Kurban Hanya untuk Allah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Jalla wa ‘Ala yang telah mensyariatkan Idul Adha dan menjadikannya sebagai salah satu dari dua hari raya bagi umat Islam. Dalam sebuah riwayat, sahabat yang mulia Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tiba di Kota Madinah, beliau mendapati penduduk Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan suka cita. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bertanya:
مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟
“Dua hari apa ini?”
Maka mereka pun menjawab, “Ini adalah hari raya kami bergembira sejak masa jahiliah.”
Hari raya yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah dua hari raya masyarakat Anshar di Madinah pada masa jahiliah yang dikenal dengan nama:
Dan Idul Adha datang untuk bertanya:
“Apakah Allah masih menjadi cinta terbesar dalam hidup kita?”
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ:
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا،
وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ،
وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا ضَحَايَانَا وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَحُبِّ الدُّنْيَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ الْمُتَّقِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
- يَوْمُ النَّيْرُوزِ (Yaumun Nairūz / Nairuz) = pesta musim semi
- يَوْمُ الْمِهْرَجَانِ (Yaumul Mihrajān / Mihrajan) = pesta musim gugur
Keduanya berasal dari tradisi Persia kuno dan biasa dirayakan dengan permainan, hiburan, dan pesta.
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
قَدْ أَبْدَلَكُمُ ٱللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِّنْهُمَا، يَوْمَ ٱلْأَضْحَىٰ وَيَوْمَ ٱلْفِطْرِ
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Hari Idul Adha dan Hari Idul Fitri.” (HR. Abu Dawud)
Ikhwatal Islam Rahimakumullah, ini adalah hari raya bagi kita semua. Kita bergembira, menampakkan kebahagiaan dengan mengenakan pakaian yang rapi, dan menikmati makanan yang tersedia. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita untuk berpuasa pada dua hari raya ini.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang berpuasa pada dua hari: hari Idul Adha dan hari Idul Fitri. (HR. Muslim)
Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil-hamd.
Ikhwatal Islam Rahmakumullah, saudara-saudara kita, sebagian kaum Muslimin, sedang melaksanakan ibadah yang hanya dilakukan dalam satu waktu dan satu tempat, yaitu ibadah haji di Tanah Suci. Namun, Allah Subḥanahu wa Taʿala membuka ladang amal yang luas bagi kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia, yakni ibadah kurban. Kurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, atau unta untuk dipersembahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Yang Maha Esa, satu-satunya dalam penciptaan dan kekuasaan-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan Dialah satu-satunya yang berhak untuk disembah oleh seluruh umat manusia. Oleh karena itu, apabila seseorang menyembelih sesembelihan untuk selain Allah Jalla Jalaluh, maka demi Allah, orang tersebut telah berbuat dzalim dengan kedzaliman yang sangat besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan:
“Allah melaknat orang yang menyembelih (hewan) untuk selain Allah.” (HR. Muslim)
Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa ada seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat, dan ada pula seseorang yang masuk surga karena seekor lalat. Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
دَخَلَ الجَنَّةَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ، وَدَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ
“Ada seorang laki-laki masuk surga karena seekor lalat, dan ada seorang laki-laki masuk neraka karena seekor lalat.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang melewati suatu kaum yang memiliki sebuah berhala. Tidak ada seorang pun yang boleh melewati mereka kecuali mempersembahkan sesuatu kepada berhala itu. Mereka berkata kepada salah satu dari keduanya, ‘Persembahkanlah sesuatu.’ Ia menjawab, ‘Aku tidak memiliki sesuatu untuk dipersembahkan.’ Mereka berkata, ‘Persembahkanlah meskipun hanya seekor lalat.’ Maka ia mempersembahkan seekor lalat, lalu mereka pun membiarkannya lewat, dan ia pun masuk neraka. Kemudian mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Persembahkanlah sesuatu.’ Ia menjawab, ‘Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu pun kepada siapa pun selain Allah.’ Maka mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk surga.” (HR Ahmad)
Ikhwatal Islam Rahimakumullah. Inilah kurban, inilah sembelihan yang harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah Jalla Jalaluh, dan dipersembahkan hanya untuk Allah Subḥanahu wa Ta‘ala. Di dalam Surah Al-Kautsar, Allah Subḥanahu wa Ta‘ala memerintahkan Nabi-Nya untuk shalat dan menyembelih dengan niat lillahi ta‘ala.
Salah seorang sahabat yang mulia, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, mengisahkan bahwa suatu ketika Rasūlullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang tidur dengan tidur yang ringan. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan tertawa. Para sahabat pun bertanya, “Apa yang membuat engkau tertawa, wahai Rasūlullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Baru saja diturunkan kepadaku satu ayat.” Lalu beliau membaca firman Allah:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ • فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ • إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (al-Kautsar). Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci engkau, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. al-Kautsar: 1–3)
Para ulama berselisih pendapat mengenai makna al-Kautsar. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Kautsar berasal dari kata al-katsrah yang berarti “banyak”. Ada pula yang berpendapat bahwa al-Kautsar adalah nama sungai di surga. Sebagian ulama lainnya menafsirkan bahwa al-Kautsar adalah sebuah telaga yang ada pada hari kiamat, yang dinamakan Telaga al-Kautsar. Tentu masih banyak pendapat lainnya, namun secara umum dapat disimpulkan bahwa pendapat yang paling masyhur berkisar pada tiga hal ini. Jika kita cermati, pada hakikatnya tidak ada pertentangan di antara pendapat-pendapat tersebut.
Ikhwatal Islam Rahimakumullah, berkaitan dengan telaga Al-Kautsar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Sebagian ulama menjelaskan bahwa orang-orang yang diusir dari telaga adalah orang-orang munafik yang merusak agama dari dalam. Ada juga ulama yang menafsirkan bahwa mereka adalah orang yang masuk Islam dimasa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian setelah wafatnya beliau, mereka murtad meninggalkan agama ini. Ada juga yang menafsirkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa, mengubah agama ini, menambah dan mengurangi ajarannya, mengganti syariat, serta membuat perkara-perkara baru yang bukan bagian dari agama, lalu mereka nisbatkan hal itu kepada agama ini.
Salah seorang ulama, yaitu Imam al-Hafiz Abu ‘Amr Ibn ‘Abd al-Barr, mengatakan: “Setiap orang yang membuat perkara baru dalam agama, lalu dinisbatkan kepada agama ini padahal bukan darinya, maka mereka itulah orang-orang yang dijauhkan dari telaga (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ), yang diusir darinya.”
“Kurban: Belajar Melepaskan yang Kita Cintai Karena Allah”
قَدْ أَبْدَلَكُمُ ٱللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِّنْهُمَا، يَوْمَ ٱلْأَضْحَىٰ وَيَوْمَ ٱلْفِطْرِ
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Hari Idul Adha dan Hari Idul Fitri.” (HR. Abu Dawud)
Ikhwatal Islam Rahimakumullah, ini adalah hari raya bagi kita semua. Kita bergembira, menampakkan kebahagiaan dengan mengenakan pakaian yang rapi, dan menikmati makanan yang tersedia. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita untuk berpuasa pada dua hari raya ini.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَىٰ عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمِ ٱلْأَضْحَىٰ وَيَوْمِ ٱلْفِطْرِ
Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil-hamd.
Ikhwatal Islam Rahmakumullah, saudara-saudara kita, sebagian kaum Muslimin, sedang melaksanakan ibadah yang hanya dilakukan dalam satu waktu dan satu tempat, yaitu ibadah haji di Tanah Suci. Namun, Allah Subḥanahu wa Taʿala membuka ladang amal yang luas bagi kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia, yakni ibadah kurban. Kurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, atau unta untuk dipersembahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Yang Maha Esa, satu-satunya dalam penciptaan dan kekuasaan-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan Dialah satu-satunya yang berhak untuk disembah oleh seluruh umat manusia. Oleh karena itu, apabila seseorang menyembelih sesembelihan untuk selain Allah Jalla Jalaluh, maka demi Allah, orang tersebut telah berbuat dzalim dengan kedzaliman yang sangat besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan:
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
“Allah melaknat orang yang menyembelih (hewan) untuk selain Allah.” (HR. Muslim)
Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa ada seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat, dan ada pula seseorang yang masuk surga karena seekor lalat. Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
دَخَلَ الجَنَّةَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ، وَدَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ
“Ada seorang laki-laki masuk surga karena seekor lalat, dan ada seorang laki-laki masuk neraka karena seekor lalat.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang melewati suatu kaum yang memiliki sebuah berhala. Tidak ada seorang pun yang boleh melewati mereka kecuali mempersembahkan sesuatu kepada berhala itu. Mereka berkata kepada salah satu dari keduanya, ‘Persembahkanlah sesuatu.’ Ia menjawab, ‘Aku tidak memiliki sesuatu untuk dipersembahkan.’ Mereka berkata, ‘Persembahkanlah meskipun hanya seekor lalat.’ Maka ia mempersembahkan seekor lalat, lalu mereka pun membiarkannya lewat, dan ia pun masuk neraka. Kemudian mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Persembahkanlah sesuatu.’ Ia menjawab, ‘Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu pun kepada siapa pun selain Allah.’ Maka mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk surga.” (HR Ahmad)
Ikhwatal Islam Rahimakumullah. Inilah kurban, inilah sembelihan yang harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah Jalla Jalaluh, dan dipersembahkan hanya untuk Allah Subḥanahu wa Ta‘ala. Di dalam Surah Al-Kautsar, Allah Subḥanahu wa Ta‘ala memerintahkan Nabi-Nya untuk shalat dan menyembelih dengan niat lillahi ta‘ala.
Salah seorang sahabat yang mulia, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, mengisahkan bahwa suatu ketika Rasūlullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang tidur dengan tidur yang ringan. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan tertawa. Para sahabat pun bertanya, “Apa yang membuat engkau tertawa, wahai Rasūlullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Baru saja diturunkan kepadaku satu ayat.” Lalu beliau membaca firman Allah:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ • فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ • إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (al-Kautsar). Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci engkau, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. al-Kautsar: 1–3)
Para ulama berselisih pendapat mengenai makna al-Kautsar. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Kautsar berasal dari kata al-katsrah yang berarti “banyak”. Ada pula yang berpendapat bahwa al-Kautsar adalah nama sungai di surga. Sebagian ulama lainnya menafsirkan bahwa al-Kautsar adalah sebuah telaga yang ada pada hari kiamat, yang dinamakan Telaga al-Kautsar. Tentu masih banyak pendapat lainnya, namun secara umum dapat disimpulkan bahwa pendapat yang paling masyhur berkisar pada tiga hal ini. Jika kita cermati, pada hakikatnya tidak ada pertentangan di antara pendapat-pendapat tersebut.
Ikhwatal Islam Rahimakumullah, berkaitan dengan telaga Al-Kautsar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْـحَوْضِ، لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ، اُخْتُلِجُوا دُونِي، فَأَقُولُ: رَبِّ أَصْحَابِي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
“Aku akan mendahului kalian di telaga (Al-Haudh). Sungguh, akan diangkat (dijauhkan) beberapa orang dari kalian dariku hingga ketika aku hendak memberikan (minum) kepada mereka, mereka diusir. Maka aku berkata: ‘Wahai Rabbku, (mereka) adalah sahabat-sahabatku!’ Maka dikatakan kepadaku: ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.'” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّهُمْ مِنِّي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي
“Sesungguhnya mereka adalah golongaku.” Maka dikatakan (kepadaku), “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ubah sepeninggalmu.” Maka aku berkata, “Celaka! Celakalah orang-orang yang mengubah (ajaran) sepeninggalku.” (HR Bukhari dan Muslim)
Sebagian ulama menjelaskan bahwa orang-orang yang diusir dari telaga adalah orang-orang munafik yang merusak agama dari dalam. Ada juga ulama yang menafsirkan bahwa mereka adalah orang yang masuk Islam dimasa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian setelah wafatnya beliau, mereka murtad meninggalkan agama ini. Ada juga yang menafsirkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa, mengubah agama ini, menambah dan mengurangi ajarannya, mengganti syariat, serta membuat perkara-perkara baru yang bukan bagian dari agama, lalu mereka nisbatkan hal itu kepada agama ini.
Salah seorang ulama, yaitu Imam al-Hafiz Abu ‘Amr Ibn ‘Abd al-Barr, mengatakan: “Setiap orang yang membuat perkara baru dalam agama, lalu dinisbatkan kepada agama ini padahal bukan darinya, maka mereka itulah orang-orang yang dijauhkan dari telaga (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ), yang diusir darinya.”
“Kurban: Belajar Melepaskan yang Kita Cintai Karena Allah”
Kisah terbesar dalam Idul Adha bukan sekadar kisah penyembelihan hewan. Tetapi kisah tentang hati yang rela menyerahkan apa yang paling dicintainya demi Allah.
Allah ﷻ berfirman:
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Ismail bukan anak biasa. Ia adalah:
Tetapi ketika cinta kepada anak berhadapan dengan cinta kepada Allah, Nabi Ibrahim memilih Allah.
Inilah hakikat kurban.
Bukan sekadar menyembelih kambing atau sapi. Tetapi:
Ada yang terlalu cinta: hartanya, jabatannya, bisnisnya, popularitasnya, bahkan dosanya.
Allah ﷻ mengingatkan:
“Katakanlah: jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, pasangan kalian, harta yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya… maka tunggulah keputusan Allah.” (QS. At-Taubah: 24)
Ma’asyiral muslimin,
Setiap kita punya “Ismail” dalam hidup. Ada orang yang “Ismail”-nya adalah: hartanya, ambisinya, gengsinya, syahwatnya, atau dosa yang sulit ia tinggalkan.
Allah ﷻ berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka ketika anak itu sampai pada usia mampu berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata:
‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’
Ia menjawab:
‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Ismail bukan anak biasa. Ia adalah:
- anak yang lahir setelah penantian panjang,
- anak yang sangat dicintai,
- anak harapan,
- anak kebanggaan.
Tetapi ketika cinta kepada anak berhadapan dengan cinta kepada Allah, Nabi Ibrahim memilih Allah.
Inilah hakikat kurban.
Bukan sekadar menyembelih kambing atau sapi. Tetapi:
- menyembelih ego,
- menyembelih kesombongan,
- menyembelih cinta dunia yang berlebihan,
- menyembelih hawa nafsu.
Ada yang terlalu cinta: hartanya, jabatannya, bisnisnya, popularitasnya, bahkan dosanya.
Allah ﷻ mengingatkan:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا
Ma’asyiral muslimin,
Setiap kita punya “Ismail” dalam hidup. Ada orang yang “Ismail”-nya adalah: hartanya, ambisinya, gengsinya, syahwatnya, atau dosa yang sulit ia tinggalkan.
Dan Idul Adha datang untuk bertanya:
“Apakah Allah masih menjadi cinta terbesar dalam hidup kita?”
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ:
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا،
وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ،
وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Artinya:
Dari Anas رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Ada tiga perkara yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman:
Dari Anas رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Ada tiga perkara yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman:
- Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya,
- Ia mencintai seseorang hanya karena Allah,
- Ia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.”
Karena itu Allah menegaskan hakikat kurban dalam firman-Nya:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Maka ukuran kurban bukan mahalnya hewan, besarnya badan sapi, atau banyaknya pujian manusia. Tetapi keikhlasan, ketakwaan, dan hati yang tunduk kepada Allah.
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“Hakikat ibadah adalah menyempurnakan kecintaan kepada Allah disertai ketundukan total kepada-Nya.”
Maka semakin seseorang mampu melepaskan sesuatu karena Allah, semakin tinggi kualitas imannya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Hari raya ini seharusnya menjadi momentum tazkiyatun nafs. membersihkan hati, memperbaiki niat, melembutkan jiwa, dan kembali kepada Allah. Karena boleh jadi:
hewan sudah disembelih, tetapi kesombongan belum disembelih, ego belum disembelih, kedengkian belum disembelih, cinta dunia belum disembelih.
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Maka ukuran kurban bukan mahalnya hewan, besarnya badan sapi, atau banyaknya pujian manusia. Tetapi keikhlasan, ketakwaan, dan hati yang tunduk kepada Allah.
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“Hakikat ibadah adalah menyempurnakan kecintaan kepada Allah disertai ketundukan total kepada-Nya.”
Maka semakin seseorang mampu melepaskan sesuatu karena Allah, semakin tinggi kualitas imannya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Hari raya ini seharusnya menjadi momentum tazkiyatun nafs. membersihkan hati, memperbaiki niat, melembutkan jiwa, dan kembali kepada Allah. Karena boleh jadi:
hewan sudah disembelih, tetapi kesombongan belum disembelih, ego belum disembelih, kedengkian belum disembelih, cinta dunia belum disembelih.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا ضَحَايَانَا وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَحُبِّ الدُّنْيَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ الْمُتَّقِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
