"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Sebaik-Baik Makhluk di Ambang Pergantian Tahun





Sebaik-Baik Makhluk di Ambang Pergantian Tahun
Refleksi Iman dan Amal dalam Cahaya Al-Qur’an dan Sunnah

1. Ayat Pokok: Standar Kemuliaan Manusia

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh waktu, usia, atau pergantian tahun, tetapi oleh dua hal utama:
  • Iman yang benar
  • Amal saleh yang nyata
Pergantian tahun hanyalah perubahan waktu, sedangkan nilai hidup ditentukan oleh isi waktu itu sendiri.

2. Pergantian Waktu adalah Tanda Kekuasaan Allah

Allah ﷻ mengingatkan bahwa waktu adalah ciptaan-Nya dan akan menjadi saksi atas amal manusia:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

“Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62)

Pergantian tahun seharusnya melahirkan dua sikap:
  • Tadzakkur (introspeksi diri)
  • Syukur (mensyukuri kesempatan hidup)

3. Muhasabah: Ciri Orang Beriman

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini menjadi dasar muhasabah di akhir tahun:
  • Apa yang sudah kita persembahkan untuk Allah?
  • Amal apa yang akan kita bawa ke hadapan-Nya?

Tahun baru tanpa muhasabah hanyalah pergantian angka tanpa makna.

4. Waktu adalah Amanah yang Akan Dipertanyakan

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّىٰ يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ
عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ…

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara, di antaranya: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.”
(HR. At-Tirmidzi)

Setiap tahun yang berlalu berarti:
  • Umur berkurang
  • Catatan amal bertambah
  • Kesempatan semakin menyempit

5. Orang Cerdas Menjadikan Waktu sebagai Bekal Akhirat

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini mengajarkan bahwa resolusi terbaik di tahun baru bukanlah target dunia semata, tetapi:
  • memperbaiki iman,
  • memperbanyak amal,
  • dan mempersiapkan perjumpaan dengan Allah.

6. Amal Kecil yang Konsisten Lebih Dicintai Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini sangat relevan dengan pergantian tahun:
  • Tidak perlu target besar yang berat
  • Mulailah dari amal kecil yang istiqamah

7. Penutup: Tahun Berganti, Tujuan Jangan Bergeser

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Demi masa. Sungguh manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Surah ini sejalan dengan QS. Al-Bayyinah: 7:
👉 iman dan amal saleh adalah kunci keselamatan dari kerugian waktu.

Kesimpulan
Pergantian tahun bukanlah perayaan atas bertambahnya usia, melainkan peringatan bahwa waktu terus berkurang. Siapa pun yang mengisi hari-harinya dengan iman dan amal kebajikan, merekalah yang disebut Allah sebagai:


خَيْرُ الْبَرِيَّةِ – sebaik-baik makhluk

Semoga setiap tahun yang berlalu menjadikan kita lebih dekat kepada Allah, lebih banyak beramal, dan lebih siap bertemu dengan-Nya.

Musibah, Iman, dan Pelajaran Besar dari Banjir di Sumatera dan Aceh


KHUTBAH JUMAT

Musibah, Iman, dan Pelajaran Besar dari Banjir di Sumatera dan Aceh


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُوَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Pertama-tama, marilah kita senantiasa memperbaharui dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Takwa yang sebenar-benarnya, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di atas landasan ilmu, di atas bashirah, bukan di atas kejahilan atau taklid buta.

Di berbagai wilayah Sumatera dan Aceh, Allah sedang menurunkan ujian berupa banjir, tanah longsor, dan berbagai musibah lainnya. Kita turut mendoakan saudara-saudara kita yang terkena bencana, semoga diberi ketabahan dan kemuliaan oleh Allah.

Namun, jauh lebih penting dari sekadar menyaksikan berita bencana adalah memahami pesan-pesan Allah di balik setiap musibah.


1. Musibah sebagai Pengingat dan Momentum Taubat Kolektif

﴿ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ﴾ (الشورى: 30)

Artinya: "Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan kalian sendiri, dan Allah banyak memaafkan."

Bencana sering kali merupakan tanda kasih sayang Allah yang ingin membangunkan manusia dari kelalaian.
– Kelalaian ibadah
– Penyimpangan moral
– Ketidakadilan sosial
– Kerusakan lingkungan
– Terputusnya kepedulian antarsesama

Musibah membuat manusia berhenti sejenak, lalu menoleh kembali kepada Allah.


2. Musibah Tidak Selalu Azab, Bisa Menjadi Rahmat dan Penghapus Dosa

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

«مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ» 
رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِم

"Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya."

Musibah bagi orang beriman adalah penghapus dosa dan pengangkat derajat, bukan sekadar malapetaka.

Bagi saudara-saudara kita yang sedang kehilangan rumah, harta, atau keluarga akibat banjir — semoga Allah menjadikan itu jalan rahmat dan pengampunan.


3. Ujian Keimanan: Sabar dan Ridha

Allah menegaskan:

﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴾
(البقرة: 155)

"Dan sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, dan kekurangan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

Tidak ada ujian yang Allah turunkan tanpa jaminan pahala bagi orang yang sabar.

Banjir, kehilangan, kesulitan ekonomi, semua itu menguji seberapa kuat iman seseorang.
Orang beriman tidak mencela takdir, tidak marah pada keadaan, tetapi menghadapi musibah dengan:

– Sabar
– Ridha
– Doa
– Dan keteguhan hati


4. Adab Ketika Terjadi Musibah

Rasulullah bersabda:

« لَا تَسُبُّوا الرِّيحَ » (رواه الترمذي)
"Jangan kalian mencela angin."

Dalam hadis lain:

« لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ »
"Jangan kalian mencela waktu."

Maka seorang Muslim tidak mencela hujan, cuaca, banjir, dan fenomena alam lainnya, sebab semua itu adalah ciptaan Allah.

Adab saat bencana juga mencakup:
– Menjaga ucapan
– Tidak menyebarkan hoaks
– Tidak memperkeruh suasana
– Tidak mengungkit bantuan
– Tidak menuduh tanpa ilmu


5. Musibah Mengingatkan Fana-nya Dunia

Allah berfirman:

﴿ كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴾
"Segala yang ada di bumi ini akan binasa."

Rumah bisa hanyut, kendaraan bisa rusak, harta bisa hilang dalam satu malam.
Namun akhirat tidak pernah hilang.
Musibah mengajari kita untuk melepaskan ketergantungan dari dunia dan memperkuat hubungan dengan akhirat.


6. Musibah Terbesar bagi Umat Islam Bukan Banjir, Tetapi Rusaknya Iman

Jama’ah yang dimuliakan Allah,

Di antara semua bencana, musibah terbesar menurut para ulama bukanlah gempa, banjir, atau bencana alam lainnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan pandangan yang mendalam mengenai hakikat musibah. Beliau menegaskan bahwa musibah yang sejati adalah yang menimpa agama seseorang, bukan musibah duniawi. Dalam kitabnya Madarijus Salikin (2/322), beliau berkata,

كُلُّ مُصِيبَةٍ دونَ مُصِيبَةِ الدِّينِ فَهَيِّنَةٌ، وَإِنَّهَا فِي الحَقِيقَةِ نِعْمَةٌ، وَالمُصِيبَةُ الحَقِيقِيَّةُ مُصِيبَةُ الدِّينِ.

“Setiap musibah selain musibah yang menimpa agama, maka anggaplah ringan musibah tersebut. Karena pada hakikatnya itu merupakan sebuah nikmat dan sebenar-benar musibah adalah musibah yang menimpa agama seseorang.”

Musibah terbesar adalah musibah pada agama:

– Hati yang jauh dari Allah
– Ibadah yang ditinggalkan
– Al-Qur’an yang tidak lagi dibaca
– Maksiat yang dianggap biasa
– Perpecahan umat
– Racun media sosial yang merusak akhlak
– Syubhat yang merusak aqidah
– Dosa yang dilakukan tanpa rasa takut

Rasulullah selalu berdoa:

« وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا »
"Jangan Engkau jadikan musibah kami pada agama kami."

Banjir dapat merobohkan rumah.
Tetapi rusaknya iman dapat merobohkan jiwa dan masa depan generasi.

Jika bencana alam menimpa sebuah daerah, mereka masih dapat bangkit kembali.
Namun jika bencana iman menimpa sebuah umat, maka umat itu akan kehilangan kemuliaan, keberkahan, dan pertolongan Allah.

Karena itu, setiap musibah alam harus mengingatkan kita untuk menjaga ketakwaan dan memperbaiki ketaatan kepada Allah.


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ.أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛

 عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

إن الله وملائكته يصلون على النبي ياأيها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Mari kita mengambil pelajaran besar dari musibah yang melanda saudara-saudara kita di Sumatera dan Aceh:

  1. Perbanyak istighfar dan taubat.

  2. Perkuat sabar dan ridha.

  3. Perbaiki akhlak saat bencana.

  4. Bantu saudara kita sekuat kemampuan.

  5. Jaga iman, karena itulah aset terbesar umat.

Marilah kita berdoa:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنَا بِذُنُوْبِنَا، وَلَا تُهْلِكْنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَاءُ مِنَّا. اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

اللَّهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ كُلِّ بَلاَءٍ وَفِتْنَةٍ وَمُصِيبَةٍ

اللَّهُمَّ ارْفَعِ الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ عَنْ بِلادِنَا وَبِلادِ الْمُسْلِمِينَ

عِبَادَ اللّٰهِ،

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ…

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Fitnah lebih Kejam daripada Membunuh


FITNAH LEBIH KEJAM DARIPADA MEMBUNUH

Penjelasan Para Ulama Tafsir Klasik, Kontemporer, dan Analisis Makna Qur’ani


Pendahuluan

Ungkapan “fitnah lebih kejam daripada membunuh” bukanlah peribahasa biasa, tetapi bersumber dari Al-Qur’an, pada peristiwa penting sejarah Islam. Banyak orang mengira “fitnah” di sini berarti “gosip”, padahal maknanya jauh lebih besar dan lebih berbahaya.

Artikel ini menghadirkan penjelasan komprehensif dari para ulama tafsir, lengkap dengan dalil, teks Arab berharakat, dan makna mendalam sebagaimana dijelaskan para imam seperti Ibn ‘Abbas, Mujahid, At-Tabari, Ibn Kathir, Ar-Razi, Az-Zamakhsyari, hingga ulama kontemporer.


I. Dalil Al-Qur’an tentang Fitnah Lebih Kejam daripada Membunuh

1. Al-Baqarah: 191

﴿ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ﴾
“Fitnah itu lebih dahsyat daripada pembunuhan.”

2. Al-Baqarah: 217

﴿ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ﴾
“Fitnah itu lebih besar (lebih berat) daripada pembunuhan.”

Ayat ini turun ketika kaum Muslimin dikecam karena terjadi pembunuhan di bulan Haram. Allah menjelaskan bahwa tindakan kaum musyrik berupa:

  • pengusiran kaum Muslim,
  • penyiksaan,
  • penindasan,
  • pemaksaan keluar dari Islam,

adalah jauh lebih buruk daripada pembunuhan itu sendiri.


II. Makna Fitnah Menurut Para Ulama Tafsir

1. Tafsiran Mayoritas: Fitnah = Syirik & Pemaksaan untuk Murtad

Ini adalah pendapat Ibn ‘Abbas, Mujahid, Qatādah, As-Suddī, hingga At-Tabari.

Ibn ‘Abbas (رضي الله عنهما)

قَالَ: الْفِتْنَةُ هُوَ الشِّرْكُ
“Beliau berkata: fitnah itu adalah syirik.”

Mujāhid (تلميذ ابن عباس)

قَالَ: فِتْنَتُهُمْ لِلْمُسْلِمِينَ أَنْ يَرُدُّوهُمْ إِلَى الْكُفْرِ
“Fitnah mereka terhadap kaum Muslim ialah memaksa mereka kembali kepada kekafiran.”

Imam At-Ṭabarī (ت 310هـ)

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, beliau berkata:

وَالصَّوَابُ مِنَ الْقَوْلِ عِنْدَنَا فِي الْفِتْنَةِ: أَنَّهَا الشِّرْكُ وَالإِضْطِهَادُ فِي الدِّينِ
“Makna fitnah menurut kami yang benar adalah: syirik dan penindasan dalam agama.”

Inti Makna:

Syirik + penindasan beragamanya manusia = lebih kejam daripada pembunuhan.


III. Tafsiran Lain: Fitnah = Kezaliman, Kekacauan, dan Penindasan Sistemik

Sebagian mufassir memperluas maknanya.

1. Imam Fakhruddin Ar-Rāzī (ت 606هـ)

الْفِتْنَةُ كُلُّ مَا يُوقِعُ فِي النَّاسِ مِنْ فَسَادٍ وَاضْطِرَابٍ
“Fitnah adalah segala sesuatu yang menimbulkan kerusakan dan kekacauan pada manusia.”

2. Imam Al-Kasysyāf (Az-Zamakhsyarī, ت 538هـ)

الْفِتْنَةُ هِيَ الظُّلْمُ وَالْقَهْرُ وَالتَّعَدِّي
“Fitnah adalah kezaliman, pemaksaan, dan pelanggaran terhadap hak.”

Maksudnya:

Kerusakan sosial, politik, dan moral yang meruntuhkan umat—lebih berbahaya daripada pembunuhan individu.


IV. Tafsiran Fikih: Ayat Ini Landasan Jihad Defensif

Ulama fiqh menjelaskan bahwa fitnah di ayat ini adalah alasan dibolehkannya perang defensif.

Ibn Kathīr

Beliau menyatakan:

فَإِنَّ فِتْنَتَهُمْ فِي دِينِكُمْ أَعْظَمُ مِنْ قَتْلِكُمْ إِيَّاهُمْ
“Fitnah mereka terhadap agama kalian lebih besar daripada pembunuhan yang kalian lakukan terhadap mereka.”

Maknanya:

  • Mengusir kaum Muslim,
  • Menyiksa mereka di Mekah,
  • Mencegah izin beribadah,
  • Memaksa mereka murtad,

itu lebih berat daripada peperangan yang dilakukan kaum Muslim.


V. Makna Fitnah dalam Bahasa Arab Klasik

Kata fitnah (فِتْنَةٌ) berasal dari:

فَتَنَ الذَّهَبَ
“Membakar emas untuk mengujinya.”

Sehingga maknanya meluas menjadi:

  1. ujian,
  2. cobaan,
  3. penyelewengan,
  4. peperangan internal (civil strife),
  5. penyesatan,
  6. syirik,
  7. kekacauan.

Ini memberi kita gambaran mengapa fitnah lebih kejam daripada membunuh:
kerusakannya multi-level, tidak berhenti pada satu individu.


VI. Penjelasan Para Ulama Kontemporer

1. Syaikh Ibn ‘Utsaimīn (ت 1421هـ)

الْفِتْنَةُ هُوَ كُلُّ مَا يُصْرَفُ الْعَبْدَ عَنْ دِينِهِ
“Fitnah adalah segala hal yang memalingkan seseorang dari agamanya.”

2. Syaikh Shāliḥ Al-Fauzān

وَهِيَ أَعْظَمُ مِنَ الْقَتْلِ لِأَنَّهَا إِفْسَادٌ لِلدِّينِ وَالدُّنْيَا
“Fitnah lebih besar daripada pembunuhan karena ia merusak agama dan dunia.”

3. Sayyid Quthb

“Fitnah adalah teror ideologis yang menghancurkan kebebasan beragama manusia. Ia pedang yang lebih tajam daripada pembunuhan.”


VII. Mengapa Fitnah Lebih Kejam daripada Membunuh?

1. Pembunuhan = Hilangnya satu nyawa

⟶ dampaknya terbatas.

2. Fitnah = kerusakan massal

  • merusak agama,
  • menghancurkan iman,
  • memicu perpecahan,
  • melahirkan perang saudara,
  • menumbuhkan penindasan,
  • menghilangkan keamanan publik,
  • menghancurkan generasi.

Karena itu para ulama menegaskan:

إِفْسَادُ الدِّينِ أَعْظَمُ مِنْ إِزْهَاقِ النَّفْسِ
“Merusak agama lebih besar (dosanya) daripada merenggut nyawa.”


VIII. Relevansi Kontemporer: Fitnah di Zaman Modern

Dalam konteks modern, “fitnah” mencakup:

• Propaganda kebencian
• Hoax politik & SARA
• Penindasan terhadap Muslim di berbagai negara
• Penggiringan opini untuk memusuhi Islam
• Kekacauan politik yang memicu perang saudara
• Pembatasan kebebasan beragama
• Dusta media yang merusak moral umat

Semua ini menjadi racun sosial yang berbahaya jauh melampaui kejahatan pembunuhan.


IX. Kesimpulan Utama

Dari seluruh penjelasan ulama:

Fitnah lebih kejam daripada membunuh
karena ia mencakup segala bentuk kerusakan besar yang menghancurkan agama, iman, keamanan, dan stabilitas masyarakat—khususnya syirik dan penindasan terhadap Muslim.

Ia bukan sekadar gosip, tetapi kezaliman terstruktur yang merusak peradaban.



Label