Merahasiahkan Amal
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dan jin, serta mengutus para nabi dan para rasul untuk mewujudkan Ubudiyah atau penghambaan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat[51]: 56)
Barang siapa yang beribadah, bermunajat, taat, serta bergantung hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia akan menggapai kebahagiaan, ketenangan, dan kelezatan hidup yang dicari oleh banyak orang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menyatakan bahwa sesungguhnya di dunia ini ada sebuah surga, barang siapa yang tidak memasukinya, dia tidak akan memasuki surga akhirat. Surga dunia tersebut adalah ketika seseorang merasakan ketenangan dalam keimanan, ketaatan, dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ibrahim bin Adham, seorang imam yang zuhud dan saleh, juga pernah mengatakan bahwa andai para raja dan putra mahkota mengetahui ketenangan serta kelezatan yang ada di dalam hati ini, niscaya mereka akan merampasnya dengan pedang-pedang mereka.
Penyebab para ulama terdahulu atau para salaf saleh dapat merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan kelezatan iman di dalam hati mereka terletak pada kualitas ibadah yang mereka lakukan. Fenomena saat ini menunjukkan adanya perbedaan rasa di dalam hati, padahal jenis ibadah yang dilakukan sama. Mereka mendirikan shalat, generasi sekarang juga mendirikan shalat; mereka berpuasa, generasi sekarang juga berpuasa; mereka membaca Al-Qur’an, generasi sekarang juga membaca Al-Qur’an. Landasan utama yang membuat mereka mampu merasakan manisnya ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang jarang dirasakan saat ini adalah ibadah sir, yaitu kesendirian dalam ibadah atau merahasiakan amalan antara diri sendiri dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Zubair bin Awwam, seorang sahabat mulia yang merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, pernah berwasiat tentang pentingnya memiliki amalan rahasia:
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ خَبْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ
“Barang siapa di antara kalian yang mampu memiliki amalan saleh yang tersembunyi, hendaknya ia melakukannya.”
Al-Huraibi juga menyebutkan tentang tradisi para ulama terdahulu yang saling menganjurkan agar seseorang memiliki amalan rahasia dan tersembunyi, yang tidak diketahui oleh istri, anak, maupun orang lain.
Mengapa amal yang dirahasiakan begitu utama?
Pertama, lebih menjaga keikhlasan.
Setan selalu berusaha merusak amal manusia dengan riya'. Ketika seseorang beramal tanpa diketahui orang lain, peluang munculnya riya' menjadi lebih kecil.
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
"Amal yang tersembunyi lebih dekat kepada keselamatan dari riya' dan lebih menjaga keikhlasan."
Kedua, menumbuhkan rasa takut dan menjadi bukti kuatnya hubungan seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla
karena seseorang benar-benar merasa diawasi dan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena diawasi oleh manusia..
Orang yang tetap rajin shalat malam, membaca Al-Qur'an, berzikir, atau bersedekah meskipun tidak ada yang melihat, menunjukkan bahwa tujuan ibadahnya hanyalah Allah.
Allah berfirman:
الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ
"Orang-orang yang takut kepada Rabb mereka meskipun tidak terlihat oleh manusia..." (QS. Al-Anbiya': 49)
Ketiga, lebih dicintai Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ
"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tidak suka menonjolkan dirinya." (HR. Muslim)
Yang dimaksud الْخَفِيُّ ialah orang yang tidak mengejar popularitas dan tidak senang dikenal karena amalnya.
Tidak semua amal harus disembunyikan.
Ada kalanya amal boleh ditampakkan apabila bertujuan memberi teladan dan tidak dikhawatirkan menimbulkan riya'.
Allah sendiri berfirman:
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ
"Jika kalian menampakkan sedekah maka itu baik."
Artinya, menampakkan amal dibolehkan selama niatnya benar. Akan tetapi, menyembunyikannya lebih utama apabila lebih menjaga keikhlasan.
Karena itu marilah kita memiliki amal-amal rahasia yang tidak diketahui siapa pun selain Allah.
Misalnya:
- shalat malam ketika keluarga sedang tidur,
- sedekah kepada fakir miskin tanpa diketahui orang lain,
- membaca Al-Qur'an setiap hari tanpa diumumkan,
- doa dan istighfar di waktu sahur,
- membantu orang lain tanpa mengharapkan pujian.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas.
Meniru dan meneladani kehidupan para salaf saleh dalam menjaga amalan rahasia merupakan jalan utama untuk meraih kemanisan iman yang sesungguhnya. Upaya menyembunyikan dan merahasiakan amal saleh dapat diwujudkan melalui beberapa bentuk ibadah.
1. Amalan Hati
Contoh yang pertama adalah amalan-amalan hati. Amalan hati berupa keimanan, ketakwaan, rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, rasa cinta, tawakal, serta amalan hati lainnya. Rasa takut dan cinta yang tersembunyi di dalam dada manusia merupakan penggerak utama seluruh anggota badan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah bahwa pada dalam jasad manusia ada sekerat daging. Jika ia baik, yang lainnya akan menjadi baik. Apabila ia rusak, yang lainnya pun akan rusak. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari)
2. Shalat Malam
أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalatlah di waktu malam ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan kedamaian.” (HR. Tirmidzi)
3. Sedekah secara Tersembunyi
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
“Seorang yang bersedekah dengan rahasia sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari)
السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin, pahalanya seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari)
4. Menangis karena Takut kepada Allah
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Seorang yang mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala saat sunyi sendirian, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Bukhari)
عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang menangis karena rasa takut kepada Allah dan mata yang terjaga dalam jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Allah pasti akan menguji kamu dengan sesuatu dari hewan buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu, agar Allah mengetahui siapa yang takut kepada-Nya dalam keadaaan gaib (tidak terlihat oleh orang lain).” (QS. Al-Ma’idah[5]: 94)
Melalui ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para sahabat yang sedang berihram dengan hewan buruan yang diharamkan, namun hewan-hewan itu justru dimudahkan untuk ditangkap dengan tangan dan senjata mereka. Tujuan ujian ini adalah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui siapa yang benar-benar takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saat sendirian.
Para ulama juga sepakat bahwa dosa-dosa yang dilakukan saat sendirian merupakan sumber petaka penyimpangan seorang hamba. Banyak orang yang awalnya saleh justru menyimpang dikarenakan dosa-dosa yang dilakukan ketika sedang sendirian.
Bahkan, Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali menyebutkan bahwa salah satu faktor utama penyebab suul khatimah adalah dosa-dosa yang dilakukan saat seorang hamba sedang sendirian.
Pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus senantiasa ditanamkan di dalam dada dengan memelihara rasa takut (khasyah) dan rasa malu (al-haya‘) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dimanapun dan kapanpun berada. Seorang muslim harus selalu memiliki senjata yang mulia berupa muraqabah, yaitu perasaan selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Senjata ini sangat penting, terutama di zaman yang penuh dengan fitnah ini, agar selamat dari dosa dan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan anugerah yang hanya bisa diberikan oleh-Nya. Oleh sebab itu, hamba harus memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Doa Penutup dan Permohonan Perlindungan dari Fitnah
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنِ مَعَاصِيكَ
“Ya Allah, anugerahkanlah bagi kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan maksiat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu saat aku sendirian maupun di tengah keramaian.” (HR. An-Nasa’i)
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf[7]: 23)
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan[25]: 74)
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah[2]: 201)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka.” (HR. Abu Dawud)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
“Ya Allah, berilah ketakwaan pada jiwaku dan sucikanlah ia karena Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkaulah yang menguasai serta yang memimpinnya.” (HR. Muslim)
اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, tunjukilah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang dapat menunjukkannya kecuali Engkau. Dan palingkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat memalingkannya kecuali Engkau.” (HR. Muslim)
