"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

“AIR: NIKMAT YANG SERING KITA LUPAKAN”

KHUTBAH JUMAT




“AIR: NIKMAT YANG SERING KITA LUPAKAN”

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا، وَجَعَلَ الْمَاءَ أَصْلًا لِلْحَيَاةِ، وَبِهِ أَحْيَا الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَىٰ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنْ جَمِيعِ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Di antara wujud ketakwaan yang sering terlupakan ialah menyadari besarnya nikmat Allah, mensyukurinya, dan tidak menyia-nyiakannya. Hari ini marilah kita merenungkan satu nikmat yang sangat dekat dengan kehidupan kita, hadir setiap hari, tetapi sering tidak mendapatkan perhatian yang semestinya: nikmat air.

1. Nikmat yang Terlalu Biasa untuk Kita Syukuri

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi jika selama tiga hari air tidak mengalir ke rumah kita? Kita tidak bisa minum, memasak, mandi, mencuci, membersihkan rumah, bahkan kesulitan berwudhu. Rumah sakit, pertanian, industri, dan berbagai kegiatan manusia akan terganggu. Kehidupan yang biasanya terasa mudah tiba-tiba menjadi sangat berat.

Namun, selama air masih mengalir, kita jarang memikirkannya. Kita lebih mudah menyadari nikmat uang ketika mendapat penghasilan, nikmat kendaraan ketika membelinya, dan nikmat kesehatan ketika sembuh dari sakit. Akan tetapi, berapa kali kita benar-benar merenungkan air yang kita minum setiap hari?

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ ۝ أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ ۝ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ

“Maka pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, maka mengapa kamu tidak bersyukur?” (QS. al-Wāqi‘ah: 68–70).

Perhatikan bagaimana Allah mengajak kita berpikir. Allah tidak hanya menyuruh kita bersyukur secara umum, tetapi secara khusus mengajak kita memperhatikan air yang kita minum. Seolah-olah Allah mengingatkan: Wahai manusia, berhentilah sejenak. Perhatikan apa yang setiap hari masuk ke dalam tubuhmu. Siapakah yang menyediakan semua ini untukmu?

Sering kali bukan karena nikmat itu kecil kita tidak mensyukurinya, melainkan karena nikmat itu terlalu sering kita rasakan sehingga kita lupa betapa berharganya ia.

2. Air Bukan Sekadar Kebutuhan, tetapi Tanda Kekuasaan Allah

Jamaah yang dirahmati Allah, air bukan hanya salah satu kebutuhan manusia. Air merupakan bagian mendasar dari kehidupan makhluk di bumi. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. al-Anbiyā’: 30).

Renungkanlah, manusia membutuhkan air, hewan membutuhkan air, tumbuh-tumbuhan membutuhkan air, dan pertanian yang menyediakan makanan bagi manusia pun bergantung pada air. Air hujan yang membasahi tanah dapat menghidupkan kembali lahan yang sebelumnya kering. Dari tanah yang semula tandus, Allah menumbuhkan tanaman yang menjadi sumber makanan dan penghidupan.

Karena itu, ketika kita memandang hujan, sungai, mata air, atau segelas air di hadapan kita, jangan hanya melihat benda yang bermanfaat. Lihatlah tanda kekuasaan Allah di dalamnya. Air mengajarkan kita bahwa kehidupan ini bukan berdiri sendiri, melainkan bergantung kepada Allah yang menciptakan, mengatur, dan memeliharanya.

3. Air Adalah Pemberian Allah, Bukan Hasil Ciptaan Manusia

Jamaah rahimakumullah, manusia telah menghasilkan berbagai teknologi untuk memperoleh air. Kita membuat sumur, memasang pompa, membangun bendungan, mengolah air laut, dan memasang jaringan perpipaan. Semua itu merupakan ikhtiar yang patut dihargai. Akan tetapi, manusia hanya mengelola dan memanfaatkan air; manusia bukan pencipta air.

Allah berfirman:

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk melenyapkannya.” (QS. al-Mu’minūn: 18).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa turunnya hujan, tersimpannya air di bumi, dan tersedianya sumber air bukanlah sesuatu yang berada sepenuhnya dalam kendali manusia. Allah-lah yang mengatur semuanya dengan hikmah-Nya.

Kita bisa membayar listrik untuk memompa air, membeli galon untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan membangun pipa untuk mengalirkannya. Namun, kita tidak membayar Allah untuk menciptakan air, sebagaimana kita tidak mampu memerintahkan hujan turun sesuka hati kita. Harga yang kita bayarkan hanyalah biaya untuk memperoleh dan mengolah air, bukan harga atas seluruh nikmat penciptaan yang Allah anugerahkan.

Maka jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita lupa kepada Sang Pemberi nikmat.

4. Jika Air Hilang, Siapakah yang Mampu Mendatangkannya?

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara ayat yang paling menggugah kesadaran tentang nikmat air adalah firman Allah dalam Surah al-Mulk:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ

“Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?’” (QS. al-Mulk: 30).

Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat dalam. Jika sumur kita mengering, kita mungkin bisa menggali sumur baru. Jika sungai tercemar, kita berusaha mengolah air. Jika persediaan berkurang, kita berusaha mencari sumber lain. Akan tetapi, jika seluruh sumber air yang kita andalkan menghilang, siapakah yang sanggup menjamin bahwa air akan kembali tersedia?

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berikhtiar, tetapi kemampuan itu terbatas. Kita boleh memiliki teknologi yang canggih, kekayaan yang melimpah, dan ilmu pengetahuan yang maju, tetapi semua itu tidak menjadikan kita mandiri dari Allah.

Jangan menunggu sumur mengering untuk menyadari bahwa air adalah nikmat Allah. Jangan menunggu dahaga yang menyiksa untuk menyadari bahwa selama ini kita hidup dalam karunia-Nya.

5. Nikmat yang Terus Mengalir Sering Membuat Manusia Lalai

Jamaah yang dirahmati Allah, salah satu penyakit hati manusia adalah terbiasa dengan nikmat sampai tidak lagi merasakan kebesarannya. Kita terbiasa bernapas, lalu lupa bersyukur atas udara. Kita terbiasa bangun pagi dalam keadaan sehat, lalu lupa bahwa kesehatan adalah karunia. Kita terbiasa membuka keran dan mendapatkan air, lalu menganggapnya sesuatu yang pasti tersedia.

Para ulama ketika menjelaskan syukur mengingatkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan pengakuan hati terhadap nikmat Allah, pujian kepada-Nya, dan penggunaan nikmat sesuai dengan apa yang Dia cintai. Ibn al-Qayyim رحمه الله membahas makna syukur sebagai pengakuan atas nikmat, ketundukan kepada Pemberi nikmat, serta penggunaan nikmat dalam perkara yang diridai-Nya.

Dengan demikian, syukur atas air tidak cukup hanya mengucapkan alḥamdulillāh setelah minum. Syukur yang sesungguhnya dimulai ketika hati mengakui bahwa air berasal dari Allah, lisan memuji-Nya, dan perbuatan kita menunjukkan penghargaan terhadap nikmat tersebut.

Nikmat yang disyukuri semestinya mendekatkan kita kepada Pemberinya, bukan membuat kita semakin lalai dari-Nya.

6. Air Menjadi Sarana Kita Beribadah kepada Allah

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Cobalah kita menghitung berapa banyak ibadah yang menggunakan air. Kita berwudhu sebelum shalat, mandi janabah ketika diwajibkan, dan membersihkan najis agar dapat beribadah dengan benar. Allah berfirman:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“Dan Dia menurunkan air dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan air itu.” (QS. al-Anfāl: 11).

Air tidak hanya menopang kehidupan jasmani, tetapi juga menjadi sarana bersuci yang sangat penting dalam pelaksanaan ibadah. Setiap hari, ketika kita berwudhu, sesungguhnya kita sedang memanfaatkan nikmat Allah untuk memenuhi kewajiban kepada-Nya.

Betapa banyak nikmat yang tidak kita sadari karena hadir dalam rutinitas. Kita berwudhu berkali-kali, tetapi mungkin jarang merenungkan bahwa kemampuan menggunakan air bersih untuk bersuci adalah karunia besar. Ada orang yang kesulitan memperoleh air untuk minum, apalagi untuk bersuci. Ada pula orang yang ketika sakit tidak dapat menggunakan air seperti biasanya.

Maka marilah kita belajar memandang wudhu bukan sekadar rutinitas sebelum shalat, melainkan kesempatan untuk mengingat nikmat Allah. Ketika air membasuh wajah dan tangan kita, hadirkanlah kesadaran bahwa Allah masih memberi kita air, kesehatan, dan kesempatan untuk berdiri menghadap-Nya.

7. Rasulullah ﷺ Mengajarkan agar Kita Tidak Berlebihan Menggunakan Air

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, salah satu bukti nyata rasa syukur adalah tidak menyia-nyiakan nikmat. Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. al-A‘rāf: 31).

Larangan berlebihan ini tidak hanya relevan dalam urusan makanan dan minuman, tetapi juga mengajarkan sikap seimbang dalam menggunakan berbagai nikmat yang Allah berikan. Air yang melimpah bukan alasan untuk menggunakannya tanpa batas. Bahkan ketika seseorang berwudhu, ia tetap perlu memperhatikan penggunaan air agar tidak berlebihan.

Terdapat riwayat yang sering dikutip bahwa Rasulullah ﷺ menegur Sa‘ad ketika berwudhu karena berlebihan menggunakan air, meskipun berada di sungai yang mengalir. Riwayat tersebut dikenal dalam pembahasan adab bersuci, tetapi sanadnya diperselisihkan sehingga sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya landasan. Prinsip tidak berlebihan sendiri telah jelas dalam Al-Qur'an.

Karena itu, tutuplah keran ketika tidak diperlukan, gunakan air secukupnya, perbaiki saluran yang bocor, dan hindari kebiasaan membuang-buang air. Jangan sampai kita berhati-hati ketika mengeluarkan uang, tetapi ceroboh ketika menggunakan nikmat Allah yang tidak ternilai.

8. Jangan Boros Air ketika Orang Lain Kesulitan Mendapatkannya

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Di sekitar kita mungkin air masih mudah diperoleh. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki keadaan yang sama. Di sejumlah tempat, masyarakat harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih. Ada keluarga yang harus membeli air dengan biaya yang memberatkan. Ada daerah yang mengalami kekeringan sehingga pertanian gagal dan kehidupan masyarakat terganggu.

Ketika kita membiarkan keran terbuka tanpa keperluan, menggunakan air secara berlebihan, atau mencemari sungai dan sumber mata air, kita sedang menunjukkan sikap yang tidak bertanggung jawab terhadap nikmat Allah.

Menjaga air bukan hanya urusan teknis, melainkan juga urusan akhlak dan kepedulian sosial. Islam mengajarkan kita untuk tidak merugikan sesama dan tidak membuat kerusakan di bumi. Air yang kita jaga hari ini dapat menjadi manfaat bagi keluarga, tetangga, dan generasi yang akan datang.

Syukur bukan hanya menikmati nikmat untuk diri sendiri, tetapi juga menjaga agar nikmat itu tidak disia-siakan dan tetap membawa manfaat bagi orang lain.

9. Air di Dunia Mengingatkan Kita kepada Kenikmatan Surga

Jamaah yang dirahmati Allah, air yang kita nikmati di dunia juga dapat mengingatkan kita kepada kehidupan akhirat. Allah menggambarkan salah satu kenikmatan surga dengan firman-Nya:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa adalah bahwa di dalamnya terdapat sungai-sungai air yang tidak berubah rasa dan baunya.” (QS. Muḥammad: 15).

Di dunia, air dapat tercemar, sumbernya dapat mengering, dan persediaannya dapat habis. Di surga, Allah menjanjikan kenikmatan yang sempurna bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Karena itu, ketika kita meminum air yang segar, hendaknya kita tidak hanya bersyukur atas hilangnya dahaga, tetapi juga mengingat akhirat. Kita memohon agar Allah tidak hanya memberikan kenikmatan di dunia, tetapi juga memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

Nikmat dunia seharusnya menjadi jalan untuk mengingat akhirat, bukan membuat kita terlena hingga melupakan tujuan penciptaan kita.

10. Kita Membayar Sarana Mendapatkan Air, tetapi Air Tetap Nikmat Allah

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita renungkan sekali lagi. Kita membayar listrik untuk memompa air, tetapi tidak menciptakan air. Kita membayar galon, tetapi tidak menciptakan hujan. Kita membangun pipa untuk mengalirkan air, tetapi tidak menciptakan sumber mata air. Kita dapat membeli air, tetapi tidak memiliki kuasa mutlak untuk menjamin bahwa air akan selalu tersedia.

Semua usaha manusia memiliki tempatnya. Islam tidak melarang kita bekerja, membangun fasilitas, atau mengembangkan teknologi. Justru semua itu merupakan ikhtiar yang bermanfaat. Namun, jangan sampai ikhtiar membuat kita lupa bahwa Allah-lah yang menciptakan alam dan menyediakan sebab-sebab kehidupan.

Allah berfirman:

فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ

“Maka mengapa kamu tidak bersyukur?” (QS. al-Wāqi‘ah: 70).

Pertanyaan ini hendaknya kita bawa pulang. Berapa ribu gelas air telah kita minum sepanjang hidup? Berapa kali kita mandi, berwudhu, memasak, dan membersihkan rumah dengan air? Berapa banyak tanaman yang tumbuh dan makanan yang tersedia berkat air yang Allah karuniakan?

Sudahkah semua itu menjadikan kita lebih taat kepada Allah? Ataukah kita justru menikmati nikmat-Nya tanpa mengingat Pemberinya?

11. Puncak Kesadaran: Sudahkah Kita Benar-Benar Bersyukur?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kesadaran terhadap nikmat air hendaknya membawa kita kepada tiga bentuk syukur. Pertama, syukur dengan hati, yaitu meyakini bahwa air adalah karunia Allah. Kedua, syukur dengan lisan, yaitu memuji Allah dan mengakui nikmat-Nya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yaitu menggunakan air secara bertanggung jawab, tidak berlebihan, menjaga kebersihannya, dan membantu orang yang kesulitan memperoleh air.

Jangan sampai kita menjadi manusia yang pandai menghitung harga air, tetapi lupa menghitung besarnya nikmat di balik air. Jangan sampai kita baru mengenal nilai air ketika sumur mengering, sungai menyusut, dan hujan tidak kunjung turun.

Kita sering meminta kepada Allah agar menambah nikmat, tetapi jarang meminta agar Allah menjadikan kita mampu menyadari nikmat yang sudah ada.

Maka marilah kita pulang dari khutbah ini dengan hati yang lebih peka. Ketika membuka keran, ingatlah Allah. Ketika berwudhu, ingatlah Allah. Ketika meminum air, pujilah Allah. Ketika melihat sumber air, jagalah dan jangan merusaknya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, menjaga nikmat-Nya, dan menggunakan setiap karunia untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَىٰ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ شُكْرَ النِّعَمِ سَبَبٌ لِزِيَادَتِهَا وَبَقَائِهَا.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita jadikan nikmat air sebagai pengingat untuk memperkuat ketakwaan. Jangan hanya bersyukur dengan ucapan, tetapi buktikan dengan tindakan. Gunakan air secukupnya, jagalah kebersihan sumber air, jangan mencemari sungai, dan bantulah saudara-saudara kita yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrāhīm: 7).

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang baru menyadari nikmat setelah kehilangannya. Semoga setiap tegukan air menjadikan kita semakin mengenal Allah, semakin bersyukur kepada-Nya, dan semakin taat dalam menjalani kehidupan.

Marilah kita berdoa kepada Allah agar Dia menjaga nikmat air bagi kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin; menjauhkan kita dari kekeringan yang membinasakan; serta menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bersyukur.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

“Ya Allah, tolonglah kami agar senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. al-A‘rāf: 23).

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. al-Baqarah: 201).

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. an-Naḥl: 90).

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Label