"Hadits Shahi adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

"Hadits Shahi adalah Madzhab-ku" (Imam As-Syafi'i)

Do'a/Amalan di Musim Hujan

Do'a / Amalan di Musim Hujan 

Ditulis Oleh : Aris Alfian Riswandi
Jum'at, 09 Januari 2015

doa di Musim Hujan


اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
“Berbekalah kalian, dan sebaik-baik bekal itu adalah takwa.” (QS. Al Baqarah: 195)
_______________________________________________________________________

Saat ini kita sedang menghadapi musim hujan, dimana hampir setiap hari hujan turun tanpa mengenal waktu, kadang malam, subuh, pagi, siang bahkan sore hingga pagi. terhadap kondisi yang seperti ini, Ada orang-orang yang menyukai dan mensyukuri karena berkeyakinan bahwa hujan adalah karunia dan rahmat dari Allah subhanahu wata'ala. dan disisi lain, ada orang-orang yang mencela hujan karena alasan bahwa segala aktivitasnya menjadi terhambat, dll.

Padahal mencela hujan merupakan sebuah dosa besar, karena mencela hujan berarti mencela penciptanya. Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim telah meriwayatkan sebuah hadis qudsi dari Abu Hurairoh Rodiyallahu 'Anhu, Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ ، بِيَدِى الأَمْرُ ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Anak Adam telah menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” (HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246)

Sesungguhnya turunnya hujan adalah rahmat dan fadilah dari Allah Subhanahu wata’ala. sebagaimana firmannya dalm surat Asy-Syura aya 28:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28).

Imam Nawawi menjelaskan, bahwa hujan merupakan rahmat dari Allah Ta'ala, serta beliau meminta berkah dengan cara membasahi sebagian badannya dengan air berkah ini. berdasar kepada hadits, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah menyibakkan bajunya agar tubuh beliau terkena air hujan. Saat beliau ditanya tentangnya, beliau menjawab:

لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

"Karena sesungguhnya hujan ini baru saja Allah Ta’āla ciptakan." (HR. Muslim)

Oleh karena itu, hal yang terbaik ketika menghadapi hujan adalah dengan mengikuti syari'at yang telah dicontohkan oleh Rosulullah Muhammad Shallalluhu 'alaihi Wasallam, diantara syari'at itu adalah :

Pertama : Mengucapkan do'a ketika turun hujan.
Seperti yang diajarkan oleh Nabiyallah Muhammad Shallalluhu 'alaihi Wasallam, sebagaimana yang termaktub dalam Kitab Imam Bukhori dari Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَىْ الْمَطَرَ، قَالَ: -اَللَّهُمَّ صَيِبًا نَافِعًا

"Apabilah melihat hujan turun, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa, ‘Allahumma shoyiban naafi’a’."(Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat. Yaitu hujan yang tidak memberikan bahaya dan merusak) (HR. Bukhari).

Apabila hujan semakin lebat, dan dikhawatirkan hujan yang lebat tersebut akan mendatangkan bahaya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  memohon kepada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah.

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan." (HR. Bukhari)

Kedua : Berdo'alah setelah hujan turun, 
Dalam Hadits qudsi Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ |- مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ -|. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ .وَأَمَّا مَنْ قَالَ |- مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَاوَكَذَا-|. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ.
"Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa yang mengatakan |-’muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih’-| (kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah) maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan |-‘muthirna binnau-i kadza wa kadza’-| (kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini) maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman kepada bintang-bintang." (Muttafaqqun 'Alaih)

Ketiga : Berdo'alah ketika mendengar Petir.
Sebuah hadits termaktub dalam kitab al-Muwaththa karya Imam Malik, bahwa apabila Abdullah bin Zubair mendengar bunyi guntur atau petir, ia berhenti berbicara lalu membaca,

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

"Maha Suci Allah yang halilintar bertasbih dengan memujiNya, begitu juga para malaikat, karena takut kepadaNya".


Kempat : Berdo'a ketika terjadi angin kencang

Muhammad Bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Suatu Ketika terjadi angin kencang, lalu beliau berdo'a:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya." (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah).

Inilah syari'at yang diajarkan oleh junjungan kita, bukan malah sebaliknya, ketika terjadi angin kencang atau badai, malah mencela dan mencacimaki angin. bagaimana pun juga, angin adalah makhluk Allah, yang bergerak dan berjalan atas perintah Allah Ta'ala.

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu ia berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

....لَا تَسُبُّوا الرِّيحَ، فَإِنَّهَا مِنْ رَوْحِ اللهِ، وَسَلُوا اللهَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَتَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

"Janganlah kalian mencaci angin, sebab angin merupakan bagian dari rahmat Allah. Mintalah kepada Allah kebaikan angin, kebaikan yang terdapat dalam angin dan kebaikan dari tujuan dikirimnya angin. Dan berlindunglah kalian kepada Allah dari keburukan angin, keburukan yang terdapat dalam angin dan keburukan dari tujuan dikirimnya angin tersebut." (HR. Ahmad. At-Tirmidzi berkata: Hadits hasan shahih)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu dari Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: "Janganlah kalian mencaci angin. Jika kalian melihat dari angin itu sesuatu yang kalian tidak sukai (ancaman bahaya, seperti : angin yang kencang, angin rebut, angin topan atau badai - pen), maka bacalah doa:

اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيحِ، وَمِنْ خَيْرِ مَا فِيهَا، وَمِنْ خَيْرِ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيحِ، وَمِنْ شَرِّ مَا فِيهَا، وَمِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

"Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang terdapat dalam angin ini dan kebaikan dari tujuan dikirimnya angin ini. Dan sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang terdapat dalam angin ini dan keburukan dari tujuan dikirimnya angin ini." (HR. Ahmad)
Kelima : Dianjurkan untuk Memanjatkan Do'a Saat Hujan Turun.

Waktu hujan adalah waktu mustajab, waktu yang baik untuk berdoa, memohon kepada Allah Azza Wajalla, dengan berbagai permohonan. hal ini bertepatan dengan Sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam :

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ وَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَنُزُوْلِ الْغَيْثِ

"Carilah pengabulan doa (Waktu Mustajab-pen) (1) pada saat bertemunya dua pasukan, (2) pada saat iqamah shalat, (3) dan saat turun hujan." (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Begitu juga disebutkan dalam hadits lain, dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

"Dua do’a yang tidak akan ditolak: do’a ketika adzan dan  do’a ketika ketika turunnya hujan." (HR. Hakim)

Tidak ketinggalan, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Astqolani telah men-shahihkan Hadits dari Atha, ia berkata, "Ada tiga waktu yang pada saat itu dibuka pintu-pintu langit, maka perbanyaklah doa pada waktu-waktu tersebut; pada saat hujan turun, pada saat berjumpa dengan pasukan musuh, dan di saat adzan."

Demikianlah Do'a dan Amalan di Musim Hujan (ketika Hujan Turun) semoga bermanfaat. seraya memohon kepada Allah Subhaanahu Wata'aala Semoga kita diberikan kemampuan oleh-Nya agar senantiasa  istiqomah dalam menegakan syari'at-Nya.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمينَ في كُلِ مَكَانٍ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْـمُسْلِمَاتِ، وَالْـمُؤْمِنِيْنَ وَالْـمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْـمُرْسَلِينَ وَالْـحَمْدُ لِلهِ ربِّ الْعَالَـمِينَ