"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Tetap Shalih Selepas Ramadhan

 


TETAP SHALIH SELEPAS RAMADHAN

(Jum'at, 13 Mei 2022 - 12 Syawal 1443 H)

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا أُمَّةَ الإِسْلَامِ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلاً مِنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا آيَاتِهِ وَيُزِّكِيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الكِتَابَ وَالحِكْمَةَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ؛ بِيَدِهِ الفَضْلُ وَالعَطَاءُ وَالمِنَّةُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ اللهُ لِلْعَالَمِيْنَ قُدْوَةً وَرَحْمَةً؛ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أُوْلِي الفَضَائِلِ العَظِيْمَةِ وَالمَنَاقِبِ الجُمَّةِ .

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ:

Di antara tanda diterimanya amal ibadah kita adalah lahirnya atau munculnya semangat untuk melakukan ibadah lainnya. Karena amal kebaikan itu saling menyeru satu dengan yang lain. Seorang tabi’in yang mulia, al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,

إِنَّ مِنْ جَزَاءِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوْبَةِ السَيِّئَةِ السَيِّئَةُ بَعْدَهَا، فَإِذَا قَبِلَ اللهُ العَبْدَ فَإِنَّهُ يُوَفِّقُهُ إِلَى الطَاعَةِ، وَيَصْرِفُهُ عَنِ المَعْصِيَةِ، وَقَدْ قَالَ الحَسَنُ: “ياَ ابْنَ آدمَ، إِنْ لَمْ تَكُنْ فِى زِيَادَةٍ فَأَنْتَ فِى نُقْصَانِ

“Di antara balasan Allah terhadap amal kebajikan adalah seseorang termotivasi melakukan kebaikan lainnya. Dan bentuk hukuman kemaksiatan adalah keinginan mencoba kemaksiatan lainnya. Apabila Allah menerima amal ibadah seseorang, Dia akan memberinya taufik untuk melakukan ibadah lainnya dan memalingkannya dari kemaksiatan.” 

Beliau melanjutkan, “Berarti wahai anak Adam, kalau amal taat kalian tidak bertambah, sebenarnya kalian berada dalam kekurangan.”

Ucapan beliau ini kalau kita kaitkan dengan Ramadhan kemarin, kalau Ramadhan kemarin tidak menambah semangat kita untuk melakukan ketaatan di bulan Syawal ini, artinya Ramadhan kemarin itu penuh kekurangan.

 para ulama kita mengatakan, 

كُنْ رَبَّانِيّاً وَلَا تَكُنْ رَمَضَانِيّاً

“Jadilah engkau seorang yang Rabbani (yang senatiasa taat kepada Allah), bukan cuma musiman Ramadhan saja.”

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” [Quran Al-Hijr: 99]

 Terus pupuk kebiasaan baik tersebut setelah Ramadhan. Hingga akhir hayat kita tetap istiqomah dalam kebaikan. Inilah maksud dari firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [Quran Ali Imran: 102].

 Dan bagi orang-orang yang istiqomah, Allah Ta’ala mengabarkan,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” [Quran Al-Ahqaf: 13]

 Mereka tidak takut tentang apa yang akan mereka hadapi setelah kematian. Yaitu kehidupan akhirat. Dan tidak khawatir dengan keluarga yang mereka tinggalkan. Karena Allah yang akan menjaminnya.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” [Quran Fussilat: 30].

 Allah umpamakan dengan seorang perempuan yang memintal benang. Setelah satu bulan ia rajut benang tersebut membuat sesuatu, setelah rampung sebulan dan membentuk hasil rajutan yang bagus, ia malah merusaknya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” [Quran An-Nahl: 92]

Kita tengah merajut kebiasaan baik. Dan kebiasaan kita di bulan Ramadhan kemarin, hampir saja menjadi kebiasaan baru atau gaya hidup baru yang tengah kita bentuk. Ketika Ramadhan usai, usaha itu kita uang. Kebiasaan itu kita abaikan dan tidak lagi kita jadikan bagian dari diri kita. Inilah permisalan yang Allah sebutkan di atas.

Dan kita di Ramadhan kemarin mendapat nikmat taufik dari Allah yaitu mudahnya melakukan taat. Kemudian maksiat setelah mendapat nikmat tentu saja bukanlah bentuk syukur. Syukur nikmat adalah menaati Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا

“Beramallah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).” [Quran Saba’: 13]

 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian dia ikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, itu seperti puasa sepanjang tahun.”

Dan melaksanakan puasa Syawal adalah tanda di antara tanda-tanda diterimanya puasa Ramadhan kita. Karena tanda diterimanya kebaikan itu adalah melahirkan kebaikan lainnya. Demikian juga puasa Syawal ini sebagai bentuk syukur kita kepada Allah Ta’ala yang telah memberi kita taufik untuk melakukan amalan ketaatan di bulan Ramadhan kemarin.


أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.


Label