"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Sempurnakanlah puasa itu sampai malam



Sempurnakanlah puasa itu sampai malam

Firman Allah dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 187:
ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”

1. Makna “أَتِمُّوا” – Sempurnakan, Bukan Sekadar Tahan
Allah tidak berfirman “صوموا” (berpuasalah), tetapi “أتموا” — sempurnakanlah. Secara bahasa, itmam berarti menyempurnakan sesuatu hingga mencapai batas yang ditetapkan tanpa cacat dan tanpa kurang. Artinya: Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Tetapi menyempurnakan diri: lisan, pandangan, hati, dan niat. Puasa adalah proses tazkiyah (penyucian jiwa).
Puasa yang disempurnakan akan melahirkan kekuatan ruhani. Dan kekuatan ruhani itu mencari jalannya di malam hari.

2. “إِلَى اللَّيْلِ” – Mengapa Sampai Malam?

Secara fiqih, ini batas waktu berbuka: terbenamnya matahari. Namun secara tarbiyah ruhiyah, ada isyarat yang lebih dalam. Allah menyebut “sampai malam”, seolah-olah malam adalah tujuan.
Siang hari kita:
Menahan diri.
Melawan syahwat.
Mengendalikan nafsu.

Lalu ketika malam tiba, energi ruhani itu harus diarahkan ke mana? Jika siangnya kita kosongkan dari maksiat, maka malamnya harus kita isi dengan ketaatan. Puasa yang sempurna di siang hari adalah persiapan untuk bangkit di malam hari.

3. Puasa dan Qiyam: Dua Ibadah yang Saling Menguatkan
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
«الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ»

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: ‘Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat di siang hari, maka izinkan aku memberi syafa’at untuknya.’ Dan Al-Qur’an berkata: ‘Aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafa’at untuknya.’ Maka keduanya pun diberi izin untuk memberi syafa’at.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Hakim.
Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib.

Dalam hadits disebutkan bahwa puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat di hari kiamat. Puasa berkata:
“Ya Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari.”
Sedangkan Al-Qur’an berkata:
“Aku telah menahannya dari tidur di malam hari.”

Perhatikan korelasinya:
Siang: puasa.
Malam: qiyam dan Al-Qur’an.
Puasa tanpa qiyam seperti ladang tanpa panen.
Qiyam tanpa puasa seperti bangunan tanpa fondasi.
________________________________
1.Shalat Malam adalah Ibadah Orang Terpilih
Allah memuji ahli qiyam dalam Al-Qur'an:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (Adz-Dzariyat: 17)

2. Melawan Malas adalah Bentuk Jihad

Nabi ﷺ bersabda:
«الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ»
“Orang yang berjihad adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Ahmad)

3. Keutamaan Khusus Qiyam Ramadhan
Dalam hadits shahih riwayat Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj, Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Barang siapa menegakkan (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

4. Nilai Pahala Berbanding dengan Kesulitan
Kaedah syar’iyyah:

الأَجْرُ عَلَىٰ قَدْرِ الْمَشَقَّةِ

“Pahala sesuai kadar kesulitan.”

Tarawih yang lama:
Kaki pegal.
Punggung lelah.
Kantuk menyerang.
Tetapi justru di situ letak nilai pengorbanan.

Kalau shalat itu selalu ringan, semua orang akan rajin.
Yang membedakan derajat adalah siapa yang tetap berdiri saat terasa berat.
______________________________________

4. Hikmah Psikologis: Orang yang Berpuasa Lebih Mudah Bangun Malam Mengapa?
  • Nafsu melemah.
  • Hati lebih lembut.
  • Dosa lebih sedikit.
  • Kesadaran akhirat lebih kuat.
Secara ruhani, puasa membuat hati “ringan”. Dan hati yang ringan tidak betah dalam kelalaian. Jika seseorang setelah seharian berpuasa justru habiskan malam dalam kelalaian, berarti puasanya belum mencapai derajat “أتموا”.

5. Pesan Praktis untuk Jamaah
Jika hari ini kita mampu menahan lapar 14 jam, apakah kita tidak mampu berdiri 10 menit di hadapan Allah?
Jika kita mampu meninggalkan yang halal karena Allah, apakah kita tidak mampu meninggalkan kasur demi Allah?
Siang hari adalah ujian kesabaran. Malam hari adalah waktu kedekatan. Jangan biarkan puasa kita berhenti di adzan Maghrib. Sempurnakan sampai malam — dan hidupkan malam itu dengan shalat.

6. Penutup yang Menggetarkan
Allah memanggil kita dalam ayat ini dengan perintah penyempurnaan. Sempurna itu artinya: 
Siangnya puasa.
Lisannya dzikir.
Hatinya bersih.
Malamnya qiyam.
Puasa adalah perjalanan.
Maghrib bukan akhir perjalanan.
Maghrib adalah gerbang menuju malam penuh cahaya.

Semoga kita termasuk orang yang:
  • Menyempurnakan puasanya.
  • Menghidupkan malamnya.
  • Dan kelak diseru masuk melalui pintu Ar-Rayyan.





Label