Khutbah Iedul Fitri 1447 H
اللهُ أَكْبَرُ، (9x)
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛
فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Rasulullah SAW bersabda:Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ, وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15)
Syaikhul Islam –rahimahullah– berkata,
إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً، مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَا يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ
“Sesungguhnya di dunia terdapat surga, barangsiapa yang tidak memasukinya, ia tidak akan memasuki surga akhirat”.
Maksudnya bukan “surga fisik” di dunia, tetapi “surga hati” (jannatul qalb), yaitu:
- ketenangan batin
- kebahagiaan ruhani
- kedekatan dengan Allah
Siapa yang tidak merasakan “surga hati” ini di dunia, maka ia tidak akan merasakan kenikmatan hakiki di akhirat, karena hatinya tidak pernah hidup dengan iman.
Apa yang dimaksud “Surga Dunia”?
Para ulama menjelaskan bahwa itu adalah:
- Ma’rifatullah (mengenal Allah)
- Mahabbatullah (mencintai Allah)
- Dzikir dan ketaatan
- Tuma’ninah (ketenangan hati)
Sebagaimana firman Allah:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Artinya: kebahagiaan sejati bukan materi, tapi kondisi hati.
Di hari yang mulia ini, setelah sebulan penuh kita menjalani Ramadhan, marilah kita renungkan: apa hakikat hasil dari Ramadhan yang kita lalui?
Allah memberikan gambaran yang sangat indah dalam Al-Qur’an:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا (QS. إبراهيم: 24–25)
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Para ulama menjelaskan bahwa:
- “Kalimat yang baik” adalah iman
- Akar yang kuat adalah iman yang tertanam dalam hati
- Cabang yang menjulang adalah amal shalih
- Buahnya adalah kebaikan yang terus menerus dirasakan
Maka Ramadhan yang telah kita lalui sejatinya adalah masa penanaman dan penguatan akar itu.
- Saat kita berpuasa → kita melatih keikhlasan
- Saat kita shalat malam → kita menumbuhkan kedekatan dengan Allah
- Saat kita menahan diri dari maksiat → kita memperkokoh iman
Namun pertanyaan pentingnya:
👉 Apakah pohon itu sudah tumbuh dalam diri kita?
Jika setelah Ramadhan:
- kita masih menjaga shalat,
- kita masih menjaga lisan,
- kita masih dekat dengan Al-Qur’an,
maka itu tanda bahwa pohon iman itu hidup dan berbuah.
Namun jika setelah Ramadhan kita kembali kepada kelalaian, maka khawatir:
👉 akar itu belum benar-benar kuat.
Allah juga mengingatkan tentang satu prinsip penting:
Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)
Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,
وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.
“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)
Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.
Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,
مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.
“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”
Artinya, bukan banyaknya amal yang menjadi ukuran, tetapi kualitas takwa di dalamnya.
Para salaf dahulu setelah Ramadhan justru lebih khawatir:
- apakah amal mereka diterima?
- apakah puasa mereka berbuah takwa?
Karena mereka memahami:
👉 amal tanpa takwa seperti pohon tanpa akar
Ma’asyiral muslimin,
Maka pada hari yang penuh kebahagiaan ini:
- Jangan jadikan ‘Id sebagai akhir dari ibadah
- Tapi jadikan ‘Id sebagai awal istiqamah
Karena pohon yang baik:
- tidak hanya tumbuh di Ramadhan
- tapi berbuah sepanjang waktu
Setelah Ramadhan berlalu, ada tiga tanda bahwa amal kita diterima:
Istiqamah setelah Ramadhan
Kebaikan yang berlanjut adalah tanda diterimanya amal.Hati yang lebih lembut dan takut kepada Allah
Bukan merasa bangga dengan amal, tapi justru khawatir tidak diterima.Semakin menjauhi maksiat
Karena pohon iman tidak mungkin berbuah keburukan.
Maka jagalah “pohon iman” kita dengan:
- shalat yang terjaga
- tilawah Al-Qur’an
- dzikir dan doa
- lingkungan yang baik
Jangan sampai:
👉 kita merusak apa yang telah kita bangun di Ramadhan.
Akhirnya, marilah kita berdoa:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ،
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ،
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ
