"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Siang adalah Ujian Keikhlasan, Malam adalah Ujian Kesungguhan

Siang adalah Ujian Keikhlasan, Malam adalah Ujian Kesungguhan

Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan. Ia adalah rekonstruksi spiritual total. Dalam struktur ibadahnya, terdapat dua fase pendidikan iman:

  • Siang → ujian keikhlasan.

  • Malam → ujian kesungguhan.

Keduanya saling melengkapi dan membentuk integritas seorang mukmin.


I. Siang Ramadhan: Ujian Keikhlasan

1. Puasa: Ibadah yang Paling Tersembunyi

Dalam hadits qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
«كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ»

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Para ulama menjelaskan bahwa puasa memiliki dimensi keikhlasan yang sangat kuat karena:

  • Ia tidak tampak secara lahiriah.

  • Seseorang bisa saja membatalkannya tanpa diketahui orang lain.

  • Tidak ada “aksi fisik” yang terlihat seperti shalat atau zakat.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan dalam Lathā’if al-Ma‘ārif bahwa puasa adalah “rahasia antara hamba dan Rabb-nya”, sehingga paling jauh dari riya’.

Karena itu, siang Ramadhan menjadi laboratorium keikhlasan.
Kita menahan diri bukan karena manusia melihat, tetapi karena Allah mengetahui.


2. Makna Ikhlas dalam Puasa

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Al-Bayyinah: 5)

Puasa adalah praktik langsung dari ayat ini.

Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah menyatakan bahwa keikhlasan adalah inti semua ibadah, dan ibadah yang paling menunjukkan keikhlasan adalah puasa karena tidak diketahui kecuali oleh Allah.

Dengan demikian, siang Ramadhan menguji:

  • Apakah kita benar-benar menahan diri karena Allah?

  • Ataukah sekadar mengikuti lingkungan?


II. Malam Ramadhan: Ujian Kesungguhan

Jika siang menguji niat, malam menguji tekad.

1. Perintah Qiyam dan Keutamaannya

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Barang siapa menegakkan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Qiyam Ramadhan (termasuk tarawih) bukan sekadar sunnah biasa. Ia adalah sarana pengampunan dosa.

Namun berbeda dengan puasa yang “otomatis” dijalankan setiap hari, qiyam membutuhkan usaha ekstra:

  • Melawan kantuk.

  • Berdiri lama.

  • Menjaga konsentrasi.

Di sinilah kesungguhan diuji.


2. Malam sebagai Waktu Orang-Orang Shalih

Allah memuji ahli qiyam dalam Al-Qur'an:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (Adz-Dzariyat: 17)

Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kesungguhan mereka dalam ibadah, karena mereka mengurangi kenyamanan dunia demi kedekatan dengan Allah.

Malam adalah waktu paling berat bagi jiwa.
Karena itu, ia menjadi indikator keseriusan iman.


III. Integrasi Siang dan Malam: Model Mukmin Paripurna

Ramadhan mendidik dua pilar:

  1. Ikhlas (Siang) → pengendalian internal.

  2. Mujāhadah (Malam) → perjuangan eksternal melawan rasa malas.

Nabi ﷺ bersabda:

«الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ»
“Orang yang berjihad adalah yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.”
(HR. Ahmad ibn Hanbal)

Malam Ramadhan adalah arena mujahadah.

Jika siang kita menahan yang halal (makan dan minum),
maka malam kita menahan yang mubah (tidur).

Keduanya membentuk ketahanan spiritual.


IV. Dimensi Pendidikan Ruhani

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa ibadah malam memiliki dampak mendalam terhadap penyucian jiwa karena dilakukan dalam suasana sunyi dan jauh dari riya’.

Sedangkan puasa membersihkan batin dari dominasi syahwat.

Maka:

  • Puasa → melemahkan jasad.

  • Qiyam → menguatkan ruh.

  • Gabungan keduanya → menumbuhkan taqwa.

Puasa melemahkan dominasi jasad.
Ketika jasad melemah,
ruh menguat.

Malam hari adalah waktu ruh mengambil alih.

Allah berfirman:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
“Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih kuat (menguatkan jiwa) dan lebih tepat ucapannya.”

Malam adalah laboratorium kejujuran iman.


V. Refleksi Spiritual

Siang tanpa malam menghasilkan iman yang lemah.
Malam tanpa siang menghasilkan spiritualitas yang timpang.

Mukmin sejati adalah yang:

  • Ikhlas saat tidak terlihat.

  • Bersungguh-sungguh saat terasa berat.

Siang adalah ujian “mengapa”.
Malam adalah ujian “seberapa jauh”.


Penutup

Ramadhan adalah sekolah keikhlasan dan kesungguhan.

Siang hari kita membuktikan bahwa kita jujur kepada Allah.
Malam hari kita membuktikan bahwa kita serius kepada Allah.

Jika keduanya bertemu,
lahirlah pribadi muttaqin.

Semoga Allah menjadikan siang kita penuh keikhlasan,
dan malam kita penuh kesungguhan.

Label