4 ciri generasi terburuk
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw telah mengilustrasikan ciri-ciri generasi terburuk sebagai berikut:
.سَيَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ هِمَّتُهُمْ بُطُوْنُهُمْ. وَشَرَفُهُمْ مَتَاعُهُمْ وَقِبْلَتُهُمْ نِسَاؤُهُمْ. وَدِيْنُهُمْ دَارَهِمُهُمْ وَدَنَانِيْرُهُمْ. اُوْلئِكَ شَرُّ الْخَلْقِ لاَخَلاَقَ لَهُمْ عِنْدَ الله في الأخرة
Dalam hadis tersebut, terdapat empat ciri-ciri generasi terburuk, yaitu
- lebih mementingan perut,
- kemuliaan hanya diukur dari kepemilikan materi,
- suka mengagungkan syahwat, dan
- selalu mementingkan harta.
Pertama, mementingkan perut.
Salah satu keinginan manusia dalam hidup adalah memiliki perut yang kenyang dengan berbagai jenis makanan. Namun, yang membahayakan adalah jika segala sesuatu dilakukan untuk kepentingan perut.
Fenomena itulah yang kini banyak terjadi pada masyarakat kita. Mementingkan perut berarti seseorang ingin memperoleh kekayaan dengan menghalalkan segala cara. Bahkan meskipun seseorang sudah mendapatkan rezeki yang secara halal, hal itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan diri dan keluarganya saja sehingga tidak peduli dengan kekurangan yang dialami orang lain.
Akibat lain yang sangat berbahaya dari mementingkan perut adalah seseorang menjadi takut lapar, kuatir tidak mendapatkan rizeki sehingga membuatnya takut menanggung risiko dalam menjalani kehidupan secara benar. Tak heran, orang yang selalu mementingan urusan perut menjadi manusia yang melakukan sesuatu jika menguntungan dirinya secara materi. Dia tidak mau mengerjakan sesuatu ketika sesuatu itu mengakibatkan kesulitan dalam hidupnya, apalagi jika sampai mengakibatkan perutnya menjadi lapar.
Ciri kedua adalah memuliakan perhiasan, kemuliaan hanya diukur dari kepemilikan materi.
Fenomena itulah yang kini banyak terjadi pada masyarakat kita. Mementingkan perut berarti seseorang ingin memperoleh kekayaan dengan menghalalkan segala cara. Bahkan meskipun seseorang sudah mendapatkan rezeki yang secara halal, hal itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan diri dan keluarganya saja sehingga tidak peduli dengan kekurangan yang dialami orang lain.
Akibat lain yang sangat berbahaya dari mementingkan perut adalah seseorang menjadi takut lapar, kuatir tidak mendapatkan rizeki sehingga membuatnya takut menanggung risiko dalam menjalani kehidupan secara benar. Tak heran, orang yang selalu mementingan urusan perut menjadi manusia yang melakukan sesuatu jika menguntungan dirinya secara materi. Dia tidak mau mengerjakan sesuatu ketika sesuatu itu mengakibatkan kesulitan dalam hidupnya, apalagi jika sampai mengakibatkan perutnya menjadi lapar.
Ciri kedua adalah memuliakan perhiasan, kemuliaan hanya diukur dari kepemilikan materi.
Dalam hidup ini, manusia menghiasai dirinya dengan berbagai perhiasan hidup seperti rumah, kendaraan, pakaian, emas permata, dan lain sebagainya. Semua itu sering kali dijadikan ukuran bagi kemuliaan seseorang, padahal benda-benda itu hanya aksesoriis belaka. Nah, generasi terburuk menjadikan perhiasan hidup sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang, sementara kemuliaan seseorang di mata Allah akan diukur seberapa besar ketakwaannya.
Ciri ketiga adalah mengagungkan Syahwat/perempuan,
yaitu menuruti syahwat terhadap perempuan yang tidak halal baginya atau memenuhi ajakan perempuan untuk melakukan perzinahan. Ini merupakan sesuatu yang sangat hina. Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” [QS. Al-Isra: 32].
Selain itu mengagungkan perempuan juga dapat dipahami sebagai pemenuhan keinginan-keinginan yang tidak baik dari prempuan, termasuk seorang suami yang takut kepada istrinya sehingga harus memenuhi keinginan istrinya yang tidak benar. Ketakutan kepada istri membuat suami tidak berani meluruskan ksesalahan istri, padahal istri merupakan tanggungjawab suami untuk diselamatkan dari api neraka.
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً
Selain itu mengagungkan perempuan juga dapat dipahami sebagai pemenuhan keinginan-keinginan yang tidak baik dari prempuan, termasuk seorang suami yang takut kepada istrinya sehingga harus memenuhi keinginan istrinya yang tidak benar. Ketakutan kepada istri membuat suami tidak berani meluruskan ksesalahan istri, padahal istri merupakan tanggungjawab suami untuk diselamatkan dari api neraka.
Suami yang dayyuts dicela dalam syariat dan ancamannya cukup besar, sebagaimana hadits berikut,
ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟﻰَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻣُﺪْﻣِﻦُ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮِ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻕُ ﻭَﺍﻟﺪَّﻳُّﻮْﺙُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﻘِﺮُّ ﺍﻟْﺨَﺒَﺚَ ﻓِﻲ ﺃَﻫْﻠِﻪِ
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ أَبَدًا : الدَّيُّوثُ. وَالرَّجُلَةُ مِنَ النِّسَاءِ ، وَمُدْمِنُ الْخَمْرِ ) ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَّا مُدْمِنُ الْخَمْرِ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ ، فَمَا الدَّيُّوثُ ؟ ، قَالَ : ( الَّذِي لَا يُبَالِي مَنْ دَخُلُ عَلَى أَهْلِهِ ) ، قُلْنَا : فَمَا الرَّجُلَةُ مِنْ النِّسَاءِ ؟ قَالَ : ( الَّتِي تَشَبَّهُ بِالرِّجَالِ) .
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yaitu orang yang tidak peduli siapa yang mendatangi anak-istrinya.” Para sahabat bertanya lagi, “Lalu apa wanita yang ar-rajulah itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 10800, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 2367)
Makna ad-dayyuts adalah seorang suami atau bapak yang membiarkan terjadinya perbuatan buruk dalam keluarganya (Lihat Fathul Baari)
Ciri keempat adalah gila harta (selalu mementingkan harta).
Dalam Islam, uang dan harta merupakan sesuatu yang boleh dicari dan dimiliki. Namun, semua itu harus dalam kendali manusia, bukan justru manusia yang dikendalikan harta. Banyak orang menjadikan harta seolah sebagai agama baru sehingga melalaikan mereka. Allah telah mengingatkan,
Dari gambaran hadits di atas, sangat terasa bahwa ciri-ciri generasi terburuk sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah saw, itu tercermin pada generasi sekarang. Maka, menjadi kewajiban kita untuk memperbaiki generasi mendatang agar kehidupan masa depan dapat kita songsong dengan keyakinan dan optimisme sesuai tuntunan syariat Islam.
بارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ لَيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.