Empat Pesan Rasulullah kepada Abu Dzar
(Bekal Spiritual Menyambut dan Menjaga Nilai Ramadhan)
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi madrasah ruhani yang mempersiapkan seorang mukmin untuk menjalani perjalanan panjang menuju Allah. Karena itu, para ulama salaf menekankan bahwa keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari berakhirnya bulan, tetapi dari bekasnya dalam sebelas bulan setelahnya.
Dalam konteks inilah, pesan Rasulullah ﷺ kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu menjadi sangat relevan dan visioner. Pesan ini diriwayatkan dalam Nashā’iḥul ‘Ibād karya Syekh Muhammad bin Umar Nawawi al-Bantani, seorang ulama besar Nusantara yang diakui otoritas keilmuannya di dunia Islam.
Teks Hadits
يَا أَبَا ذَرٍّ، جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ الْبَحْرَ عَمِيْقٌ، وَخُذِ الزَّادَ كَامِلًا فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ، وَخَفِّفِ الْحِمْلَ فَإِنَّ الْعَقَبَةَ كَؤُوْدٌ، وَأَخْلِصِ الْعَمَلَ فَإِنَّ النَّاقِدَ بَصِيْرٌ
Empat pesan ini menggunakan bahasa metafora perjalanan, yang oleh para ulama dipahami sebagai perjalanan hidup menuju akhirat.
1. “Perbaharuilah Kapalmu” – Tajdid Iman dan Taubat
جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ الْبَحْرَ عَمِيْقٌ
(perbaruilah kapalmu karena laut itu sangat dalam)
Kapal adalah iman dan amal, sementara laut yang dalam adalah kehidupan dunia yang penuh fitnah dan ujian. Kapal yang rapuh akan karam, sebagaimana iman yang rusak akan tenggelam oleh syahwat dan syubhat.
Pandangan Ulama
Pandangan Ulama
Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn:
“Iman bisa usang sebagaimana pakaian, dan yang memperbaharuinya adalah taubat dan muhasabah.”
Ramadhan adalah momentum tajdîdul îmân (pembaruan iman), tetapi iman itu harus terus dirawat setelah Ramadhan agar kapal tidak kembali rapuh.
2. “Ambillah Bekal dengan Sempurna” – Amal Shalih Berkesinambungan
وَخُذِ الزَّادَ كَامِلًا فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ
(Ambillah bekal dengan sempurna karena perjalanan itu jauh)
Perjalanan menuju akhirat panjang dan melelahkan, dan tidak cukup dengan bekal sesaat.
Allah Ta‘ala berfirman:
Allah Ta‘ala berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى (البقرة: 197)
“Berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.”
Bekal Ramadhan berupa puasa, qiyamul lail, tilawah, dan sedekah harus dilanjutkan, meski dengan kadar yang lebih ringan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit.”
Bekal Ramadhan berupa puasa, qiyamul lail, tilawah, dan sedekah harus dilanjutkan, meski dengan kadar yang lebih ringan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ (البخاري ومسلم)
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit.”
3. “Ringankan Bebanmu” – Zuhud dan Melepaskan Dosa
وَخَفِّفِ الْحِمْلَ فَإِنَّ الْعَقَبَةَ كَؤُوْدٌ
(Ringankanlah bebanmu karena tanjakan itu berat)
Beban berat adalah dosa, cinta dunia berlebihan, dan hak manusia yang belum ditunaikan. Semua itu akan memberatkan seseorang saat melewati ‘aqabah (tanjakan akhirat).
Allah berfirman:
وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا ( مريم: 95)
“Setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari kiamat seorang diri.”
“Setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari kiamat seorang diri.”
Allah Ta‘ala berfirman:
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا (QS. التحريم: 8)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
Pandangan Ulama
Ibnu Rajab Al-Hanbali رحمه الله berkata:
Ibnu Rajab Al-Hanbali رحمه الله berkata:
“Siapa yang meringankan dirinya dari dosa di dunia, maka Allah akan meringankannya di akhirat.”
Ramadhan mengajarkan pengosongan diri dari dosa, bukan sekadar menahan lapar.
4. “Ikhlaskan Amalmu” – Inti dari Segala Ibadah
وَأَخْلِصِ الْعَمَلَ فَإِنَّ النَّاقِدَ بَصِيْرٌ
(Dan ikhlaskanlah amalmu, karena Yang Maha Menilai itu Maha Teliti.)
Allah adalah An-Nāqid (Maha Menilai), yang menilai niat sebelum amal, dan keikhlasan di baliknya.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ( البينة: 5)
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ (البخاري ومسلم)
Ikhlas adalah ruh Ramadhan, dan tanpa ikhlas, amal hanyalah rutinitas tanpa nilai akhirat.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ( البينة: 5)
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ (البخاري ومسلم)
Ikhlas adalah ruh Ramadhan, dan tanpa ikhlas, amal hanyalah rutinitas tanpa nilai akhirat.
Penutup: Ramadhan sebagai Peta Jalan, Bukan Tujuan Akhir
Empat pesan Rasulullah ﷺ kepada Abu Dzar adalah peta perjalanan spiritual:
- Perbaharui iman
- Perbanyak bekal amal
- Ringankan dosa dan beban dunia
- Ikhlaskan seluruh ibadah
Ramadhan adalah stasiun pengisian, bukan tujuan akhir. Dan orang yang cerdas adalah yang menjadikan Ramadhan sebagai awal perubahan, bukan akhir semangat.
