Waktu Mustajab di Hari Jumat
Hari ini kita sedang berada di hari Jumat. Banyak orang ketika berada di hari Jumat sekedar melewatinya sebagai rutinitas mingguan: Berpakaian rapi, memakai parfum, berangkat ke masjid untuk shalat Jumat, lalu kembali bekerja. Walaupun ini adalah aktivitas yang sangat baik.
Akan tetapi, sering kali kita tidak memaksimalkan salah satu di antara keistimewaan hari Jumat. Apa itu?
Yaitu bahwasanya setiap doa-doa kita menjadi mustajab di sisi Allah subhanahu wata’ala.
Karena hari Jumat adalah waktu di mana pintu langit itu terbuka dan permintaan akan Allah kabulkan.
Karena pada hari yang agung ini, ada saat di mana doa-doa diangkat, harapan dikabulkan, dan tangan yang menadah kepada-Nya tidak akan dibiarkan kembali dengan kosong.
Sesungguhnya hari Jumat itu bukan hanya hari raya pekanan bagi umat Islam, juga bukan hanya hari di mana sedekah kita pahalanya dilipatgandakan, melainkan juga sebuah golden time atau waktu emas kita untuk menjemput takdir baru melalui doa-doa yang kita langitkan.
Hari Jumat itu selalu memberikan kesempatan kepada kita bahwa doa kita menjadi mustajab di sisi Allah.
Saat Pintu Langit Benar-Benar Terbuka di Hari Jumat
Hari Jumat adalah hari yang paling agung dan paling dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala.
Lantas pernahkah kita terpikir, mengapa Allah sangat memuliakan hari Jumat di antara enam hari lainnya sampai Jumat disebut sebagai sayyidul ayyam (tuannya seluruh hari)?
Apa yang membuat hari Jumat lebih istimewa di sisi Allah daripada hari-hari lainnya dalam sepekan?
Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan menyingkap, salah satu rahasia hari Jumat lebih utama adalah, adanya waktu istimewa di mana Allah menjamin setiap doa-doa kita akan dikabulkan dan itu terjadi di hari Jumat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Muslim No. 852,
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً. لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ. وَقَالَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا، يُزَهِّدُهَا.
“Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat satu waktu, tidaklah seorang mukmin mendapati saat itu dengan berdoa, memohon kebaikan kepada Allah, kecuali Allah akan memberi apa yang ia pinta.”
Lalu Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan dengan tangan beliau bahwa waktu itu sangatlah sedikit. (HR. Muslim no. 852).
Inilah mengapa seorang salafus shalih pernah mengatakan betapa luasnya kemurahan Allah sehingga ia merasa pemberian Allah jauh melebihi apa yang ia rasa pantas untuk ia terima atas doa permohonannya di hari Jumat,
مَا دَعَوْتُ اللهَ بِدَعْوَةٍ بَيْنَ الْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إِلَّا اِسْتَجَابَ لِي رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ!
“Tidaklah aku memanjatkan satu doa pun di antara waktu Ashar hingga Magrib pada hari Jumat, melainkan Allah pasti mengabulkannya, sampai-sampai aku merasa malu (untuk terus meminta karena begitu seringnya dikabulkan)!”
Ibnu Asakir mengisahkan sebuah true story dalam kitabnya Tarikh Dimasyqa, jilid 64, hlm. 140, tentang kekuatan iman dan keajaiban doa di hari Jumat,
“Suatu hari ash-Shalt bin Bastham diuji dengan kebutaan pada kedua matanya. Maka di suatu hari Jumat, para sahabatnya duduk berkumpul setelah waktu Ashar untuk mendoakannya. Tepat sesaat sebelum matahari terbenam, tiba-tiba ash-Shalt bin Bastham bersin dengan keras, dan seketika itu pula penglihatannya kembali.”
Waktu Spesifik Mustajabah Doa di Hari Jumat
Allah azza wa jalla tidak hanya menjadikan hari Jumat ini mulia karena shalatnya, tetapi Allah menitipkan sebuah “harta karun” berupa sa’atul ijabah, yaitu satu waktu singkat di mana doa tidak akan tertolak.
Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa kesempatan begitu berharga tersebut tidak berlangsung lama.
Sesuatu yang langka dan singkat biasanya memang memiliki nilai (value) yang jauh lebih tinggi daripada sesuatu yang tersedia sepanjang waktu.
Karena itulah para ulama lalu menjelaskan bahwa pengabulan doa ada di dua sela-sela waktu pada hari Jumat.
Pertama: Saat Imam Duduk di Atas Mimbar Hingga Selesai Shalat Jumat
Waktu mustajabah pertama adalah saat imam duduk di atas mimbar hingga selesai shalat Jumat.
Imam Muslim meriwayatkan dalam shahih-nya, hadits no. 853, bahwa sahabat Abdullah bin Umar bertanya kepada Abu Burdah. Ia menanyakan apakah ayahnya, yaitu Abu Musa al-As’ari, pernah mendengar Rasulullah menjelaskan kapan tepatnya waktu mustajabahnya doa di hari Jumat.
Maka Abu Burdah menjawab, “Aku mendengar ayahku meriwayatkan sabda Rasulullah,
هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ
“Waktu istimewa itu adalah saat duduknya imam (khatib di atas mimbar) sampai berakhirnya shalat Jumat.”
Inilah saat ketika kita hanya punya waktu sekian menit untuk bicara dengan penguasa alam semesta. Apa satu hal paling jujur yang ingin kita panjatkan dan inginkan.
Kedua: Waktu Setelah Shalat Ashar Hingga Menjelang Magrib
Waktu mustajabah kedua adalah setelah shalat Ashar hingga menjelang Magrib.
Dalam sebuah dialog indah yang lainnya, sahabat Abdullah bin Salam, seorang mantan pendeta Yahudi yang masuk Islam, bertanya kepada Rasulullah tentang waktu di mana Allah mengabulkan untaian doa para hamba-Nya.
Rasulullah lalu memberikan isyarat dengan tangannya bahwa waktu itu hanya sebentar saja.
Sahabat Abdullah bin Salam bertanya, “Waktu yang manakah itu?” Nabi menjawab,
هِيَ آخِرُ سَاعَاتِ النَّهَارِ
“Waktu tertentu itu adalah di akhir waktu siang (sebelum matahari terbenam).” (HR. Ibnu Majah no. 1139; HR. Ahmad no. 23781. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani)
Hadirin, jangan biarkan Jumat ini berlalu seperti Jumat-Jumat sebelumnya. Luangkan waktu di antara dua khutbah dan jangan terburu-buru beranjak sebelum matahari terbenam sore nanti. Karena di situlah letak antara doa dan gerbang rahmat Allah.
Empat Cara Allah Menjawab Doa Kita di Hari Jumat
Kita telah mendengar betapa dahsyatnya kekuatan doa di dua waktu pada hari Jumat, sebuah waktu di mana sekat antara hamba dan Sang Khalik seolah luruh, dan setiap pinta itu benar-benar dikabulkan.
Jadikanlah waktu saat khatib duduk di mimbar hingga shalat Jumat usai dan waktu antara Ashar dan Magrib, sebagai tempat mengadu terbaik kita dengan Allah atas segala kerumitan hidup yang kita hadapi.
Karena pada saat itulah Allah pasti akan menjawab seruan hamba-Nya dengan empat cara:
Cara pertama: Allah akan memberikan persis sesuai apa yang ia pinta.
Cara kedua: Allah tidak memberikan sesuai keinginannya, tetapi justru memberikan yang jauh lebih baik dari apa yang ia minta.
Cara ketiga: Allah tidak mengabulkannya, tetapi sebagai gantinya Allah hindarkan ia dari malapetaka yang akan membahayakannya.
Cara keempat: Allah menyimpannya sebagai syafaat yang menolongnya kelak di hari Kiamat.
Dari Abu Sa'id al-Khudri, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا.
"Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara:
- Allah segera mengabulkan doanya.
- Allah menyimpannya sebagai pahala untuk akhirat.
- Allah menghindarkan darinya keburukan yang sebanding dengannya."
Maka di samping kita mengisi hari Jumat ini dengan amalan-amalan mulia seperti membaca Surah al-Kahfi dan bershalawat kepada Rasulullah, perbanyaklah pula lisan kita untuk memohon kepada Allah, memohon ampunan, rahmat, dan segala kebaikan dunia serta akhirat terkhusus di dua momentum emas doa di hari Jumat.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
