"Hadits Shahi adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahi adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Bukti Cinta Sejati Pada Nabi (Bag. Satu)

Yang terpenting bukanlah engkau mencintai Nabimu. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa mendapatkan cinta nabimu. Begitu pula, yang terpenting bukanlah engkau mencintai Allah. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa dicintai-Nya
(Lihat Syarh ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 20/2)

Bukti Cinta Sejati Pada Nabi

Oleh :
ARIS ALFIAN RISWANDI
Cilawang, 22 Januari 2015

Sumber :
# Kitab Fathul Baari
# Kitab Ringkasan Shahih Muslim
# Kitab Bidayah wannihayah
# Tafsir Ibnu Katsir

Alhamdulillah, kita baru saja melawati bulan Robi' Al-Awwal, yang dalam bahasa kita sering disebut bulan Maulud ataupun bulan Mulud 1436 H.

Pada bulan Mulud itulah, banyak sekali umat islam yang merayakan dan memperingati hari kelahiran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. meskipun para ulama telah berbeda pendapat tentang kapan sebenarnya Nabi yang mulia ini dilahirkan. salah satu ulama syafi'iyyah yakni Imam Ibnu Katsir, dalam Kitabnya Bidayah Wannihayah telah menjelaskan, tentang perbedaan pendapat para ulama tentang tahun, bulan, tanggal, hari hingga waktu ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dilahirkan.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa beliau lahir pada bulan Rabiul Awal. Yang lain berpendapat, beliau lahir bulan Muharram, Safar dan Rajab. sedangkan Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam lahir pada tanggal 12 Ramadhan. sedangkan sebagian ulama yang lain mengatakan kelahirannya jatuh pada tanggal 2, 9, 17 Rabiul Awal. Ibnu Hazm berpendapat bahwa kelahirannya pada tanggal 8 Rabiul Awal. Ibnu Ishaq berpendapat pada tanggal 12 Rabiul Awal. Ulama pun berbeda pendapat, tentang waktu kelahirannya; siang atau malam. Satu ulama berpendapat siang, yang lain mengatakan malam. Begitu juga dengan hari kelahirannya. Ada yang berpendapat Senin. Yang lain berpendapat Jumat. Seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yakni Ibnu Abbas, mengatakan bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari Senin tanggal 18 Rabiul Awal. hal ini membuktikan bahwa tidak ada satupun diantara para ulama dan juga sahabat nabi yang tahu persis kapan beliau dilahirkan.

Sahabat sekalian, dalam kesempatan ini saya tidak bermaksud menjelaskan tentang kelahiran nabi ataupun tentang peringatan kelahiran nabi (muludan). akan tetapi, saya mencoba sedikit menjelaskan tentang :

Cinta Sejati Pada Nabi

yang meliputi, Perintah mencintai nabi, Perasaan Cinta Kita terhadap Nabi, serta bagaimana kita membuktikan rasa cinta kita terhadap Sayyidina wa nabiyyina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Terlebih dahulu marilah kita simak bersama firman Allah Ta’ala dalam Al-qur'an surat At-Taubah ayat 24.

اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

"Katakanlah: "Jika bapak-bapak mu, anak-anak mu, saudara-saudara mu, isteri-isteri mu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Qs. At Taubah: 24)
Imam Ibnu Katsir As-Syafi'iyyah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.”
Ini adalah sebuah perintah mencintai yang hukumnya WAJIB, bahwa kita dilarang mencintai apapun melebihi cinta kita kepada Allah, cinta kepada Rosul-Nya serta Jihad dijalan Allah. jika tidak, maka kita akan tergolong kepada golongan orang-orang yang Fasik, (yakni orang yang menyaksikan dan mengetahui kebenaran tetapi tidak meyakini dan melaksanakannya bahkan Ia bermaksud melakukan maksiat, meninggalkan perintah Allah, dan menyimpang dari jalan yang benar). maka orang yang demikian selamanya akan dibiarkan oleh Allah dan tidak akan pernah diberikan petunjuk.

Selanjutnya, Imam Al Bukhari dan Imam Muslim dalam masing-masing kitabnya telah mencatat hadist dari Anas bin Malik, yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

"Tidaklah termasuk beriman salah seorang di antara kalian, hingga aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian masih dari Imam Al-Bukhori dalam Kitabul Iman wan Nudzur, pada Bab Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersumpah, telah meriwayatkan bahwa 'Abdullah bin Hisyam berkata: "Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab –radiyallahu 'anhu-. Lalu Umar –radhiyallahu 'anhu- berkata:

لأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : لاَ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ . فَقَالَ : لَهُ عُمَرُ : فَإِنَّكَ اْلآنَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : اْلآنَ يَا عُمَرُ

"(Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri." Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda: 'Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri'. Maka Umar berkata kepada beliau: 'Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.' Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda: ‘Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar)." (HR. Bukhari).

Sahabat sekalian, demikianlah beragam perintah mencintai Allah dan Rosulnya yang terdapat dalam Al-qur'an dan juga sunnah. kemudian, setelah kita mengetahui dan meyakini akan perintah mencintai ini, selanjutnya kita dituntut untuk dapat membuktikan Perasaan Cinta kita, karna tanpa bukti maka Perasaan Cinta kita termasuk perkara yang BOHONG. Cinta bukanlah hanya klaim atau pengakuan semata. Namun semua cinta harus diiringi dengan bukti nyata. Dari sinilah sebagian ulama salaf mengatakan : Tatkala banyak orang yang mengaku/mengklaim mencintai Allah dan Rosulnya, maka mereka dituntut untuk mendatangkan bukti atas kecintaannya itu.

Sahabat Sekalian. dari muqoddimah di atas, selanjutnya saya akan menjelaskan tentang :

Bukti-Bukti Cinta Pada Nabi

Bukti Cinta Pertama : Membenarkan Semua Berita dari Nabi

Bukti Cinta kita pada Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam adalah dengan membenarkan setiap berita yang disampaikan oleh-nya, wajib bagi kita untuk meyakini kebenarannya tanpa ada keraguan sedikitpun, baik berita tentang peristiwa yang telah terjadi maupun yang akan terjadi, bahkan berita tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi nanti pada hari kiamat dan sesudahnya.

Di zaman sekarang ini banyak orang yang menolak hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wasallam dengan alasan bahwa hadits itu bertentangan dengan akal. Apakah mereka lupa bahwa Nabi shallallahu 'alihi wasallam tidaklah berbicara kecuali dengan bimbingan Allah?? Apakah akal mereka yang lemah itu hendak mereka gunakan untuk menimbang-nimbang kebenaran berita yang datang dari Nabi shallallahu 'alihi wasallam??.

Padahal, Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang rasul yang sabda-sabdanya berdasarkan wahyu, sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an :

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

"Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. An Najm: 1-4)

Ada satu kisah yang patut kita tiru dari sahabat terbaik Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yakni kisah Abu bakar As-Shiddiq bin Abi Quhafah, ketika orang-orang musyrik mengadukan kejadian Isra' mi'raj Nabi yang mereka anggap sebuah kebohongan besar, Abu Bakar berkata :

لَئِنْ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ

(Jika memang Nabi yang mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar adanya).

Orang-orang musyrik kembali bertanya: "apakah engkau percaya bahwa muhammad pergi ke baitul maqdis di malam hari dan kembali sebelum pagi hari?". Abu Bakar menjawab:

نَعَمْ ، إِنِّيْ لَأُصَدِّقُهُ فِيْمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ

(Aku membenarkannya sekalipun lebih mustahil dari itu) (HR. Imam Hakim dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha)

Abu Bakar adalah sahabat yang sangat mencintai Nabi, sehingga tidak sedikitpun ada keraguan terhadap apa-apa yang disampaikan nabi. sehingga beliau digelari As-Shiddiq. demikianlah kitapun seharusnya bersikap. karena mempercayai dan meyakini terhadap apa-apa yang Nabi sampaikan merupakan pondasi keimanan kita terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Bukti Cinta Kedua : Ittiba' (mengikuti), Taat dan Patuh .

Allah 'azza wajalla berfirman dalam surat An-Nisa ayat 80 :

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs. An-Nisa': 80)

Di antara bentuk cinta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan Ittiba' yakni mengikuti, taat dan patuh pada ajarannya. Karena ingatlah, ketaatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah buah dari kecintaan. Hakikat cinta pada Nabi bukanlah dengan melatunkan nyanyian, nasyid atau pun sya’ir yang indah, namun dengan cara mengikuti, mencontoh, mantauladani, mentaati, serta mengamalkan dengan sebaik-baiknya sunnah-sunnah beliau. Semakin seseorang mencintai Nabinya maka dia juga akan semakin mentaatinya, semakin ia merindukan Nabinya, maka ia semakin menyempurnakan ibadahnya.

Kemudian dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. Ali Imron: 31)

Tidak sepatutnya bagi seseorang yang mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun ketika mendengar perintahnya, ia enggan untuk melaksanakannya, padahal ia dalam keadaan mampu untuk melaksanakannya. atau ia telah mendengar larangan-nya, namun diabaikannya, ia tetap bergelimang dalam perbuatan yang dilarang itu. yang demikian itulah orang-orang yang digolongkan oleh Nabi sebagai orang-orang yang enggan/tidak mau mendapatkan Surga. Sebagaimana Sabda-nya :

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.

"Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan. Para shahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang enggan tersebut?’ Beliau menjawab: ‘Barangsiapa yang mentaatiku, dia akan masuk surga, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, berarti dialah orang yang enggan." (HR. Al-Bukhari)

Bukti Cinta Ketiga : Menjalankan Ibadah sesuai dengan Bimbingan dan Petunjuk Nabi

Sahabat sekalian, Siapapun yang mengaku cinta Kepada Nabi, setelah ia meyatakan ittiba', turut dan patuh terhadap perintah Nabi, maka semua bentuk ibadah nya WAJIB ditunaikan sesuai dengan tuntunan dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena barangsiapa yang mengamalkan suatu ibadah yang tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ibadahnya itu akan sia-sia.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, "Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, amalan tersebut tidak akan diterima. pun sebaliknya, apabila suatu amalan dilakukan dengan mengikuti ajaran Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam namun tidak didasari dengan ikhlas, maka amalan tersebut juga akan tertolak.”
Perkataan ini sangatlah relevan dengan hadits dari Imam Muslim, bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan dari ajaran kami (Tidak sesuai dengan yang disabdakan dan dicontohkan_pen), maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim)

Islam adalah agama yang sempurna karena Allah sendiri yang telah menyempurnakannya, tugas kita adalah mengamalkan dengan sebaik-baiknya, tanpa harus bersusah payah mengadakan atau membuat amalan-amalan baru yang menurut akal dan adat manusia terlihat baik, tapi sesungguhnya hal itu termasuk perkara yang mengada-ngada dalam beramal ibadah, dan tentunya menyelisihi terhadap syari'at.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

"Ikutilah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, janganlah membuat amalan-amalan baru. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi adalah sesat ."