"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum



JANGAN HANYA MENUNGGU PERUBAHAN, MULAILAH MEMPERBAIKI DIRI DAN MENCARI HIDAYAH

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra‘d: 11)

Ayat ini sering kita dengar sebagai motivasi untuk mengubah nasib, memperbaiki ekonomi, meningkatkan kedudukan, atau meraih kesuksesan dunia. Pemahaman tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar yang baik. Namun, pesan ayat ini tidak semestinya berhenti pada perubahan keadaan lahiriah.

Perhatikan susunan ayat ini. Allah tidak sekadar menyebut perubahan yang tampak di luar, tetapi mengaitkannya dengan sesuatu yang ada pada diri mereka sendiri (مَا بِأَنْفُسِهِمْ). Ungkapan ini membuka ruang pemahaman yang sangat luas: keadaan lahiriah manusia berkaitan dengan apa yang terjadi dalam dirinya, termasuk keyakinan, sikap, pilihan, dan perbuatannya.

Ada pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah kita mengubah diri menjadi hamba yang lebih taat kepada Allah?

Kita mungkin berhasil meningkatkan penghasilan, memperbaiki rumah, memperoleh jabatan, dan mencapai berbagai keberhasilan duniawi. Akan tetapi, apakah shalat kita semakin baik? Apakah bacaan Al-Qur’an kita semakin bertambah? Apakah dosa-dosa kita semakin berkurang? Apakah akhlak kita semakin mulia dan hubungan kita dengan Allah semakin dekat?

Jangan sampai kita bersungguh-sungguh mengubah keadaan kehidupan, tetapi kurang bersungguh-sungguh mengubah diri sebagai hamba Allah. Sebab, perubahan yang paling mendasar bukan hanya bertambahnya apa yang kita miliki, melainkan bertambahnya ketaatan, berkurangnya kemaksiatan, dan semakin baiknya kualitas penghambaan kita kepada Allah.

Perubahan tersebut harus dimulai dari dalam diri: dari iman, hati, niat, dan amal perbuatan. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams: 9–10)

Karena itu, perubahan diri harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Jika selama ini shalat kita masih lalai, mulailah menjaganya pada waktunya. Jika kita jarang membaca Al-Qur’an, mulailah membiasakannya. Jika kita terbiasa berdusta, menggunjing, atau menyakiti orang lain, berusahalah meninggalkannya. Jika selama ini kita mengabaikan kewajiban, tunaikanlah dengan sungguh-sungguh.

Dalam memperbaiki ibadah, kita juga harus mendahulukan kewajiban sebelum memperbanyak amalan sunah. Rasulullah ﷺ meriwayatkan firman Allah dalam hadis qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” (HR. al-Bukhārī, no. 6502)

Maka, jangan sampai kita rajin melakukan amalan sunah, tetapi masih meremehkan shalat wajib. Jangan sampai kita banyak berbicara tentang agama, tetapi mengabaikan amanah dan hak sesama manusia. Jangan sampai ibadah kita bertambah secara kuantitas, tetapi tidak berusaha memperbaiki akhlak dan menjauhi kemaksiatan.

Perubahan yang benar bukan hanya menambah amal kebaikan, tetapi juga meninggalkan keburukan dan menjadikan ibadah semakin berpengaruh terhadap perilaku kita.

Dalam perjalanan memperbaiki diri, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu hidayah Allah. Sebagian orang menyadari bahwa dirinya masih jauh dari ketaatan, tetapi berkata, “Saya belum mendapat hidayah.” Ada pula yang mengatakan, “Nanti kalau Allah sudah memberikan hidayah, saya akan berubah.”

Benar bahwa hidayah berada di tangan Allah. Namun, jangan menjadikan keyakinan tersebut sebagai alasan untuk berpangku tangan. Kita tidak boleh hanya menunggu hidayah, tetapi harus berusaha mencarinya melalui jalan-jalan yang telah Allah tunjukkan.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-‘Ankabūt: 69)

Ayat ini memberikan harapan kepada setiap orang yang bersungguh-sungguh mencari keridaan Allah. Orang yang ingin memperoleh ilmu harus belajar. Orang yang ingin memahami Al-Qur’an harus membaca dan mempelajarinya. Orang yang ingin menjadi lebih taat harus mulai melaksanakan kewajiban. Orang yang ingin meninggalkan dosa harus menjauhi jalan-jalan yang menyeretnya kepada kemaksiatan.

Jangan berkata, “Nanti kalau sudah mendapat hidayah, saya akan shalat.” Mulailah menjaga shalat sambil memohon agar Allah memberikan hidayah dan meneguhkan hati kita. Jangan menunggu hati menjadi sempurna untuk bertobat. Bertobatlah, kemudian teruslah memperbaiki diri.

Sebab, hidayah bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan karunia Allah yang harus dicari, disyukuri, dan dipelihara dengan ketaatan.

Sesungguhnya kita selalu membutuhkan hidayah. Itulah sebabnya kita berulang kali membaca doa dalam Surah al-Fātiḥah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. al-Fātiḥah: 6)

Kita memohon petunjuk bukan hanya agar mengetahui kebenaran, tetapi juga agar mampu mengamalkannya dan istiqamah di atasnya. Kita membutuhkan hidayah agar shalat tetap terjaga, hati tidak berpaling, dosa-dosa ditinggalkan, dan kehidupan kita senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah.

Allah juga menjelaskan hubungan antara perubahan sikap manusia dan perubahan nikmat yang diberikan kepada mereka:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Anfāl [8]: 53)

Ayat ini secara khusus menerangkan bahwa Allah tidak mencabut nikmat suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Salah satu bentuk perubahan tersebut ialah berpaling dari ketaatan dan rasa syukur menuju kemaksiatan dan pengingkaran nikmat. Penjelasan ini sejalan dengan uraian para mufasir tentang Surah ar-Ra‘d ayat 11 dan Surah al-Anfāl ayat 53.

Oleh karena itu, marilah kita memadukan doa dan ikhtiar, memadukan permohonan hidayah dengan kesungguhan memperbaiki amal. Jangan hanya menginginkan keadaan berubah, tetapi enggan mengubah diri. Jangan hanya meminta hidayah, tetapi menolak menempuh jalan yang mengantarkan kepada petunjuk.

Mari kita mulai dari diri sendiri, dari keluarga kita, dan dari tanggung jawab kita masing-masing. Perbaiki shalat, hidupkan Al-Qur’an, tinggalkan kemaksiatan, tunaikan amanah, dan jadikan ilmu sebagai jalan untuk meningkatkan amal saleh.

Jangan sampai bertahun-tahun kita berhasil mengubah banyak hal dalam kehidupan, tetapi tidak sungguh-sungguh mengubah diri kita menjadi hamba yang lebih taat kepada Allah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa memperbaiki diri, memperoleh hidayah, dan istiqamah dalam ketaatan hingga akhir hayat.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


Label