Puasa: Menyempitkan Jalan Setan dan Menenangkan Jiwa
Kaum muslimin rahimakumullah,
Di antara rahasia besar puasa adalah kemampuannya menundukkan setan dan meredakan gejolak jiwa. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menutup pintu-pintu gangguan syaitan.
1. Setan Mengalir Seperti Darah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia sebagaimana aliran darah.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan:
- Setan sangat dekat dengan manusia.
- Ia mempengaruhi pikiran, perasaan, dan dorongan.
- Ia membisikkan was-was dan memantik amarah.
Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kedekatan setan ini adalah bentuk pengaruh yang sangat intens terhadap dorongan hawa nafsu manusia.
2. Puasa Mempersempit Jalannya
Para ulama menyebutkan bahwa puasa mempersempit jalur setan karena:
- Puasa melemahkan kekuatan fisik.
- Puasa mengurangi dominasi syahwat.
- Puasa menenangkan dorongan marah.
Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa makanan dan minuman memperkuat syahwat yang menjadi pintu masuk setan. Ketika seseorang berpuasa, pintu itu menyempit.
Artinya:
Semakin seseorang menuruti syahwatnya, semakin mudah setan menguasainya.
Semakin ia menahannya, semakin lemah pengaruh setan.
3. Puasa Menekan Syahwat
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, siapa yang mampu menikah hendaklah ia menikah… dan siapa yang belum mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu menjadi perisai baginya.”(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Kata وِجَاءٌ (wijā’)
secara bahasa berarti pengebiri (pengendali syahwat).
Maknanya:
Puasa melemahkan dorongan seksual dan menjaga kehormatan diri.
4. Puasa Meredam Amarah
Marah adalah salah satu pintu besar setan.
Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda tentang orang yang berpuasa:
“Jika seseorang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: إني صائم (Sesungguhnya aku sedang berpuasa).”
Puasa melatih kontrol emosi.
Setan suka memantik konflik.
Puasa mengajarkan kesabaran.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa inti puasa bukan sekadar menahan makan, tetapi menahan seluruh anggota badan dari maksiat dan ledakan nafsu.
5. Dimensi Spiritual: Hati Menjadi Lebih Tenang
Ketika jalur setan menyempit:
- Was-was berkurang.
- Pikiran lebih jernih.
- Hati lebih lembut.
- Ibadah terasa lebih nikmat.
Karena itu Ramadhan sering disebut sebagai bulan ketenangan.
Puasa bukan melemahkan jiwa.
Puasa justru menguatkan kendali atas jiwa.