"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Mendahulukan yang Wajib di Atas yang Sunnah: Prinsip Agung dalam Beribadah

 


Mendahulukan yang Wajib di Atas yang Sunnah: Prinsip Agung dalam Beribadah

Mukadimah

Di tengah semangat beribadah, sering kali seorang muslim sangat antusias mengerjakan berbagai amalan sunnah. Ia rajin menghadiri majelis ilmu, memperbanyak puasa sunnah, qiyamul lail, sedekah, dzikir, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya.

Namun ada satu kaidah penting yang terkadang terlupakan, yaitu bahwa amalan wajib jauh lebih dicintai Allah daripada amalan sunnah. Sebesar apa pun nilai suatu amalan sunnah, ia tidak akan pernah menyamai kedudukan amalan yang diwajibkan Allah.

Karena itu, para ulama selalu mengingatkan agar seorang muslim memperhatikan kewajiban-kewajibannya terlebih dahulu sebelum sibuk memperbanyak amalan-amalan tambahan.


Hadits Qudsi yang Menjadi Landasan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

"Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. al-Bukhari)

Hadits yang agung ini menjelaskan urutan yang benar dalam beribadah:

  1. Menunaikan kewajiban.
  2. Menyempurnakannya dengan amalan sunnah.
  3. Meraih kecintaan Allah.

Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan bahwa hamba mendekatkan diri kepada-Nya dengan nawafil terlebih dahulu, tetapi dengan apa yang diwajibkan-Nya.


Kaidah Para Ulama

Berdasarkan hadits tersebut, Imam Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullah menyebutkan sebuah kaidah:

الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ

"Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah."

Ini merupakan kaidah yang disepakati para ulama. Mengapa demikian?

Karena amalan wajib adalah sesuatu yang Allah tuntut dari setiap hamba. Meninggalkannya berdosa, sedangkan mengerjakannya mendapat pahala.

Adapun amalan sunnah merupakan pelengkap dan penyempurna. Pelakunya mendapat pahala, namun meninggalkannya tidak berdosa.

Oleh sebab itu, tidak mungkin sesuatu yang pelengkap lebih utama daripada sesuatu yang pokok.


Penjelasan Ibnu Hajar yang Sangat Mendalam

Dalam syarah hadits ini, Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah berkata: 

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ. وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

"Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib sehingga tidak sempat melakukan yang sunnah, maka ia mendapat udzur. Dan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka ia adalah orang yang tertipu."

Kalimat ini sangat berharga dan layak ditulis dengan tinta emas.

Seseorang yang sibuk memenuhi kewajiban-kewajibannya di hadapan Allah tidaklah tercela apabila ia belum mampu melakukan banyak amalan sunnah.

Sebaliknya, seseorang yang rajin melakukan amalan sunnah tetapi lalai terhadap kewajiban adalah orang yang tertipu oleh dirinya sendiri.


Contoh-Contoh Praktis dalam Kehidupan

1. Sibuk Tahajud Tetapi Lalai Shalat Subuh

Ada orang yang semangat qiyamul lail, namun karena begadang atau kurang menjaga waktu istirahat, akhirnya terlambat shalat Subuh.

Ini adalah bentuk ketertipuan.

Shalat Subuh berjamaah jauh lebih utama daripada tahajud yang menyebabkan seseorang lalai dari kewajibannya.

2. Rajin Umrah Berkali-kali Tetapi Menelantarkan Orang Tua

Sebagian orang mampu mengeluarkan biaya besar untuk umrah berulang kali, namun kurang memperhatikan kebutuhan kedua orang tuanya.

Padahal berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban, sedangkan umrah berulang kali hukumnya sunnah.

Mendahulukan yang sunnah dan mengabaikan yang wajib adalah kekeliruan dalam memahami prioritas agama.

3. Aktif Dakwah Tetapi Lalai terhadap Keluarga

Ada yang sangat aktif menghadiri kajian, mengisi ceramah, atau melakukan berbagai kegiatan dakwah, namun tidak menunaikan hak istri dan anak-anaknya.

Padahal memberikan nafkah, pendidikan, perhatian, dan bimbingan kepada keluarga adalah kewajiban.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

4. Banyak Berdzikir Tetapi Meremehkan Hutang

Sebagian orang rajin mengikuti majelis dzikir dan memperbanyak wirid, namun menunda-nunda pembayaran hutang padahal mampu membayarnya.

Menunaikan hak manusia merupakan kewajiban yang harus didahulukan daripada amalan-amalan sunnah.


Mengapa Banyak Orang Terbalik Prioritasnya?

Ada beberapa sebab:

Pertama: Amalan sunnah sering lebih sesuai dengan keinginan diri

Seseorang dapat memilih amalan yang ia sukai. Namun kewajiban terkadang menuntut pengorbanan, disiplin, dan tanggung jawab.

Kedua: Amalan sunnah lebih mudah terlihat

Orang lain dapat melihat kita berpuasa sunnah, menghadiri kajian, atau memperbanyak ibadah tertentu.

Sementara sebagian kewajiban sering tidak terlihat, seperti menafkahi keluarga, melunasi hutang, atau menjaga amanah pekerjaan.

Ketiga: Kurangnya pemahaman fiqih prioritas

Tidak semua amal memiliki kedudukan yang sama. Syariat mengajarkan adanya tingkatan amal yang harus dipahami.


Para Salaf Sangat Memperhatikan Kewajiban

Para ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam masalah ini.

Mereka memahami bahwa kedekatan kepada Allah tidak hanya diukur dari banyaknya amalan, tetapi juga dari ketepatan dalam menempatkan amalan pada posisinya.

Sebagian salaf mengatakan:

مَا تَقَرَّبَ الْمُتَقَرِّبُونَ إِلَى اللَّهِ بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ

"Tidaklah orang-orang yang ingin mendekat kepada Allah mendekat dengan sesuatu yang lebih utama daripada menunaikan kewajiban yang Allah bebankan kepada mereka."

Makna ini sejalan dengan hadits qudsi di atas.


Hubungan antara Wajib dan Sunnah

Bukan berarti amalan sunnah tidak penting. Justru amalan sunnah memiliki banyak fungsi:

  • Menyempurnakan kekurangan amalan wajib.
  • Menambah pahala.
  • Mengangkat derajat.
  • Menjadi sebab mendapatkan kecintaan Allah.

Namun semua itu berlaku setelah kewajiban ditunaikan dengan baik.

Ibarat membangun rumah, fondasi harus kokoh terlebih dahulu. Setelah itu barulah rumah dihias dan dipercantik.

Amalan wajib adalah fondasi, sedangkan amalan sunnah adalah penyempurna.


Muhasabah untuk Diri Kita

Sebelum menambah target-target amalan sunnah, hendaknya setiap muslim bertanya kepada dirinya:

  • Apakah shalat lima waktu sudah terjaga?
  • Apakah shalat berjamaah sudah diusahakan?
  • Apakah hak orang tua sudah ditunaikan?
  • Apakah hak pasangan dan anak sudah dipenuhi?
  • Apakah amanah pekerjaan sudah dijalankan dengan baik?
  • Apakah hutang-hutang sudah diselesaikan?
  • Apakah kewajiban menuntut ilmu yang dibutuhkan sudah dilakukan?

Jika masih ada kewajiban yang terbengkalai, maka itulah yang harus didahulukan.


Penutup

Hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang diwajibkan-Nya. Dari sini para ulama menetapkan kaidah:

الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ

"Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah."

Dan Ibnu Hajar rahimahullah memberikan peringatan yang sangat tajam:

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

"Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib sehingga tidak sempat melakukan yang sunnah, maka ia mendapat udzur. Dan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka ia adalah orang yang tertipu."

Maka ukuran keberhasilan seorang hamba bukanlah banyaknya amalan yang dilakukan, tetapi sejauh mana ia mampu menunaikan apa yang Allah wajibkan kepadanya, kemudian menyempurnakannya dengan amalan-amalan sunnah. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang memahami prioritas dalam beribadah dan memperoleh kecintaan-Nya. Aamiin.

Label