Riwayat lengkapnya dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim antara lain:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ...
“Puasa adalah perisai, maka jangan berkata keji dan jangan berbuat bodoh…”
Hadits ini bersifat jawāmi‘ al-kalim — lafaz singkat namun makna luas. Untuk memahaminya secara komprehensif, kita perlu melihat makna “junnah”, dimensi perlindungan, serta korelasinya dengan hadits tentang penyempitan jalan setan.
1. Makna “جُنَّةٌ” Secara Lughawi dan Syar‘i
A. Secara Bahasa (Lughah)
Kata جُنَّةٌ (junnah) berasal dari akar kata j-n-n yang bermakna “menutupi” atau “melindungi”. Dari akar yang sama lahir kata:
- جَنَّةٌ (surga) – tertutup dari pandangan
- جِنٌّ – makhluk tersembunyi
- مِجَنٌّ – tameng dalam peperangan
Jadi, secara bahasa, junnah berarti tameng yang melindungi dari serangan musuh.
B. Secara Syar‘i (Penjelasan Ulama)
Para ulama seperti:
- Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari
- Yahya ibn Sharaf al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim
menjelaskan bahwa puasa adalah perisai dalam dua makna:
Perisai dari api neraka
Karena puasa melemahkan syahwat dan menghapus dosa.Perisai dari maksiat di dunia
Karena puasa membendung dorongan hawa nafsu.
Al-Nawawi menegaskan bahwa puasa menjadi perisai selama seseorang menjaga adabnya (tidak berkata kotor, tidak jahl).
2. Korelasi dengan Hadits “Menyempitkan Jalan Setan”
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan berjalan pada diri anak Adam melalui aliran darah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa puasa menyempitkan jalannya.
فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوعِ
“Maka sempitkanlah jalan-jalannya dengan lapar.”
Riwayat dengan tambahan lafaz ini disebutkan oleh sejumlah ulama hadits seperti: Ahmad ibn Hanbal dalam Musnad-nya
3. Analisis Teologis dan Psikospiritual
A. Mengapa Setan Disebut Mengalir Seperti Darah?
Penjelasan para ulama:
Makna hakiki (bi la takyif)
Kita imani sebagaimana adanya tanpa menyerupakan.Makna majazi (kiasan)
Maksudnya: pengaruh setan sangat dekat, intens, dan menyatu dengan dorongan biologis manusia.
Ibn Hajar menjelaskan bahwa setan memanfaatkan:
- syahwat
- kemarahan
- kelaparan
- kelengahan
Semua itu berkaitan dengan dorongan fisik dan psikis manusia.
4. Mengapa Puasa Menyempitkan Jalan Setan?
A. Secara Fisiologis
Puasa:
- Mengurangi asupan makanan
- Melemahkan dorongan biologis
- Menurunkan agresivitas dan impuls
Dalam konteks klasik, para ulama menyatakan:
“Lapar melemahkan syahwat, dan syahwat adalah pintu setan.”
Karena mayoritas maksiat bersumber dari:
- Syahwat (keinginan)
- Ghadab (amarah)
Puasa melemahkan keduanya.
B. Secara Ruhaniyah
Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga:
- Menahan pandangan
- Menahan lisan
- Menahan hati
Ketika hati sibuk dengan dzikir dan muraqabah, maka ruang infiltrasi setan menjadi sempit.
Allah berfirman:
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa: 76)
Setan kuat ketika:
- Nafsu kuat
- Hati lalai
- Perut kenyang
Setan lemah ketika:
- Nafsu dilemahkan
- Hati hidup
- Ruh terhubung dengan Allah
Maka makna “الصِّيَامُ جُنَّةٌ” menjadi jelas:
Puasa adalah:
- Tameng dari neraka (eskatologis)
- Tameng dari maksiat (moral)
- Tameng dari dominasi syahwat (psikologis)
- Tameng dari infiltrasi setan (teologis)
- Kesimpulan Teologis
Hadits “الصِّيَامُ جُنَّةٌ” tidak hanya bermakna simbolik, tetapi struktural:
Puasa:
- Menutup pintu syahwat
- Mengeringkan suplai energi bagi setan
- Menyempitkan jalur pengaruhnya
- Menguatkan kontrol ruh atas jasad
Dengan demikian, korelasi antara:
- Puasa sebagai perisai
- Puasa menyempitkan jalan setan
adalah korelasi kausal:
Puasa melemahkan medium kerja setan (nafsu dan dorongan biologis), sehingga ia kehilangan akses dominan terhadap manusia.