"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Sebaik-Baik Makhluk di Ambang Pergantian Tahun





Sebaik-Baik Makhluk di Ambang Pergantian Tahun
Refleksi Iman dan Amal dalam Cahaya Al-Qur’an dan Sunnah

1. Ayat Pokok: Standar Kemuliaan Manusia

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh waktu, usia, atau pergantian tahun, tetapi oleh dua hal utama:
  • Iman yang benar
  • Amal saleh yang nyata
Pergantian tahun hanyalah perubahan waktu, sedangkan nilai hidup ditentukan oleh isi waktu itu sendiri.

2. Pergantian Waktu adalah Tanda Kekuasaan Allah

Allah ﷻ mengingatkan bahwa waktu adalah ciptaan-Nya dan akan menjadi saksi atas amal manusia:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

“Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62)

Pergantian tahun seharusnya melahirkan dua sikap:
  • Tadzakkur (introspeksi diri)
  • Syukur (mensyukuri kesempatan hidup)

3. Muhasabah: Ciri Orang Beriman

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini menjadi dasar muhasabah di akhir tahun:
  • Apa yang sudah kita persembahkan untuk Allah?
  • Amal apa yang akan kita bawa ke hadapan-Nya?

Tahun baru tanpa muhasabah hanyalah pergantian angka tanpa makna.

4. Waktu adalah Amanah yang Akan Dipertanyakan

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّىٰ يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ
عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ…

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara, di antaranya: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.”
(HR. At-Tirmidzi)

Setiap tahun yang berlalu berarti:
  • Umur berkurang
  • Catatan amal bertambah
  • Kesempatan semakin menyempit

5. Orang Cerdas Menjadikan Waktu sebagai Bekal Akhirat

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini mengajarkan bahwa resolusi terbaik di tahun baru bukanlah target dunia semata, tetapi:
  • memperbaiki iman,
  • memperbanyak amal,
  • dan mempersiapkan perjumpaan dengan Allah.

6. Amal Kecil yang Konsisten Lebih Dicintai Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini sangat relevan dengan pergantian tahun:
  • Tidak perlu target besar yang berat
  • Mulailah dari amal kecil yang istiqamah

7. Penutup: Tahun Berganti, Tujuan Jangan Bergeser

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Demi masa. Sungguh manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Surah ini sejalan dengan QS. Al-Bayyinah: 7:
👉 iman dan amal saleh adalah kunci keselamatan dari kerugian waktu.

Kesimpulan
Pergantian tahun bukanlah perayaan atas bertambahnya usia, melainkan peringatan bahwa waktu terus berkurang. Siapa pun yang mengisi hari-harinya dengan iman dan amal kebajikan, merekalah yang disebut Allah sebagai:


خَيْرُ الْبَرِيَّةِ – sebaik-baik makhluk

Semoga setiap tahun yang berlalu menjadikan kita lebih dekat kepada Allah, lebih banyak beramal, dan lebih siap bertemu dengan-Nya.

Musibah, Iman, dan Pelajaran Besar dari Banjir di Sumatera dan Aceh


KHUTBAH JUMAT

Musibah, Iman, dan Pelajaran Besar dari Banjir di Sumatera dan Aceh


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُوَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Pertama-tama, marilah kita senantiasa memperbaharui dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Takwa yang sebenar-benarnya, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di atas landasan ilmu, di atas bashirah, bukan di atas kejahilan atau taklid buta.

Di berbagai wilayah Sumatera dan Aceh, Allah sedang menurunkan ujian berupa banjir, tanah longsor, dan berbagai musibah lainnya. Kita turut mendoakan saudara-saudara kita yang terkena bencana, semoga diberi ketabahan dan kemuliaan oleh Allah.

Namun, jauh lebih penting dari sekadar menyaksikan berita bencana adalah memahami pesan-pesan Allah di balik setiap musibah.


1. Musibah sebagai Pengingat dan Momentum Taubat Kolektif

﴿ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ﴾ (الشورى: 30)

Artinya: "Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan kalian sendiri, dan Allah banyak memaafkan."

Bencana sering kali merupakan tanda kasih sayang Allah yang ingin membangunkan manusia dari kelalaian.
– Kelalaian ibadah
– Penyimpangan moral
– Ketidakadilan sosial
– Kerusakan lingkungan
– Terputusnya kepedulian antarsesama

Musibah membuat manusia berhenti sejenak, lalu menoleh kembali kepada Allah.


2. Musibah Tidak Selalu Azab, Bisa Menjadi Rahmat dan Penghapus Dosa

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

«مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ» 
رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِم

"Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya."

Musibah bagi orang beriman adalah penghapus dosa dan pengangkat derajat, bukan sekadar malapetaka.

Bagi saudara-saudara kita yang sedang kehilangan rumah, harta, atau keluarga akibat banjir — semoga Allah menjadikan itu jalan rahmat dan pengampunan.


3. Ujian Keimanan: Sabar dan Ridha

Allah menegaskan:

﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴾
(البقرة: 155)

"Dan sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, dan kekurangan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

Tidak ada ujian yang Allah turunkan tanpa jaminan pahala bagi orang yang sabar.

Banjir, kehilangan, kesulitan ekonomi, semua itu menguji seberapa kuat iman seseorang.
Orang beriman tidak mencela takdir, tidak marah pada keadaan, tetapi menghadapi musibah dengan:

– Sabar
– Ridha
– Doa
– Dan keteguhan hati


4. Adab Ketika Terjadi Musibah

Rasulullah bersabda:

« لَا تَسُبُّوا الرِّيحَ » (رواه الترمذي)
"Jangan kalian mencela angin."

Dalam hadis lain:

« لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ »
"Jangan kalian mencela waktu."

Maka seorang Muslim tidak mencela hujan, cuaca, banjir, dan fenomena alam lainnya, sebab semua itu adalah ciptaan Allah.

Adab saat bencana juga mencakup:
– Menjaga ucapan
– Tidak menyebarkan hoaks
– Tidak memperkeruh suasana
– Tidak mengungkit bantuan
– Tidak menuduh tanpa ilmu


5. Musibah Mengingatkan Fana-nya Dunia

Allah berfirman:

﴿ كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴾
"Segala yang ada di bumi ini akan binasa."

Rumah bisa hanyut, kendaraan bisa rusak, harta bisa hilang dalam satu malam.
Namun akhirat tidak pernah hilang.
Musibah mengajari kita untuk melepaskan ketergantungan dari dunia dan memperkuat hubungan dengan akhirat.


6. Musibah Terbesar bagi Umat Islam Bukan Banjir, Tetapi Rusaknya Iman

Jama’ah yang dimuliakan Allah,

Di antara semua bencana, musibah terbesar menurut para ulama bukanlah gempa, banjir, atau bencana alam lainnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan pandangan yang mendalam mengenai hakikat musibah. Beliau menegaskan bahwa musibah yang sejati adalah yang menimpa agama seseorang, bukan musibah duniawi. Dalam kitabnya Madarijus Salikin (2/322), beliau berkata,

كُلُّ مُصِيبَةٍ دونَ مُصِيبَةِ الدِّينِ فَهَيِّنَةٌ، وَإِنَّهَا فِي الحَقِيقَةِ نِعْمَةٌ، وَالمُصِيبَةُ الحَقِيقِيَّةُ مُصِيبَةُ الدِّينِ.

“Setiap musibah selain musibah yang menimpa agama, maka anggaplah ringan musibah tersebut. Karena pada hakikatnya itu merupakan sebuah nikmat dan sebenar-benar musibah adalah musibah yang menimpa agama seseorang.”

Musibah terbesar adalah musibah pada agama:

– Hati yang jauh dari Allah
– Ibadah yang ditinggalkan
– Al-Qur’an yang tidak lagi dibaca
– Maksiat yang dianggap biasa
– Perpecahan umat
– Racun media sosial yang merusak akhlak
– Syubhat yang merusak aqidah
– Dosa yang dilakukan tanpa rasa takut

Rasulullah selalu berdoa:

« وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا »
"Jangan Engkau jadikan musibah kami pada agama kami."

Banjir dapat merobohkan rumah.
Tetapi rusaknya iman dapat merobohkan jiwa dan masa depan generasi.

Jika bencana alam menimpa sebuah daerah, mereka masih dapat bangkit kembali.
Namun jika bencana iman menimpa sebuah umat, maka umat itu akan kehilangan kemuliaan, keberkahan, dan pertolongan Allah.

Karena itu, setiap musibah alam harus mengingatkan kita untuk menjaga ketakwaan dan memperbaiki ketaatan kepada Allah.


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ.أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛

 عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

إن الله وملائكته يصلون على النبي ياأيها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Mari kita mengambil pelajaran besar dari musibah yang melanda saudara-saudara kita di Sumatera dan Aceh:

  1. Perbanyak istighfar dan taubat.

  2. Perkuat sabar dan ridha.

  3. Perbaiki akhlak saat bencana.

  4. Bantu saudara kita sekuat kemampuan.

  5. Jaga iman, karena itulah aset terbesar umat.

Marilah kita berdoa:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنَا بِذُنُوْبِنَا، وَلَا تُهْلِكْنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَاءُ مِنَّا. اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

اللَّهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ كُلِّ بَلاَءٍ وَفِتْنَةٍ وَمُصِيبَةٍ

اللَّهُمَّ ارْفَعِ الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ عَنْ بِلادِنَا وَبِلادِ الْمُسْلِمِينَ

عِبَادَ اللّٰهِ،

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ…

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Fitnah lebih Kejam daripada Membunuh


FITNAH LEBIH KEJAM DARIPADA MEMBUNUH

Penjelasan Para Ulama Tafsir Klasik, Kontemporer, dan Analisis Makna Qur’ani


Pendahuluan

Ungkapan “fitnah lebih kejam daripada membunuh” bukanlah peribahasa biasa, tetapi bersumber dari Al-Qur’an, pada peristiwa penting sejarah Islam. Banyak orang mengira “fitnah” di sini berarti “gosip”, padahal maknanya jauh lebih besar dan lebih berbahaya.

Artikel ini menghadirkan penjelasan komprehensif dari para ulama tafsir, lengkap dengan dalil, teks Arab berharakat, dan makna mendalam sebagaimana dijelaskan para imam seperti Ibn ‘Abbas, Mujahid, At-Tabari, Ibn Kathir, Ar-Razi, Az-Zamakhsyari, hingga ulama kontemporer.


I. Dalil Al-Qur’an tentang Fitnah Lebih Kejam daripada Membunuh

1. Al-Baqarah: 191

﴿ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ﴾
“Fitnah itu lebih dahsyat daripada pembunuhan.”

2. Al-Baqarah: 217

﴿ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ﴾
“Fitnah itu lebih besar (lebih berat) daripada pembunuhan.”

Ayat ini turun ketika kaum Muslimin dikecam karena terjadi pembunuhan di bulan Haram. Allah menjelaskan bahwa tindakan kaum musyrik berupa:

  • pengusiran kaum Muslim,
  • penyiksaan,
  • penindasan,
  • pemaksaan keluar dari Islam,

adalah jauh lebih buruk daripada pembunuhan itu sendiri.


II. Makna Fitnah Menurut Para Ulama Tafsir

1. Tafsiran Mayoritas: Fitnah = Syirik & Pemaksaan untuk Murtad

Ini adalah pendapat Ibn ‘Abbas, Mujahid, Qatādah, As-Suddī, hingga At-Tabari.

Ibn ‘Abbas (رضي الله عنهما)

قَالَ: الْفِتْنَةُ هُوَ الشِّرْكُ
“Beliau berkata: fitnah itu adalah syirik.”

Mujāhid (تلميذ ابن عباس)

قَالَ: فِتْنَتُهُمْ لِلْمُسْلِمِينَ أَنْ يَرُدُّوهُمْ إِلَى الْكُفْرِ
“Fitnah mereka terhadap kaum Muslim ialah memaksa mereka kembali kepada kekafiran.”

Imam At-Ṭabarī (ت 310هـ)

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, beliau berkata:

وَالصَّوَابُ مِنَ الْقَوْلِ عِنْدَنَا فِي الْفِتْنَةِ: أَنَّهَا الشِّرْكُ وَالإِضْطِهَادُ فِي الدِّينِ
“Makna fitnah menurut kami yang benar adalah: syirik dan penindasan dalam agama.”

Inti Makna:

Syirik + penindasan beragamanya manusia = lebih kejam daripada pembunuhan.


III. Tafsiran Lain: Fitnah = Kezaliman, Kekacauan, dan Penindasan Sistemik

Sebagian mufassir memperluas maknanya.

1. Imam Fakhruddin Ar-Rāzī (ت 606هـ)

الْفِتْنَةُ كُلُّ مَا يُوقِعُ فِي النَّاسِ مِنْ فَسَادٍ وَاضْطِرَابٍ
“Fitnah adalah segala sesuatu yang menimbulkan kerusakan dan kekacauan pada manusia.”

2. Imam Al-Kasysyāf (Az-Zamakhsyarī, ت 538هـ)

الْفِتْنَةُ هِيَ الظُّلْمُ وَالْقَهْرُ وَالتَّعَدِّي
“Fitnah adalah kezaliman, pemaksaan, dan pelanggaran terhadap hak.”

Maksudnya:

Kerusakan sosial, politik, dan moral yang meruntuhkan umat—lebih berbahaya daripada pembunuhan individu.


IV. Tafsiran Fikih: Ayat Ini Landasan Jihad Defensif

Ulama fiqh menjelaskan bahwa fitnah di ayat ini adalah alasan dibolehkannya perang defensif.

Ibn Kathīr

Beliau menyatakan:

فَإِنَّ فِتْنَتَهُمْ فِي دِينِكُمْ أَعْظَمُ مِنْ قَتْلِكُمْ إِيَّاهُمْ
“Fitnah mereka terhadap agama kalian lebih besar daripada pembunuhan yang kalian lakukan terhadap mereka.”

Maknanya:

  • Mengusir kaum Muslim,
  • Menyiksa mereka di Mekah,
  • Mencegah izin beribadah,
  • Memaksa mereka murtad,

itu lebih berat daripada peperangan yang dilakukan kaum Muslim.


V. Makna Fitnah dalam Bahasa Arab Klasik

Kata fitnah (فِتْنَةٌ) berasal dari:

فَتَنَ الذَّهَبَ
“Membakar emas untuk mengujinya.”

Sehingga maknanya meluas menjadi:

  1. ujian,
  2. cobaan,
  3. penyelewengan,
  4. peperangan internal (civil strife),
  5. penyesatan,
  6. syirik,
  7. kekacauan.

Ini memberi kita gambaran mengapa fitnah lebih kejam daripada membunuh:
kerusakannya multi-level, tidak berhenti pada satu individu.


VI. Penjelasan Para Ulama Kontemporer

1. Syaikh Ibn ‘Utsaimīn (ت 1421هـ)

الْفِتْنَةُ هُوَ كُلُّ مَا يُصْرَفُ الْعَبْدَ عَنْ دِينِهِ
“Fitnah adalah segala hal yang memalingkan seseorang dari agamanya.”

2. Syaikh Shāliḥ Al-Fauzān

وَهِيَ أَعْظَمُ مِنَ الْقَتْلِ لِأَنَّهَا إِفْسَادٌ لِلدِّينِ وَالدُّنْيَا
“Fitnah lebih besar daripada pembunuhan karena ia merusak agama dan dunia.”

3. Sayyid Quthb

“Fitnah adalah teror ideologis yang menghancurkan kebebasan beragama manusia. Ia pedang yang lebih tajam daripada pembunuhan.”


VII. Mengapa Fitnah Lebih Kejam daripada Membunuh?

1. Pembunuhan = Hilangnya satu nyawa

⟶ dampaknya terbatas.

2. Fitnah = kerusakan massal

  • merusak agama,
  • menghancurkan iman,
  • memicu perpecahan,
  • melahirkan perang saudara,
  • menumbuhkan penindasan,
  • menghilangkan keamanan publik,
  • menghancurkan generasi.

Karena itu para ulama menegaskan:

إِفْسَادُ الدِّينِ أَعْظَمُ مِنْ إِزْهَاقِ النَّفْسِ
“Merusak agama lebih besar (dosanya) daripada merenggut nyawa.”


VIII. Relevansi Kontemporer: Fitnah di Zaman Modern

Dalam konteks modern, “fitnah” mencakup:

• Propaganda kebencian
• Hoax politik & SARA
• Penindasan terhadap Muslim di berbagai negara
• Penggiringan opini untuk memusuhi Islam
• Kekacauan politik yang memicu perang saudara
• Pembatasan kebebasan beragama
• Dusta media yang merusak moral umat

Semua ini menjadi racun sosial yang berbahaya jauh melampaui kejahatan pembunuhan.


IX. Kesimpulan Utama

Dari seluruh penjelasan ulama:

Fitnah lebih kejam daripada membunuh
karena ia mencakup segala bentuk kerusakan besar yang menghancurkan agama, iman, keamanan, dan stabilitas masyarakat—khususnya syirik dan penindasan terhadap Muslim.

Ia bukan sekadar gosip, tetapi kezaliman terstruktur yang merusak peradaban.



Larangan Mencela Angin, Hujan, Cuaca, dan Musim


📌 Larangan Mencela Angin, Hujan, Cuaca, dan Musim dalam Islam

1. Larangan Mencela Angin

Hadits 1 — Riwayat Tirmidzi

النَّبِيُّ ﷺ قَالَ: «لَا تَسُبُّوا الرِّيحَ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُونَ فَقُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيحِ، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُمِرَتْ بِهِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيحِ، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ»
“Janganlah kalian mencela angin. Jika kalian melihat sesuatu yang tidak kalian sukai darinya, maka ucapkan: ‘Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada padanya, dan kebaikan yang ia perintahkan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya, dan keburukan yang ia perintahkan.’ (HR. Tirmidzi, hasan shahih)

Ibnu Qayyim – Larangan Mencela Angin

"سَبُّ الرِّيحِ مِنَ الجَهْلِ وَسُوءِ الأَدَبِ مَعَ اللهِ؛ فَإِنَّهَا مُسَخَّرَةٌ بِأَمْرِهِ."

“Mencela angin adalah bentuk kejahilan dan buruknya adab kepada Allah, karena angin itu tunduk kepada perintah-Nya.” — Madarij As-Salikin


2. Mencela Waktu / Musim

Hadits Qudsi — Riwayat Bukhari Muslim

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: «يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَا الدَّهْرُ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ»
Allah Ta‘ala berfirman: “Anak Adam menyakiti-Ku; ia mencela waktu, padahal Aku-lah (yang mengatur) waktu. Akulah yang membolak-balikkan siang dan malam.”(HR. Bukhari & Muslim)

Imam An-Nawawi – Syarah Mencela Waktu

"سَبُّ الدَّهْرِ حَرَامٌ؛ لأَنَّهُ فِيهِ سَبٌّ لِفِعْلِ اللهِ تَعَالَى."

“Mencela waktu itu haram, karena hakikatnya mencela perbuatan Allah Ta’ala.” — Syarh Shahih Muslim.

Mencela musim panas, musim hujan, perubahan cuaca → termasuk mencela “dahr (waktu)”.

3. Larangan Mengaitkan Hujan kepada Selain Allah

Hadits 3 — Riwayat Bukhari Muslim

قَالَ ﷺ: «أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ… فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي... وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالنَّوْءِ»
“Ada hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir… Adapun yang berkata: ‘Kami diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya,’ maka ia beriman kepada-Ku. Dan yang berkata: ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia telah kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang.”(HR. Bukhari Muslim)

Ibnu Hajar – Ucapan tentang Hujan

"النِّسْبَةُ إِلَى النَّوْءِ إِنِ اعْتَقَدَ أَنَّهُ الْمُؤَثِّرُ فَهُوَ كُفْرٌ، وَإِنْ جَعَلَهُ سَبَبًا فَهُوَ مَعْصِيَةٌ."

“Mengaitkan hujan kepada bintang: bila diyakini bintang yang memberi pengaruh, itu kufur. Bila hanya dianggap sebab, maka itu maksiat.”  Fathul Bari.

Catatan:
Yang dilarang: menganggap bintang yang memberi hujan.
Yang tidak dilarang: penjelasan ilmiah tentang meteorologi → sebab biasa (asbab kauniyah).


4. Tidak Mencela Panas dan Dingin

Hadits 4 — Riwayat Muslim

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَىٰ رَبِّهَا فَقَالَتْ: يَا رَبِّ، أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا… فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ»
“Neraka mengadu kepada Rabb-nya… maka Allah mengizinkannya dua hembusan: hembusan di musim dingin dan hembusan di musim panas.”

Imam Al-Qurthubi – Mencela Cuaca Sama dengan Mencela Allah

"مَنْ سَبَّ الرِّيحَ أَوْ الزَّمَانَ فَقَدْ عَابَ صُنْعَ اللهِ."

“Siapa mencela angin atau waktu, maka ia telah mencela ciptaan Allah.”  Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an

Mencela “panas dan dingin” berarti mencela takdir Allah.


5. Mendoakan ketika Mendengar Petir

Atsar Nabi — Riwayat Malik

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا سَمِعَ الرَّعْدَ قَالَ: «سُبْحَانَ مَنْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ»
“Maha Suci Allah yang petir bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat bertasbih karena takut kepada-Nya.”

Ini menunjukkan adab menghadapi fenomena alam.


Penutup Ringkas

Prinsip utamanya:

1. Fenomena alam = ciptaan Allah.

Mencelanya → sama dengan mencela Dzat Yang membuatnya.

2. Islam tidak melarang ilmu cuaca / meteorologi.

Yang dilarang:
❌ Menganggap fenomena alam terjadi tanpa takdir Allah
❌ Mengaitkan hujan pada bintang sebagai pemberi pengaruh

Yang dibolehkan:
✔ Penjelasan ilmiah tentang angin, awan, siklus air, tekanan atmosfer
✔ Mengatakan: “Secara ilmiah hujan akan turun karena… dengan izin Allah.”


Hujan dalam Sejarah Perjuangan Nabi dan Para Sahabat

 

Hujan dalam Sejarah Perjuangan Nabi dan Para Sahabat

Rahmat, Pertolongan, dan Ketenangan dari Langit

Hujan bukan hanya fenomena cuaca. Dalam sejarah para nabi dan sahabat, hujan hadir sebagai tentara Allah yang memperkuat dakwah, menyelamatkan orang beriman, dan menggagalkan makar musuh.
Artikel ini membahas tiga kisah besar: Nabi Musa, Perang Khandaq, dan Hudaibiyah, lengkap dengan dalil, penjelasan ulama, serta kisah singkat saat hujan itu turun.


1. Hujan yang Memadamkan Api dari Serangan Fir’aun terhadap Nabi Musa

Kisah Singkat Peristiwa Hujannya

Sebagian ahli sejarah (disebutkan oleh Ibn Katsir dalam al-Bidāyah wa an-Nihāyah) menceritakan bahwa Fir‘aun pernah memerintahkan kaumnya untuk mengumpulkan kayu-kayu lalu menyalakan api yang besar dengan tujuan membakar Nabi Musa dan pengikutnya. Api menjulang tinggi dan panasnya terasa dari kejauhan. Namun tiba-tiba langit gelap, lalu turunlah hujan deras yang memadamkan api itu. Fir‘aun dan kaumnya tercengang karena mereka yakin api itu mustahil padam kecuali jika ada kuasa luar biasa.

Ibn Katsīr menukil ucapan sebagian salaf:

« فَأَرْسَلَ اللّٰهُ مَطَرًا فَأَطْفَأَ النَّارَ وَنَجَّىٰ مُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ »

“Allah menurunkan hujan yang memadamkan api itu, dan Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya.”

Allah ﷻ berfirman menggambarkan kebinasaan Fir‘aun sebagai akhir dari berbagai makar mereka:

﴿ فَأَرَادَ أَنْ يَسْتَفِزَّهُمْ مِنَ الْأَرْضِ فَأَغْرَقْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ جَمِيعًا ﴾

“Maka Fir‘aun bermaksud untuk mengusir mereka dari bumi (Mesir). Lalu Kami pun menenggelamkan dia bersama semua orang yang bersamanya.” (QS. Al-Isrā’: 103)

Hikmah:
Allah mengubah hujan menjadi “pelindung” bagi Nabi Musa. Api yang dibuat manusia tidak berarti apa-apa jika Allah menurunkan hujan dari langit.

PENYEBAB UTAMA FIR‘AUN INGIN MEMBAKAR MUSA

1. Karena Musa mengancam kekuasaannya.

2. Karena dakwah Musa meruntuhkan propaganda ketuhanan Fir‘aun.

3. Karena rakyat mulai percaya kepada Musa.

4. Karena mukjizat Musa membuat Fir‘aun malu di depan rakyat.

  • tongkat menjadi ular besar,
  • tangan bercahaya putih,
  • kemenangan atas para penyihir,
  • munculnya bencana tūfān (banjir besar), belalang, kutu, katak, darah, dan lainnya, maka masyarakat mulai percaya kepada Musa.

Para penyihir sendiri mengakui:

﴿ آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَى ﴾

(QS. Thāhā: 70)

Hal ini membuat Fir‘aun sangat ketakutan karena pengaruh Musa semakin besar.

5. Karena Fir‘aun ingin menakut-nakuti Bani Israil dengan hukuman yang ekstrem.

6. Dalam riwayat tambahan: Fir‘aun frustasi karena berulang kali gagal membunuh Musa.

  • Fir‘aun pernah mencoba membunuh Musa sejak kecil, tetapi selalu gagal.
  • Musa lolos dari segala upaya: dibunuh, dicekik, diracun, dan lainnya.
  • Upaya membakar Musa adalah salah satu rencana puncak.


2. Perang Khandaq: Hujan dan Angin Menghancurkan Koalisi Musuh

Kisah Singkat Peristiwa Hujannya

Pada malam-malam paling genting Perang Khandaq, pasukan musyrikin Ahzab yang berjumlah lebih dari 10.000 orang berkumpul di sekitar Madinah. Mereka membangun tenda, memasak, menghidupkan api, dan menyiapkan logistik untuk serangan besar. Di sisi lain, kaum muslimin sangat kelelahan, kelaparan, dan ketakutan.

Di tengah malam, tiba-tiba angin sangat kencang bertiup dan hujan deras turun. Hujan itu menumbangkan tenda-tenda musuh, memadamkan api mereka, membasahi pakaian, merusak perbekalan, menumpahkan periuk makanan, hingga membuat ternak mereka lari. Abū Sufyān—pemimpin Quraisy saat itu—akhirnya berkata kepada pasukannya:

“Ini bukan tempat tinggal. Pulanglah! Kita tidak mungkin bertahan.”

Koalisi musuh bubar tanpa terjadi perang besar.

Allah ﷻ berfirman:

﴿ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا ﴾

“Lalu Kami mengirimkan kepada mereka angin (kencang) dan bala tentara yang tidak dapat kalian lihat.” (QS. Al-Ahzāb: 9)

Ibn Katsīr menafsirkan:

« بَعَثَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ رِيحًا شَدِيدَةً وَمَطَرًا فَقَلَبَ قُدُورَهُمْ وَقَوَّضَ خِيَامَهُمْ »

“Allah mengirimkan angin kencang dan hujan yang menumpahkan periuk mereka dan merobohkan tenda-tenda mereka.”

Rasulullah ﷺ juga memanjatkan doa pada malam itu:

« اللّٰهُمَّ اهْزِمِ الْأَحْزَابَ، اللّٰهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ »

“Ya Allah, hancurkanlah golongan-golongan (pasukan musuh). Ya Allah, hancurkanlah mereka dan goncangkanlah mereka.” (HR. Bukhari)

Dan Allah mengabulkan dengan hujan.

Hikmah:
Hujan bisa menjadi senjata Allah untuk memenangkan kaum beriman tanpa satu pun pedang diangkat.


3. Hujan pada Perjalanan menuju Hudaibiyah: Menguatkan Tanah & Menenangkan Kaum Muslimin

Kisah Singkat Peristiwa Hujannya

Ketika Nabi ﷺ dan para sahabat menuju Hudaibiyah, mereka melewati perjalanan yang berat. Debu sangat tebal, tanah gembur sulit dilewati, dan mereka kekurangan air. Banyak sahabat mulai merasa berat dan gelisah.

Allah kemudian menurunkan hujan yang lembut namun cukup deras. Hujan ini:

  • membersihkan tubuh mereka dari debu,
  • mengisi kembali tampungan air mereka,
  • menenangkan hati yang diliputi rasa takut,
  • dan membuat tanah yang semula gembur menjadi padat, sehingga pasukan bisa berdiri dan berjalan dengan lebih kokoh.

Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ … وَلِيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ ﴾

(QS. Al-Anfāl: 11)

Ibn Katsīr berkata:

« ثَبَّتَ الْأَقْدَامَ بِالْمَاءِ، فَإِنَّ التُّرَابَ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ لَانَ وَاسْتَقَرَّتْ عَلَيْهِ الْقَدَمُ »

“Allah meneguhkan pijakan mereka dengan air itu, karena tanah yang terkena air menjadi padat hingga kaki dapat berdiri kokoh di atasnya.”

Ibn Qayyim dalam Zād al-Ma‘ād juga menyebutkan:

« وَأَرْسَلَ اللّٰهُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ فَطَهَّرَهُمْ وَثَبَّتَ أَقْدَامَهُمْ وَأَذْهَبَ عَنْهُمُ التَّعَبَ »

“Allah menurunkan hujan kepada mereka, mensucikan mereka, meneguhkan kaki mereka, dan menghilangkan rasa letih mereka.”

Hikmah:
Hujan yang menenangkan adalah bentuk kasih sayang Allah kepada para pejuang dakwah.


Penegasan Ulama: Hujan adalah Tentara Allah

Imam al-Qurthubi berkata:

« الْمَطَرُ مِنْ جُنُودِ اللّٰهِ يَنْصُرُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ »

Syaikh as-Sa‘di menyatakan:

« وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّ الْمَطَرَ جُنْدٌ مِنْ جُنُودِهِ »


Penutup

Dari ketiga kisah di atas, kita belajar bahwa:

  • Hujan adalah rahmat tetapi juga bisa menjadi pertolongan strategis.

  • Alam semesta adalah alat bagi Allah untuk menolong hamba-Nya.

  • Kaum beriman harus melihat hujan bukan sekadar cuaca, tetapi bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.



Hujan sebagai Analogi Turunnya Rahmat Allah


Hujan sebagai Analogi Turunnya Rahmat Allah

Menghidupkan Tanah yang Gersang, Sebagaimana Allah Menghidupkan Hati yang Mati

Hujan adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an. Ia bukan sekadar fenomena alam, tetapi simbol spiritual yang sangat mendalam. Banyak ayat dan hadits yang menjelaskan bahwa hujan diibaratkan sebagai rahmat, bahkan sebagai gambaran turunnya hidayah, yaitu kehidupan yang menghidupkan hati sebagaimana air menghidupkan tanah yang mati.

Para ulama, khususnya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, menjadikan hujan sebagai analogi utama dalam menjelaskan kehidupan ruhani, hidayah, dan perubahan hati.

Artikel ini menguraikan secara rinci bagaimana Al-Qur’an, Sunnah, dan ulama menggambarkan hujan sebagai analogi turunnya rahmat Allah.

I. Hujan dalam Al-Qur’an: Rahmat yang Menghidupkan
1. Hujan Menghidupkan Bumi yang Mati
﴿ وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ﴾
“Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan itu Dia menghidupkan bumi setelah matinya.” (QS. An-Nahl: 65)

Di sini Allah mengarahkan perhatian manusia pada:
Tanah yang semula gersang → menjadi hijau
Pohon yang semula mati → berbuah kembali

Sebagaimana hujan menghidupkan bumi, rahmat Allah menghidupkan hati.

2. Hujan sebagai Perumpamaan Ilmu & Hidayah
Ayat yang sangat indah dan mendalam:
﴿ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا ﴾
“Dia menurunkan air dari langit, lalu mengalirlah lembah-lembah menurut ukurannya masing-masing.” (QS. Ar-Ra’d: 17)

Menurut para mufassir:
Air                            = ilmu dan hidayah
Lembah                   = hati manusia
Ukuran lembah     = kadar kesiapan seseorang menerima petunjuk

Sebagian hati luas dan bersih, sehingga banyak menerima kebaikan. Sebagian lainnya sempit, kotor, atau keras sehingga hanya sedikit menerima cahaya kebenaran.

II. Hujan dalam Sunnah: Kajian Nabi tentang Perubahan Hati
Nabi ﷺ bersabda:
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالْعِلْمِ، كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا
“Perumpamaan hidayah dan ilmu yang Allah utus aku dengannya adalah seperti hujan yang mengenai bumi.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam hadits itu, Nabi menggambarkan tiga jenis tanah:
1. Tanah Subur (Al-Ardh ath-Thayyibah)
  • Menyerap air
  • Menumbuhkan tanaman
  • Memberikan manfaat bagi diri & orang lain
Inilah hati mukmin yang menerima ilmu dan mengamalkannya.

2. Tanah yang Menahan Air
  • Tidak terlalu subur
  • Tetapi mampu menyimpan air sehingga bermanfaat bagi manusia
Ini seperti orang yang ilmunya tidak mendalam, tapi ia menyampaikan dan mengajarkan kepada orang lain.

3. Tanah Tandus
  • Tidak menyerap air
  • Tidak menumbuhkan tanaman
Ini ibarat hati yang menolak hidayah dan tidak mengambil manfaat dari ilmu.
Hadits ini adalah dasar paling kuat bahwa hujan = hidayah.

III. Analogi Hujan dalam Pemikiran Ibnul Qayyim
1. Dalam Madarij As-Salikin
Ibnul Qayyim menggunakan analogi hujan berulang kali:
  • Hujan adalah rahmat dan hidayah
  • Tanah adalah hati manusia
  • Tumbuh-tumbuhan adalah amal shalih
Beliau menulis (maknanya):
“Hati tidak akan hidup kecuali dengan rahmat Allah, sebagaimana bumi tidak hidup kecuali dengan hujan.”

2. Hujan yang Lembut dan Bertahap
Menurut Ibnul Qayyim:
Hujan tidak turun sekaligus, karena akan merusak
Hidayah pun turun bertahap, sesuai kesiapan hati

Maka jangan heran bila perubahan iman seringkali perlahan. Allah Maha Bijaksana dalam menumbuhkan hati manusia.

3. Tanah Keras dan Hati Keras
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa:
  • Tanah yang keras tidak menyerap air
  • Hati yang keras sulit menerima hidayah
Ilmu dan ayat-ayat Al-Qur’an turun, namun tidak memberi pengaruh. Karena bukan jumlah dalil yang menentukan, tetapi kesiapan hati.

IV. Korelasi Spiritual antara Hujan dan Rahmat Allah

Berikut hubungan langsung yang memudahkan pemahaman:
1. Hujan turun dari langit → hidayah pun turun dari langit
    Allah menurunkan rahmat sesuai kehendak-Nya.
2. Hujan membersihkan → iman membersihkan hati
    Air membersihkan kotoran dunia, Iman membersihkan kotoran dosa
3. Hujan menumbuhkan tanaman → ilmu menumbuhkan amal
    Semakin deras hujan → semakin subur tanaman
    Semakin banyak ilmu → semakin kuat amal shalih
4. Hujan membawa kebahagiaan → hidayah membawa ketentraman
    Tidak ada hati yang lebih tenteram daripada hati yang diberi cahaya iman.

V. Tipe Hati Berdasarkan Analogi Hujan
1. Hati yang Subur
  • Cepat tersentuh ayat
  • Mudah menerima nasihat
  • Melahirkan amal dan perbaikan diri
2. Hati yang Menahan Air
  • Tidak langsung berubah
  • Tetapi menyampaikan kebaikan kepada orang lain
  • Termasuk orang bermanfaat bagi masyarakat
3. Hati yang Tandus
  • Mendengar ayat tapi tidak tergerak
  • Mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya
  • Letih dengan nasihat, bosan dengan kebenaran
Refleksi bagi pembaca:
“Termasuk tanah jenis apa hati kita ketika rahmat Allah turun?”

VI. Dalil Tambahan tentang Hujan sebagai Rahmat
1. Hujan sebagai rahmat setelah keputusasaan
﴿ وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا ﴾
“Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka putus asa.” (QS. Asy-Syura: 28)

Allah menurunkan hujan setelah manusia putus asa — begitu juga Allah memberikan hidayah setelah seseorang berada di ujung kelelahan spiritual.

2. Angin sebelum hujan disebut “pembawa kabar gembira”
﴿ وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ﴾
“Dan Dialah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira sebelum (turunnya) rahmat-Nya.” (QS. Al-A’raf: 57)

Rahmat Allah selalu datang dengan tanda.

3. Allah memerintahkan manusia melihat tanda-tanda rahmat-Nya
﴿ فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ ﴾

“Maka perhatikanlah tanda-tanda rahmat Allah itu…” (QS. Ar-Rum: 50)

Sebagian ulama menafsirkan bahwa rahmat yang dimaksud adalah hujan.

VII. Penutup

Hujan adalah tanda nyata bagaimana Allah menurunkan rahmat-Nya kepada makhluk. Ia bukan hanya bermanfaat secara fisik, tetapi juga menjadi cermin bagi kehidupan spiritual manusia.

Sebagaimana tanah gersang yang kembali hidup dengan tetes-tetes hujan, demikian pula hati manusia akan kembali hidup dengan dzikir, ilmu, Al-Qur’an, dan hidayah dari Allah.

“Maka sambutlah rahmat Allah sebagaimana tanaman menyambut turunnya hujan.”


Keimanan yang berkaitan dengan Hujan


KEIMANAN YANG BERKAITAN DENGAN HUJAN

Kajian Dalil-dalil Shahih dan Penjelasan Ulama

PENDAHULUAN

Hujan bukan sekadar fenomena meteorologi, namun dalam Islam ia adalah tanda tauhid, bukti kekuasaan Allah, bagian dari takdir, serta ujian dan rahmat bagi manusia. Karena itu, para ulama memasukkan pembahasan hujan dalam aqidah iman kepada Allah, kepada qadha-qadar, dan kepada hal-hal ghaib.

1. HANYA ALLAH YANG MENURUNKAN HUJAN
A. Dalil Al-Qur'an 
1. QS. Fâthir (35): 2
مَا يَفْتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
Artinya: “Apa saja yang Allah bukakan bagi manusia berupa rahmat, tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang Allah tahan maka tidak ada yang dapat melepaskannya. Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Para mufassir seperti Ibn Katsîr menyebut “rahmat” di sini mencakup hujan karena hujan adalah salah satu bentuk rahmat terbesar.

2. QS. An-Nûr (24): 43
﴿ أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُزْجِى سَحَابًۭا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُۥ ثُمَّ يَجْعَلُهُۥ رُكَامًۭا فَتَرَى ٱلْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَـٰلِهِ … ﴾
Artinya: “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menggerakkan awan, lalu mengumpulkan antara (bagian-bagiannya), kemudian menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya…”

Ayat ini jelas menyandarkan turunnya hujan kepada Allah, bukan kepada alam semata.

2. TURUNNYA HUJAN TERMASUK ILMU GHAIB
A. Dalil Al-Qur'an - QS. Luqmân (31): 34
﴿ إِنَّ اللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ … ﴾
Artinya: “Sesungguhnya Allah-lah yang memiliki ilmu tentang hari Kiamat, DAN DIALAH yang menurunkan hujan…”

Ini menunjukkan bahwa kapan, di mana, dan berapa banyak hujan turun adalah urusan ghaib.

B. Dalil Hadits Shahih
HR. Bukhari no. 1039
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَفَاتِحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ… وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يُغْدِي الْغَدَ… وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَتَى يُنْزِلُ الْغَيْثَ…
Artinya: Nabi ﷺ bersabda: “Kunci-kunci perkara ghaib ada lima yang tidak diketahui kecuali Allah… Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan akan turun….” (Sumber: Shahih Bukhari, Kitab Tafsir)

3. ADA MALAIKAT YANG DIBERI TUGAS DALAM URUSAN HUJAN (DALAM MAKNA UMUM)
Catatan Penting:
Hadits-hadits spesifik tentang nama malaikat tertentu yang menurunkan hujan banyak yang lemah.
Namun konsep bahwa Allah menugaskan malaikat dalam pengaturan alam adalah benar.

Hadits Shahih tentang malaikat yang bertugas mengatur awan
HR. Muslim no. 2995
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَتَانِي رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ … فَقَالَ: هَلْ تَدْرِي مَا يَقُولُ الْمَلَكُ؟ قَالَ: يُنَادِي فِي السَّمَاءِ: اللهم اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ…
Artinya: Malaikat di langit memohon kepada Allah: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan-Mu…”

Walau bukan menunjukkan “malaikat khusus hujan”, namun menunjukkan peran malaikat dalam urusan hujan.

Kesimpulan:

Aqidah: Allah-lah yang menurunkan hujan.
Malaikat: hanyalah perantara yang taat menjalankan perintah.

4. HUJAN SUDAH DITAKDIRKAN DALAM LAUHUL MAHFÛDZ
Hadits Shahih Muslim no. 2653
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
Artinya: “Allah telah menulis seluruh takdir makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”

Termasuk di dalam takdir itu adalah kapan hujan turun, berapa banyak, dan kepada siapa manfaatnya.

5. ISTIGHFAR ADALAH SEBAB TURUNNYA HUJAN
A. Dalil Al-Qur'an
QS. Nûh (71): 10–12
﴿ فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا (١٠) يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا (١١) وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَٰلٍۢ وَبَنِينَ ﴾
Artinya: “Nuh berkata: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat. Dan akan menambah harta dan anak-anak kalian.”

Ayat ini tegas menunjukkan hubungan antara istighfar dan rizki hujan.

B. Atsar dari Hasan Al-Bashri
Seorang lelaki mengadu kekeringan, beliau menjawab:
ٱسْتَغْفِرِ اللَّهَ – “Perbanyaklah istighfar.” (Sumber: Tafsir Al-Qurthubi, 18/302)

6. PETIR DAN GUNTUR ADALAH TANDA KEKUASAAN ALLAH
A. Dalil Al-Qur’an
QS. Ar-Ra’d (13): 13
﴿ وَيُسَبِّحُ ٱلرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِۦ ﴾
Artinya: “Guntur bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat pun bertasbih karena takut kepada-Nya.”

Ayat ini paling shahih dalam menjelaskan fenomena guntur.

B. Doa Ketika Mendengar Petir
(dari Abdullah bin az-Zubair)
سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ
Artinya: “Maha suci Allah yang guntur bertasbih memuji-Nya dan para malaikat pun karena takut kepada-Nya.” (Sumber: Al-Adab Al-Mufrad, karya Al-Bukhari)

7. ENGGAN MENUNAIKAN ZAKAT MENYEBABKAN HUJAN DITAHAN

Hadits Shahih – HR. Ibn Majah no. 4019 (dishahihkan Al-Albani)
مَا مَنَعَ قَوْمٌ زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا
Artinya: “Tidaklah satu kaum menahan zakat harta mereka kecuali Allah menahan hujan dari langit. Bila bukan karena hewan-hewan (yang butuh air), niscaya hujan sama sekali tidak akan turun kepada mereka.”

Hadits ini shahih, dan menunjukkan hubungan antara ketaatan sosial dan keberkahan alam.

8. ADAB KETIKA HUJAN
1. Membaca doa ketika hujan:
HR. Bukhari no. 1032
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.”

2. Doa setelah hujan reda:
HR. Bukhari no. 1033
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
Artinya: “Kita diberi hujan ini berkat karunia dan rahmat Allah.”

Ini sekaligus bantahan terhadap keyakinan jahiliyah yang mengaitkan hujan dengan bintang-bintang.

3. Tidak mencaci hujan
Karena hujan adalah rahmat Allah.

4. Dianjurkan menampakkan diri sedikit saat hujan pertama
HR. Muslim no. 898
Nabi ﷺ membuka pakaiannya untuk terkena hujan. Beliau bersabda:
"لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ"
“Karena hujan itu baru saja diciptakan oleh Rabb-nya.”

9. HIKMAH KEIMANAN DARI HUJAN

  • Menguatkan tauhid – bahwa alam tunduk kepada Allah, bukan bergerak sendiri.
  • Menguatkan iman kepada qadar – takdir hujan telah ditulis.
  • Mendorong taubat – karena istighfar adalah sebab turunnya hujan.
  • Mendorong sedekah & zakat – karena kedurhakaan sosial mempengaruhi keberkahan alam.
  • Mendorong kepedulian lingkungan – Islam memandang alam sebagai amanah.
  • Menyadarkan manusia pada kelemahan diri – meskipun teknologi berkembang, tetap tidak bisa memastikan hujan secara pasti.

10. KESIMPULAN BESAR

Hujan adalah rahmat, tanda kekuasaan Allah, dan bagian dari iman.
Dalil shahih menunjukkan:
  • Allah-lah yang menurunkan hujan
  • Hujan termasuk perkara ghaib
  • Malaikat menjalankan perintah Allah dalam pengaturan alam
  • Hujan telah ditulis dalam takdir
  • Istighfar dan zakat mempengaruhi keberkahan hujan
  • Petir dan guntur adalah tanda kebesaran Allah
  • Seorang mukmin mesti melihat hujan sebagai sarana syukur, taubat, tawakal, dan menghidupkan sunnah.

Disclaimer: Islam Bukan Anti Ilmu Pengetahuan, Termasuk Astronomi dan Meteorologi

Islam tidak pernah melarang mempelajari fenomena alam seperti pergerakan awan, tekanan udara, angin, kelembapan, atau siklus hidrometeorologi yang dikaji oleh meteorologi dan astronomi. Bahkan, Islam mendorong umatnya untuk meneliti dan memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya.

Justru Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk mengamati, meneliti, dan memahami alam semesta, seperti:
اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏ ١٩٠
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang berakal.” (Ali ‘Imran: 190)

وَفِى ٱلسَّمَآءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
“Dan di langit terdapat sebab-sebab rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (Adz-Dzariyat: 22)

Ayat-ayat ini menjadi dasar bahwa Islam sangat pro-ilmu pengetahuan, termasuk ilmu atmosfer dan ilmu falak.

Bagaimana Islam Mengatur Pemahaman tentang Hujan?
1. Ilmu meteorologi menjelaskan mekanisme turunnya hujan
Hujan terjadi karena:
  • evaporasi,
  • kondensasi,
  • tekanan udara,
  • angin,
  • perubahan suhu,
  • pergerakan awan cumulonimbus, dll.
Ini adalah sebab-sebab ilmiah (asbâb kauniyyah) yang benar, nyata, dapat diukur dan dibuktikan.

Dalam Islam:
👉 Mengakui sebab alamiah = boleh, bahkan dianjurkan
👉 Namun meyakini sebab tersebut bekerja mandiri tanpa izin Allah = syirik

2. Islam menegaskan yang menciptakan dan mengatur hujan tetap Allah
Al-Qur’an sangat jelas:
وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ
“Dan Kami turunkan dari langit air (hujan) dengan suatu ukuran.” (QS. Al-Mu’minun: 18)

Meteorologi menjelaskan bagaimana hujan turun.
Allah menjelaskan Siapa yang mengizinkan hujan turun.
Ini bukan pertentangan — keduanya saling melengkapi.

Dimana Letak Kesalahpahaman yang Diluruskan Islam?

Rasulullah ﷺ mengecam keyakinan jahiliyah yang menyebut hujan turun karena bintang tertentu, seperti hadits:
مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا
“Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kesalahan mereka bukan pada mengamati bintang,
tetapi pada meyakini bintang memiliki kuasa menurunkan hujan.

Dalam aqidah Islam:
Boleh mengatakan: “Hujan turun karena ada awan dari arah barat, tekanan turun, suhu lembap.”
Tidak boleh mengatakan: “Awan ini pasti mendatangkan hujan tanpa kehendak Allah.”
Tidak boleh mengatakan: “Hujan turun karena kekuatan bintang atau alam.”

Korelasi Islam dengan Ilmu Alam: Bukan Konflik, Justru Selaras

1. Meteorologi = mengkaji hukum sebab-akibat
Meteorologi menjelaskan fenomena alam berdasarkan sunnatullah (hukum alam yang Allah tetapkan).
2. Islam = menegaskan bahwa Allah adalah pencipta hukum alam
Contoh:
Api membakar → sunnatullah
Awan membawa hujan → sunnatullah
Tapi keduanya hanya bekerja dengan izin Allah (Ibrahim: 27).

Analogi Mudah & Tepat

📌 Meteorologi = mempelajari “mesin” hujan
📌 Tauhid = mengakui “pemilik dan pengendali” mesin tersebut adalah Allah

Mempelajari mesin sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Sang Pencipta.
Justru semakin detail manusia memahami sistem hujan, semakin kuat keyakinannya bahwa sistem ini mustahil terjadi tanpa kehendak Allah.

Pandangan Para Ulama tentang Ilmu Astronomi & Meteorologi
Para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sepakat bahwa mempelajari sebab-sebab alam tidaklah bertentangan dengan akidah, bahkan termasuk “ilmu yang mubah dan bermanfaat”.

Imam Ibn Taymiyyah (Majmu’ Fatawa, 32/239) berkata:

“Mengetahui tanda-tanda alam bukanlah syirik. Yang syirik adalah meyakini bahwa tanda itu dapat menciptakan atau menurunkan hujan tanpa izin Allah.”
Artinya:
Mempelajari awan, angin, suhu → boleh
Menyimpulkan hujan terjadi karena sistem atmosfer → boleh
Meyakini sistem tersebut bekerja tanpa campur tangan Allah → haram

Imam Ibn Qayyim dalam Miftah Dar As-Sa’âdah menjelaskan:
“Meneliti tanda-tanda kekuasaan Allah pada makhluk-Nya adalah ilmu yang menguatkan iman. Karena melalui alam, seseorang melihat kesempurnaan ciptaan Allah.”
Ini menegaskan bahwa meteorologi, klimatologi, dan astronomi menguatkan iman — bukan melemahkannya.

Syaikh Ibn ‘Utsaimin dalam Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah mengatakan:

“Tidak masalah kita mengatakan bahwa hujan turun karena terbentuknya awan. Yang dilarang adalah mengatakan bahwa awan sendiri yang menurunkan hujan.”
Ini disiplin penting:
✔ Boleh menyebut sebab ilmiah
✘ Tidak boleh memberi kekuasaan independen pada sebab tersebut

Kesimpulan Discalimer
  1. Islam tidak anti meteorologi maupun astronomi.
  2. Islam membolehkan menjelaskan penyebab ilmiah turunnya hujan.
  3. Yang dilarang adalah meyakini sebab-sebab alam bekerja mandiri tanpa Allah.
  4. Ilmu pengetahuan dan iman kepada Allah dalam fenomena hujan saling melengkapi, bukan bertentangan.
  5. Semakin mendalam seseorang mempelajari alam, semakin nyata tanda-tanda kekuasaan Allah.

Label