"Hadits Shahi adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahi adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Tafsir Ibnu Katsir : Surat At-Takaatsur - Bermegah-megahan melalaikan dari ketaatan

Tafsir Ibnu Katsir :

TAFSIR SURAT AT-TAKAATSUR

- [ Bermegah-megahan melalaikan dari ketaatan ]-

Tafsir Ibnu Katsir : Surat At-Takaatsur - Bermegah-megahan melalaikan dari ketaatan

Ditulis oleh : ARIS ALFIAN RISWANDI
Cilawang, 16 Januari 2015


أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ. كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ. ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ´ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 1-8).

Surat Makiyah, terdiri dari 8 Ayat, turun sesudah surat Al-Kautsar. 


Imam Ibnu Katsir menjelaskan : bahwa Ibnu Abu Hatim telah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id, dari abu Usamah, dari Saleh Ibnu Hibban, dari Abu Buraidah, Bahwa Surat ini diturunkan berkenaan dengan dua kabilah Ansar (Bani Haritsah dan Banil Harits), dimana mereka saling membanggakan diri dengan harta-harta mereka yang banyak. hingga turunlah firman Allah Ta'ala dalam surat at-Takatsur.

Kemudian Imam Ibnu Katsir mengatakan : Allah Subhanahu wata'ala berfirman : bahwasanya kalian sering sekali disibukan oleh kecintaan terhadap hal-hal yang bersifat duniawi dan kesenangan akan berbagai perhiasan yang ada didalamnya, sehingga mengakibatkan kalian melalaikan bahkan melupakan terhadap upaya untuk mencari kebahagiaan akhirat. ketahuilah, bahwa obsesi memburu kesenangan dunia, mengejar kesuksesan dunia hanya akan berdampak pada terabaikannya urusan-urusan akhirat, hingga tanpa disadari maut datang menjemput dan kalian dimasukan kedalam kubur.

Di awal ayat, Allah Ta’ala berfirman

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ, حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur:1- 2).

Dalam bahasa arab, kata أَلْهَاكُمُ bermakna telah membuat kalian lupa. sedangkan kata التَّكَاثُرُ bermakna bermegahan-megahan dan saling memperbanyak harta.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa Ibnu Zaid Ibnu Aslam dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rosulullah Sallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ- عن الطاعة   - حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ - حتى يأتيكم الموت -


Bermegah-megahan telah melalaikan kalian dari ketaatan, sampai kalian masuk kedalam kubur (sampai maut datang menjemput kalian)


Di dalam Kitab Shahih Bukhori dalam Bab Raqaa'iq telah disebutkan hal yang sama dari Al-Hasan Al-Basri dari ubay Ibnu Ka'ab mengatakan bahwa sebelum turun ayat Alhaakumuttakaatsur, Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam pernah bersabda :
لوكان لابْن آدَمَ وَادِ مِنْ ذَهَبٍ... إلى اخيره 

Senada dengan Hadits dari Ibnu ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az-Zubair berkata di atas mimbar saat khutbah di Makkah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لوأَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438).

Dalam Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Sholihin yang diantaranya ditulis oleh Syaikh Musthofa Al Bugho, bahwa yang dimaksud dengan “Tidak ada yang memenuhi perutnya kecuali tanah” adalah ia terus menerus memenuhi dirinya dengan harta sampai ia mati lantas dikuburnya, isi perutnya dipenuhi dengan tanah kuburan.


Para Ulama ahli Hadits seperti Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan Imam Nasa'i Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى, وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

“Seorang hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, harta yang ia berikanlah (yang dibelanjakan dijalan allah-pen) yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi dan An-Nasa'i).

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang akan mengiringi mayit (hingga ke kubur) ada tiga. Yang dua akan kembali, sedangkan yang satu akan menemaninya. Yang mengiringinya tadi adalah keluarga, harta dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali. Sedangkan yang tetap menemani hanyalah amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah Azza wajalla berfirman :

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ, ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui” (QS. At-Takatsur: 3-4).

"Al-hasan mengatakan bahwa dalam ayat ini mengandung pengertian ancaman sesudah ancaman lainnya." Sahabat sekalian, sesungguhnya kita telah diancam sekaligus diingatkan oleh Allah Ta'ala, bahwa ketika kematian datang menjemput. Barulah kita sadar akan kelalaian kita, sadar bahwa apa yang kita lakukan adalah kesia-siaan. Barulah kita paham, bahwa harta yang telah susah payah kita kumpulkan akhirnya ditinggalkan. dan barulah  kita ingat bahwa dunia itu amatlah singkat dan perjalanan akhirat yang kekal butuh perbekalan yang sangat banyak.

Dalam kondisi demikian, manusia semakin sadar dan semakin mengetahui, bahwa ketika ia telah masuk ke dalam kubur. Ia tidak lagi bisa memohon agar dikembalikan ke dunia, yang ada hanyalah pertanggung-jawaban kepada Allah Ta'ala. Sementara harta yang bertahun-tahun ia kumpulkan, saat itu sedang dibagi-bagi oleh keluarganya, sedangkan ia harus susah payah mempertanggung-jawabkan harta hasil jerih payahnya itu. harta dari yang halal akan DIHISAB dan harta dari yang haram akan DIADZAB.

Selanjutnya Allah berfirman :
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin (‘ilmu al-yaqin).” (QS. At-Takatsur: 5).

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan manusia. Dan ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya. Allah ingatkan, janganlah kalian para hamba-Ku disibukkan dengan perlombaan dunia, Jangan terlena dengan kemewahan yang maya, jangan haus akan kekayaan yang fana, karena hal demikian akan melalaikan dan melupakan kalian dari mencari bekal akhirat. Ketahuilah...!! kemudian Yakinilah...!! bahwa kematian itu pasti akan terjadi. Dan tidak ada seorang pun yang akan luput dari kejaran MAUT.

Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya :
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ, ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ

“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ´ainul yaqin” (QS. At-Takatsur: 6-7).

Jahim adalah nama dari nama-nama neraka. dan ayat ini merupakan penjelasan dari ancaman yang telah disebutkan diatas, yaitu pada firman كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ, ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ . Allah mengancam mereka dengan Neraka Jahim, yaitu saat ahli neraka melihat neraka yang sedang bergolak dengan dahsyat, maka menyungkurlah semua malaikat terdekat dan para nabi pun duduk bersediku diatas kedua lututnya karena sangat takut menyaksikan peristiwa yang sangat mengerikan itu.

Dan saat dibangkitkan itulah pengetahuan manusia yang sebelumnya sebatas keyakinan berdasarkan kabar dari ilmu (‘ilmu al-yaqin) berganti menjadi penginderaan (‘ainu al-yaqin), Pengetahuan akan hari kebangkitan yang sebatas keyakinan di dalam hati semakin dibuktikan dengan indera penglihatan. Semakin menyesallah orang-orang yang menyesal dan selamatlah orang-orang yang berbekal.

Surat At-Takatsur ini Allah tutup dengan firman-Nya,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 6).

Semua manusia, baik mukmin maupun kafir akan ditanya tentang kenikmatan-kenikmatan dunia yang mereka kecap.

berkenaan dengan hal ini, Ada sebuah kisah yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Kitab Shahih-nya, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, (yang singkatnya) : Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersama Abu bakar as-shidiq bin Abi Kuhafah juga Umar bin khatab, keluar dalam keadaan lapar menuju rumah salah seorang sahabat Anshar ( Abu Ayyub al-Anshari). singkat cerita, ketika bertemu dengan sahabat yang dimaksud, sahabat itu memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dua orang rekannya. Dia berkata, “Segala puji bagi Allah, pada hari ini aku tidak mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.”

Lalu sahabat itu menghidangkan korma segar dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu orang sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.”

sahabat sekalian, Jika makanan yang halal dan sedikit saja akan Allah tanyakan. lantas bagaimana dengan harta yang banyak yang dikumpulkan dalam perlombaan bermegah-megahan, serta kenikmatan-kenikmatan lain yang kita nikmati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari beberapa ayat yang Allah sebutkan tentang sifat kehidupan dunia, tidak satu pun ayat yang menyebutnya dengan bentuk pujian terhadap dunia. Sebagaimana firman-Nya,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20).

Sahabat sekalian, dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta'ala berfirman :

“Wahai Dunia jika hambaku mengejarmu maka perbudaklah dia olehmu. Namun, jika Allah tujuannya jadilah engkau (Dunia) takluk pada hambaku.”

Diakhir tulisan ini, saya ketengahkan sebuah perkataan seorang penyair :

أنت للمال إذاأمسكته  # فاذا أنفقته فالمال لك  
Engkau ditunggangi harta jika engkau pegang dia # maka jika engkau belanjakan dia, berarti itu adalah milik mu (bekalmu-pen).