانَ اللَّهِ maka ia sedang mengakui:

  • Allah Maha Sempurna,
  • keputusan Allah pasti hikmah,
  • Allah tidak zalim,
  • Allah Mahabijaksana,
  • dan semua kekurangan ada pada dirinya sendiri.

Karena itu tasbih sangat dekat dengan:

  • tawakal,
  • ridha,
  • ketundukan,
  • dan pengagungan kepada Allah.

Nabi Yunus selamat karena beliau kembali kepada pengagungan kepada Allah, bukan kepada emosinya.


Tasbih Lebih Utama dari Dzikir?

Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan dzikir berbeda sesuai kondisi.

Penjelasan Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa:

  • Lā ilāha illallāh adalah dzikir paling utama secara mutlak karena mengandung tauhid.

  • Sedangkan tasbih adalah bentuk penyucian dan pengagungan kepada Allah yang sangat agung kedudukannya.

Maka tidak tepat mempertentangkan seluruh dzikir secara mutlak. Semua memiliki maqam dan keutamaannya masing-masing.

Namun dalam konteks:

  • mengagungkan Allah,
  • menenangkan hati,
  • menghapus dosa,
  • dan menjadi sebab pertolongan,

tasbih memiliki kedudukan luar biasa sebagaimana kisah Nabi Yunus.


Pelajaran Penting dari Ayat Ini

1. Biasakan Dzikir Sebelum Musibah Datang

Nabi Yunus diselamatkan bukan hanya karena doa di dalam ikan, tetapi karena beliau telah menjadi ahli tasbih sebelumnya. Amal lama yang ikhlas bisa menjadi penyelamat di masa sulit.


2. Orang yang Dekat dengan Dzikir Lebih Mudah Ditolong Allah

Hati yang terbiasa mengingat Allah tidak mudah hancur ketika ujian datang.


3. Tasbih Menumbuhkan Husnuzan kepada Allah

Tasbih melatih hati untuk meyakini:

  • Allah tidak salah menetapkan takdir,
  • Allah Maha Suci dari kezaliman,
  • dan pasti ada hikmah di balik ujian.


4. Jangan Menunggu Sempit Baru Berdzikir

Sebagian orang baru mengingat Allah ketika tenggelam dalam masalah. Padahal Nabi Yunus diselamatkan karena beliau sudah menjadi ahli tasbih sebelum musibah datang.


Penutup

Surat Aṣ-Ṣāffāt ayat 143–144 mengajarkan bahwa tasbih bukan sekadar ucapan ringan di lisan. Ia adalah ibadah yang:

  • menyelamatkan,
  • menenangkan,
  • menghapus dosa,
  • mengangkat derajat,
  • dan menjadi sebab pertolongan Allah.

Nabi Yunus tidak selamat karena kekuatan dirinya, tetapi karena hubungan lamanya dengan dzikir dan tasbih.

Maka perbanyaklah: 

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ, سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Boleh jadi kalimat yang ringan itu menjadi sebab Allah menyelamatkan kita dari kesempitan dunia dan akhirat.

Label