"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Renungan Pasca Ramadhan (Surat An-Nahl : 92)



Dahulu di Makkah, pada zaman Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam, ada orang gila atau bodoh bernama Ji'ronanah yangg kelakuannya setiap hari menenun benang menjadi kain. (dalam riwayat lain bernama Rithah al-Hamqa dari Bani Ma'zum (dalam tafsir Ibnu Katsir)). Namun setiap usai benang ditenunnya menjadi kain yang indah, dia bongkar kain indah itu, dia lepas-lepaskan lagi benang-benangnya semuanya. Lalu dia tenun lagi, lalu dia bongkar lagi. Lalu dia tenun lagi, lalu dia lepas-lepaskan lagi. Demikian perbuatannya berlangsung secara terus menerus.

Maka Allah Subhanahu Wata'ala menjadikan kelakuan orang gila tersebut, menjadi perumpamaan dalam Al Quran.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (QS. An-Nahl : 92)

Selama Ramadhan kemarin, kita menenun "ketakwaan" kita dengan "benang-benang" Shaum, Tarawih, Tadarus, shalat di mesjid, Shadaqah qiyamullail dll. Ramadhan bukan bulan cuci tangan kan? bukan bulan buat bersih-bersih sebelum berkubang-ria kembali. Tetapi sejatinya Ramadhan adalah titik tolak untuk membangun komitmen ketaatan seumur hidup, bukan ketaatan momentum.

Selama Ramadhan kita punya semangat besar untuk beribadah, alangkah nikmatnya jika semangat besar itu juga mengalir di bulan-bulan berikutnya. Siang malam yang penuh ibadah: siangnya berpuasa, malamnya qiyamullail, beramai-ramai kita memadati mesjid, bacaan alquran terdengar disetiap sudut. Kebaikan dan amal ibadah ditanam dan dipupuk sebanyak-banyaknya, menyantuni fakir miskin, bersedekah, membantu tetangga dan sederet amal lainnya berjejer selama Ramadhan. Tentu akan lebih baik jika itu juga berparade dibulan-bulan berikutnya.

tetapi sayang, nuansa ketaatan itu tidak bertahan seumur hidup. Hanya seumur jagung ramadhan saja. Yang dulu rajin ke mesjid sekarang hanya numpang lewat saja, adzan hanya sekedar didengarkan, shalat subuh tidak lagi di awal waktu, terkadang pukul 6 pagi atau pukul 7 atau mungkin tidak lagi shalat subuh. Shalat dzuhur telah menjelang ashar, shalat ashar menjelang magrib, shalat magrib menjelang isya, shalat isya menjelang tidur, tidak diawal waktu lagi, tergesa-gesa dan jarang berjamaah.

Alquran telah tersusun lagi di rak buku, debu-debu satu persatu mulai menutupinya.. entah kapan akan di baca lagi, entah mungkin di ramadhan tahun depan..

Tangis taubat di sepuluh malam terakhir seakan sudah dilupakan ketika satu persatu maksiat mulai lagi dicicil menghitamkan hati. Uang telah mulai sulit mengucur untuk bersedekah, tetangga sudah mulai tidak disapa lagi, mata sudah mulai sinis memandang para fakir miskin, keinginan akan dunia mulai menjadi-jadi lagi..

Inilah mereka para pemintal benang yang bodoh, kisah yang Allah ceritakan di lembar Alquran.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (an nahl :92)

Semoga kita tidak termasuk ke dalam kelompok para pemintal yang bodoh. Agar benang-benang yang kita pintal selama Ramadhan bisa dirajut menjadi kain-kain yang indah, pakaian-pakaian yang akan dikenakan di surga.