"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahih adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Bukti Cinta sejati Pada Nabi (Bag. Dua)

Bukti Cinta Keempat : Mendahulukan Syariat dari pada Pendapat
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: "Umat Islam telah bersepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah (perkataan dan ketentuan syariat) dari Rasulullah, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut disebabkan perkataan (pendapat) seseorang."
Tidak boleh bagi siapapun untuk meragukan atau bahkan menolak dan meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta ketentuan syariat yang telah beliau tetapkan dikarena adanya ucapan atau pendapat seseorang. sekalipun pendapat itu datang dari orang tua, orang 'alim, guru, kiyai, bahkan Presiden sekalipun, jika menyelisihi terhadap sunnah maka pendapat itu WAJIB ditinggalkan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَ رَسُولِهِ وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَميعٌ عَليمٌ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Hujurat: 1)

Al-Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksud dari ayat ini adalah, janganlah kalian tergesa-gesa melakukan segala sesuatu sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi jadilah kalian semua sebagai pengikutnya dalam segala hal.

Selanjutnya Al-Imam Ibnu Katsir mengutip sebuah Hadits dari Muadz bin jabal. bahwa ketika Mu’adz akan diutus untuk menjadi hakim di negeri Yaman, Nabi bertanya : "Dengan apa engkau akan memutuskan hukum?" ia menjawab: "Dengan kitab Allah Ta’ala". "Jika engkau tidak mendapatkannya?" tanya Rasulullah lebih lanjut. Ia menjawab: "Dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." "Dan jika tidak mendapatkannya juga?" tanya beliau lagi. Ia menjawab: "Aku akan berijtihad dengan pendapatku." Lalu beliau menepuk dadanya seraya berucap: "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasulul-nya serta yang diridlai oleh-Nya"

hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Dan yang dimaksud oleh Mu’adz adalah, ia mengakhirkan pendapat, pandangan, dan ijtihadnya setelah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Seandainya ia mendahulukan ijtihad sebelum mencarinya di dalam al-Qur’an dan al-Hadits, maka yang demikian itu termasuk salah satu sikap mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Bukti Cinta Kelima :Berpegang Teguh pada Sunnah.

Allah Subhaanahu wata'ala berfirman :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya". (al Hasyr: 7)

Sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. At Tirmidizi mengatakan hadits ini hasan shohih. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpegangteguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.”

Diantara Sahabat khulafa’ur rosyidin salah satunya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Beliau telah mengatakan,

لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ

"Tidaklah aku biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang." (HR. Abu Daud)

Inilah sikap dari sahabat Abu Bakar As-Shiddiq yang patut kita tiru dan kita amalkan. yakni diharuskannya kita berpegang teguh terhadap apa yang telah dicontohkan dan disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bukti Cinta Keenam : Mencintai Orang-orang yang Beliau Cintai

Sahabat sekalian, di antara bentuk kecintaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mencintai orang-orang yang beliau cintai, mereka adalah Ahlul Bait (Keluarga nabi) termasuk di dalamnya adalah istri-istri beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam, para shahabat (Muhajirin dan Anshar), dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan sunnah-nya. Di samping mencintai mereka, hendaknya juga mendoakan kebaikan dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk mereka.

Sebagaimana Firman Allah menceritakan tentang kedudukan sahabat Nabi :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) dari orang-orang Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah redha kepada mereka dan mereka redha kepadaNya, dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah : 100)

Begitu juga hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam,

لا تَسُبُّوا أصحابي، فلو أنّ أَحدَكُم أنفقَ مِثلَ أُحُدٍ ذَهَبا ما بَلَغَ مُدَّ أحَدِهمْ ولا نَصيفَه

"Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku, kalau sekiranya salah seorang di antara kalian bersedekah emas sebesar gunung Uhud, hal itu tidak akan menyamai sedekah yang mereka keluarkan seberat satu mud (secupak), tidak pula separuhnya." (Muttafaqun ‘alaihi)

Imam Malik rahimahullah mengatakan, "Siapa saja yang mencela Abu Bakar, maka ia pantas dihukum cambuk. Siapa saja yang mencela Aisyah, maka ia pantas untuk dibunuh." Ada yang menanyakan pada Imam Malik, "Mengapa bisa demikian?" Beliau menjawab, "Barangsiapa mencela mereka, maka ia telah mencela Al Qur’an karena Allah Ta’ala berfirman (agar tidak lagi menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah,- pen).

يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. An Nur: 17)

Bukti Cinta Ketujuh : Perbanyak Membaca Sholawat

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzaab: 56)
Imam Bukhari berkata, "Abul 'Aliyah mengatakan: Yang dimaksud dengan Allah bershalawat kepada Nabi-Nya adalah pujian yang Allah berikan kepada Nabi yang diungkapkan dihadapan para malaikat." Sedangkan shalawat Malaikat berarti do'a mereka atas Nabi." Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu berkata, "Arti dari lafazh Yusholluuna adalah, "Allah dan para Malaikat-Nya memberkati Nabi shallallahu'alaihi wasallam." (Fathul Baari)
Termasuk bukti kecintaan seorang mukmin terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan banyak bershalawat kepadanya, sebagaimana yang telah Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk ibadah, maka dari itu, sholawat yang dibacakan harus sesuai dengan apa yang telah beliau contohkan, bukan dengan shalawat-shalawat yang tidak ada dasarnya.

Sholawat adalah d'oa, saya (penulis) lebih cenderung/menyukai memaknai sholawat sebagai Kalimah Toyyibah kepada Nabi. yang bacaannya telah Allah Ta'ala ajarkan melalui Nabi dengan kalimat yang paling sempurna. untuk itu, tidak sepantasnya kita menambah-nambah ataupun mengurangi terlebih lagi membuat redaksi sholawat sendiri, karena yang demikian itu termasuk perkara yang baru dan menyelisihi Syari'at Nabi.

cukuplah bagi kita menyibukan diri dengan membaca sholawat yang telah nabi ajarkan melalui hadits-haditsnya.

# Hadits Riwayat At-Thabrani :

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

"Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad".

# Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan At-Tirmidzi :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

# HR. Bukhari dan Muslim

Dari Ka’ab bin Ujrah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan shalawat,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barang siapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali, maka Allah mengucapkan shalawat kepadanya 10 kali.” ( HR. Muslim)

Dari Al-Husain bin ‘Ali Radhiyallaahu‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang kikir adalah orang yang aku disebut di dekatnya, lalu dia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad)

Demikianlah Diantara Bukti-bukti Cinta Sejati pada Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Diakhir catatan kecil ini, saya kutip perkataan seorang ulama :

لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تُحِبَّ وَلَكِن الشَّأْنُ أَنْ تُحَبْ

Yang terpenting bukanlah engkau mencintai-Nya. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa dicintai-Nya.

Yang terpenting bukanlah engkau mencintai Nabimu. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa mendapatkan cinta nabimu. Begitu pula, yang terpenting bukanlah engkau mencintai Allah. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa dicintai-Nya. (Syarh ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 20/2)



سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ. (رواه النسائي والترمذي)