AKAL YANG SEHAT AKAN SELALU CONDONG KEPADA KEBAIKAN
1. Manusia Diciptakan Sebagai Sebaik-baik Makhluk
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menciptakan manusia dengan kemuliaan yang tidak diberikan kepada kebanyakan makhluk lainnya. Kemuliaan itu bukan sekadar karena bentuk fisiknya yang indah, tetapi karena Allah membekalinya dengan berbagai potensi untuk mengenal dan beribadah kepada-Nya.
Allah Ta‘ālā berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tīn: 4)
Dan Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
"Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam." (QS. Al-Isrā': 70)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kemuliaan ini meliputi kesempurnaan bentuk, kemampuan berbicara, kemampuan belajar, hati yang mampu beriman, dan akal yang mampu berpikir. Semua itu menjadikan manusia layak menerima amanah syariat.
2. Di Antara Bentuk Kesempurnaan Itu Adalah Akal
Di antara nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada manusia adalah akal. Dengan akal manusia dapat memahami, menimbang, mengingat, mengambil pelajaran, dan membedakan antara yang benar dan yang salah.
Karena pentingnya akal, Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia untuk menggunakannya.
كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
"Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian menggunakan akal." (QS. Al-Baqarah: 242)
Namun, akal hanyalah potensi. Sebagaimana mata membutuhkan cahaya agar dapat melihat, akal pun membutuhkan petunjuk agar tidak tersesat.
3. Wahyu Adalah Sumber Ilmu yang Menyehatkan Akal
Allah tidak membiarkan akal berjalan sendiri. Dia menurunkan wahyu sebagai cahaya yang menerangi jalan berpikir manusia.
Tanpa petunjuk wahyu, akal mudah dipengaruhi hawa nafsu, syubhat, dan prasangka. Sebaliknya, ketika akal diberi asupan ilmu yang benar dari Al-Qur'an dan Sunnah, ia akan tumbuh semakin jernih dan bijaksana.
Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ
"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar." (QS. At-Taubah: 33)
Allah juga berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang dapat mengambil pelajaran hanyalah orang-orang yang berakal." (QS. Az-Zumar: 9)
Karena itu, ilmu syar'i bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menyehatkan cara berpikir.
4. Fungsi Akal Adalah Mengenal Allah dan Menerima Kebenaran
Tujuan utama akal bukan untuk berdebat, bukan pula untuk membenarkan semua keinginan manusia. Fungsi utamanya adalah mengenali tanda-tanda kebesaran Allah dan menerima kebenaran ketika kebenaran itu datang.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Āli 'Imrān: 190)
Semakin sehat akal seseorang, semakin mudah ia melihat bahwa seluruh alam semesta menunjukkan keesaan Allah. Akal yang sehat tidak sombong di hadapan dalil, tetapi tunduk kepada kebenaran.
5. Akal Harus Dipelihara Agar Tetap Sehat
Kemuliaan manusia bukan semata-mata karena tubuh yang tegap atau wajah yang indah, tetapi karena Allah menganugerahkan kemampuan berpikir dan menerima petunjuk.
Maka pertanyaannya, mengapa ada manusia yang semakin cerdas justru semakin jauh dari Allah?
Jawabannya, karena akal tidak cukup hanya cerdas, tetapi harus sehat.
Akal yang sehat adalah akal yang jujur terhadap kebenaran. Ketika melihat bukti, ia menerimanya. Ketika mendengar nasihat, ia merenungkannya. Ketika mengetahui kebenaran, ia berusaha mengikutinya.
Perhatikanlah, Allah tidak mengatakan agar manusia mengikuti agama tanpa berpikir. Sebaliknya, Allah mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya, merenungkan ayat-ayat-Nya, lalu mengambil kesimpulan dengan akal yang jernih. Semakin sehat akal seseorang, maka :
- Semakin mudah ia menerima kebenaran.
- Orang yang berakal tidak malu mengakui kesalahan.
- Tidak gengsi menerima nasihat.
- Tidak fanatik kepada hawa nafsunya.
Karena tujuan akal bukan memenangkan perdebatan, melainkan menemukan kebenaran.
Oleh sebab itu Allah memuji orang-orang yang benar-benar menggunakan akalnya.
فَبَشِّرْ عِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan berbagai perkataan, lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah ulul albab (orang-orang yang berakal)." (QS. Az-Zumar: 17–18)
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat indah. Ukuran orang berakal bukan seberapa banyak ia berbicara, tetapi seberapa besar ia mau mendengar.
Bukan seberapa keras mempertahankan pendapatnya, tetapi seberapa siap meninggalkan pendapatnya ketika nyata bertentangan dengan kebenaran. Inilah akal yang dipuji oleh Allah.
Sebagaimana tubuh dapat sakit, akal pun dapat rusak. Yang merusak akal bukan hanya khamar dan segala yang memabukkan, tetapi juga hawa nafsu, dosa, kesombongan, fanatisme buta, dan syubhat yang terus-menerus diikuti.
Allah berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
"Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?" (QS. Al-Jāṯiyah: 23)
Maka akal dipelihara dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu syar'i, bergaul dengan orang-orang saleh, menjauhi maksiat, serta senantiasa memohon petunjuk kepada Allah.
6. Akal yang Lurus Selalu Selaras dengan Wahyu
Sebagian orang menganggap bahwa mengikuti wahyu berarti meninggalkan akal. Anggapan ini bertentangan dengan ajaran Islam.
Justru akal yang paling sehat adalah akal yang mengetahui batas kemampuannya, lalu tunduk kepada petunjuk Allah.
Ibnu Taimiyah berkata:
اَلْعَقْلُ الصَّرِيحُ لَا يُعَارِضُ النَّقْلَ الصَّحِيحَ
"Akal yang lurus tidak akan bertentangan dengan dalil yang sahih."
Apabila tampak ada pertentangan, maka yang perlu dikoreksi adalah pemahaman manusia, bukan wahyunya. Sebab Allah Yang menciptakan akal adalah Allah pula yang menurunkan wahyu. Mustahil ciptaan-Nya yang lurus bertentangan dengan petunjuk-Nya yang sempurna.
Karena itu, semakin sehat akal seseorang, semakin mudah ia menerima Al-Qur'an dan Sunnah. Dan semakin dekat seseorang kepada wahyu, semakin lurus pula cara berpikirnya.
Jika hati bersih dan akal sehat, maka wahyu tidak akan terasa berat. Justru akal akan menyaksikan bahwa seluruh syariat Allah membawa kebaikan, meskipun tidak semua hikmahnya mampu dijangkau oleh manusia.
Hari ini manusia hidup di zaman yang dipenuhi informasi. Semua orang dapat berbicara, berkomentar, bahkan menyebarkan pendapatnya dalam hitungan detik.
Namun, tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang banyak pengikutnya adalah petunjuk. Dan tidak semua yang disukai manusia diridhai Allah.
Maka jangan hanya menjadi orang yang cerdas, tetapi jadilah orang yang berakal.
- Akal yang membawa kita semakin rendah hati.
- Semakin mudah menerima nasihat.
- Semakin cinta kepada ilmu.
- Semakin tunduk kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Karena sesungguhnya puncak kecerdasan bukanlah mampu mengalahkan orang lain dalam perdebatan, tetapi mampu mengalahkan hawa nafsu dalam ketaatan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang memiliki hati yang bersih, akal yang sehat, dan selalu condong kepada kebenaran.
Akal yang sehat akan mencintai kebaikan
Allah ﷻ jadikan akal dalam fitrahnya adalah menyukai kebaikan dan kebenaran, Allah ﷻ berfirman,
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allâh); (tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rûm: 30)
Syekh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah ﷻ menjadikan pada akal manusia cenderung menganggap baik suatu kebenaran dan menilai buruk segala yang batil. Karena sesungguhnya semua hukum dalam syariat Islam, baik yang lahir maupun yang batin, Allah ﷻ telah menjadikan pada hati semua makhluk-Nya kecenderungan (untuk) menerimanya, maka Allah ﷻ menjadikan di hati mereka rasa cinta kepada kebenaran dan selalu mengutamakannya. Inilah hakikat fitrah Allah yang dimaksudkan.” (Tafsir As-Sa’di, QS. Ar-Rum: 30)
Maka, keutamaan akal telah dapat membedakan antara jalan bahagia dengan yang hina. Yakin akan kebenaran barang yang benar dan berpegang kepadanya, tahu akan kesalahan barang yang salah dan menjauhinya; semuanya didapat dengan otak yang cerdas, bukan karena turut-turutan, bukan karena taklid kepada pendapat orang lain saja.
Namun, sebagaimana apa yang difirmankan Allah ﷻ,
وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Oleh karena itu, terjadilah peperangan yang sengit antara akal yang lurus di atas cahaya ilmu dengan hawa nafsu yang ditunggangi setan. Sehingga tidak heran kita temui bahwa ada orang yang berakal hebat, cerdas, bergelar tinggi, tetapi jatuh dalam kesesatan yang bahkan oleh orang awam sekalipun dianggap kebodohan.
Akal adalah kendaraan menuju surga
Akal ini adalah kendaraan menuju surga, ia salah satu perangkat penting agar kita sampai menuju surga Allah ﷻ. Bukankah syariat ini hanya dibebankan kepada orang yang berakal serta matang akalnya? Bukankah orang gila tidak dibebankan syariat? Betapa banyak keadaan terangkatnya syariat karena akal seorang telah hilang?
Namun, sebagaimana kendaraan kita, butuh diservis, butuh dipoles, bahkan terus ditingkatkan. Demikianlah akal, hendaknya terus dipoles agar senantiasa hidup di atas fitrah kebaikannya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Mâjah)
Dan bertebarannya mutiara faidah ayat-ayat Al-Quran, tak bisa dipahami kecuali dengan akal yang lurus. Oleh karena itu, perlulah akal kita itu, dibekali dengan bensin dan bahan bakar yang berkualitas dari Al-Quran dan As-Sunnah. Sebab akal menuntut bahan bakar dari cahaya ilmu hakiki, sedangkan hawa nafsu menuntut siraman dari was-was setan. Allah ﷻ berfirman,
وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut: 43)
Maka, berbagai ilmu berkualitas itu yang ada di dalam firman Allah ﷻ dan sabda Nabi-Nya ﷺ, sangat sayang jika dilewatkan demikian saja, karena kita tidak mampu mengolahnya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
