Uban: Peringatan yang Tumbuh di Kepala, Sebelum Kematian Mengetuk Pintu
Materi pengajian bulanan • Refleksi umur, kesadaran akhirat, dan peningkatan kualitas ibadah
Pendahuluan: Ketika waktu terasa semakin cepat
Pernahkah kita merasa bahwa waktu berjalan semakin cepat? Dahulu, menunggu datangnya bulan Ramadhan terasa begitu lama. Kini, seolah-olah baru kemarin kita berpuasa, tetapi Ramadhan berikutnya sudah kembali di hadapan mata. Dahulu, anak-anak kita masih kecil dan perlu dituntun ketika berjalan. Sekarang, mereka sudah dewasa, bahkan sebagian telah membangun keluarga sendiri. Dahulu, orang tua kita masih kuat berjalan dan bekerja. Kini, langkah mereka mulai melambat, rambut mereka memutih, dan sebagian dari mereka telah lebih dahulu meninggalkan kita.
Yang sesungguhnya berubah bukanlah panjang satu hari. Satu hari tetap dua puluh empat jam, sebagaimana dahulu. Akan tetapi, semakin bertambah usia, semakin kita merasakan bahwa kesempatan hidup berlalu dengan cepat, sementara banyak cita-cita dan amal kebaikan belum sempat kita tunaikan. Kita sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki, sampai terkadang lupa mensyukuri apa yang sudah diberikan. Kita menghitung keuntungan dan kerugian dunia dengan cermat, tetapi jarang menghitung berapa banyak waktu yang telah berlalu tanpa menghasilkan bekal akhirat.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan tentang keadaan menjelang kiamat ketika manusia merasakan waktu semakin singkat:
HADIS TENTANG BERDEKATANNYA ZAMAN
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ.
“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman terasa berdekatan. Setahun terasa seperti sebulan, sebulan seperti sepekan, sepekan seperti sehari, sehari seperti sejam, dan sejam seperti terbakarnya pelepah kurma.” HR. Ahmad, no. 10943 menurut penomoran yang dicantumkan.
Hadis ini mengandung peringatan yang sangat relevan bagi kehidupan kita. Para ulama menjelaskan bahwa berdekatannya zaman dapat dipahami antara lain sebagai berkurangnya keberkahan waktu, sehingga waktu terasa cepat berlalu dan kesempatan beramal seolah-olah semakin sempit. Kita tidak perlu memastikan bahwa setiap pengalaman modern tentang cepatnya waktu merupakan tanda tertentu kiamat. Cukuplah kita mengambil pelajaran bahwa waktu yang berlalu tidak akan kembali, sedangkan pertanggungjawaban atas kehidupan akan tetap datang.
Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukan sekadar, “Mengapa waktu terasa cepat?” Pertanyaan yang lebih mendesak ialah, “Apa yang sudah kita lakukan dengan waktu yang Allah berikan?”
Di sinilah uban memiliki makna yang dalam. Ia bukan hanya perubahan warna rambut, bukan pula semata-mata tanda bertambahnya usia. Uban dapat menjadi pengingat yang terlihat setiap hari bahwa perjalanan hidup terus bergerak menuju akhirnya.
1. Uban: Peringatan yang Allah Letakkan pada Diri Kita Sendiri
Allah Ta‘ala berfirman dalam Surah Fathir ayat 37:
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau mengambil pelajaran untuk berpikir, dan bukankah telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.” QS. Fathir 35 : 37,
Ayat ini menggambarkan penyesalan orang-orang yang mendapatkan azab karena dahulu tidak memanfaatkan kesempatan hidup untuk mengambil pelajaran dan mengikuti peringatan. Allah telah memberikan umur yang cukup, tetapi umur itu tidak mereka gunakan sebagaimana mestinya.
Ketika menafsirkan frasa وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ — “telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan” — Ibnu Katsir menyebutkan sejumlah penafsiran dari kalangan salaf. Di antaranya, Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, dan Qatadah menafsirkan pemberi peringatan itu sebagai uban. Penafsiran ini dicantumkan dalam Tafsir Ibnu Katsir pada pembahasan ayat tersebut.
Mengapa uban dapat menjadi peringatan? Sebab, ia datang tanpa perlu diundang dan sering kali muncul ketika seseorang masih merasa dirinya cukup muda. Kita mungkin masih memiliki banyak rencana, masih ingin memperbaiki rumah, mengembangkan usaha, menyekolahkan anak, atau mengejar berbagai keinginan dunia. Namun, helai-helai rambut putih itu seperti berkata, “Perjalananmu sudah berlangsung cukup jauh. Sudahkah engkau memikirkan ke mana perjalanan ini akan berakhir?”
Uban tidak berbicara dengan suara, tetapi kehadirannya dapat mengetuk kesadaran. Ia tidak menyebutkan tanggal kematian kita, tidak memberitahukan berapa lama lagi usia tersisa, dan tidak memastikan bahwa seseorang yang beruban akan segera meninggal. Namun, ia mengingatkan bahwa tubuh sedang mengalami perubahan dan bahwa umur yang telah berlalu tidak mungkin diputar kembali.
Jangan sampai rambut kita semakin putih, tetapi kesadaran kita terhadap akhirat tetap redup. Jangan sampai usia kita semakin panjang, tetapi kesungguhan kita untuk memperbaiki diri tidak bertambah.
2. Kisah Nabi Ibrahim: Uban Adalah Waqār, Kewibawaan
Ada sebuah riwayat yang menarik tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Ketika pertama kali melihat uban, beliau bertanya kepada Allah tentang perubahan yang dialaminya.
فَقَالَ: يَا رَبِّ، مَا هَذَا؟ فَقَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: وَقَارٌ يَا إِبْرَاهِيمُ. فَقَالَ: يَا رَبِّ، زِدْنِي وَقَارًا.
“Beliau bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apakah ini?’ Allah berfirman, ‘Ini adalah kewibawaan, wahai Ibrahim.’ Beliau pun berkata, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah kewibawaan itu kepadaku.’”
HR. Mālik dalam Al-Muwaṭṭa’, Kitāb al-Jāmi‘, dan al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad, no. 120 menurut penomoran yang umum digunakan. Riwayat ini perlu dibedakan dari hadis-hadis sahih dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
Kata waqār (وَقَارٌ) berarti kewibawaan, ketenangan, dan kematangan sikap. Jawaban yang dinisbatkan kepada Allah dalam riwayat tersebut memberikan pelajaran menarik: perubahan fisik yang sering dianggap sebagai tanda berkurangnya daya tarik justru dapat mengingatkan manusia pada kematangan dan kewibawaan.
Namun, ada satu hal yang perlu kita pahami. Uban tidak otomatis menjadikan seseorang berwibawa; yang menjadikan seseorang berwibawa adalah iman, ilmu, akhlak, dan kematangan dalam menyikapi kehidupan. Rambut putih pada orang yang bijaksana akan tampak selaras dengan perkataan dan tindakannya. Sebaliknya, rambut putih tidak dengan sendirinya menghilangkan sifat kasar, sombong, zalim, atau gemar merendahkan orang lain.
Karena itu, pertanyaan yang patut kita ajukan bukan hanya, “Sudah berapa banyak uban tumbuh di kepala saya?” Melainkan, “Apakah seiring bertambahnya uban, bertambah pula kebijaksanaan saya? Apakah saya semakin sabar menghadapi keluarga? Apakah saya semakin berhati-hati dalam berbicara? Apakah saya semakin mudah menerima nasihat dan mengakui kesalahan?”
Jika uban bertambah tetapi ego tetap tinggi, usia bertambah tetapi kesabaran tidak meningkat, dan pengalaman hidup semakin banyak tetapi kebijaksanaan tidak berkembang, berarti ada pelajaran penting dari perjalanan usia yang belum kita ambil.
3. Mengapa Uban Seharusnya Meningkatkan Kualitas Ibadah?
Salah satu kekeliruan dalam memahami ibadah ialah menganggap bahwa semakin tua seseorang, semakin sedikit hal yang perlu diperbaiki. Ada yang berpikir, “Saya sudah lama hidup, sudah banyak beribadah, dan sudah cukup memahami agama.” Padahal, semakin panjang umur, semakin banyak pula kesempatan untuk mengenali kekurangan diri, memperbaiki amal, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Allah berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
QS. Āli ‘Imrān : 185, bagian akhir ayat.
Dunia bukan sesuatu yang harus ditinggalkan seluruhnya. Kita tetap bekerja, mencari nafkah, mendidik anak, mengurus keluarga, dan berkontribusi kepada masyarakat. Yang perlu diperbaiki adalah cara kita menempatkan dunia dalam kehidupan. Jangan sampai seluruh energi habis untuk membangun kehidupan yang akan kita tinggalkan, sementara persiapan untuk kehidupan yang kekal justru terbengkalai.
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam memanfaatkannya: kesehatan dan waktu luang.” HR. al-Bukhari, no. 6412.
Kita sering baru menyadari nilai kesehatan ketika tubuh mulai melemah. Kita baru menghargai waktu ketika kesempatan sudah berlalu. Dahulu, mungkin kita dapat berdiri lama dalam salat malam, berjalan jauh untuk menuntut ilmu, atau bekerja sepanjang hari tanpa banyak mengeluh. Kini, sebagian aktivitas itu mulai terasa berat. Karena itu, jangan menunggu kehilangan kemampuan untuk menyesali ibadah yang dahulu bisa kita lakukan dengan mudah.
Peningkatan kualitas ibadah tidak selalu berarti menambah jumlah amalan sebanyak-banyaknya. Ia dapat dimulai dengan memperbaiki salat yang selama ini dilakukan secara tergesa-gesa, menjaga keikhlasan, membiasakan membaca Al-Qur’an dengan tadabur, memperbanyak istigfar, dan menunaikan hak-hak manusia yang selama ini terabaikan. Jika usia membuat kekuatan fisik berkurang, hendaknya hati justru semakin hidup dengan zikir, doa, tawakal, dan kesadaran akan perjumpaan dengan Allah.
Allah juga berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” QS. Al-Ḥijr 15 : 99.
Ayat ini mengajarkan bahwa pengabdian kepada Allah tidak memiliki masa pensiun. Tidak ada usia ketika seorang muslim boleh merasa sudah selesai memperbaiki diri. Selama hayat masih dikandung badan, pintu amal tetap terbuka. Yang perlu diwaspadai bukan sekadar bertambahnya usia, melainkan habisnya usia ketika kita belum sungguh-sungguh kembali kepada Allah.
4. Uban Bukan Alasan untuk Berputus Asa, Melainkan Kesempatan untuk Bertobat
Mungkin di antara kita ada yang mulai mengingat masa lalu dengan penyesalan: berapa banyak salat yang dahulu diremehkan, berapa banyak perkataan yang melukai orang lain, berapa banyak hak yang belum ditunaikan, atau berapa lama hidup dihabiskan untuk mengejar sesuatu yang ternyata tidak membawa ketenangan.
Penyesalan semacam itu dapat menjadi awal yang baik apabila mengantarkan kita kepada tobat dan perbaikan. Namun, jangan biarkan penyesalan berubah menjadi keputusasaan. Allah tidak memerintahkan hamba-Nya untuk menyerah ketika menyadari dosa, tetapi untuk kembali kepada-Nya.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” QS. Az-Zumar 39 : 53.
Ayat ini mengandung harapan besar bagi siapa pun yang ingin memperbaiki diri. Sebesar apa pun kesalahan masa lalu, seseorang tidak boleh menjadikannya alasan untuk menunda tobat. Akan tetapi, harapan kepada ampunan Allah harus diwujudkan dalam langkah nyata: berhenti dari dosa, menyesal, bertekad tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak orang lain apabila dosa itu berkaitan dengan hak manusia.
Barangkali uban yang kita lihat hari ini menjadi pengingat bahwa kesempatan tidak selamanya tersedia. Jika ada orang tua yang belum kita bahagiakan, bersegeralah berbakti. Jika ada saudara yang hubungannya renggang, mulailah membuka pintu perdamaian. Jika ada utang yang belum diselesaikan, susunlah langkah untuk menunaikannya. Jika ada ilmu agama yang belum dipelajari, mulailah belajar. Dan jika selama ini kita beribadah sekadar menggugurkan kewajiban, berusahalah menghadirkan hati dan memperbaiki kualitasnya.
Jangan habiskan sisa umur hanya untuk meratapi masa lalu. Gunakanlah sisa umur untuk memperbaiki masa depan akhirat.
5. Bertambahnya Usia Seharusnya Mengubah Cara Kita Memandang Kehidupan
Ada tiga perubahan yang semestinya semakin terlihat pada diri seseorang ketika usianya bertambah dan uban mulai memenuhi kepalanya.
Pertama, semakin dewasa dalam menyikapi dunia. Tidak semua perkara harus dimenangkan, tidak semua perdebatan harus dimenangkan dengan kata-kata, dan tidak semua keinginan harus dituruti. Orang yang semakin matang seharusnya semakin memahami bahwa menjaga hati, memelihara persaudaraan, dan menghindari kezaliman jauh lebih penting daripada memuaskan ego. Jangan sampai kita menghabiskan waktu untuk membuktikan bahwa diri kita benar, tetapi lupa memperbaiki diri agar benar-benar berada di jalan yang benar.
Kedua, semakin bijaksana dalam memperlakukan manusia. Semakin panjang usia, semestinya semakin banyak pengalaman yang mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kelemahan. Kita pernah salah, pernah mengecewakan orang lain, dan pernah membutuhkan maaf. Maka, mengapa kita begitu sulit memaafkan? Mengapa kita mudah mencela kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kesalahan sendiri? Uban semestinya mengajarkan kerendahan hati, bukan sekadar menjadi kebanggaan karena dianggap lebih senior. Orang yang matang bukanlah orang yang selalu merasa paling tahu, melainkan orang yang semakin mampu menempatkan ilmu, pengalaman, dan perkataannya secara bijaksana.
Ketiga, semakin serius mempersiapkan perjumpaan dengan Allah. Ketika masih muda, seseorang mungkin merasa bahwa kematian masih jauh. Ketika usia bertambah, ia mulai menyaksikan teman sebaya sakit, orang tua meninggal, dan orang-orang yang dahulu selalu hadir dalam kehidupannya satu per satu pergi. Semua itu mengajarkan bahwa kematian bukan sekadar cerita tentang orang lain. Namun, kita juga tidak perlu menunggu uban, sakit, atau kehilangan orang terdekat untuk memulai persiapan. Seorang muslim yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan akhirat sejak masih sehat, kuat, dan memiliki kesempatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, kemudian berangan-angan terhadap Allah.”
HR. At-Tirmidzi, no. 2459; dinilai hasan oleh sejumlah ulama.
Hadis ini mengarahkan kita untuk melakukan evaluasi diri sebelum datang hari ketika kita tidak lagi mampu memperbaiki amal. Sudahkah salat kita benar? Sudahkah penghasilan kita bersih? Sudahkah anak-anak kita memperoleh pendidikan agama yang memadai? Sudahkah kita menunaikan amanah pekerjaan? Sudahkah kita menjaga lisan dari ghibah, fitnah, dan perkataan yang menyakiti? Sudahkah kita menyisihkan harta untuk membantu sesama? Sudahkah kita belajar agar ibadah kita semakin sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk membuat kita takut menjalani kehidupan, melainkan agar kita menjalani kehidupan dengan arah yang benar.
6. Jangan Hanya Menghitung Sisa Umur, Hitunglah Bekal yang Disiapkan
Ketika melihat rambut yang semakin putih, kita mungkin bertanya, “Berapa lama lagi saya akan hidup?” Padahal, tidak seorang pun mengetahui batas umurnya. Orang yang berusia delapan puluh tahun belum tentu meninggal lebih dahulu daripada orang yang berusia empat puluh tahun. Orang yang tampak sehat tidak memiliki jaminan hidup lebih lama daripada orang yang sedang sakit.
Karena itu, pertanyaan yang lebih bermanfaat bukanlah berapa tahun lagi kita akan hidup, tetapi apa yang akan kita lakukan selama masih hidup.
Mari kita bayangkan dua orang yang sama-sama telah berusia enam puluh tahun. Orang pertama menghabiskan masa tuanya dengan terus membicarakan kekurangan orang lain, mempertahankan permusuhan lama, dan mengejar kesenangan yang tidak pernah membuatnya puas. Orang kedua menggunakan masa tuanya untuk memperbaiki salat, memperdalam ilmu agama, mendamaikan keluarga, membantu orang yang membutuhkan, dan menyiapkan amal yang dapat terus memberi manfaat setelah kematiannya.
Keduanya sama-sama memiliki uban. Keduanya sama-sama telah melewati perjalanan hidup yang panjang. Namun, uban mereka tidak harus membawa makna yang sama. Yang membedakan keduanya bukan warna rambut, melainkan bagaimana mereka menggunakan sisa umur.
Allah berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” QS. Az-Zalzalah 99 : 7–8.
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada amal yang sia-sia di hadapan Allah. Kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas dapat bernilai besar di sisi-Nya. Senyuman, sedekah, membantu tetangga, mengajarkan ilmu, mendidik anak, atau menahan lisan dari menyakiti orang lain dapat menjadi bagian dari bekal akhirat.
Oleh sebab itu, jangan meremehkan amal hanya karena usia sudah lanjut atau kemampuan fisik mulai berkurang. Barangkali kita tidak lagi mampu melakukan sebanyak dahulu, tetapi kita masih dapat memperbaiki keikhlasan, memperbanyak doa, menghindari dosa, dan memberi manfaat sesuai kemampuan.
Kita tidak dapat menghentikan pertambahan uban, tetapi kita dapat menentukan apakah sisa umur akan diisi dengan kelalaian atau dengan ketaatan.
Penutup: Ketika Uban Menjadi Cermin Muhasabah
Hadirin yang dirahmati Allah, uban adalah bagian dari perjalanan manusia. Ia bukan aib yang harus membuat seseorang malu, bukan pula ukuran kesalehan yang membuat seseorang merasa lebih mulia. Ia merupakan salah satu perubahan tubuh yang dapat kita jadikan kesempatan untuk merenungkan umur, kematian, dan tanggung jawab di hadapan Allah.
Ketika menyisir rambut dan menemukan helai putih yang baru, jangan hanya berpikir bahwa penampilan kita telah berubah. Cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah salat saya semakin baik? Apakah hubungan saya dengan Al-Qur’an semakin dekat? Apakah saya semakin lembut kepada pasangan dan anak-anak? Apakah saya semakin mudah memaafkan? Apakah harta saya semakin bermanfaat bagi orang lain? Apakah saya semakin siap ketika dipanggil oleh Allah?
Allah telah memberikan umur, kesehatan, akal, keluarga, harta, dan kesempatan untuk beramal. Semua itu adalah nikmat sekaligus amanah. Kelak, yang terpenting bukan berapa banyak uban yang tumbuh di kepala kita, melainkan bagaimana kita menggunakan umur yang Allah titipkan.
Maka, selama mata masih dapat membaca Al-Qur’an, gunakanlah untuk membaca firman-Nya. Selama kaki masih mampu melangkah, gunakanlah untuk mendatangi majelis ilmu dan tempat-tempat kebaikan. Selama lisan masih mampu berbicara, gunakanlah untuk berdzikir, menasihati dengan hikmah, dan mengucapkan perkataan yang baik. Selama hati masih dapat merasakan penyesalan, jangan menunda tobat. Dan selama napas masih berhembus, jangan pernah merasa terlambat untuk memperbaiki diri.
Sebab, uban bukan sekadar tanda bahwa kita semakin dekat dengan akhir perjalanan dunia; ia adalah pengingat agar kita semakin bersungguh-sungguh menyiapkan perjalanan menuju akhirat.
Mari kita tutup dengan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akhir kehidupan yang baik.”
Doa dengan lafaz ini merupakan permohonan yang baik, bukan klaim sebagai redaksi hadis tertentu.
Semoga Allah memberkahi umur kita, memperbaiki amal kita, menjadikan bertambahnya usia sebagai sebab bertambahnya iman dan kebijaksanaan, mengampuni dosa-dosa kita, dan menganugerahkan kepada kita ḥusnul khātimah — akhir kehidupan yang baik. Āmīn.