Firman Allah dalam Al-Qur'an, surah Surah Muhammad ayat 24:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Ayat ini merupakan teguran keras (taubīkh) dari Allah kepada orang yang membaca atau mendengar Al-Qur’an tetapi tidak merenungkan maknanya. Para ulama tafsir menjelaskan ayat ini dari beberapa sudut pandang berikut.
1. Makna “Tadabbur” dalam Al-Qur’an
Kata يَتَدَبَّرُونَ berasal dari kata تَدَبُّر yang berarti memikirkan secara mendalam hingga sampai pada akibat dan hikmah yang tersembunyi di balik sesuatu.
Menurut Ibn Kathir dalam Tafsir Ibn Kathir:
Allah memerintahkan manusia untuk mentadabburi Al-Qur’an, yaitu memahami makna-maknanya, memperhatikan perintah dan larangannya, serta mengambil pelajaran dari kisah-kisahnya.
Artinya membaca saja tidak cukup, tetapi harus disertai:
- memahami makna
- merenungkan pesan
- mengamalkan kandungannya
2. Penjelasan Para Ahli Tafsir
1. Tafsir Ibn Kathir
Menurut Ibn Kathir:
“Seandainya mereka mentadabburi Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, mereka pasti mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran.”
Maknanya:
- orang yang merenungi Al-Qur’an akan sampai pada keyakinan
- tidak mungkin seseorang memahami Al-Qur’an dengan jujur lalu menolaknya
2. Tafsir Al-Qurthubi
Menurut Al-Qurtubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an:
في هذه الآية دليل على وجوب تدبر القرآن
“Dalam ayat ini terdapat dalil tentang kewajiban mentadabburi Al-Qur’an.”
Artinya:
- tadabbur bukan sekadar anjuran
- tetapi tuntutan bagi setiap muslim sesuai kemampuannya
3. Tafsir At-Tabari
Menurut Al-Tabari dalam Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an:
Makna ayat ini adalah:
Apakah mereka tidak memikirkan hujjah-hujjah Al-Qur’an dan nasihatnya, sehingga mereka mengetahui kebenaran yang ada di dalamnya?
Jadi Al-Qur’an adalah hujjah (argumen) yang kuat. Jika seseorang tidak memahami kebenaran di dalamnya, berarti ada penghalang pada hatinya.
3. Makna “Hati yang Terkunci”
Bagian kedua ayat:
أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“atau hati mereka terkunci”
Menurut para mufassir, ini adalah metafora spiritual. Kata أَقْفَال berarti kunci atau gembok.
Maknanya:
- hati tidak bisa menerima kebenaran
- tidak bisa memahami ayat
- tidak tergerak oleh nasihat
Menurut Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb:
hati yang terkunci adalah hati yang tertutup oleh dosa dan hawa nafsu sehingga tidak bisa menerima cahaya Al-Qur’an.
Penyebab Manusia Tidak Mau Mentadabburi Al-Qur’an
Para ulama menyebut beberapa sebab utama.
1. Dosa yang Menutupi Hati
Rasulullah bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan muncul satu titik hitam di hatinya.” (HR. Tirmidzi)
Semakin banyak dosa: hati menjadi keras, sulit menerima Al-Qur’an
2. Mengikuti Hawa Nafsu
Allah berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Tahukah kamu orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Jika seseorang lebih mengikuti keinginan daripada kebenaran, ia tidak akan mau mendalami Al-Qur’an.
3. Membaca Tanpa Kehadiran Hati
Banyak orang membaca Al-Qur’an tetapi:
- hanya mengejar pahala bacaan
- tidak memikirkan makna
- tidak memahami arti ayat
Menurut Al-Hasan al-Basri:
“Al-Qur’an diturunkan untuk ditadabburi, tetapi manusia menjadikan membacanya sekadar amalan bacaan.”
4. Kesombongan terhadap Kebenaran
Ini adalah penyakit yang banyak disebut dalam Al-Qur’an. Orang yang sombong:
- tidak mau menerima nasihat
- menolak ayat yang bertentangan dengan kepentingannya
5. Tidak Memahami Bahasa Al-Qur’an
Banyak orang tidak berusaha memahami makna ayat. Padahal tadabbur membutuhkan:
- mengetahui arti
- memahami konteks ayat
- mempelajari tafsir
Hikmah Besar dari Ayat Ini
Ayat ini memberikan pelajaran penting:
Al-Qur’an diturunkan untuk direnungkan, bukan hanya dibaca.
Hati yang bersih akan mudah menerima kebenaran.
Dosa dan kesombongan menjadi penghalang memahami wahyu.
Tadabbur adalah jalan menuju keimanan yang kuat.