"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Mengapa syukur mudah diucapkan?

 


Mengapa syukur mudah diucapkan?

Mengucapkan syukur tidak membutuhkan pengorbanan. Seseorang bisa dengan mudah mengatakan, "Alhamdulillah, saya bersyukur," bahkan ketika hatinya belum benar-benar menyadari besarnya nikmat Allah atau ketika perilakunya masih bertentangan dengan rasa syukur tersebut.

Allah berfirman: 

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ 

"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur." (QS. Saba': 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa syukur yang hakiki bukanlah sekadar ucapan, melainkan sesuatu yang hanya mampu dilakukan oleh sedikit orang.

Mengapa syukur sulit dilakukan?

1. Syukur menuntut pengakuan hati

Seseorang harus meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah, bukan semata-mata hasil kepintaran, usaha, atau kedudukannya.

Allah berfirman tentang Qarun: 

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي 

"Sesungguhnya aku diberi harta itu hanya karena ilmu yang ada padaku." (QS. Al-Qashash: 78)

Inilah lawan dari syukur: mengaitkan nikmat hanya kepada kemampuan diri sendiri.

2. Syukur menuntut ketaatan

Hakikat syukur adalah menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang Allah ridai.

Misalnya:

  • Mata digunakan untuk membaca Al-Qur'an, bukan melihat yang haram.
  • Lisan digunakan untuk berdzikir dan berkata jujur, bukan berdusta atau menggunjing.
  • Harta digunakan untuk zakat, infak, dan membantu sesama, bukan bermewah-mewahan atau bermaksiat.
  • Ilmu digunakan untuk mengajarkan kebenaran, bukan mencari popularitas.

Di sinilah letak kesulitannya, karena manusia sering lebih mudah menikmati nikmat daripada menggunakannya untuk beribadah.

3. Syukur menuntut kesabaran

Bersyukur ketika hidup lapang relatif mudah. Yang berat adalah tetap mengingat nikmat Allah ketika diuji dengan kesempitan, kehilangan, atau sakit.

Orang yang benar-benar bersyukur tetap melihat bahwa di balik setiap ujian masih ada nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.

4. Syukur menuntut istiqamah

Syukur bukan dilakukan sekali, tetapi sepanjang hidup.

Setelah memperoleh kesehatan, seseorang harus terus menjaga kesehatan itu untuk taat. Setelah memperoleh rezeki, ia harus terus menggunakannya di jalan Allah. Setelah memperoleh ilmu, ia harus terus mengamalkannya.

Istiqamah inilah yang tidak mudah.

Syukur memiliki tiga unsur

Para ulama menjelaskan bahwa syukur terdiri dari tiga perkara:

  1. Syukur dengan hati, yaitu mengakui bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah.
  2. Syukur dengan lisan, yaitu memuji Allah, memperbanyak ucapan Alhamdulillah, dan menceritakan nikmat-Nya tanpa kesombongan.
  3. Syukur dengan anggota badan, yaitu menggunakan setiap nikmat dalam ketaatan kepada Allah.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa syukur terbangun di atas tiga pilar tersebut. Jika salah satunya hilang, maka syukur menjadi tidak sempurna.

Contoh dalam kehidupan

  • Mengucapkan "Alhamdulillah saya sehat", tetapi meninggalkan shalat berjamaah. Ini syukur lisan, namun belum menjadi syukur amal.
  • Mengatakan "Alhamdulillah diberi rezeki", tetapi enggan berzakat atau bersedekah. Ini menunjukkan syukur belum terwujud dalam penggunaan nikmat.
  • Mengaku bersyukur memiliki waktu luang, tetapi menghabiskannya untuk hal yang sia-sia. Waktu belum dimanfaatkan sebagai bentuk syukur.

Kesimpulan

Syukur memang mudah diucapkan, tetapi sulit diwujudkan karena syukur bukan sekadar kalimat "Alhamdulillah". Syukur adalah pengakuan hati, pujian dengan lisan, dan penggunaan seluruh nikmat untuk menaati Allah. Oleh sebab itu, Allah menyatakan bahwa orang yang benar-benar bersyukur sangat sedikit.

Sebagaimana dikatakan oleh para salaf: 

الشُّكْرُ قَيْدُ النِّعَمِ الْمَوْجُودَةِ، وَصَيْدُ النِّعَمِ الْمَفْقُودَةِ 

"Syukur adalah pengikat nikmat yang telah ada dan pemburu nikmat yang belum ada."

Artinya, syukur menjaga nikmat agar tidak hilang sekaligus menjadi sebab Allah menambah nikmat-Nya, sebagaimana firman-Nya: 

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ 

"Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian." (QS. Ibrahim: 7).

Label