"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Nasehat salaf di Akhir Ramadhan



Nasehat salaf di  Akhir Ramadhan


Diriwayatkan dari ‘Ali Radhiyallâhu anhu bahwa di malam akhir bulan Ramadhan, beliau berseru :

يا ليت شعري من هذا المقبول فنهنيه ومن هذا المحروم فنعزيه

“Aduhai sekiranya kutahu siapa gerangan yang diterima amalnya sehingga kudapat mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa gerangan yang tertolak amalnya sehingga kudapat berbela sungkawa kepadanya.” [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 210]

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ûd Radhiyallâhu anhu, bahwa beliau pernah keluar di penghujung malam terakhir bulan Ramadhan, lalu berseru :

مَنْ هَذَا الْمَقْبُولُ اللَّيْلَةَ فَنُهَنِّيهِ، وَمَنْ هَذَا الْمَحْرُومُ الْمَرْدُودُ اللَّيْلَةَ فَنُعَزِّيهِ، أَيُّهَا الْمَقْبُولُ هَنِيئًا، وَأَيُّهَا الْمَرْحُومُ الْمَرْدُودُ جَبَرَ اللَّهُ مُصِيبَتَكَ

“Barangsiapa yang diterima amalnya di malam ini, maka kuucapkan selamat padanya. Dan barangsiapa yang tertolak amalnya di malam ini, maka aku berbelasungkawa kepadanya. Wahai orang-orang yang diterima amalnya, selamat! Wahai orang-orang yang tertolak amalnya, semoga Allah mengasihimu di dalam musibahmu.” [Mukhtashor Qiyâmul Layl karya al-Marrûzi hal. 213]

Al-Hasan al-Bashri rahimahullâhu berkata :

إن الله جعل شهر رمضان مضمارا لخلقه، يستبقون فيه بطاعته إلى مرضاته، فسبق قوم ففازوا، وتخلف آخرون فخابوا، فالعجب من اللاعب الضاحك، في اليوم الذي يفوز فيه المحسنون ويخسر فيه المبطلون

“Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan itu seperti arena pacu bagi hamba-hamba-Nya. Mereka berlomba di dalamnya dengan melaksanakan amal ketaatan untuk meraih ridha Allah. Ada suatu kaum yang berlomba dan menang, ada pula yang tertinggal sehingga mereka kalah. Alangkah anehnya masih saja ada yang bermain-main dan tertawa-tawa, padahal mereka berada di hari yang mana orang-orang yang berbuat ihsan mendapatkan kemenangan dan orang-orang yang berbuat kebatilan mengalami kekalahan.” [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 210]

Diriwayatkan dari Mifdhal bin Lâhiq Abî Bisyr beliau mengatakan : saya mendengar ‘Adî bin Arthah berkhutbah setelah Ramadhan berlalu mengucapkan :

سمعت عدي بن أرطاة, يخطب بعد انقضاء شهر رمضان فيقول: كأن كبدًا لم تظمأ، وكأن عينًا لم تسهر، فقد ذهب الظمأ وأبقى الأجر، فيا ليت شعري! من المقبول منا فنهنئه؟! ومن المردود منا فنعزيه؟! فأما أنت أيها المقبول, فهنيئًا هنيئًا، وأما أنت أيها المردود, فجبر الله مصيبتك

“Layaknya hati yang tak merasa dahaga dan mata yang tak terjaga, maka sesungguhnya dahaga pun telah lenyap yang tersisa hanyalah balasan pahala. Duhai, siapa gerangan diantara kita termasuk yang diterima amalnya, maka kuucapkan selamat padanya!? Dan siapa yang tertolak amalnya maka kuucapkan bela sungkawa padanya!? Adapun anda wahai orang yang diterima amalnya, maka selamat dan selamat bagi anda! Adapun anda wahai orang yang tertolak amalnya, semoga Allah mengasihi atas musibahmu!” Beliaupun lalu menangis dan menangis setelahnya. [Ash-Shiyâm karya al-Firyâbî hal. 95]

Pernah ada yang berkata kepada Bisyr al-Hâfî rahimahullâhu [salah satu sahabat dan murid Fudhail bin Iyadh] :

أن قومًا يتعبدون في رمضان ويجتهدون في الأعمال، فإذا انسلخ تركوا!

Ada sebuah kaum yang beribadah dan bersungguh-sungguh beramal shalih di bulan Ramadhan, namun saat Ramadhan berlalu, mereka tinggalkan ini semua! [yaitu tidak lagi bersungguh-sungguh dalam beribadah].

Maka, Bisyr al-Hâfî pun menimpali :

بئس القوم قوم لا يعرفون الله إلا في رمضان

Mereka adalah seburuk-buruk kaum! Mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan saja! [Miftâhul Afkâr lit Ta-ahhubi li Dâril Qorôr II/283]

Diriwayatkan dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallâhu anhu, bahwa beliau berkata :

مَن صامَ رمضانَ وهو يُحدِّثُ نفسَهُ أنَّه إن أفطر رمضانَ أن لا يعصِي اللَّهَ، دخلَ الجنةَ بغيرِ مسألةٍ ولا حساب، ومَن صامَ رمضانَ وهو يحدِّثُ نفسَه أنَّه إذا أفطر عصَى ربَّه، فصيامُه عليه مردودٌ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu terbetik di dalam hatinya apabila Ramadhan telah berlalu maka ia tidak akan memaksiati Allah, maka ia akan masuk surga tanpa perlu meminta dan hisab. Namun barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu ia berniat di dalam hatinya apabila Ramadhan berlalu, maka ia akan memaksiati Rabb-nya, maka puasanya tertolak. [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 136-137]

Ada sebagian salaf yang mengatakan :

أدركت أقواماً لا يزيد دخول رمضان من أعمالهم شيئاً، ولا ينقص خروجه من أعمالهم شيئاً

“Saya pernah menjumpai ada sebuah kaum yang saat masuk bulan Ramadhan, tidak bertambah amalan mereka sedikitpun. Di sisi lain ada pula kaum yang saat Ramadhan berlalu, tidak berkurang amalan mereka sedikitpun.” [Muwâsholah al-‘Amal ash-Shôlih Ba’da Ramadhânkarya Syaikh Shâlih al-Fauzân]

Wahb bin al-Ward pernah melihat suatu kaum yang tertawa-tawa di hari Iedul Fithri, lalu beliau berkata :

إن كان هؤلاء تقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الشاكرين وإن كان لم يتقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الخائفين

“Apabila mereka termasuk orang yang diterima amalan puasa mereka, maka ini bukanlah termasuk perbuatan orang-orang yang bersyukur. Namun apabila mereka termasuk orang yang tidak diterima amalan puasanya, maka ini bukanlah termasuk perbuatan orang-orang yang takut kepada Allah.” [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 209]

Qotâdah pernah berkata :

من لم يُغفر له في رمضان فلن يغفر له فيما سواه

“Barangsiapa yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka (besar kemungkinan) ia takkan diampuni di selain bulan Ramadhan.” [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 211]

You Might Like :

Arsip Blog

Label