"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Hikmah Isra’ Mi‘raj: Kemudahan Berjalan Beriringan dengan Kesulitan



Hikmah Isra’ Mi‘raj: 
Kemudahan Berjalan Beriringan dengan Kesulitan


1. Pemboikotan kaum Quraisy

Pemboikotan kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib merupakan salah satu fase terberat dalam sejarah awal Islam. Peristiwa ini dicatat secara detail dalam kitab-kitab sirah yang otoritatif seperti Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dan Ar-Rahiqul Makhtum karya Syaikh Safiyurrahman Al-Mubarakfuri.
Berikut adalah rincian mengenai pemboikotan tersebut:
  • Waktu dan DurasiTahun Dimulai: Dimulai pada awal tahun ke-7 kenabian.
  • Durasi: Berlangsung selama 3 tahun penuh.
  • Jumlah yg diboikot antara puluhan hingga ratusan orang (tidak semua muslim)
  • Tahun Berakhir: Berakhir pada tahun ke-10 kenabian, sesaat sebelum peristiwa Amul Huzni.

Pemboikotan ini merupakan hasil kesepakatan kolektif dari para pemuka kafir Quraisy bersama sekutu mereka, yaitu Bani Kinanah.

Secara lebih spesifik, tokoh-tokoh yang terlibat dalam inisiasi ide dan penulisan piagam tersebut adalah:Pencetus Ide Kolektif: Para pembesar kaum musyrikin Quraisy yang merasa terancam dengan pesatnya perkembangan dakwah Islam setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab. Mereka juga frustrasi karena gagal membujuk Abu Thalib untuk menyerahkan Nabi Muhammad SAW.

Penulis Piagam: Sosok yang menulis naskah pemboikotan tersebut adalah Manshur bin Ikrimah bin Amir bin Hasyim (dalam beberapa literatur disebut Baghidh bin Amir bin Hasyim).
Catatan Sejarah: Rasulullah SAW mendoakan keburukan bagi penulis piagam ini, sehingga konon tangannya menjadi lumpuh setelah menuliskan perjanjian zalim tersebut.

Pihak yang Terlibat: Kesepakatan ini dilakukan di tempat bernama Al-Muhashshab, di mana Suku Quraisy dan Bani Kinanah bersumpah untuk tidak berinteraksi dalam bentuk apa pun dengan Bani Hasyim dan Bani Muthalib hingga mereka menyerahkan Nabi untuk dibunuh.

Isi Piagam Pemboikotan

Kaum Quraisy menuliskan kesepakatan pemboikotan di atas selembar perkamen (kulit kayu/kertas) yang kemudian digantung di dalam Ka'bah. Poin-poin utamanya meliputi:
  • Dilarang melakukan transaksi jual-beli dengan kaum Muslimin, Bani Hasyim, dan Bani Muthalib.
  • Dilarang melakukan pernikahan (menikahi atau menikahkan) dengan mereka.
  • Dilarang menjalin hubungan sosial, berbicara, atau mengunjungi mereka.
  • Dilarang memberikan bantuan makanan atau perlindungan, kecuali jika mereka menyerahkan Muhammad untuk dibunuh.

Bentuk dan Dampak Pemboikotan

Selama tiga tahun, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga besar Bani Hasyim dan Bani Muthalib (baik yang Muslim maupun yang belum masuk Islam tetapi tetap setia melindungi Nabi) terisolasi di sebuah lembah bernama Syi'ib Abi Thalib. terletak di sebuah celah lembah di antara Bukit Abu Qubais dan Bukit Khandama, Sekitar tempat kelahiran nabi.

Kelaparan Hebat: Pasokan makanan diputus total. Mereka terpaksa memakan daun-daunan kering dan kulit binatang untuk bertahan hidup. Suara tangis anak-anak yang kelaparan terdengar hingga ke luar lembah.
Krisis Ekonomi: Harga barang sengaja dinaikkan berlipat ganda oleh pedagang Quraisy jika ada anggota Bani Hasyim yang mencoba membeli makanan saat kafilah dagang datang ke Mekkah.
Kelemahan Fisik: Kondisi ini menyebabkan kesehatan fisik Khadijah dan Abu Thalib menurun drastis, yang menjadi faktor penyebab wafatnya mereka tak lama setelah boikot berakhir.

Berakhirnya Pemboikotan

Pemboikotan berakhir karena dua faktor:
Hancurnya Piagam: Nabi Muhammad SAW mengabarkan bahwa rayap telah memakan seluruh isi piagam di Ka'bah, kecuali tulisan "Bismikallahumma" (Dengan Nama-Mu ya Allah). Saat dicek oleh tokoh Quraisy, kabar tersebut benar adanya.
Inisiatif Tokoh Quraisy: Beberapa tokoh Quraisy yang masih memiliki rasa kekeluargaan (seperti Hisyam bin Amr dan Zuhair bin Abi Umayyah) merasa iba dan bersepakat untuk membatalkan piagam tersebut secara paksa.

2. Amul Huzni

Kematian Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib merupakan peristiwa pilu pada tahun ke-10 kenabian (sekitar 619 M) yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan.

Wafatnya Abu Thalib
Abu Thalib, paman Nabi yang menjadi pelindung politik utama dari ancaman kaum Quraisy, wafat lebih dulu pada tahun tersebut. 
Kisah Menjelang Wafat: Saat Abu Thalib sakit parah, Nabi Muhammad SAW mendatanginya dan memintanya untuk mengucapkan kalimat syahadat agar beliau dapat memberi syafaat di akhirat.
Penghalang: Tokoh Quraisy seperti Abu Jahl hadir di sisi tempat tidur Abu Thalib dan menghasutnya agar tetap setia pada agama nenek moyang. Abu Thalib akhirnya wafat tanpa memeluk Islam, yang menjadi kesedihan mendalam bagi Nabi.

Peristiwa ini tercantum dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori:

أَنَّهُ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ: ” يَا عَمِّ، قُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ ” فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ» فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ: {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ} [التوبة: 113] الآيَةَ

Ketika Abu Thalib hendak meninggal dunia, Rasulullah ﷺ mendatanginya. Di dekat Abu Thalib, beliau melihat ada Abu Jahal bin Hisyam, dan Abdullah bin Abi Umayah bin Mughirah. Rasulullah ﷺ menyampaikan kepada pamannya, ”Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallah, kalimat yang aku jadikan saksi utk membela paman di hadapan Allah.” Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah menimpali, ’Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?’

Rasulullah ﷺ terus mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid, namun dua orang itu selalu mengulang-ulang ucapannya. Hingga Abu Thalib memilih ucapan terakhir, dia mengikuti agama Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah.

Kemudian Rasulullah ﷺ bertekad,” Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang.”

Lalu Allah menurunkan firman-Nya di surat at-Taubah ayat 113. (HR. Imam Bukhari)

Surat Attaubah ayat 113:

مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسْتَغْفِرُوا۟ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرْبَىٰ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْجَحِيمِ

Artinya: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahim.

Juga dalam Surat Al-Qoshosh ayat 56 Allah Ta’ala berfirman;

إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Artinya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Wafatnya Khadijah binti Khuwailid

Sekitar dua hingga tiga bulan setelah Abu Thalib wafat, istri tercinta Nabi, Khadijah, menyusul ke rahmatullah pada bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian dalam usia 65 tahun. 
Peran Khadijah: Beliau adalah orang pertama yang beriman, penenang hati Nabi saat masa awal wahyu, dan pendukung finansial utama dakwah Islam.
Dampak: Kehilangan Khadijah membuat Nabi kehilangan dukungan moral dan emosional di dalam rumah tangga. Nabi dimakamkan beliau di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal sebagai Al-Hajun.

3. Perjalan ke Thaif

Kehilangan dua pilar pendukung ini dalam waktu berdekatan membuat posisi Nabi di Mekkah sangat rentan. Kaum Quraisy meningkatkan tekanan fisik karena tidak ada lagi sosok yang mereka segani (Abu Thalib) untuk melindungi Nabi. Hal inilah yang kemudian mendorong Nabi untuk mencari basis dakwah baru di luar Mekkah, termasuk perjalanan ke Thaif. 

Perjalanan Menuju Thaif Waktu: Terjadi pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian (sekitar akhir Mei atau awal Juni 619 M).
Pendamping: Nabi pergi secara sembunyi-sembunyi dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 60 mil (sekitar 100 km) dari Mekkah ke Thaif ditemani oleh Zaid bin Haritsah.
Tujuan: Menemui tiga pemimpin Bani Tsaqif (Abdu Yalail, Mas’ud, dan Habib) untuk mengajak mereka memeluk Islam serta meminta perlindungan bagi kaum Muslimin dari gangguan kafir Quraisy.

Penolakan dan Persekusi di Thaif

Nabi tinggal di Thaif selama 10 hari. Namun, tanggapan para pemimpin Tsaqif sangat kasar dan menghina
Ejekan: Salah satu dari mereka berkata, "Jika Allah mengutusmu, aku akan merobek kelambu Ka'bah!" Yang lain berkata, "Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain kamu?"
Serangan Fisik: Mereka menghasut penduduk, para budak, dan anak-anak untuk berbaris di pinggir jalan dan melempari Nabi dengan batu saat beliau hendak keluar dari kota.
Luka-luka: Nabi mengalami luka parah hingga kakinya berdarah dan sepatunya basah oleh darah. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Nabi dengan tubuhnya sendiri hingga kepalanya mengalami luka-luka bocor.

Berteduh di Kebun Anggur (Utbah dan Syaibah)

Nabi dan Zaid berhasil melarikan diri dan berlindung di sebuah kebun anggur milik dua orang Quraisy, Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah.
Kisah Addas: Melihat penderitaan Nabi, Utbah dan Syaibah merasa iba (berdasarkan ikatan kekerabatan) dan mengirimkan budak mereka yang beragama Kristen bernama Addas untuk membawakan sepiring anggur.
Keajaiban: Saat Nabi mengucapkan "Bismillah" sebelum makan, Addas terkejut karena kata itu tidak dikenal penduduk setempat. Setelah berdialog dan mengetahui Nabi adalah utusan Allah seperti Nabi Yunus AS, Addas langsung masuk Islam dan menciumi tangan serta kaki Nabi.

Tawaran Malaikat Jibril dan Penjaga Gunung

Dalam perjalanan pulang dalam kondisi sangat letih dan sedih, di tempat bernama Qarnul Manazil, Nabi didatangi Malaikat Jibril dan Malaikat Penjaga Gunung. Tawaran: Malaikat Penjaga Gunung menawarkan untuk menghimpitkan dua gunung besar (Al-Akhsyabain) di Mekkah kepada penduduk Thaif yang kejam tersebut.
Jawaban Nabi: Dengan penuh kasih sayang, Nabi menolak tawaran itu dan berdoa:
بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ، لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
"Bahkan aku berharap Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."

Dan 11 Tahun kemudian (9 Hijrah) warga Thaif Masuk Islam secara masal.

Peristiwa Jin Menyimak Al-Qur'an

Dalam perjalanan pulang dari Thaif menuju Mekkah, Nabi SAW sempat bermalam di sebuah tempat bernama Lembah Nakhlah. Saat beliau melaksanakan shalat malam dan membaca Al-Qur'an, sekelompok jin (dari daerah Nashibin) lewat dan berhenti untuk mendengarkan bacaan beliau.
Dampaknya: Para jin tersebut masuk Islam dan kembali ke kaumnya untuk berdakwah. 
Peristiwa ini diabadikan dalam QS. Al-Ahqaf: 29-32 
وَاِذۡ صَرَفۡنَاۤ اِلَيۡكَ نَفَرًا مِّنَ الۡجِنِّ يَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ​ۚ فَلَمَّا حَضَرُوۡهُ قَالُوۡۤا اَنۡصِتُوۡا​ۚ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوۡا اِلٰى قَوۡمِهِمۡ مُّنۡذِرِيۡنَ‏ ٢٩
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang mendengarkan (bacaan) Al-Qur`an, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya mereka berkata, "Diamlah kamu! (untuk mendengarkannya)" Maka ketika telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.

dan QS. Al-Jinn: 1-2. 
قُلۡ اُوۡحِىَ اِلَىَّ اَنَّهُ اسۡتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا ۙ ١
يَّهۡدِىۡۤ اِلَى الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِهٖ​ ؕ وَلَنۡ نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَاۤ اَحَدًا ۙ‏ ٢

Katakanlah (Muhammad), "Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan)," lalu mereka berkata, "Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur`an),
(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.

Hal ini menjadi penghibur bagi Nabi bahwa jika manusia (penduduk Thaif) menolak dakwahnya, maka makhluk lain (jin) justru menerimanya.

Kembali ke Mekkah dengan Jaminan (Jiwar)

Nabi tidak bisa langsung masuk ke Mekkah karena status beliau sudah tidak lagi aman setelah keluar dari kota tersebut.
Jaminan Mut'im bin Adi: Nabi mengirim utusan kepada beberapa tokoh Mekkah untuk meminta jaminan keamanan (jiwar). Akhirnya, Mut’im bin Adi (seorang non-Muslim yang memiliki rasa kemanusiaan) bersedia memberikan jaminan.
Masuk Mekkah: Mut’im dan putra-putranya mengawal Nabi Muhammad SAW dengan senjata lengkap hingga ke Masjidil Haram untuk melakukan tawaf, barulah kemudian Nabi kembali ke rumah beliau.

Dakwah kepada Kabilah-Kabilah Arab

Karena akses dakwah kepada penduduk asli Mekkah (Quraisy) semakin tertutup, Nabi Muhammad SAW mulai memanfaatkan musim haji untuk mendatangi kemah-kemah kabilah dari luar Mekkah yang sedang berziarah.
Beliau mendatangi kabilah seperti Bani Kindah, Bani Hanifah, Bani Amir bin Sa'sa'ah, dan Bani Muharib. Meskipun banyak yang menolak dengan kasar, usaha ini menjadi pembuka jalan bagi peristiwa besar berikutnya.

Pertemuan dengan Enam Pemuda Yatsrib (Cikal Bakal Hijrah)

Pada musim haji tahun ke-11 kenabian (beberapa bulan setelah dari Thaif), Nabi bertemu dengan enam orang pemuda dari suku Khazraj, Yatsrib (kelak bernama Madinah) di Aqabah.
Berbeda dengan penduduk Mekkah atau Thaif, mereka menerima dakwah Nabi dengan sangat baik. Mereka sudah sering mendengar tentang akan datangnya seorang nabi dari tetangga mereka yang beragama Yahudi. Pertemuan kecil inilah yang menjadi benih awal terjadinya Perjanjian Aqabah dan nantinya peristiwa Hijrah.

Pernikahan dengan Saudah binti Zam'ah

Untuk meringankan duka setelah wafatnya Khadijah dan membantu mengurus anak-anak serta rumah tangga, Nabi Muhammad SAW menikahi Saudah binti Zam'ah pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian. Saudah adalah seorang janda muhajirah yang suaminya wafat setelah kembali dari hijrah ke Habasyah.

Isrā’ Mi‘rāj: Hadiah Langit dan Pelipur Lara bagi Rasulullah ﷺ

Peristiwa Isrā’ Mi‘rāj tidak terjadi dalam ruang hampa sejarah. Ia datang pada saat paling gelap dalam kehidupan Rasulullah ﷺ—tahun yang dikenal sebagai ‘Āmul Ḥuzn (Tahun Kesedihan).

Bumi seakan menutup pintunya. Manusia menolak, menghina, dan menyakiti.
Maka ketika bumi tidak lagi memberi tempat, langit pun dibuka.

Isrā’: Ketika Allah Menghibur Kekasih-Nya

Allah membuka kisah ini dengan kalimat penuh pengagungan:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
(QS. Al-Isrā’: 1)
Perhatikan:
Allah menyebut Nabi Muhammad ﷺ dengan gelar عَبْدِهِ (hamba-Nya)—bukan rasul, bukan nabi.

Ini isyarat lembut bahwa:
“Wahai Muhammad, engkau mungkin ditolak sebagai manusia, tetapi engkau tetap mulia sebagai hamba-Ku.”

Mengapa Allah tidak menyebut “rasūlihī” (rasul-Nya) atau “nabiyyihī” (nabi-Nya), padahal konteksnya adalah peristiwa paling agung dalam hidup Rasulullah ﷺ?
Jawabannya justru terletak pada kemuliaan kata ‘hamba’ itu sendiri.

‘Ubudiyyah adalah Puncak Kemuliaan, Bukan Kerendahan

Dalam logika manusia, “hamba” terdengar rendah.
Namun dalam logika langit, ‘ubūdiyyah adalah maqām tertinggi.

Imam Al-Qurthubi رحمه الله menjelaskan:
Allah menyebut Nabi dengan ‘abd (hamba) untuk menunjukkan bahwa derajat tertinggi manusia adalah penghambaan yang sempurna kepada Allah.
(Tafsir Al-Qurthubi, QS. Al-Isrā’: 1)

Karena itu:
  • Nabi tidak dimuliakan dengan nasab
  • Tidak pula dengan kekuasaan
  • Tetapi dengan kesempurnaan penghambaan
  • Justru karena Nabi adalah hamba sejati, maka ia layak diangkat ke Sidratul Muntahā.

Isrā’ adalah perjalanan penghiburan:

Dari Makkah yang penuh luka, Menuju Baitul Maqdis, simbol risalah para nabi

Seakan Allah berkata: “Engkau tidak sendirian. Jalanmu adalah jalan para utusan sebelum engkau.”

Jika Isrā’ adalah hiburan, maka Mi‘rāj adalah pemuliaan.

Rasulullah ﷺ diangkat menembus lapisan langit, bertemu para nabi, hingga mencapai Sidratul Muntahā—tempat yang tidak bisa dicapai makhluk mana pun.

Allah berfirman:
لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ
“Sungguh, ia telah melihat tanda-tanda terbesar dari Rabb-nya.” (QS. An-Najm: 18)

Di sinilah makna terdalam Mi‘rāj:
Ketika manusia merendahkan Rasulullah ﷺ
Allah meninggikannya

Ketika makhluk menolak
Allah mendekatkan

Ketika dunia menyakiti
langit memeluk

Mi‘rāj adalah jawaban Allah atas air mata Rasul-Nya.

Shalat: Hadiah Langit sebagai Obat Luka

Dalam Mi‘rāj, Allah tidak memberikan:
Kekayaan, Kekuasaan, Atau kemenangan instan, Tetapi shalat.

Karena shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan:
Pelipur lara
Penguat jiwa
Sarana perjumpaan

Rasulullah ﷺ bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.” (HR. An-Nasā’i)

Setiap kali Rasulullah ﷺ diliputi kegelisahan, beliau berkata:

أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ
“Tenangkan kami dengannya wahai Bilal.” (HR. Abu Dawud)

Shalat adalah Mi‘rāj yang berulang, agar luka tidak mengeras dan iman tidak padam.

Hikmah Besar bagi Umat Dari Isrā’ Mi‘rāj, umat ini belajar:

Kesedihan bukan tanda ditinggalkan Allah
Justru sering kali menjadi tanda sedang dipersiapkan untuk kenaikan derajat.

Ketika manusia menutup pintu, Allah membuka langit
Jangan ukur cinta Allah dari respon manusia.

Solusi luka jiwa bukan menjauh dari Allah, tetapi mendekat
Bukan dengan lari dari shalat, tetapi berdiri di dalamnya.

Shalat adalah warisan penghiburan Nabi untuk umatnya

Jika Rasulullah ﷺ dihibur dengan Mi‘rāj,
maka umatnya dihibur dengan shalat.

Dan siapa yang menjaga shalatnya,
ia sedang menjaga jalur langit dalam hidupnya.

Kemudahan Berjalan Beriringan dengan Kesulitan

Hikmah Isrā’ Mi‘rāj yang Wajib Dipedomani Kaum Muslimin

Banyak orang memahami Isrā’ Mi‘rāj hanya sebagai perjalanan luar biasa Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke langit. Padahal, di balik peristiwa agung itu terdapat pelajaran hidup yang sangat dekat dengan keseharian kita:
kemudahan tidak pernah datang sendirian, tetapi selalu berjalan beriringan dengan kesulitan.

Isrā’ Mi‘rāj terjadi bukan saat Nabi ﷺ sedang senang, tetapi justru ketika beliau berada di masa paling berat dalam hidupnya, yang dikenal sebagai ‘Ām al-Ḥuzn (tahun kesedihan). Inilah yang membuat Isrā’ Mi‘rāj relevan bagi setiap Muslim yang sedang diuji.

Allah ﷻ berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. al-Insyirah: 5–6)

Perhatikan baik-baik:
Allah tidak mengatakan setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan. 

Makna “Bersama Kesulitan Ada Kemudahan”


Banyak orang mengira kemudahan baru datang setelah masalah selesai. Padahal, menurut Al-Qur’an, kemudahan itu sudah ada sejak kita sedang diuji, hanya saja sering tidak kita sadari.

Kemudahan itu bisa berupa:
  • Hati yang lebih sabar
  • Iman yang semakin kuat
  • Dosa yang dihapus
  • Doa yang lebih dekat kepada Allah
  • Jalan hidup yang perlahan diarahkan ke arah yang lebih baik

Isrā’ Mi‘rāj mengajarkan bahwa Allah tidak selalu mengangkat masalah kita, tetapi Allah mengangkat derajat kita melalui masalah itu.

Shalat: Kemudahan di Tengah Kesulitan

Hadiah terbesar dari Isrā’ Mi‘rāj bukan harta, bukan jabatan, dan bukan kemenangan dunia, tetapi shalat lima waktu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

فُرِضَتِ الصَّلَاةُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي

“Shalat diwajibkan atasku pada malam aku diperjalankan (Isrā’ Mi‘rāj).”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Shalat adalah kemudahan yang Allah berikan saat hidup terasa berat.


Label